Pasien Sialan

Pasien Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Tadi pagi aku nulis “Penghibur Sialan” bagian kedua,
ada email masuk, nanggapi jurnalku “penghibur sialan” kemarin. Jelas
sekali sejak semalam ia galau, dan dengan sangat emosi dan sensitif
minta penegasanku bahwa caranya selama ini bukan masuk kriteria
“penghibur sialan”. Spontan akubalas emailnya, “Syukurlah, kau tidak
bilang padaku: pasien sialan!” wkwkwkwkwkwk…..

Lalu aku nelpun, eh tidak diangkat. Beberapa saat
kemudian ia yang nelpun, kujawab dengan sapaan seperti biasa, tapi
aneh jawabannya. Tak bisa disembunyikan lagi, rupanya ia menangis,
karena aku menurut dia dengan tulisanku itu menganggap bahwa ia
hanyalah semacam penghibur sialan saja.

Jadilah, tiga jam tadi aku tak jadi menyelesaikan dan
mengirim jurnal ke-5, “penghibur sialan bagian kedua”. Kalau bagian
pertama kemarin dalam kasus bapakku yang sedang sakit, seharusnya
bagian ini jauh lebih lucu dan hidup. Karena aku menuliskan kisahku
sendiri. Dan untuk urusan menulis dengan gaya ironis dan satiris
kayaknya aku memang sudah mahir. Betapapun aku harus secara khusus
menghargai air mata yang sudah dicurahkan karena memprihatinkan
keadaanku saat ini. Maka tulisan ini kutujukan khusus padanya,  semoga
sialanku bisa menghiburnya.

***

Aku sadar bahwa aku termasuk golongan pasien sialan
sejak mendapatkan kepastian dokter lewat check-up, dipertegas lagi
dengan hasil pemeriksaan lab, USG, dan rhenogram. Kuingat waktu itu
ketika dirujuk dari satu dokter ke dokter yang lain, bisa dipastikan
aku selalu paling lama bertanya jawab di ruang periksa. Jujur kutanya
hal yang tidak kutahu, perlu kukonfirmasi, perlu penjelasan lagi.
Bahkan bila ada yang yang butuh konfirmasi second opinion, dalam waktu
tiga hari aku sudah mendapatkan third opinion dengan menemui tiga
orang dokter spesialis ginjal yang berbeda di dua rumah sakit yang
berbeda, dua orang radiolog, dan dua ahli gizi. Secara nalar aku sudah
menerima keberadaanku sekarang memang sudah menjadi pasien gagal
ginjal, kronis lagi. Tapi bagaimana menyampaikan hal ini kepada orang
lain?

Dari browsing di internet, aku himpun artikel-artikel
populer berkenaan dengan sakitku dan bagaimana perlakuan yang
disarankan agar tidak semakin parah. Aku jadikan satu bendel dan
kucetak. Saat bilang ke istri bahwa aku sudah periksa sendiri dan
hasilnya seperti itu. Jadilah sekarang istriku yang shock, nelpun ke
sini – ke sana,  lha mau dibagaimanakan lagi adanya? Terima, kenyataan
yang ada!

***

Perkara yang juga sulit dan membuatku terus berpikir
adalah bagaimana menyampaikan keadaanku saat ini kepada Majelis
Gereja. Sampai seminggu sebelumnya aku masih intensif mendampingi
mereka yang merasa kehilangan dan bersedih dengan pengunduran diri
calon pendeta yang akan ditahbiskan saat ulang tahun gereja tgl. 25
Mei 2013 ini, karena alasan sakit. Sekarang terlebih lagi yang sakit
adalah pendetanya yang sehari-hari sangatlah energik dan aktif.

Ternyata mudah saja. Hari Minggu  17 Maret secara
khusus aku mengundang para Majelis untuk memberikan informasi. Mereka
datang masih dengan pikiran ini kelanjutan dari pengunduran diri calon
pendeta. Ternyata informasi tentang kesehatan pendeta. Aku sampaikan
apa adanya, jujur dan lugas kepada Majelis, bahwa aku sudah periksa
dokter, lab, USG dan rhenogram, dan semua hasilnya menyatakan aku
gagal ginjal, kronis. Untuk itu dalam jangka dekat terapi yang tidak
bisa ditunda adalah hemodialisa.  Kusengaja supaya sekalipun mereka
mendengar tetapi tidak paham. Dan memang tak ada yang tahu bahwa
hemodialisa adalah cuci darah. Kubacakan hasil pemeriksaan darahku
dengan angka kreatin, ureum, hemoglobin, juga resume USG dan rhenogram
yang masing-masing hanya berupa kalimat pendek penuh istilah medis
berbahasa Latin yang aku sendiri juga banyak yang tidak memahaminya,
apalagi kalau harus menerangkan detail. “Tahu artinya angka kreatin
11,69 dan ureum 168?” hehehe….. Kebetulan Majelis dengan latar
belakang tenaga medis tidak hadir. Aku minta ijin untuk opname di RS
Bethesda dan melakukan perawatan penyakitku selama yang diperlukan,
tidak usah ditengok karena jarak yang jauh jadi cukup dengan telepon
atau SMS saja pasti aku jawab, dan memberitahukan bahwa aku mempunyai
asuransi kesehatan yang menanggung biaya opname, dan sudah lebih
sepuluh tahun ini sama sekali belum pernah kumanfaatkan fasilitasnya
jadi biaya tidak atau belum menjadi masalah.

Sekaligus kutantang, menurut pengamatan mereka, aku
yang hari-hari sebelumnya masih memimpin ibadah jemaat, dan naik motor
bahkan Purwantoro Yogya terlihat sakit dan lemah? Tentu saja tak ada
yang menjawab dengan ya karena mereka tahu betapa minggu-minggu lalu
dengan serial pertemuan beruntun membahas pengunduran diri calon
pendeta aku sama sekali aku tak ada tanda sedang sakit. Maka dengan
mudah dibuat keputusan Majelis: 1. Memberi cuti kepada Pendeta
sepenuhnya dari tugas pelayanan kependetaan di jemaat. 2. Kesempatan
cuti dipergunakan sebagai waktu berobat dan perawatan yang diperlukan.
3.Tugas-tugas kependetaan akan ditata oleh Majelis, dan minta bantuan
pendeta seklasis.  Mudah sekali keputusan itu dibuat. Bahkan langsung
telepun dan sms kontak petugas jadwal-jadwal menjelang Paskah yang
mendesak. Tinggal acara penutup dan makan bersama. Istriku yang kuajak
dalam pertemuan sejak awal hanya diam, saat penutup diminta untuk juga
memberikan tanggapan.

Berbeda denganku yang memberi keterangan sengaja
dengan istilah medis yang sulit, istriku langsung saja mengungkapkan
gejolak hati berhari-hari yang dirasa bahwa aku gagal ginjal dan
satu-satunya jalan adalah harus cuci darah. Kurasakan sungguh
perubahan suasana yang ada. Majelis yang semula sekalipun prihatin dan
kaget tetap bisa bicara satu sama lain dengan rileks seakan tiba-tiba
terhenjak, selaput kesadaran yang menutup terlepas. Pak Pendeta sakit
ginjal dan harus cuci darah! Bayangan mereka yang ada bukan lagi
pendetanya yang masih guyon dan dengan cerdas menerangkan keadaan
sakitnya dan langkah-langkah medis yang akan ditempuh, tetapi ganti
dengan bayangan-bayangan dari  pengalaman dengan beberapa warga yang
terkapar  hampir mati dan juga diharuskan cuci darah atau transfusi
darah. Wah, salah cara memberikan informasinya.  Jadilah para Majelis
yang datang terdiam, tak bisa bicara apa. Apa dengan demikian
keputusan yang tadi diambil hendak ditinjau ulang? “Tidak Pak, sudah
baik, tinggal dilaksanakan”.

***

Menurutku pasien yang baik adalah yang memahami
diagnosis, prognosis, dan perawatan baik obat maupun menu dan cara
hidup yang mendukung keberadaannya. Aku sendiri menyadari secara emosi
aku masih menyadangkan pikiran bahwa semua diagnosis itu keliru dan
sebenarnya aku sehat atau kondisinya lebih baik. Tapi aku sadar bahwa
itu harapan yang menggantung tanpa dasar. Dokter2 yang kuhadapi semua
sudah dididik untuk hanya mendasarkan penilaian mereka dari bukti
hasil pemeriksaan, bukan apa yang kurasakan, apalagi apa yang
kuharapkan.

Akhirnya, hari ketiga aku opname dan sudah menjalani
dua kali hemodialisa berturut-turut sebelumnya rombongan Majelis
datang, dengan takut-takut karena paham melanggar pesan supaya tidak
usah menjenguk. Aku ketawain saat salah seorang bertanya, “Yang
dirasakan badannya apa Pak?” Mereka tetap tak percaya bahwa aku masih
bisa main lumpat tali berjalan dan beraktifitas seperti biasa.
Anggapannya sesudah cuci darah dua kali, lima jam berbaring dan darah
disaring lewat mesin, maka pasien akan lesu lemah dan menderita.
Tetapi pasien yang sekarang ditengok malah memberondong dengan banyak
tanya yang menunjukkan bahwa aku mengikuti perkembangan jemaat,
“Sekarang sudah ketemu, ayo giliran saya dihibur, wong saya yang
sedang sakit dan jadi pasien”. Hehehe, tak ada yang berani bicara.
Akhirnya, daripada jauh-jauh mereka datang dan hanya diam percuma, aku
berinisiatif memberdayakan keberadaan mereka, “Minta tolong ya, pijit
kaki saya, pegal-pegal karena di sini kurang jalan-jalan tiga hari ini
kemana-mana pasti pakai kursi roda tak boleh jalan sendiri”.

***

Aku harus mengaku lagi, aku memang jenis pasien
sialan. Karena aku selalu mau mencari tahu dan mempertanyakan apapun
saran rekomendasi yang katanya-katanya adalah untuk kebaikanku.
Terlebih lagi untuk saran makanan kesehatan maupun obat alternatif
yang entah bagaimana tiba-tiba saja banyak proposal diajukan padaku.
Aku tak mau jadi kelinci percobaan, apalagi secara medis ginjalku tak
bisa pulih kinerjanya. Bukan menutup diri dari alternatif, tetapi
sangat berhati-hati, itu amatlah beda. Bahwa sebagai pasien aku tetap
bisa berlagak kuat, berargumentasi dengan waras, dan berpendirian
keras kepala, ternyata bagi beberapa orang itu adalah ciri pasien
sialan hahahaha.

Sebenarnya tadi sudah kutulis dan hampir selesai
tulisan sambungan kemarin, penghibur sialan bagian dua. Tapi tak jadi
kuselesaikan dan kukirim, demi menghormati kawan yang kudengar isak
tangisnya tadi pagi karena merasa dengan tulisanku aku menganggapnya
sebagai penghibur sialan; Juga demi menghormat satu kawan dari masa
kecil yang tak berani menengok, bahkan untuk sekedar menelpun, tetapi
sampai kemarin masih menangisi keadaan sakitku dan sempat ngirim sms
padaku, “… Yahya, aku menemanimu duduk di atas abu….” aku cerita,
“Lha aku tadi mboncengkan Mirma ke pasar belanja, juga ke apotik dan
bank. Lalu yang kau temani duduk di atas abu tadi siapa?”
Wkwkwkwkwk…

Sekarang sudah pukul 14 lebih, tadi ada tiga rombongan
rombongan, berbeda, tiga mobil datang. Aku menerangkan yang kutulis di
posting ini kepada mereka, tentu dengan sepenuh humor yang aku bisa,
eh tetep saja ada beberapa Ibu yang menangis. Lha pasien yang
dikunjungi bisa ketawa kok yang ngunjungi jauh-jauh dari Purwantoro
malah menangis? Eh, saat pamit dan dengan dengan gagah aku berdiri
menyalami mereka satu-satu kembali lagi beberapa menangis.

Memang, aku ini pasien sialan.

Wisma LPP Sinode, Yogya, 6 April 2013

Advertisements

Penghibur Sialan

Penghibur Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Bila ada teman atau saudara yang sakit, untuk apa kita mengunjunginya? Mengapa secara khusus kita merasa perlu untuk berkirim salam dan doa menyapa, kalau tak bisa langsung berkunjung ya dengan sms, telepon, atau email? Jelas jawabannya, untuk menghibur, untuk menguatkan, untuk menemani, untuk membuat si sakit merasa lebih nyaman. Secara psikhis suasana yang nyaman sangat mendukung proses penyembuhan seseorang. Akan tetapi bagaimana bila sakit pasien sifatnya permanen, tak mungkin sembuh secara medis?

***

Sejak bulan Juli tahun lalu karena kedua orangtua sudah waktunya ganti dijaga oleh anak-anaknya, sebisa mungkin aku mencari kesempatan untuk mampir atau menginap di rumah orangtua di Pajang. Ibu dengan gayanya selalu menanya dan bercerita macam-macam, iya dilayani saja. Tetapi Bapak dengan gayanya pula tak pernah menceritakan apa bagaimana yang dirasakan oleh tubuhnya. Dari ponakanku, juga kawanku yang dokter mereka bilang bahwa bapak tentu sakit dan menderita sekali. Akan tetapi, sebagai anak aku tahu, tak mungkin Bapak akan mengeluhkan itu.

Anak-anak tahu, Ibu sangat senang dan tak akan menolak siapapun yang mengunjunginya, sedangkan Bapak hanya bisa nyaman bersama dengan anak-anak atau sahabat-sahabat tertentu dan kami anak-anak semua sudah mengenal mereka juga. Itu juga sebabnya kamar Bapak dan Ibu dipisah, kamar Ibu lebih luas. Dengan kursi tamu yang sangat nyaman untuk duduk-duduk lama. Tetapi tiap ada tamu untuk Ibu anak-anak juga was-was. Kalau yang berkunjung ngobrol terlalu lama, apalagi bawa makanan sedangkan sebagai penderita diabet dan hipertensi yang pernah stroke diet Ibu dijaga sangat cermat. Akibatnya baru dirasakan nanti kalau sudah malam atau hari berlalu, badan pegal-pegal minta pijit, tensi yang naik tinggi, gula darah yang tidak terkontrol….

Sebaliknya Bapak menurut Dr. Pangesti yang merawatnya adalah pasien yang disiplin dan cerdas. Beliau tahu semua aspek penyakitnya, bahkan di awal-awal dulu mencari sendiri buku dan brosur-brosur berkenaan dengan terapi dan diet. Jadilah ketika ada kakakku yang masih takut menyampaikan hasil diagnosa kepada Bapak dan lebih memilih bilang, “tidak tahu”, Bapak bahkan menasehati, “Kowe aja ngapusi Bapak”.

Ada banyak sekali sekali tablet, kapsul, dan sirup yang diminum Bapak sejak bulan Juli lalu, dan tiap kali berubah-ubah menyesuaikan perkembangan . Nah, jangan sampai salah melayani Bapak karena Bapak hafal semua macam jenis obatnya, satu-satu. Pengalaman sekitar 6 tahun menyiapkan diet makanan dan obat untuk Ibu menjadikan Bapak jauh lebih ahli. Jadilah, bahkan kemudian anak-anak berbagi diri, siapa menyiapkan menu diet harian. Siapa mengatur rumah. Siapa pula mengurus urusan-urusan obat, dengan dokter, dan rumah sakit ketika akhirnya diputuskan Bapak dirawat home-care sejak Januari lalu, maka dokter dan perawat dari rumah sakit yang mengunjungi bergantian tiap 2 hari sekali.

***

Bapakku orang yang religius dan aktifis gerejawi. Hal itu sangatlah jelas. Bahkan pernah menjadi Ketua Majelis Gereja untuk dua gereja, menjadi anggota deputat klasis, dan bahkan diutus untuk ikut sidang sinode. Entah apa yang jadi presedennya, tapi Bapak tidak mau didoakan oleh sembarang orang. Dan kemudian, juga berpesan, “Yen ndonga aja dhawa-dhawa, mengko aku ndak bingung”. Dan sejak Januari lalu mantaplah sudah doa Simeon yang diucapkan oleh Beliau, “Keparenga samenika abdi Paduka tilar-donya klawan tentrem” (Lukas 2:29). Aku yang disuruh Bapak pertama kali mengucapkan doa ini, anak-anak dan cucu yang di Solo semua berkumpul. Dan setelah itu Ibu yang menangis disuruh pindah ke kamarnya oleh Bapak, anak-anak yang lain entah bagaimana mengucapkan amin.

Sejak itu, doa Simeon yang menjadi doa Bapak. Apakah aku salah karena bulan Juli sudah matur kepada Bapak saat ditanya tentang diagnosa penyakitnya, prognosis dan therapi medis yang akan ditempuh, dan bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya nanti kematian tidak dapat dihindari? Ada yang masih tetap percaya mujizat, berharap keajaiban, dan Bapak bisa sembuh pulih lagi. Tapi Bapakku aku sangat tahu bukan orang yang seperti itu. Kedisiplinan sebagai guru gambar tehnik selama lebih empat puluh tahun membuatnya sangat teliti sekaligus rasional. Dan aku tahu, Bapak juga tidak suka didoakan agar mujizat penyembuhan terjadi. “Kehendak Tuhan sajalah yang jadi”. Bagaimana kita bisa lebih menghibur lagi orang yang sudah sepenuhnya berserah?

Sudah dua bulan ini Bapak tiap hari mendapatkan obat anti nyeri yang paling kuat, di tempel di bagian dada atau bagian tubuh yang dirasa sakit. Akibat samping yang secara langsung terlihat adalah sering ada halusinasi dan bicara tanpa sadar. Keadaannya semakin lemah, terlebih setelah Ibu lebih dahulu meninggal dunia 6 Februari lalu. Bapak merasa bahwa semua tanggungjawab hidupnya sudah tuntas. Upaya untuk memasukkan obat dan makanan lewat infus juga sudah mulai sangat susah dilakukan karena pembuluh darah di tangan sudah nyaris tak terdeteksi lagi, sedangkan di kaki bengkak dan tak bisa. Jadilah, ada kasak-kusuk yang lalu kudengar dari orang yang pernah mengunjungi dan mendoakan Bapak,”Bapak masih punya cekelan, itu yang menjadikannya tetap bertahan”.

***

Melalui artikel ini, dengan mengutip Ayub 16:2 ; aku hanya ingin singkat mengatakan, “panglipurmu mung wujud panyiksa tumraping aku” atau dalam bahasa Indonesia, “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”

LPP Sinode, Yogya, 5 April 2013

Pemulung Cerita.

Sedikit Kabar dari Desa

Sedikit Kabar dari Desa, Ujang Sanusi, 2 Agustus 2019

Hari ini hari ke-2 saya di desa Tunggorono (tunggu disana 😀), Kec. Kutoarjo, Kab. Purworejo.

Ibu meminta saya mengantarnya ke makam ayahnya (kakek saya) sebelum kami mengunjugi makam nenek kesayangan saya yg dipanggil dgn panggilan sayang simbok Wagina.

Agak ironis ibu dan saya seumur hidup belum pernah menengok makam kakek yang adalah suami simbok Wagina.

Nama Kakek adalah Pawiro Taruno. Wow keren tenan, selama ini cuma tahu nama sapaannya “mbah Ro“.

Leluhur saya dari ibu agak komplikatit karena simbok Wagina adalah istri kedua dari Mr. Pawiro Taruno beranakkan ibu saya. Dari istri pertamanya melahirkan 1 anak saja bernama alm. Manisem. Simbok Wagina juga punya suami lagi yaitu simbah Dollah sebagai istri keduanya beranakkan 1 anak yang bernama Martinah. Kedatangan saya ke kampung dalam rangka menjenguk bulik Martinah ini yang terkena stroke.

So, ibu ada 3 bersaudara. Kakaknya Manisem satu bapak tapi lain ibu. Adiknya adalah Martinah yang adalah satu ibu tapi lain bapak… so complex flowchart.

Back to the laptop.
Makam kakek jauh dari kampung asal karena dibawa cucunya yang bernama Paini (anak dari Manisem) ke kampung suaminya Paini di selatan untuk dirawat dan akhirnya dimakamkan disana.

Jadi tujuan today adalah ke kampung si Paini yg menurut silsilah dia itu sepupu saya atau keponakan ibu saya.

Agak kesasar karena paklik sebagai guider lupa-lupa ingat sampai berhenti di depan balai desa untuk bertanya. Saat bertanya, tiba-tiba ada orang berdua datang naik motor mau rapat ke balai desa yang tak lain adalah si Mbakyu Paini dan suaminya.

Jujur saya lupa-lupa inget dengan mbakyuku ini (terlalu! 😂). Kalau ibunya, bude Manisem saya ingat karena sering lihat waktu saya kecil dulu. Tapi karena wajahnya mirip ibunya, saya guess ini pasti Paini…. Dia ingat saya dan berteriak menyapa tanpa tahu di belakang duduk ibu saya. Saya turunkan kaca belakang dan dia surprise melihat ibu saya yg adalah bulik (tante)-nya.

Dia memeluk ibu sambil menangis dan berkata, “Saya rindu sekali tak melihat bulik sudah lama sekali…” Saya terharu melihat peristiwa ini dan sempat saya foto….

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.55

Saya sempat meneteskan air mata tanda penyesalan why didn’t I bring her to this place to see her beloved big family long time ago.

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.57

Ada banyak air mata kerinduan dari kerabat dan handai taulan yang mungkin agak terlupakan oleh kesibukan kita.

Ketika turun dari mobil, mbakyu Paini memelukku begitu erat seperti seorang kekasih yang ditinggal lama… ya, dia rindu adik sepupunya yang ganteng ini 😜..

(Ah, kapan ya awak dipeluk erat begini oleh istriku yang cantik di Cibubur… wakakakakk😍..)

Aku pun baru mengenal suami Paini (terlalu lagi!!😂). Namanya mas Masiso. Lah kok mirip-mirip namanya dengan mertuanya…. mantu Maniso = mertua Manisem 🤣.

Mas Maniso dan mbakyu Paini begitu ramah menjamu di rumahnya… mengenalkan anak-anak dan cucu. Inilah budaya Indonesia khususnya Jawa yang ramah dan rendah hati, hangat dan tulus.

Kami diantar ke makam kakek. Again ini kali pertama melihat makam kakekku yang dikubur jauh dari nenekku. Dikelilingi sawah nan hijau dalam ketentraman desa….

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.53

Ibu berkata, “Bapak aku datang….” ❤

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.56

Jumat, 2 Agt 2019

Merayakan Hidup Hari Ini

Purwantoro, 19 Juni 2019

Mengingat ulang jauhnya sudah perjalanan hidup perlu dilakukan setiap kali, agar kacang tidak meninggalkan lanjaran, karena mengingat asal-usul akan memudahkan diri menjawab “sangkan paraning dumadi”. Setiap kali ada tanya kehendak siapakah menjadi, menuju kemanakah seperti?

Hidup itu dijalani urut, hari demi hari, melewat minggu, bulan, dan tahun. Kesadaran memberi pemahaman, betapa berharga semua proses yang pernah ditempuh. Sebaliknya sekalipun secara matematika setahun ada 365 hari 12 bulan 52 minggu, dan setiap hari dibagi dalam hitungan jam menit dan bahkan detik, saat kita sudah menjalani bisa saja susunannya terbolak-balik dalam memori, bahkan ada yang ingin dilupakan, ditolak, dan dibuang kalau saja bisa.

Merayakan hidup adalah mengolah kesadaran, betapa hidup hari ini adalah proses yang menyambung hari-hari lalu. Seringkali kita tidak bisa memilih dan berjuang mengupayakan harapan rencana dan keinginan agar terwujud, selain menerima dan menyerahkan kepada yang kuasa dan berwenang. Dalam pasrah penyerahan dan penerimaan, bahkan untuk dukacita dan kehilangan, ataupun perpisahan dan paket kesedihan yang bersamanya. Semua itu bisa diterangi saat kita mau berteduh dengan diri, memeriksa satu-satu resah geram penolakan dan duka, sampai akhirnya mengaku, “Kehendak-Mu yang jadi”.

Aku merayakan hidup hari ini, menuliskannya menjadi deklarasi sekaligus ajakan untuk mengolah masa lalu dalam penerimaan dan penyerahan. Sekaligus menyongsong masa di hadapan dengan keyakinan dan pengharapan. Kasih itu tetap selama-lamanya. Asal saja tidak ingkar dengan menyangkal dan lupa. Kebersamaan dengan semua saudara yang menyertai hidup kita sampai sekarang terlalu berharga, untuk ditelikung beban masa lalu yang sudah lewat ditinggalkan. Sebaliknya, terhampar halaman putih bersih yang siap ditulisi ke depan, lewat pilihan-pilihan dan kerja kita hari ini.

Apapun keadaan yang ada, sudah sekian lama aku memilih untuk merayakan hidup. Kebersamaan saat ini terlalu indah untuk diabaikan. Perayaan selalu mengajak sesama, orang lain, untuk bersukacita bersama-sama. Dengan tulisan ini aku sudah mengerjakannya.

Selamat merayakan hidup.

Gunawan Sri Haryono

dalam kenangan:
Gunawan Sri Haryono
Solo, 23 April 1964 – 13 Juni 2019

oleh: Pdt Yahya Tirta Prewita

Relasi saat masih ada bersama berbeda dengan relasi saat berjauhan. Ada perberbedaan relasi saat satu sama lain tiada halangan untuk bertemu, dibanding ketika jarak memisahkan, atau ada tugas kewajiban yang harus dilaksanakan.

Saat relasi terputus, tak ada kontak satu sama lain, sering membawa angan pemikiran jadi bertanya dan resah. Sebaliknya, sekalipun ada di tempat yang sangat jauh, bila ada kabar berita dan dapat berkomunikasi rasa hati lebih tentram dan sejahtera.

Peristiwa kematian lebih dari sekedar keterpisahan dan tak ada kontak. Keberakhiran daur hidup makhluk fana di dunia ini ternyata membawa dimensi pengalaman iman, berupa dimensi relasi yang baru kepada para murid. Yaitu peristiwa Yesus yang bangkit, menjumpai para murid, dan kenaikan ke Sorga, dan klimaksnya adalah turunnya Roh Kudus.

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga dan turunnya Roh Kudus membawa corak relasi yang baru. Corak baru ini adalah relasi yang mengatasi relasi fisik.Yesus sudah naik ke Sorga dan para murid masih hidup di dunia . Karunia Roh Kudus dicurahkan agar para murid senantiasa dalam persekutuan dengan Yesus. Roh Kudus mengajar para murid untuk senantiasa belajar mengerti kehendak Allah Bapa, apa yang akan terjadi kemudian, sebagaimana Yesus bersama dan mengajar para murid.

Hidup ini memperhadapkan kita kepada situasi, keadaan, dan perkara yang tidak kita ingini. Setiap kebersamaan pasti berakhir, sukacita ganti berganti dengan kesusahan, pengharapan kita diuji oleh kesabaran, dan kekuatan diri kita sangatlah lemah menghadapi semua tanya dan resah.

Syukur kepada Allah. Bacaan dari Roma 5:1-5 dan Yohanes 16:12-15 mengingatkan, karunia Roh Kudus yang mendampingi, dan menguatkan kita untuk terus hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, dalam segala kasih dan anugerah.

Dalam Tuhan, kematian pun bukan lagi perpisahan yang harus membuat takut, tanya, dan resah. Roh Kudus menolong semua orang percaya untuk belajar mengerti dan menerima, bahwa dalam kesemua itu ada kehendak Allah Bapa yang baik bagi semua anak-anak-Nya.

Doa: Syukur untuk cinta Tuhan, dan karunia Roh Kudus, kuatkanlah kami untuk tetap bersukacita dalam kesusahan, dalam kesabaran, dalam pengharapan, dalam kasih Tuhan. Amin.IMG_20190608_0052 (1 Des 85)Menerima Teguran dengan Baik

Umur adalah Misteri

downloadTanggal 22 Maret malam, adik dari istri ponakan meninggal dunia di fitness centre, usia menjelang 28. Dia meninggalkan seorang istri dengan baby yang belum sebulan di kandungan (menikah belum 3 minggu).

Tanggal 29 Maret malam, abangnya kawan meninggal ketika main futsal di Cikarang (after office hour), usia 42. Dia meninggalkan istri dan 3 anak di Citayam (Depok).

Keduanya meninggal pas atau usai olahraga, yang notabene adalah kegiatan kesehatan.

Pelajarannya:

  • Apakah saya mengambil jenis dan intensitas olahraga yang tepat buat saya?
  • Apakah saya aware dengan kondisi-kondisi khusus tubuh saya?
  • Apakah saya seimbang dalam berbagai pola hidup? (istirahat, makan, olahraga, pikiran, dst)
  • Apakah saya telah menyiapkan diri bahwa saya bisa dipanggil setiap saat? Apakah saya telah menyiapkan sesuatu yang perlu buat orang-orang yang akan saya tinggal?

Jalan Buntu

stock-photo-dead-end-sign-935018Sebagai orang beriman walau memiliki banyak pegangan Firman Tuhan dan pengalaman bersama Tuhan, ada kalanya satu masa dalam hidup kita, kita menemui jalan buntu dan keadaan yang dinilai sangat tidak menyenangkan.

Tokoh-tokoh Alkitab juga mengalaminya.

  • Musa dengan jalan buntu berupa padang gurun.
  • Daniel dengan jalan buntu berupa gua singa.
  • Sadrakh dkk jalan buntu berupa dapur api.
  • Tuhan Yesus jalan buntu berupa ‘cawan itu’ yang harus diminum.
  • Paulus jalan buntu berupa penistaan agama.
  • Dst.

Tips untuk meresponi keadaan jalan buntu sebagai pemenang pertarungan iman:

  • Datang kepada Allah Bapa dalam doa.
  • Mengakui kedaulatan mutlak Allah atas segala sesuatu dan bersyukur atas anugerah-Nya dalam Kristus.
  • Mengakui kesempurnaan jalan-jalan dan rencana Tuhan dan berserah diri sepenuhnya pada kehendak-Nya.
  • Jujur dengan keadaan diri dan memohon kelepasan.
  • Menyatakan diri berserah dan tunduk jika harus melalui jalan yang tidak kita kehendaki, “jangan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi”.
  • Bersyukur dan memuji DIA karena rencana-Nya yang mulia.

Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Daniel 3:17-18, 26 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.

Filipi 4:6-7 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Krista, 1 April 2017

Bersama DIA dalam Penderitaan

Rahasia hidup sukacita dan damai sejahtera sejati di tengah dunia yang penuh dengan keruwetan adalah kesadaran yang terus menerus bahwa Kristus Sang Raja sedang bersama kita setiap saat.

Semakin sadar akan kebersamaan bersama-Nya dalam penderitaan, dalam kesusahan, semakin menikmati keindahan dan kemuliaan-Nya sebagai Raja kehidupan yang sedang menebus dan memulihkan segala sesuatu untuk dikembalikan seperti rancangan-Nya semula, yaitu rancangan sebelum segala sesuatu diciptakan.

Makin akrab dengan penderitaan bersama Dia… makin menikmati sukacita dan damai sejati yang diberikan-Nya.

Dipanggil untuk menderita bersama-Nya dan menikmati kemuliaan-Nya…. adalah sukacita hidup sejati.

Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Efesus 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Roma 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Krista, 31 Maret 2017

Simple Things About Discipline

Mantap… Ganbate!!!

dic.tion.ary of Doules

My work sometimes takes me to a place far away that I never know before. Sometimes this makes me tired but encouraged me to have a constant discipline to make things easy and orderly. I still learn to manage time for my family and me, my life, my hobbies, my social life, my spiritual time (Bible study and pray), and also social media time. There are many things to do. Laundry piled up, cleaning my room, pay a fee of rent, managing money, shopping list to do, rest, art, cooking, praying and seeking God, caring for family and friends (and the most important is the job).

Sometimes I let everything fall apart, I don’t care and too lazy. As a result I found a lot of laundry, no time for exercise, sleep deprivation, unhealthy food and sick then (I was infected by dengue fever last month-will tell you about the…

View original post 241 more words