Pasien Sialan

Pasien Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Tadi pagi aku nulis “Penghibur Sialan” bagian kedua,
ada email masuk, nanggapi jurnalku “penghibur sialan” kemarin. Jelas
sekali sejak semalam ia galau, dan dengan sangat emosi dan sensitif
minta penegasanku bahwa caranya selama ini bukan masuk kriteria
“penghibur sialan”. Spontan akubalas emailnya, “Syukurlah, kau tidak
bilang padaku: pasien sialan!” wkwkwkwkwkwk…..

Lalu aku nelpun, eh tidak diangkat. Beberapa saat
kemudian ia yang nelpun, kujawab dengan sapaan seperti biasa, tapi
aneh jawabannya. Tak bisa disembunyikan lagi, rupanya ia menangis,
karena aku menurut dia dengan tulisanku itu menganggap bahwa ia
hanyalah semacam penghibur sialan saja.

Jadilah, tiga jam tadi aku tak jadi menyelesaikan dan
mengirim jurnal ke-5, “penghibur sialan bagian kedua”. Kalau bagian
pertama kemarin dalam kasus bapakku yang sedang sakit, seharusnya
bagian ini jauh lebih lucu dan hidup. Karena aku menuliskan kisahku
sendiri. Dan untuk urusan menulis dengan gaya ironis dan satiris
kayaknya aku memang sudah mahir. Betapapun aku harus secara khusus
menghargai air mata yang sudah dicurahkan karena memprihatinkan
keadaanku saat ini. Maka tulisan ini kutujukan khusus padanya,  semoga
sialanku bisa menghiburnya.

***

Aku sadar bahwa aku termasuk golongan pasien sialan
sejak mendapatkan kepastian dokter lewat check-up, dipertegas lagi
dengan hasil pemeriksaan lab, USG, dan rhenogram. Kuingat waktu itu
ketika dirujuk dari satu dokter ke dokter yang lain, bisa dipastikan
aku selalu paling lama bertanya jawab di ruang periksa. Jujur kutanya
hal yang tidak kutahu, perlu kukonfirmasi, perlu penjelasan lagi.
Bahkan bila ada yang yang butuh konfirmasi second opinion, dalam waktu
tiga hari aku sudah mendapatkan third opinion dengan menemui tiga
orang dokter spesialis ginjal yang berbeda di dua rumah sakit yang
berbeda, dua orang radiolog, dan dua ahli gizi. Secara nalar aku sudah
menerima keberadaanku sekarang memang sudah menjadi pasien gagal
ginjal, kronis lagi. Tapi bagaimana menyampaikan hal ini kepada orang
lain?

Dari browsing di internet, aku himpun artikel-artikel
populer berkenaan dengan sakitku dan bagaimana perlakuan yang
disarankan agar tidak semakin parah. Aku jadikan satu bendel dan
kucetak. Saat bilang ke istri bahwa aku sudah periksa sendiri dan
hasilnya seperti itu. Jadilah sekarang istriku yang shock, nelpun ke
sini – ke sana,  lha mau dibagaimanakan lagi adanya? Terima, kenyataan
yang ada!

***

Perkara yang juga sulit dan membuatku terus berpikir
adalah bagaimana menyampaikan keadaanku saat ini kepada Majelis
Gereja. Sampai seminggu sebelumnya aku masih intensif mendampingi
mereka yang merasa kehilangan dan bersedih dengan pengunduran diri
calon pendeta yang akan ditahbiskan saat ulang tahun gereja tgl. 25
Mei 2013 ini, karena alasan sakit. Sekarang terlebih lagi yang sakit
adalah pendetanya yang sehari-hari sangatlah energik dan aktif.

Ternyata mudah saja. Hari Minggu  17 Maret secara
khusus aku mengundang para Majelis untuk memberikan informasi. Mereka
datang masih dengan pikiran ini kelanjutan dari pengunduran diri calon
pendeta. Ternyata informasi tentang kesehatan pendeta. Aku sampaikan
apa adanya, jujur dan lugas kepada Majelis, bahwa aku sudah periksa
dokter, lab, USG dan rhenogram, dan semua hasilnya menyatakan aku
gagal ginjal, kronis. Untuk itu dalam jangka dekat terapi yang tidak
bisa ditunda adalah hemodialisa.  Kusengaja supaya sekalipun mereka
mendengar tetapi tidak paham. Dan memang tak ada yang tahu bahwa
hemodialisa adalah cuci darah. Kubacakan hasil pemeriksaan darahku
dengan angka kreatin, ureum, hemoglobin, juga resume USG dan rhenogram
yang masing-masing hanya berupa kalimat pendek penuh istilah medis
berbahasa Latin yang aku sendiri juga banyak yang tidak memahaminya,
apalagi kalau harus menerangkan detail. “Tahu artinya angka kreatin
11,69 dan ureum 168?” hehehe….. Kebetulan Majelis dengan latar
belakang tenaga medis tidak hadir. Aku minta ijin untuk opname di RS
Bethesda dan melakukan perawatan penyakitku selama yang diperlukan,
tidak usah ditengok karena jarak yang jauh jadi cukup dengan telepon
atau SMS saja pasti aku jawab, dan memberitahukan bahwa aku mempunyai
asuransi kesehatan yang menanggung biaya opname, dan sudah lebih
sepuluh tahun ini sama sekali belum pernah kumanfaatkan fasilitasnya
jadi biaya tidak atau belum menjadi masalah.

Sekaligus kutantang, menurut pengamatan mereka, aku
yang hari-hari sebelumnya masih memimpin ibadah jemaat, dan naik motor
bahkan Purwantoro Yogya terlihat sakit dan lemah? Tentu saja tak ada
yang menjawab dengan ya karena mereka tahu betapa minggu-minggu lalu
dengan serial pertemuan beruntun membahas pengunduran diri calon
pendeta aku sama sekali aku tak ada tanda sedang sakit. Maka dengan
mudah dibuat keputusan Majelis: 1. Memberi cuti kepada Pendeta
sepenuhnya dari tugas pelayanan kependetaan di jemaat. 2. Kesempatan
cuti dipergunakan sebagai waktu berobat dan perawatan yang diperlukan.
3.Tugas-tugas kependetaan akan ditata oleh Majelis, dan minta bantuan
pendeta seklasis.  Mudah sekali keputusan itu dibuat. Bahkan langsung
telepun dan sms kontak petugas jadwal-jadwal menjelang Paskah yang
mendesak. Tinggal acara penutup dan makan bersama. Istriku yang kuajak
dalam pertemuan sejak awal hanya diam, saat penutup diminta untuk juga
memberikan tanggapan.

Berbeda denganku yang memberi keterangan sengaja
dengan istilah medis yang sulit, istriku langsung saja mengungkapkan
gejolak hati berhari-hari yang dirasa bahwa aku gagal ginjal dan
satu-satunya jalan adalah harus cuci darah. Kurasakan sungguh
perubahan suasana yang ada. Majelis yang semula sekalipun prihatin dan
kaget tetap bisa bicara satu sama lain dengan rileks seakan tiba-tiba
terhenjak, selaput kesadaran yang menutup terlepas. Pak Pendeta sakit
ginjal dan harus cuci darah! Bayangan mereka yang ada bukan lagi
pendetanya yang masih guyon dan dengan cerdas menerangkan keadaan
sakitnya dan langkah-langkah medis yang akan ditempuh, tetapi ganti
dengan bayangan-bayangan dari  pengalaman dengan beberapa warga yang
terkapar  hampir mati dan juga diharuskan cuci darah atau transfusi
darah. Wah, salah cara memberikan informasinya.  Jadilah para Majelis
yang datang terdiam, tak bisa bicara apa. Apa dengan demikian
keputusan yang tadi diambil hendak ditinjau ulang? “Tidak Pak, sudah
baik, tinggal dilaksanakan”.

***

Menurutku pasien yang baik adalah yang memahami
diagnosis, prognosis, dan perawatan baik obat maupun menu dan cara
hidup yang mendukung keberadaannya. Aku sendiri menyadari secara emosi
aku masih menyadangkan pikiran bahwa semua diagnosis itu keliru dan
sebenarnya aku sehat atau kondisinya lebih baik. Tapi aku sadar bahwa
itu harapan yang menggantung tanpa dasar. Dokter2 yang kuhadapi semua
sudah dididik untuk hanya mendasarkan penilaian mereka dari bukti
hasil pemeriksaan, bukan apa yang kurasakan, apalagi apa yang
kuharapkan.

Akhirnya, hari ketiga aku opname dan sudah menjalani
dua kali hemodialisa berturut-turut sebelumnya rombongan Majelis
datang, dengan takut-takut karena paham melanggar pesan supaya tidak
usah menjenguk. Aku ketawain saat salah seorang bertanya, “Yang
dirasakan badannya apa Pak?” Mereka tetap tak percaya bahwa aku masih
bisa main lumpat tali berjalan dan beraktifitas seperti biasa.
Anggapannya sesudah cuci darah dua kali, lima jam berbaring dan darah
disaring lewat mesin, maka pasien akan lesu lemah dan menderita.
Tetapi pasien yang sekarang ditengok malah memberondong dengan banyak
tanya yang menunjukkan bahwa aku mengikuti perkembangan jemaat,
“Sekarang sudah ketemu, ayo giliran saya dihibur, wong saya yang
sedang sakit dan jadi pasien”. Hehehe, tak ada yang berani bicara.
Akhirnya, daripada jauh-jauh mereka datang dan hanya diam percuma, aku
berinisiatif memberdayakan keberadaan mereka, “Minta tolong ya, pijit
kaki saya, pegal-pegal karena di sini kurang jalan-jalan tiga hari ini
kemana-mana pasti pakai kursi roda tak boleh jalan sendiri”.

***

Aku harus mengaku lagi, aku memang jenis pasien
sialan. Karena aku selalu mau mencari tahu dan mempertanyakan apapun
saran rekomendasi yang katanya-katanya adalah untuk kebaikanku.
Terlebih lagi untuk saran makanan kesehatan maupun obat alternatif
yang entah bagaimana tiba-tiba saja banyak proposal diajukan padaku.
Aku tak mau jadi kelinci percobaan, apalagi secara medis ginjalku tak
bisa pulih kinerjanya. Bukan menutup diri dari alternatif, tetapi
sangat berhati-hati, itu amatlah beda. Bahwa sebagai pasien aku tetap
bisa berlagak kuat, berargumentasi dengan waras, dan berpendirian
keras kepala, ternyata bagi beberapa orang itu adalah ciri pasien
sialan hahahaha.

Sebenarnya tadi sudah kutulis dan hampir selesai
tulisan sambungan kemarin, penghibur sialan bagian dua. Tapi tak jadi
kuselesaikan dan kukirim, demi menghormati kawan yang kudengar isak
tangisnya tadi pagi karena merasa dengan tulisanku aku menganggapnya
sebagai penghibur sialan; Juga demi menghormat satu kawan dari masa
kecil yang tak berani menengok, bahkan untuk sekedar menelpun, tetapi
sampai kemarin masih menangisi keadaan sakitku dan sempat ngirim sms
padaku, “… Yahya, aku menemanimu duduk di atas abu….” aku cerita,
“Lha aku tadi mboncengkan Mirma ke pasar belanja, juga ke apotik dan
bank. Lalu yang kau temani duduk di atas abu tadi siapa?”
Wkwkwkwkwk…

Sekarang sudah pukul 14 lebih, tadi ada tiga rombongan
rombongan, berbeda, tiga mobil datang. Aku menerangkan yang kutulis di
posting ini kepada mereka, tentu dengan sepenuh humor yang aku bisa,
eh tetep saja ada beberapa Ibu yang menangis. Lha pasien yang
dikunjungi bisa ketawa kok yang ngunjungi jauh-jauh dari Purwantoro
malah menangis? Eh, saat pamit dan dengan dengan gagah aku berdiri
menyalami mereka satu-satu kembali lagi beberapa menangis.

Memang, aku ini pasien sialan.

Wisma LPP Sinode, Yogya, 6 April 2013

Advertisements

Penghibur Sialan

Penghibur Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Bila ada teman atau saudara yang sakit, untuk apa kita mengunjunginya? Mengapa secara khusus kita merasa perlu untuk berkirim salam dan doa menyapa, kalau tak bisa langsung berkunjung ya dengan sms, telepon, atau email? Jelas jawabannya, untuk menghibur, untuk menguatkan, untuk menemani, untuk membuat si sakit merasa lebih nyaman. Secara psikhis suasana yang nyaman sangat mendukung proses penyembuhan seseorang. Akan tetapi bagaimana bila sakit pasien sifatnya permanen, tak mungkin sembuh secara medis?

***

Sejak bulan Juli tahun lalu karena kedua orangtua sudah waktunya ganti dijaga oleh anak-anaknya, sebisa mungkin aku mencari kesempatan untuk mampir atau menginap di rumah orangtua di Pajang. Ibu dengan gayanya selalu menanya dan bercerita macam-macam, iya dilayani saja. Tetapi Bapak dengan gayanya pula tak pernah menceritakan apa bagaimana yang dirasakan oleh tubuhnya. Dari ponakanku, juga kawanku yang dokter mereka bilang bahwa bapak tentu sakit dan menderita sekali. Akan tetapi, sebagai anak aku tahu, tak mungkin Bapak akan mengeluhkan itu.

Anak-anak tahu, Ibu sangat senang dan tak akan menolak siapapun yang mengunjunginya, sedangkan Bapak hanya bisa nyaman bersama dengan anak-anak atau sahabat-sahabat tertentu dan kami anak-anak semua sudah mengenal mereka juga. Itu juga sebabnya kamar Bapak dan Ibu dipisah, kamar Ibu lebih luas. Dengan kursi tamu yang sangat nyaman untuk duduk-duduk lama. Tetapi tiap ada tamu untuk Ibu anak-anak juga was-was. Kalau yang berkunjung ngobrol terlalu lama, apalagi bawa makanan sedangkan sebagai penderita diabet dan hipertensi yang pernah stroke diet Ibu dijaga sangat cermat. Akibatnya baru dirasakan nanti kalau sudah malam atau hari berlalu, badan pegal-pegal minta pijit, tensi yang naik tinggi, gula darah yang tidak terkontrol….

Sebaliknya Bapak menurut Dr. Pangesti yang merawatnya adalah pasien yang disiplin dan cerdas. Beliau tahu semua aspek penyakitnya, bahkan di awal-awal dulu mencari sendiri buku dan brosur-brosur berkenaan dengan terapi dan diet. Jadilah ketika ada kakakku yang masih takut menyampaikan hasil diagnosa kepada Bapak dan lebih memilih bilang, “tidak tahu”, Bapak bahkan menasehati, “Kowe aja ngapusi Bapak”.

Ada banyak sekali sekali tablet, kapsul, dan sirup yang diminum Bapak sejak bulan Juli lalu, dan tiap kali berubah-ubah menyesuaikan perkembangan . Nah, jangan sampai salah melayani Bapak karena Bapak hafal semua macam jenis obatnya, satu-satu. Pengalaman sekitar 6 tahun menyiapkan diet makanan dan obat untuk Ibu menjadikan Bapak jauh lebih ahli. Jadilah, bahkan kemudian anak-anak berbagi diri, siapa menyiapkan menu diet harian. Siapa mengatur rumah. Siapa pula mengurus urusan-urusan obat, dengan dokter, dan rumah sakit ketika akhirnya diputuskan Bapak dirawat home-care sejak Januari lalu, maka dokter dan perawat dari rumah sakit yang mengunjungi bergantian tiap 2 hari sekali.

***

Bapakku orang yang religius dan aktifis gerejawi. Hal itu sangatlah jelas. Bahkan pernah menjadi Ketua Majelis Gereja untuk dua gereja, menjadi anggota deputat klasis, dan bahkan diutus untuk ikut sidang sinode. Entah apa yang jadi presedennya, tapi Bapak tidak mau didoakan oleh sembarang orang. Dan kemudian, juga berpesan, “Yen ndonga aja dhawa-dhawa, mengko aku ndak bingung”. Dan sejak Januari lalu mantaplah sudah doa Simeon yang diucapkan oleh Beliau, “Keparenga samenika abdi Paduka tilar-donya klawan tentrem” (Lukas 2:29). Aku yang disuruh Bapak pertama kali mengucapkan doa ini, anak-anak dan cucu yang di Solo semua berkumpul. Dan setelah itu Ibu yang menangis disuruh pindah ke kamarnya oleh Bapak, anak-anak yang lain entah bagaimana mengucapkan amin.

Sejak itu, doa Simeon yang menjadi doa Bapak. Apakah aku salah karena bulan Juli sudah matur kepada Bapak saat ditanya tentang diagnosa penyakitnya, prognosis dan therapi medis yang akan ditempuh, dan bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya nanti kematian tidak dapat dihindari? Ada yang masih tetap percaya mujizat, berharap keajaiban, dan Bapak bisa sembuh pulih lagi. Tapi Bapakku aku sangat tahu bukan orang yang seperti itu. Kedisiplinan sebagai guru gambar tehnik selama lebih empat puluh tahun membuatnya sangat teliti sekaligus rasional. Dan aku tahu, Bapak juga tidak suka didoakan agar mujizat penyembuhan terjadi. “Kehendak Tuhan sajalah yang jadi”. Bagaimana kita bisa lebih menghibur lagi orang yang sudah sepenuhnya berserah?

Sudah dua bulan ini Bapak tiap hari mendapatkan obat anti nyeri yang paling kuat, di tempel di bagian dada atau bagian tubuh yang dirasa sakit. Akibat samping yang secara langsung terlihat adalah sering ada halusinasi dan bicara tanpa sadar. Keadaannya semakin lemah, terlebih setelah Ibu lebih dahulu meninggal dunia 6 Februari lalu. Bapak merasa bahwa semua tanggungjawab hidupnya sudah tuntas. Upaya untuk memasukkan obat dan makanan lewat infus juga sudah mulai sangat susah dilakukan karena pembuluh darah di tangan sudah nyaris tak terdeteksi lagi, sedangkan di kaki bengkak dan tak bisa. Jadilah, ada kasak-kusuk yang lalu kudengar dari orang yang pernah mengunjungi dan mendoakan Bapak,”Bapak masih punya cekelan, itu yang menjadikannya tetap bertahan”.

***

Melalui artikel ini, dengan mengutip Ayub 16:2 ; aku hanya ingin singkat mengatakan, “panglipurmu mung wujud panyiksa tumraping aku” atau dalam bahasa Indonesia, “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”

LPP Sinode, Yogya, 5 April 2013

Pemulung Cerita.

Umur adalah Misteri

downloadTanggal 22 Maret malam, adik dari istri ponakan meninggal dunia di fitness centre, usia menjelang 28. Dia meninggalkan seorang istri dengan baby yang belum sebulan di kandungan (menikah belum 3 minggu).

Tanggal 29 Maret malam, abangnya kawan meninggal ketika main futsal di Cikarang (after office hour), usia 42. Dia meninggalkan istri dan 3 anak di Citayam (Depok).

Keduanya meninggal pas atau usai olahraga, yang notabene adalah kegiatan kesehatan.

Pelajarannya:

  • Apakah saya mengambil jenis dan intensitas olahraga yang tepat buat saya?
  • Apakah saya aware dengan kondisi-kondisi khusus tubuh saya?
  • Apakah saya seimbang dalam berbagai pola hidup? (istirahat, makan, olahraga, pikiran, dst)
  • Apakah saya telah menyiapkan diri bahwa saya bisa dipanggil setiap saat? Apakah saya telah menyiapkan sesuatu yang perlu buat orang-orang yang akan saya tinggal?

Jalan Buntu

stock-photo-dead-end-sign-935018Sebagai orang beriman walau memiliki banyak pegangan Firman Tuhan dan pengalaman bersama Tuhan, ada kalanya satu masa dalam hidup kita, kita menemui jalan buntu dan keadaan yang dinilai sangat tidak menyenangkan.

Tokoh-tokoh Alkitab juga mengalaminya.

  • Musa dengan jalan buntu berupa padang gurun.
  • Daniel dengan jalan buntu berupa gua singa.
  • Sadrakh dkk jalan buntu berupa dapur api.
  • Tuhan Yesus jalan buntu berupa ‘cawan itu’ yang harus diminum.
  • Paulus jalan buntu berupa penistaan agama.
  • Dst.

Tips untuk meresponi keadaan jalan buntu sebagai pemenang pertarungan iman:

  • Datang kepada Allah Bapa dalam doa.
  • Mengakui kedaulatan mutlak Allah atas segala sesuatu dan bersyukur atas anugerah-Nya dalam Kristus.
  • Mengakui kesempurnaan jalan-jalan dan rencana Tuhan dan berserah diri sepenuhnya pada kehendak-Nya.
  • Jujur dengan keadaan diri dan memohon kelepasan.
  • Menyatakan diri berserah dan tunduk jika harus melalui jalan yang tidak kita kehendaki, “jangan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi”.
  • Bersyukur dan memuji DIA karena rencana-Nya yang mulia.

Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Daniel 3:17-18, 26 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.

Filipi 4:6-7 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Krista, 1 April 2017

Bersama DIA dalam Penderitaan

Rahasia hidup sukacita dan damai sejahtera sejati di tengah dunia yang penuh dengan keruwetan adalah kesadaran yang terus menerus bahwa Kristus Sang Raja sedang bersama kita setiap saat.

Semakin sadar akan kebersamaan bersama-Nya dalam penderitaan, dalam kesusahan, semakin menikmati keindahan dan kemuliaan-Nya sebagai Raja kehidupan yang sedang menebus dan memulihkan segala sesuatu untuk dikembalikan seperti rancangan-Nya semula, yaitu rancangan sebelum segala sesuatu diciptakan.

Makin akrab dengan penderitaan bersama Dia… makin menikmati sukacita dan damai sejati yang diberikan-Nya.

Dipanggil untuk menderita bersama-Nya dan menikmati kemuliaan-Nya…. adalah sukacita hidup sejati.

Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Efesus 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Roma 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Krista, 31 Maret 2017

Simple Things About Discipline

Mantap… Ganbate!!!

dic.tion.ary of Doules

My work sometimes takes me to a place far away that I never know before. Sometimes this makes me tired but encouraged me to have a constant discipline to make things easy and orderly. I still learn to manage time for my family and me, my life, my hobbies, my social life, my spiritual time (Bible study and pray), and also social media time. There are many things to do. Laundry piled up, cleaning my room, pay a fee of rent, managing money, shopping list to do, rest, art, cooking, praying and seeking God, caring for family and friends (and the most important is the job).

Sometimes I let everything fall apart, I don’t care and too lazy. As a result I found a lot of laundry, no time for exercise, sleep deprivation, unhealthy food and sick then (I was infected by dengue fever last month-will tell you about the…

View original post 241 more words

Kasih Karunia TUHAN Yang Memampukan

KASIH KARUNIA TUHAN YANG MEMAMPUKAN BAHKAN DALAM KETIDAKSIAPAN MANUSIA MENERIMA TUGAS PANGGILAN-NYA

Abram sudah berusia 99 tahun, saat mendengar janji Tuhan yang akan memberikan anak dari istrinya Sarai. Abram meragu sekalipun di hadapan Tuhan tidak berani menyatakan kebimbangannya. Dalam relung hati kecilnya nyaring terbaca, “Bagaimana bisa usia seabad, dan istriku 90 tahun, akan hamil dan melahirkan putra?”

Bahkan sekalipun dalam kepercayaan yang tiada bulat, penerimaan Abram sudah dipandang modal berharga, sehingga Tuhan berkenan kepadanya. “Namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham. Bapa orang beriman. Dan istrimu bukan lagi Sarai, namun Sarah, Ibu bagi kaumnya, banyak bangsa akan menjadi keturunannya.”

Para murid sedemikian mendapatkan kesempatan istimewa, saat Tuhan Yesus sendiri terlebih dahulu menjelaskan bahwa Anak Manusia harus menderita sengsara, ditolak, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga.  Namun bukan kesediaan untuk ikut berbelarasa, dan berprihatin dalam kepedihan yang sangat dalam pada para murid yang  mendengarnya. Petrus sebagai yang terkemuka di antara para murid lainnya langsung saja menarik Tuhan Yesus dan memperingatkan, agar tak berkata seperti itu adanya. Menurut Petrus, Mesias adalah Pembebas Israel yang Jaya, jauh dari gambaran Mesias yang menderita.  Maka dengan spontan dan seru paling keras yang pernah diucapkan oleh Yesus kepada para murid-Nya, balas dimarahilah Petrus, “Enyahlah engkau Iblis, bukan Sabda Tuhan yang kau dengarkan, tetapi keinginan manusia!”

Abram dan Petrus adalah teladan iman kita. Namun mereka tidak sempurna. Sekarang kita bisa menilainya. Akan tetapi bila kita yang menjadi mereka, bisa jadi kita juga melakukan kesalahan serupa.

***

Setiap kita mendoakan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kita mengulang seruan, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di Sorga”. Namun sering maksud tersembunyi yang dihayati adalah, “Jadilah kehendakku….”. Maka  terjadilah, saat Sabda Tuhan dinyatakan, kita meragukan bila itu tidak sejalan dengan nalar kita, karunia akal budi yang diberikan kepada manusia malah membatasi kuasa Tuhan hanya sejauh itu bersesuaian dengan kecupetan nalar dan cara pikir kita yang sangat terbatas. Kita menolak bila itu tidak sesuai dengan angan pemikiran dan keinginan kita. Manusia dengan kebebasan yang diberikan berkehendak agar penderitaan, penolakan, dan kematian dapat dihindari, sangat berbeda dengan kesukarelaan menjalani jalan salib karena itulah jalan kemuridan yang memang harus ditempuh untuk menemukan hidup kekal.

Tak ada gagang pada salib, seperti gagang pada rantang makanan (alangkah indahnya kedatangan rantang bersusun empat dengan segala macam makanan antaran yang memenuhinya, aneka kemasan makanan bermerk tak akan dapat menandinginya). Karena itu salib harus dipikul karena berat, tak bisa dijinjing sebab bukan sesuatu yang ringan.  Bukan Tuhan yang harus menunggu waktu yang tepat untuk berfirman kepada manusia. Manusia yang harus menyangkal diri. Bukan Tuhan yang mengikuti manusia apa maunya dengan segala kuasa dan kebebasan hidup yang sudah dikaruniakan sejak penciptaannya sebagai Gambar dan Rupa Allah, melainkan manusia yang harus mendengar seruan “Ikutlah Aku”, dengan meninggalkan kemelekatan yang membebaninya, ke hidup bebas lepas yang menanti di peziarahan menjejak tapak tilas Sang Guru kehidupan, yang taat menjalani sampai akhir.

***

Sungguh alangkah indah kasih karunia yang tetap mau menerima, melayakkan, dan mengampuni segala kekurangan, cacat cela dan bahkan pemberontakan manusia kepada Sang Pencipta. Hidup hanya sekali berarti, sesudah itu mati. Karena itu kesediaan untuk senantiasa dalam keadaan sadar, siap mendengar firman Tuhan, dan hidup menurut panggilan kasih karunia Tuhan itu patut kita jaga senantiasa.   Kasih karunia itulah yang memampukan Abraham, Paulus, Petrus dan murid-murid lainnya dapat terus berjalan mengikut Yesus, sekalipun sebenarnya mereka tidak dan belum siap saat dipanggil.

Bukankah demikian juga kita? Mengapa bermegah terhadap kelemahan dan ketidaksiapan diri yang jelas tidak mungkin kita sembunyikan dan nyata mewujud dalam hidup kita? Hanya oleh anugerah, hanya dengan kasih karunia, kita dilayakkan, kita dimampukan. Bukan kelemahan dan ketidaksiapan yang dilihat oleh Tuhan, melainkan kesediaan untuk terus mengikut Yesus, memikul salib, menyangkal diri, oleh karena kasih karunia-Nya memampukan dan menguatkan. Maka jadilah Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sarah, Saulus menjadi Rasul Paulus, dan Petrus menjadi pemegang kunci kerajaan sorga, batu karang tempat jemaat Tuhan berdiri.

***

Tak ada orang yang sungguh-sungguh siap saat menerima tugas panggilan dengan status serta tugas baru dalam hidupnya. Tugas panggilan dari Tuhan dapat dinyatakan kapanpun dalam hidup kita, entah kita siap atau tidak, entah pikiran dan wawasan kita sudah cukup atau belum. Hal yang sama terjadi juga dalam hidup bersama berbangsa. Jokowi belum tentu siap saat menjadi Presiden RI, juga Ahok belum tentu siap saat jadi Gubernur DKI. Sistem administrasi pemerintahan dan mental berbangsa yang kacau memungkinkan banyak manipulasi tetap lestari dan korupsi sukar diberantas.  Dalam keadaan seperti ini yang sungguh diperlukan hanyalah keberanian untuk berserah kepada kasih karunia Allah yang terus memampukan dan memimpin kepada pembaharuan, sampai kepada kepenuhan dan kesempurnaan.  Saat memanggil seseorang Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7). Berhadapan dengan kuasa yang merusak dan membawa kehancuran dalam hidup bersama, hanya karunia Tuhan yang memampukan untuk tetap berjuang dengan berani, atas dasar kasih, melawan segala bentuk kekacauan yang melanggar norma ketertiban umum.

Maka, bersiaplah sekarang ini, apakah kita siap atau tidak siap inilah waktunya, bukan nanti kalau sudah siap, bukan nanti bila sudah bisa, atau sudah mampu, beranjak dari keberadaan sekarang yang ada, untuk dipersembahkan dengan mengikut Tuhan.  Karena akhirnya, toh kasih karunia Tuhan yang akan menyempurnakan dan menguatkan kita dalam perjuangan hidup ini.

-ytp,28 feb 2015

Cinta Mengatasi Perbedaan Pendidikan Dan Pekerjaan

Ketika berdoa, meminta seorang pasangan hidup, saya mendoakan seorang yang percaya Kristus dan bertumbuh. Setelah itu bertanggung jawab/bekerja, berasal dari keluarga yang baik, mengasihi dan menerima saya dan keluarga saya. Baru kemudian pendidikan sejajar dan memiliki pekerjaan yang tetap.

BD sudah pedekate sejak 2010, saat saya lulus kuliah. Dia beberapa kali sms/telp/komunikasi di facebook. Saat itu, saya sedang merangkai mimpi-mimpi tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi. Saya tidak menanggapi BD karena dia bukan tipe saya, secara fisik, pendidikan dan pekerjaan. BD kerja di bengkel sebagai montir (lulusan STM).

Kemudian saya mendapatkan pekerjaan yang berbeda/baru. Saya banyak berubah, tidak terlalu perfek lagi/lebih santai, tidak terlalu pemikir dan lebih siap menghadapi segala keadaan, yang buruk sekalipun. Karena seorang supervisor sering dihadapkan pada masalah, mental saya sudah sering diuji melalui pekerjaan. Suatu saat, saya ingin hidup sederhana, ingin mengurus rumah, ingin bisa mengatur keuangan dengan baik … dan ingin menikah. Menurut saya, Tuhan yang menaruh keinginan ini dalam hati saya.

Sebenarnya saya mendoakan BD sejak dia pedekate, tapi saya tidak terlalu yakin karena dia bukan tipe saya. Memang saya bergumul tentang pendidikan dan pekerjaan BD. Saya nangis beberapa kali karena hal ini. Tapi saya diingatkan tujuan saya mendoakan pasangan hidup. Seorang anak Tuhan, percaya kepada Tuhan, takut akan Tuhan. Bukan status pendidikan dan pekerjaannya.
Saat pulang ke kampung Natal 2013, saya menghubungi BD untuk bertemu (kami satu kota asal, teman SMP). Saat itu saya berdoa, ingin berteman dan mengenal BD karena selama ini kami hanya komunikasi via sms/telp/facebook. Sejak itu kami semakin intens berkomunikasi. Dan akhirnya dia ke kota saya untuk pertama kali bulan Februari. Setelah itu kami pacaran.


Saya menerima BD karena dia anak Tuhan, dia mengenal Tuhan sejak 2004, baptis 2008. Dia bertumbuh di gereja, berbeda dengan saya yang sejak lahir sudah Kristen, bertumbuh di gereja dan persekutuan. BD pekerja keras, dia bekerja setiap hari jam 8 pagi-6 sore. Dulu dia harus membiayai bapak ibunya saat sakit, menyekolahkan adik-adiknya. Kakak-kakaknya di kampung pekerjaannya tidak tetap, jadi mereka mengandalkan BD, sebagai anak satu-satunya yang kerja di Jakarta. Maka BD pandai mengatur keuangan sampai sekarang.

Bapak ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Adik-adiknya sudah menikah. Diapun telah mendoakan saya sejak lama tapi tidak berani datang ke kota saya karena dia pikir saya telah punya pacar karena saya tidak menanggapinya. Setelah saya ajak dia ketemu, kami berkomunikasi dan dia mengajak saya berpacaran.
Saya berdoa dan melihat kriteria utama. Dia anak Tuhan. Walaupun kami bertumbuh di tempat yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula tapi saya melihat dia serius dengan imannya. Dia rajin belajar FT. Maka saya mau berpacaran dengannya. Kami beberapa kali diskusi tentang FT. Saat berpacaran saya ajak dia baca buku-buku tentang pacaran dan pernikahan. Kami diskusi. Hal ini menolong kami memiliki pengetahuan yang benar tentang pacaran yang berkenan kepada Tuhan. Saya ajak BD ketemu dengan teman couple di kota saya. Kami belajar beberapa hal, yaitu kejujuran dan keterbukaan.

Kami memang memiliki karakter yang berbeda. Saya pemikir, perfeksionis, banyak pertimbangan, berhati-hati dalam mengambil keputusan, tertutup. Dia mandiri, berani ambil resiko, tegas, konsisten, mandiri. Dia memang tidak banyak teman selain di pekerjaan karena waktunya tersita di pekerjaan. Lingkungan kerjanya tidak baik, dulu pertama-tama di Jakarta dia diajak ke club, main kartu, judi, minum, dll. Maka dia, setelah pulang kerja jam 6 sore di mess aja, ke mall kadang-kadang. BD ikut bible study di gerejanya tiap Rabu sore setelah pulang kerja.

Kehidupan BD di Jakarta adalah kerja kerja kerja. Kemudian istrahat di mess, ke mall/ke gereja dan kerja lagi esok harinya. Sebenarnya dia bisa libur seminggu sekali tapi tidak diambil. Dia akumulasikan liburnya untuk mudik. Saat pacaran saya sering ledekin dia kuper. Karena memang jarang keluar. Saya juga bergumul tentang ini. Dia kok gak punya teman banyak, jarang pergi kemana-mana, kerja terus. Saya berdoa dan sempet protes sama Tuhan. Tapi Saya ingat alasan kenapa dia kuper, karena lingkungan yang tidak baik. Makanya saat pacaran saya pernah ajak dia menengok anaknya teman, bareng teman-teman komunitas. Rencana saya ingin ajak dia saat persekutuan tapi kendalanya kadang-kadang dia gak bisa libur karena pekerjaan membutuhkan dia.

Saya juga kadang sebel. Saya liburnya hari Minggu, BD hari Minggu jarang bisa libur, palingan 1 kali hari Minggu dalam sebulan. Jadi kalau saya ada kegiatan komunitas, BD jarang ikut. Tapi yang saya pelajari dari sebuah hubungan pacaran adalah saling mengerti. Dia tidak melarang saya kegiatan di luar, saya juga harus mengerti pekerjaannya yang malah rame di hari Minggu.

13 September 2014
the happy lady: MS