The Body – Tanggapan

The Body (film)

Aku mau urun rembug, nanggapi pesan ini (tentang film The Body, red). Hanya saja tanggapan ini bukan susu yang murni dan rohani, tetapi makanan keras untuk orang yang dewasa, yang bisa mencerna, untuk kemudian memanfaatkannya.

Jika kita terus gunakan pendekatan kekuasaan, dengan melarang hal-hal yang kita pandang membahayakan, dengan tujuan menjaga kesucian dan keluhuran ajaran yang kita pegang, apa bedanya dengan misalnya: Barisan Anti Komunis yang melakukan sweeping buku, atau Laskar Jihad?

Lebih jauh lagi, apa dengan larangan kita jamin bisa mengenyahkan rupa-rupa
penyesatan atas nama agama, ideologi, moral dan apapun ikatan yang kita
luhurkan? Juga tak kurang bahayanya adalah pornografi, pelecehan anak, perempuan, dan kaum miskin, dengan hegemoni ideologi kapitalis di belakang
semua keburukan itu (wah, apa pula maksud istilah ini ya?).

Dan lagi pula kuasa apa yang diberikan pada kita untuk dapat melarang umum
melarangnya? Secara hukum kita bisa mengajukan permohonan ke Badan Sensor
Film, tetapi dalam kenyataan kita hidup dalam ketidakberdayaan mengetahui
betapa banyak film yang beredar tanpa lewat BSF.

Bulan Maret kemarin di Philippina ada kisah satire, ketika Presiden dengan
dukungan dan desakan Gereja melarang peredaran film “Live Show” yang
mengangkat kisah nyata liku-liku bisnis hiburan sex di Philippina, sehingga
serta merta saat itu juga ketua BSF di Manila mengundurkan diri, seraya
berkata, “Bagaimana mungkin Presiden, dan Kardinal Sin (Uskup Manila)
melarang peredaran film yang tidak pernah mereka saksikan penayangannya?”

Akhirnya realita memperhadapkan kita pada kesadaran, bahwa tak mungkin
menyeleksi semua media dan informasi yang beterbangan bebas di langit global
yang merdeka ini. Yang bisa kita kerjakan atas burung-burung pemakan bangkai
yang beterbangan di angkasa di atas kita hanyalah agar mereka tidak hinggap,
apalagi bersarang di kepala kita.

Ada langkah-langkah praktis, yang lebih mendewasakan dan memerdekakan kita, tanpa membuat tembok kurungan yang menyekat kita dari keprihatinan yang sungguh atas dunia sekitar kita.

  1. Bangun sensor pribadi di kepala kita, mekanisme apresiasi yang otomatis mencari apa yang baik, benar, berharga, mulia, disebut kebajikan dan layak dipuji.
  2. Bangun iman yang dewasa dan mandiri, apa yang baik, maupun yang jahat, itu bukan apa yang masuk dari luar ke dalam, tetapi apa yang dari hati kita keluar. Bukan apa yang diajarkan, ataupun informasi dari pihak/orang lain kepada kita, tetapi apa yang tumbuh, berakar, dan berbuah dalam pengakuan pribadi kita.
  3. Menyadari batas antara iman dan akal. Bahwa iman kepada Yesus dan penyelamatan Allah bukan berdasar pada bukti-bukti ilmiah, sejarah, dan apologi macam-macam tentang tulang Yesus … , kok kayak tidak menganggap karya Roh Kudus yang sudah dimeteraikan kepada kita sih! Split personality sering terjadi pada homo sapiens yang berakal budi ini, seakan-akan semua hal termasuk iman bisa dibuktikan, dengan methoda mpirik, dan rasionalitas positivistik ala Descartes. Ini persoalan lama, tapi nampaknya masih urgent bagi kita. Lha wong film yang jelas-jelas fiction saja diributkan kebenarannya.
  4. Bahwa sebagai orang dewasa kita diberi kewenangan untuk mengajar, mengarahkan dan mendidik anak-anak dan adik-adik kita. Dan panggilan itu sudah pasti tidak bisa dikerjakan dengan jalan melarang. Katanya, anak sekarang kalau dilarang ini dan itu malah pengin tahu, dengan sembunyi-sembunyi tentu. Waduh, lebih celaka lagi ini.

Cukup sekian dulu tanggapan ini. Gue nggak tertarik cari film “the Body”
ini, masih banyak film lain yang jauh lebih menarik untuk dinikmati.
Lagipula di dusun kayak gini susah nyarinya, mau ke bioskop jauh, VCD-player
juga nggak punya. Udahlah, nulis tanggapan ini saja.

Waktu mahasiswa, aku ke bioskop nonton film “The Sound of Music” sampai tiga
kali. Eh, ada nggak yang punya VCD-nya? Ada beberapa judul film lain yang
bisa kurekomendasikan, hanya saja memang perlu bekal apresiasi untuk
mendapat manfaat.

Daripada tidak ngutip ayat, aku ngutip ini saja:

Ada orang yang berkata bahwa setiap orang boleh melakukan segala sesuatu. Tetapi bagi saya tidak semuanya berguna. jadi meskipun saya boleh melakukan apa  saja, tetapi saya tidak mau membiarkan diri saya dikuasai oleh apapun”

dan

Kata orang, “Kita boleh berbuat apa saja yang kita mau.” Benar! Tetapi tidak semua yang kita mau itu berguna, “Kita boleh berbuat apa saja yang kita mau” – tetapi tidak semua yang kita mau itu membangun kehidupan kita

1 Kor. 6:12, 10:23.

(ytp)

Advertisements