Terbang Ke Luar Negeri Lagi

Purwantoro, 30 Oktober 2006

Kawan-kawan, selama bulan Ramadhan lalu aku berkesempatan ke Amrik, sempat nelpon Kang Djodi di Arizona, waktu mau nelpon Kang Abel di NY dan Kang Joe Ragan, eh kartu teleponku habis. Berikut beberapa catatan perjalanan, ditulis dengan gaya kampungan, karena memang sudah berbelas tahun tinggal di kampung. Beberapa tulisan lain nanti akan menyusul.

 

Terbang Ke Luar Negeri Lagi

Aku masih di Solo, dan lewat telepon istri di rumah Purwantoro mengabarkan bahwa ada yang mencari, saat diberitahu bahwa aku sedang dalam perjalanan ke USA teman yang mencariku berkomentar, “Hah, ke Luar Negeri lagi. Enak ya, jalan-jalan terus!” Wah, keliru besar tuh kawan yang satu ini, aku tidak jalan-jalan, kemana-mana aku pasti naik mobil bahkan naik pesawat terbang.

***

Penerbangan

Dua bulan sebelum keberangkatan tiket pesawat sudah kupegang. Untuk penerbangan lokal Solo-Jakarta dengan tiket cetakan, pakai Garuda Indonesia Airways, tetapi perusahaan yang mengeluarkan tiket adalah dari dari biro jasa Travel Authority, dengan penerbangan utama memakai United Airlines. Travel Authority pula yang memberikan tiket elektronik padaku untuk penerbangan dari Jakarta-Seoul dengan Korean Air (KA 628), baru dari Incheon ke Narita memakai pesawat United Airlines (UA 884), berlanjut kemudian ke O’Hare Chicago dan ganti pesawat lagi ke Lousville Kentucky. Dari Solo sampai Louville total penerbangan 37 jam, semuanya di kelas ekonomi yang untuk meluruskan kaki saja susah.

Bulan September 2006 ini semua penerbangan di USA sudah memakai sistem tiket elektronik. Kepada setiap penumpang yang sudah memesan tiket hanya diberikan nomor kode perjalanannya. Aku sudah mencetak jadwal perjalanan yang dikirimkan padaku oleh pengundang. Lewat internet sudah aku chek bahwa semuanya beres, kudapat namaku di daftar penumpang yang pasti berangkat, berikut nomor penerbangan, waktu dan tempat keberangkatan. Bahkan di situs penerbangan itu ada beberapa penerbangan yang sampai menawarkan nomor tempat duduk yang dikehendaki di pesawat, apakah dekat jendela ataukah dekat gang, dekat toilet ataukah di baris paling belakang. Hal yang tak kalah penting adalah keterangan nomor pintu gerbang keberangkatan yang di beberapa bandara besar bisa sangat menyusahkan bila waktu antar penerbangan sangat sempit karena bisa jadi pintu gerbang kedatangan pesawat dan keberangkatan jauh letaknya, bukan hanya berbeda nomor, tetapi juga berbeda terminal.

***

Sewaktu di Australia aku juga pernah memesan tiket pesawat secara elektronik. Sama sekali tak ada tiket yang kupegang, cukup dengan membawa identitas (ID Card, untuk orang asing dengan menunjukkan passport dan visa yang masih berlaku)  dan datang ke kounter penerbangan saat boarding-time, dan sesaat kemudian diberikan boarding-ticket, bagasi bisa ditimbang dan diserahkan, dan penumpang bisa masuk kawasan sekuriti lewat pemeriksaan ketat metal-detector dan x-ray untuk barang tentengan yang dibawa ke kabin pesawat.

Semua dokumen pribadi yang diperlukan sampai urusan imigrasi di negri kedatangan sudah kusiapkan. Dengan keyakinan semua akan beres aku mendaftar ke kounter Korean Air di Bandara Sukarno Hatta. Sapaan “anyong haseyo” yang kusiapkan tak jadi kuucapkan karena kudapat wajah berseri sepertiku berjaga di sana. Tapi aduh alamak, ternyata lama sekali ia memastikan bahwa aku memang penumpang yang berhak mendapat karcis boarding.

Petugas itu tak berhasil menemukan namaku lewat komputer online yang ada di depannya, tetapi tak hendak bersedia juga memberitahukanku apa adanya. Sesudah menyerah, baru ia memberitahuku.  Jadilah aku yang menunjukkan website dan password nomor kode perjalananku. Hanya satu kode perjalanan yang kupegang untuk 18 kali ganti pesawat dalam perjalanan satu bulan sampai 28 Oktober 2006 mendatang karena semuanya memang diurus oleh satu biro perjalanan sekaligus, tak boleh dirubah lagi, tinggal dijalani. Belum cukup kesulitan dengan konfirmasi boarding-tiket, tambah malang lagi, petugas bloon ini tidak dapat  menjawab apakah  satu tas yang kutitipkan di bagasi harus kuambil di bandara Chicago ataukah Lousville. Sabar, sabar, meskipun sudah berlatih sabar sekian lama ternyata sekolah kesabaranku belum dianggap cukup.  Akhirnya, “Selamat jalan”, ia ucapkan, tetap dengan senyum lebar.

****

Terminal Keberangkatan Internasional

Sekalipun masih di bandara Sukarno Hatta, di negeri sendiri, perasaan terisolasi dan terasing begitu mengungkung. Tak ada banyak wajah Indonesia berlalu lalang, bila ada, kebanyakan dengan seragam yang membuatnya jadi berjarak. Ini masih di Jakarta, bagaimana sebulan nanti di luar sana?

Bangku-bangku ruang tunggu sudah dipenuhi dengan penumpang Korean Air, kebanyakan pria dan dewasa, businesman mestinya, sedikit wanita, lebih sedikit lagi keluarga, mungkin karena bukan musim liburan. Masih satu jam sebelum waktu keberangkatan, dan aku mencari tempat duduk untuk makan malam. Kudapat rangkaian empat kursi berjajar dengan hanya satu orang, asyik mendaraskan bacaan Qoran yang terbuka di hadapannya. Aha, aku mau duduk di sampingnya!

Makan

Saat diantar ke bandara Adi Sumarmo Solo, kakak bawakan beberapa roti berukuran cukup besar dan botol minuman, “Ini untuk makan di pesawat”. Cukup banyak urusan sebelum keberangkatan membuatku tidak berpikir tentang makanan. Dan dengan pemikiran bahwa penerbangan internasional, dengan waktu terbang lebih dari tiga jam pasti menyediakan makanan gratis untuk penumpang membuatku hanya mengambil dua buah roti saja: roti pisang dan roti kacang. Meski membawa bekal uang yang cukup, aku selalu merasa makanan yang disajikan di  rumah makan Bandara selalu tak memenuhi selera, apalagi bila dibandingkan dengan harganya. Maka duduklah aku disamping pria kurus berkacamata berambut gondrong keriting ini. Ia terlalu berkonsentrasi dengan bacaannya sehingga salam lewat senyum dan anggukanku saat akan duduk terlewat begitu saja.

Kubuka roti pisang dan kumulai makan malamku.  Sambil membayangkan nanti setiap hari akan jauh dari nasi, sayur lodeh dengan sambal tomat ataupun tempe goreng. Tapi tak perlulah sentimen seperti ini, sudah terbukti perutku dapat beradaptasi dengan segala macam makanan, lagipula tubuhku menyimpan cukup cadangan makanan sekalipun aku kurang makan berhari-hari akan tetap dapat tahan. Selesai makan, ternyata pria di sebelahku juga sudah mengakhiri pendarasan bacaannya. Dia menoleh padaku dan mulailah percakapan.

Kawan Baru

            Di tengah kerumunan muka-muka asing, mendapatkan kawan yang dapat diajak bicara sebahasa adalah berkat tersendiri. Namanya Mulyatno, dosen komunikasi di Sekolah Tinggi Pembangunan Desa Yogyakarta. Ah, tetangga dekat ternyata, tiga bulan sesudah gempa Yogya 27 Mei 2006 aku lebih sering menginap di rumah teman berjarak hanya beberapa gang saja dari sekolah itu.  Juga lima tahun sekolah di Yogya membuatku merasa Yogya sebagai bagian kampung halamanku juga. Ia pergi ke Korea Selatan, mendapat undangan dari Unesco, untuk menjadi salah satu pembicara seminar tentang perlunya membangun komunikasi dalam pembangunan kawasan pedesaan. Ternyata dengan berbekal menulis saja dapat gratis pergi ke luar negeri.

Ketika tahu aku pendeta, bahkan tambah seru lagi perbincangan antara kami berdua. Dikatakan bahwa saat SMA dulu ia sekolah di SMA Kristen, bahkan menjadi pengurus OSIS, dan pendeta yang mengajar di sekolah itu sudah dianggapnya orangtua kandung, dan olehnya ia didorong untuk masuk aktif di organisasi, ia pilih HMI, dan sekarang jadi dosen. Ia bahkan seperti diingatkan belum menelpon orangtua “angkat”nya bahwa ia akan ke luar negeri. Jadilah saat itu juga ia menelpon mereka, mohon pamit. Bertukar kartu nama dan janji akan kontak lagi baik lewat e-mail maupun ketemu darat tak kurasa sebagai basa-basi saja. Kalau pulang nanti ia akan kuhubungi sehingga dapat mengembangkan hubungan lebih lanjut lagi. JERAMI, Jejaring Rakyat Mandiri nama organisasi petani di timur Wonogiri dimana aku ikut mendukungnya tentu akan dapat banyak manfaat dengan menjalin jejaring dengan orang dan lembaga seperti yang dimiliki oleh teman baruku ini. Selamat bertugas kawan! Selamat menikmati kimchi di Korea!

****

Aku duduk di baris kiri dekat jendela, teman sebelahku kusangka Korea, ternyata orang Jepang. Ia hanya transit saja di Seoul, dari sana melanjutkan perjalanan lagi ke Narita. Ia masih muda, ternyata masih mahasiswa, jurusan pertanian, baru saja menyelesaikan praktek lapangan 2 bulan di sekitar Makasar untuk mempelajari pola tanam padi di sana. Aku agak heran juga bagaimana ia bisa melakukannya karena bahasa Inggrisnya amat sangat minim, apalagi bahasa Indonesia, minta ampun, agaknya kemampuan bahasa memang tidak diperlukan untuk bisa belajar ataupun survive hidup dalam banyak hal. Yang lebih penting dari itu mungkin uang. Asal bisa bayar semua pelayanan akan datang. Lho, apakah memang begitu? Hal itu tak berlaku untukku ternyata, tak mungkin orang Amrik mengundangku kalau mereka tak yakin bahwa aku bisa bicara dan komunikasi dengan mereka, mereka mengirimi tiket dan segala keperluan pengurusan visa dan menanggung semua kebutuhan perjalanan karena aku diundang untuk bertemu dan bicara dengan mereka, bahkan disediakan uang saku juga.

 

***

Incheon dan Narita

Ada waktu tiga setengah jam di bandara Seoul sebelum melanjutkan perjalanan ke Narita. Sekalipun di layar informasi jelas berkedip-kedip nomor penerbangan dan nomor pintu gerbang keberangkatan, tetap saja aku merasa perlu mencari loket informasi supaya tidak perlu berkeliaran mencarinya. Ada wanita berseragam, dan ketika kutunjukkan tiket pesawatku langsung saja melingkari satu nomor di denah bandara Incheon yang disediakan. Ternyata aku harus ganti naik satu tingkat dan dari sana baru kutemukan nomor pintu gerbang keberangkatan yang kucari. Menyusuri lorong-lorong panjang bandara tanpa berbekal denah sering menyesatkan, terlalu panjang selasar yang menanti, terlalu asing pemandangan kiri kanan, lebih aman tanya ke bagian informasi, sesudah tahu dengan menghitung waktu barulah boleh jalan-jalan untuk melemaskan kaki yang selalu tertekuk dan badan yang selalu dalam posisi duduk selama berjam-jam penerbangan. Kalaupun malas jalan-jalan karena masih terlalu pagi dan toko-toko di bandara belum juga buka (kalaupun buka ternyata yang dipajang dan dijual lebih banyak cindera mata untuk konsumsi turis saja, tak ada yang istimewa dan baru lagi ternyata) dapat juga membaringkan diri, entah di kursi, entah di lantai yang selalu tertutup dengan karpet tebal empuk untuk duduk ataupun membaringkan diri.

Di jaman serba kartu kredit dan mesin otomatis seperti ini, cilaka juga awak tak punya sekepingpun kartu untuk bertransaksi. Tetapi apa pula yang ingin kubeli di sini? Tak ada koin won maupun yen, tak masalah untuk minum karena tetap tersedia kran air minum gratis di sepanjang lorong bandara. Bila ingin makan baru ada masalah sekalipun hanya masalah kecil saja, tunggu saja layanan makan kalau sudah masuk di pesawat nanti.

Ada dua macam hidangan ditawarkan di penerbangan ke Seoul dan Narita, tiap penumpang boleh pilih salah satu di antaranya. Roti tawar bundar kecil ditawarkan boleh ambil berapapun banyaknya, melengkapi salad, nasi, lauk ikan, semacam tumis buncis wortel dan sawi dengan seekor udang, cake atau kue manis, permen dan  buah yang sudah dikupas. Minuman dapat memilih antara aneka minuman soda, hangat, juice, dan tak ketinggalan sebagai penutup bila menghendaki anggur putih ataupun anggur merah. Beraneka ragam makanan kompak tersaji di baki kecil, dengan penataan yang menarik. Melihat menu seperti ini, pantas ada yang memilih jasa penerbangan tertentu karena suka kepada menu makanan yang disajikan.

***

Langit biru dan awan kelabu

Bagaimana aku melukiskan suasana di balik jendela pesawat dan di bilik sempit kabin penumpang yang terisi penuh semua kursinya? Perjalanan panjang dengan pesawat selalu membuat diri sebegitu kecil, langit biru dan awan kelabu. Sedikit cerah saat malam pekat memperlihatkan bintang-bintang berkelip, sangat berbeda dari ketinggian saat mengudara 8-9 km dari permukaan laut dibandingkan dengan saat memandang dari permukaan daratan. Sedikit perubahan cuaca sudah membuat pilot mengumumkan peringatan kepada ratusan penumpang pesawat Boeing Jumbo Jet 747 yang dibawanya agar mengenakan kencang ikat pinggang. Sensasi getaran apalagi guncangan mendekatkan makna hidup menghadapi kuasa alam yang tak dapat dilawan bahkan sebaiknya selalu dijadikan kawan. Tehnologi tak dapat berpongah dan beribu aturan keselamatan penerbangan sudah seharusnya membuat manusia berendah diri selalu.            Langit biru dan awan kelabu, kerlip bintang di pekat malam. Terang temaram kabin penumpang selalu membawa lamunan terbang ke rumah, keluarga, dan kampung halaman yang ditinggalkan.

***

Imigrasi USA

Dari sekian banyak penumpang di pesawat yang kutumpangi dari Narita ke Chicago, ternyata hanya dua orang saja yang baru pertama kali ini menjejakkan kaki di bumi USA. Dengan jelas di antrean imigrasi ada jalur-jalur yang menunjukkan: untuk warga negara USA, untuk yang sudah pernah berkunjung ke sana, dan untuk yang baru pertama kali datang. Aku agak kasihan dengan seorang ibu tua berwajah dan berpakaian sari India, untuk mengisi satu lembar bolak-balik formulirpun ia kesulitan, mungkin masih jetlag, tapi dari beberapa percakapan yang kudengar, ia selalu menjawab dengan bahasa yang aku tak tahu.

Bahkan di negeri Bill Gates ini  sekalipun komputer imigrasi yang digunakan aku yakin merupakan produk terbaru, layar LCD tipis yang ada di meja menunjukkan hal itu,  namun ternyata mesin scan yang ada di sana tak bisa mengenali passport dan visa yang tidak kusangsikan keasliannya karena kuperoleh dengan susah payah antri menghabiskan waktu beberapa hari baik di kantor imigrasi Solo yang mengeluarkan passport, maupun di Konsulat Amrik Surabaya yang mengeluarkan visa. Jadilah petugas yang kuhadapi tetap saja mencoba-coba dan tetap tak bisa juga, memanggil beberapa teman, disela beberapa pekerjaan lain yang datang kemudian, si Ibu berwajah India sudah diajak ke ruang lain, entah kemana. Akhirnya setelah 50 menit dibiarkan begitu saja, aku dipanggil, ditanya alamat yang dituju, kegiatan apa yang dilakukan, akan pergi kemana saja, dan ternyata surat rekomendasi dari pengundang adalah mutlak. Sidik jari telunjuk kanan dan kiriku diambil, lagi-lagi dengan mesin scanner khusus untuk sidik jari, dan kemudian fotoku diambil lewat kamera digital yang standby di tripod mejanya. Beres sudah. Welcome to United States of America! Have a nice day!

Tetapi aku belum tahu nasib bagasiku yang cuma sepotong itu, yang kata petugas di Jakarta dan juga catatan tiket yang kupegang harus kuambil di Chicago. Lagipula sesudah semua tetek bengek imigrasi waktu yang tersisa untuk mengejar penerbangan selanjutnya ke Lousville KY tinggal 20 menit lagi. Bagaimana bisa?

Tertinggal Pesawat

            Pergi ke tempat pengambilan bagasi, ada beberapa kopor tertinggal kucari jelas tak ada bagasiku di sana. Kutunjukkan tiketku ke petugas yang berjaga dan ia bilang bagasiku sudah dikirim ke Lousville. Setengah tak percaya akan tetapi tak bisa membantahnya karena karcis yang kupegang mengharuskanku mengambil bagasi di Chicago iya sudahlah, waktu memburu, aku lari, di pintu gerbang dan terminal mana pesawatku untuk penerbangan selanjutnya?

Aku tahu tiap terminal pasti ada denah peta airport dan juga kerlip-kerlip monitor TV yang setiap kali memperbaharui informasi penerbangan satu-dua-tiga jam ke depan di bandara itu. Tetapi aku tak ada waktu untuk mempelajarinya sendiri. Lagipula  budaya kampung yang kubawa cenderung membawaku menyapa dan bertanya kepada orang bukan kepada papan berita. Ternyata yang bertugas di bagian informasi adalah seorang sukarelawan, nenek yang untuk membaca tiket saja harus dengan kaca pembesar. Meski sukarelawan akan tetapi ternyata ia tahu benar tugasnya. Sesudah menelpon sebentar, ia bilang, “Kamu terlambat, pintu keberangkatan pesawat ini di G10, terminal tiga. Sekarang kita di terminal kedatangan internasional, jadi kamu keluar, naik kereta airport, turun di terminal tiga. Tetapi waktumu tak akan cukup untuk sampai ke sana”. Terima kasih banyak Nenek!

Petugas imigrasi tadi bilang dengan enteng, tak masalah aku tertinggal pesawat, pakai saja penerbangan berikutnya. Meski demikian sepanjang lorong aku tetap saja jalan secepat yang aku bisa, meski tahu bahwa tak mungkin pesawat menungguku. Tapi dua tahun lalu di Bandara Bangkok aku juga mengalami hal serupa, ternyata sekalipun terlambat 30 menit ada petugas yang khusus menungguku dan langsung mengantarkanku melewati antrean panjang penumpang domestik, dan membawaku ke pesawat yang akan melanjutkan perjalanan ke Chiang Mai. Itu enaknya memakai jasa penerbangan yang sama. Antara berharap bahwa pesawat akan menungguku dan juga kesadaran bahwa aku sudah tertinggal pesawat, 10 menit sesudah jadwal keberangkatan aku sampai ke gerbang pemberangkatan pesawat. Di monitor nomor penerbanganku sudah tak ada. Jadilah, aku tertinggal pesawat.

Petugas yang baik

Mungkin petugas itu sudah melihat nafasku yang memburu saat datang ke kounternya. Mungkin juga karena aku datang dengan permohonan minta tolong, sekaligus keterangan bahwa itu adalah hari pertama aku menjejakkan kaki di negeri mereka, mungkin juga ia iba karena aku menunggu sekian lama untuk urusan imigrasi. Akan tetapi yang jelas, ia petugas yang baik. Segera setelah kuutarakan permasalahanku, sebentar saja ia mengetik di keyboard komputer di depannya dan segera tercetak tiket baru untuk penerbangan berikutnya. Aku harus menunggu 2 jam lagi padahal dari Chicago ke Lousville hanya 40 menit lama penerbangannya. Tapi apa mau dikata?

Di kantongku sudah ada uang dolar yang sejak dari Jakarta tak pernah digunakan. Aku sudah berpikir menukarkannya dengan uang koin untuk menelepon penjemputku bahwa penerbanganku terlambat dari jadwal yang seharusnya. Wah, belajar menelpon di Amrik dalam keadaan terdesak! Baliklah lagi aku petugas yang melayaniku tadi, bilang bahwa aku tak punya telepon, dan bermaksud memberitahu penjemputku bahwa aku ganti penerbangan dan terlambat dari jadwal. Eh, ternyata langsung saja ia mengeluarkan ponsel dan kemudian menelpon ke alamat yang kuberikan. “Do you want to speak to him by yourself?” Oh, no thanks, dan dari percakapan singkat yang kudengar semakin aku terkesan, betapa profesional ia menyampaikan berita keterlambatan penerbanganku kepada penjemputku yang bila tidak kuberitahu aduh alangkah suntuknya ia! Cukuplah sudah kesulitan hari ini, sekarang aku hanya ingin minum dan beristirahat menunggu waktu keberangkatan pesawat.

Tetapi ternyata orientasi perjalanan dengan pesawat dan pengenalan bandara di hari pertama aku datang di Chicago belumlah cukup. Aku masih harus pindah dari terminal domestik 3 ke terminal domestik 2. Bila tadi naik kereta bandara, sekarang turun ke landasan dan menunggu sebentar datanglah bus yang menjemput. Hanya ada tiga orang bersamaku di bus itu. Kunikmati sekarang berkendara di tepian landasan pesawat yang berlalu-lalang dengan mesin mereka yang terus bergemuruh menghabiskan minyak ribuan liter setiap mengangkasa.

***

Selamat Datang

Sudah terlanjur lelah dan kesal, aku tak berusaha mencari makan sembari menunggu. Dua jam berlalu, dan sampailah aku di penerbangan ke tempatku berkegiatan selama tiga hari mendatang. Kali ini penerbangan domestik, sudah kuperoleh ijin masuk negeri ini, tak ada lagi urusan imigrasi dan segala macam kesulitannya. Di gerbang penjemputan ada wajah yang photonya sangat kukenal selama tiga bulan ini menjemputku. Aku melihatnya terlebih dahulu, memegang selembar kertas bertuliskan namaku. “Welcome to United states”, sambutnya sambil memelukku.

Selama tiga puluh hari mendatang aku akan pergi ke lima tempat yang berbeda, dan masing-masing dengan connecting flight yang mengharuskan aku pasti ganti pesawat setiap kali pergi, sendiri, sebagaimana kualami dalam keberangkatan ini. Orientasi tentang tata cara penerbangan lengkap dengan simulasi bilamana ada keterlambatan dan penundaan jadwal terbang benar-benar terjadi sudah kualami di saat kedatangan ini. Aku tak mau sujud ke tanah mengucap syukur, aku hanya sebulan berkunjung di sini, ini bukan tanah airku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s