Bagaimana Rasanya Naik Pesawat Terbang?

Purwantoro, 31 Oktober 2006

Bagaimana Rasanya Naik Pesawat Terbang?”

“Pak, bagaimana rasanya naik pesawat terbang itu?” Mendengar pertanyaan polos di hari kedatanganku sesudah melewati dua kali pergantian hari di dalam pesawat terbang, terasa sangat kesulitan untuk menjawabnya dengan baik. Sekarang aku menuliskannya, aku berhutang untuk berbagi cerita kepada penanya dan juga sekian banyak wargaku yang belum tahu bagaimana rasanya naik pesawat terbang itu. Karena itu cerita ini bisa dilewatkan saja bagi yang merasa bahwa cerita kayak gini tak penting adanya.

***

Aku tak yakin apakah aku harus menceritakan prosesnya, sama seperti bila hendak pergi naik bus ke Jakarta, maka harus pesan dan beli karcis terlebih dahulu? Datang mendadak ke lapangan terbang tentu saja juga bisa, tetapi tidak ada jaminan bahwa nanti pasti akan bisa terbang, harus masuk daftar tunggu kalau memang tidak ada kursi kosong tersedia, syukur bila ada penumpang yang sampai menit terakhir ternyata tidak datang sehingga bisa menggantikan tempatnya. Hal ini memang sangat berbeda dengan bus antar kota yang tetap saja meneriakkan “kosong!” dan mengajak setiap orang yang berdiri di pinggir jalan untuk masuk berjejal sampai tak bisa dipaksakan ditambah penumpang lagi.

Sekarang aku bisa menambahkan cerita, bahwa di Amrik sana sama sekali tidak ada karcis biaya pelayanan bandara. Itu sudah termasuk harga pembelian tiket penerbangannya, jadi perusahaan penerbangan nanti yang akan membayar kepada pihak bandara. Kalau di Solo, Yogya, Jakarta paling tidak harus sedia uang 20-30 ribu rupiah untuk penerbangan dalam negeri, bahkan untuk ke luar negeri biaya pelayanan bandara dengan fasilitas ala kadarnya ini dipungut biaya Rp 100.000, dan pajak bepergian ke luar negeri (fiskal) sebesar Rp 1.000.000. Lha belum terbang baru masuk bandara saja sudah membayar harga yang tidak murah, pantas lebih banyak yang mengantar hanya sampai ke ruang bebas saja.

***

Mungkin naik pesawat terbang itu seperti bus AC-eksekutif, semua penumpang dapat tempat duduk, tak ada yang berdiri. Pesawat paling kecil yang kutumpangi selama perjalanan adalam EMB, Embraer N145, buatan Brazil. Ukuran ruang kabin penumpang hanya muat kursi tiga, satu di kiri, gang di tengah, dan dua di kanan, memanjang ke belakang dari nomor 1 sampai nomor 22. Penumpang sebanyak 63 orang cukup dilayani satu pramugari dan dua awak kabin pilot dan pembantu pilot. Pesawat yang lain ada yang memuat sekitar 80 orang, 100 orang, 200 orang, dan yang terbesar yang pernah kunaiki adalah pesawat Jumbo Jet Boeing 747-400, tak kuhitung sendiri tetapi katanya bisa muat sampai empat ratus orang masuk ke dalamnya. Aku yakin semua warga RT-ku ditambah RT sebelah dapat sekaligus masuk ke dalamnya.

Bila naik motor baru kecepatan 60 km/jam saja sudah terasa ngebut, tapi pesawat penumpang dengan mesin jet tak bisa terbang kalau kecepatan kurang dari 300 km/jam. Dan setelah lepas landas masih tetap saja mempercepat laju kecepatannya, dan sesudah ketinggian 6-11 km dari permukaan laut akan stabil dengan kecepatan rata-rata 800-900 km/jam, sedikit di bawah kecepatan suara. Meski demikian kecuali suara mendengung mesin yang bekerja keras nyaris tak ada suara di kabin penumpang yang kedap suara ini, apalagi hembusan angin yang katanya bersuhu minus 50 derajat Celcius. Membayangkan tehnologi yang memungkinkan sedemikian banyak penumpang terbang di ruang sempit tertutup kabin pesawat ini merupakan tambahan kesukaran lagi.

Meski penerbangan pendek kurang dari 60 menit, tetap saja pramugari dengan sigap menawarkan dan membagikan paling tidak minuman kepada para penumpang. Waktu menunggu jadwal keberangkatan pesawat sering lebih lama dari waktu penerbangannya, membuat banyak penumpang sungguh kehausan dan segera saja menghabiskan minumannya. Memang tak banyak waktu untuk berlama-lama di pesawat. Lagipula bila sudah mendarat di kota tujuan, tak ada alasan untuk duduk lebih lama lagi di dalam pesawat. Untuk penerbangan dengan waktu yang lebih lama, disediakan snack dan bahkan makan besar dengan pilihan menu makanan dan minuman yang beragam. Dengan alasan untuk menghemat biaya, beberapa penerbangan di Amrik sudah menghapuskan acara snack dan makan. Bila memang menghendaki snack atau makanan, silahkan beli di bandara dan bawa sendiri ke kabin penumpang. Ada juga yang menawarkan paket snack aneka macam seharga 5 US$, heran, ada juga yang beli dan makan!

***

Tiket Kelas Bisnis

Tiket boarding yang sudah kudapatkan sejak di Lousville jelas menuliskan bahwa aku mendapat tiket kelas bisnis untuk penerbangan Hongkong-Singapura. Jadwalku seharusnya penerbangan pulang langsung dari Chicago ke Singapura, perubahan rute ini lebih menyita perhatianku daripada perubahan kelas penumpang yang kudapatkan. Karena itu sampai saat transit di bandara Hongkong aku tidak begitu memperhatikan hal ihwal tiket kelas bisnis yang kudapatkan ini.

Saat antri akan masuk pesawat baru aku sadar bahwa aku memegang tiket bukan dengan kelas ekonomi lagi seperti belasan penerbangan yang kulakukan sebulan ini, dan harap tahu saja bahwa antrian untuk penerbangan jarak jauh dengan pesawat jumbo jet memakan waktu jauh lebih lama bisa sampai satu jam sebelum keberangkatan karena memang tidak mudah untuk memasukkan empat ratus penumpang sekaligus dan memeriksa semuanya beres sebelum memberangkatkan mereka ke negara lain.

Dari barisan antrean saja sudah terlihat perbedaan tiket kelas bisnis dan kelas ekonomi! Sejak awal aku selalu masuk pesawat di urutan belakang, tak pernah mau berdiri lama di antrean. “Ngapain antri berlama-lama, wong yang masuk duluan atau belakangan sampai di tujuan di waktu yang bersamaan!”, begitu pikirku. Dan barisan kelas bisnis selalu lebih sedikit dari barisan kelas ekonomi yang mengularpanjang. Lebih dari itu barisan kelas bisnis selalu lebih lancar didahulukan dari kelas ekonomi. Sekarang setelah masuk ke barisan ini baru aku tahu sebabnya.

Prosedur standar saat akan masuk pesawat adalah pemeriksaan barang bawaan ke kabin penumpang. Ada deretan petugas yang siap memeriksa, penumpang tinggal menyerahkan tas kepada mereka dan mereka yang akan melaksanakan tugasnya. Aku takjub setengah tak percaya bahwa sekalipun aku membawa tas yang cukup besar, tapi langsung saja dipersilahkan masuk tanpa diperiksa! Padahal di barisan yang memegang tiket ekonomi, masih mengekor panjang barisan yang antre di pemeriksaan yang dilaksanakan di lorong pintu masuk pesawat ini.

Sesudah melewati petugas pemeriksa, lorong masuk pesawat bercabang dua. Lorong tertutup tidak memungkinkanku untuk memeriksa benar tidak aku menuju bagian kepala pesawat, terlebih lagi menuju bagian punuk di kepala pesawat Jumbo Jet Boeing 747/400 yang bila diperhatikan dari luar menampakkan jendela penumpang bertingkat dua itu. Tapi tak bisa lain, lorong yang kumasuki mengarah naik, bukan menurun. Betul! Aku betul-betul naik punuk jumbo jet!

***

Pemandangan yang terhampar di dalam kabin sungguh melegakan, kursi-kursi yang lumayan lebar, dengan jarak antar kursi yang memungkinkan antar penumpang bergerak tanpa saling bersentuhan. Begitu duduk langsung terasa perbedaannya, pramugari langsung datang dan mempersilahkan penumpang memilih aneka minuman tertuang di gelas kaca bukan plastik yang tersedia di mampan. Tak berapa lama kemudian ia datang lagi, menyerahkan menu makan dari beberapa pilihan menu yang tercetak di kertas yang indah, lebih kaget lagi, ia menyebut namaku sekalipun dengan pengucapan yang kurang pas, sambil melirik catatan di tangannya, lengkap dengan gelar jabatanku! Wuih, aku bukan lagi sekedar seorang penumpang dengan nomor seat sekian!

Sambil menikmati pilihan video yang dapat dinikmati secara pribadi di antara 28 judul film yang diputar selama penerbangan 3,5 jam ini, sambil membaca majalah Reader Digest yang disediakan, sambil masih tertakjub-takjub dengan pelayanan dan fasilitas yang sama sekali berbeda dan jauh lebih baik dari yang kudapatkan selama penerbangan ini, aku bertanya mimpi apa dikasih tiket kelas bisnis untuk rute ini padahal jelas bahwa itinerary elektronik yang kupegang bilang semua penerbangan yang kutempuh adalah dengan fasilitas kelas ekonomi.

Kalau itu pesanan khusus saat membeli tiket, seharusnya di itinerary juga sudah tertulis bahwa aku dapat tiket kelas bisnis. Maka tak bisa lain ini adalah bonus yang diberikan oleh perusahaan penerbangan United Airlines, karena sebulan ini dari 19 penerbangan yang kulakukan paling banyak memakai jasa penerbangan mereka. Lagipula rute ini adalah rute terakhir yang memakai jasa penerbangan mereka. Kalaupun tiket bisnis yang diberikan padaku ini adalah kesalahan administrasi, aku tak pernah akan menyesalinya!

***

Transit 9 jam di Changi Singapura

Perubahan rute sekalipun memberikan bonus tiket kelas bisnis padaku di penerbangan Hongkong-Singapura menyebabkan aku baru mendarat pk. 12.30 tengah malam atau dini hari di Singapura. Padahal penerbangan berikut dengan Singapura Airways baru pk. 10 pagi. Sejak hendak meninggalkan Amrik aku berpikir lihat saja nanti situasi di Singapura, apakah untuk transit akan menginap di hotel transit, ataukah tidur saja di pelataran bandara yang seingatku mempunyai banyak karpet tebal untuk membaringkan badan.

Aroma kopi dari kedai yang buka 24 jam di terminal kedatangan membujukku untuk duduk di kursinya, terlebih lagi bersebelahan dengannya ada kerdip-kerdip layar monitor dan keyboard dengan fasilitas akses internet gratis. Di bandara Hongkong juga disediakan fasilitas internet gratis, dengan komputer Apple Mac, sedangkan di Changi sistem operasi yang dipakai berbasis Windows XP, tak masalah karena sama-sama menyediakan akses internet supercepat. Entah berapa kali aku log-out dan kembali log-in lagi di komputer yang sama karena memang secara otomatis setiap lima belas menit akses internet akan berakhir. Hanya setelah itu rasa bosan dan sedikit rasa kantuk menyerang, masih pukul 3 dinihari, padahal penerbangan berikut pk. 10.00, boarding paling cepat pk. 9.00.

Kuputuskan untuk tidak usah booking ruang di hotel bandara karena waktu yang tersisa tinggal beberapa jam saja. Uang 50 dollar Singapura hanya untuk fasilitas ruang tidur sekalipun nanti bisa kumintakan ganti (reimburse) kurasa terlalu mewah. Berjalan-jalan sebentar di lorong-lorong bandara yang sunyi sepi memberiku banyak tempat pilihan untuk membaringkan badan. Akhirnya kuputuskan tidur dekat kolam air yang bergemericik, jalan di situ buntu, jadi bila aku bangun kesiangan akan tetap aman karena tidak akan dipakai untuk jalan. Ternyata harapanku untuk bangun siang tetap tidak terkabulkan, pukul enam pagi mata sudah terbuka dan tidak bisa diajak tidur lagi. Ayo bangun, cari sarapan! Tetapi terlebih dahulu aku ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi dan ganti baju dulu. Sekalipun tidak berkeringat tetap terasa lebih nyaman untuk ganti baju baru.

Yang kuingat untuk sarapan adalah nasi kuning pedas masakan India lengkap dengan kuah kare-nya: Nasi Biryuni. Akan tetapi pk. 6 pagi masih terlalu pagi untuk mendapatkan menu ini. Restoran yang buka 24 jam sehari tak ada yang menyajikan menu India ini, baik tunggu saja nanti agak siang. Jalan-jalan pagi sepanjang terminal ABCDEF bandara Changi sudah pasti cukup memenuhi standar olahraga santai pagi hari karena bila dijelajahi lorong-lorongnya lebih panjang dari 3 km. Tersedia toko mulai dari pakaian, makanan, minuman, restoran, sampai parfum, kerajinan dan aneka produk elektronik-digital yang mutakhir. Bila lelah jalan-jalan, duduk saja di mesin pijat kaki yang lagi-lagi disediakan gratis sebagai salah satu fasilitas bandara.

Dengan pertimbangan bila keluar bandara saat masuk lagi nanti aku harus bayar airport tax, kuurungkan niat untuk jalan-jalan keluar. Lagipula lagi-lagi masih terlalu pagi untuk mengambil paket tour yang ditawarkan dari bandara Changi ke tempat tertentu di Singapura. Akhirnya, lagi-lagi aku menginap di Singapura, tetapi hanya di bandaranya saja! Seorang kawan kirim sms, bila butuh penginapan ke wisma YMCA di Orchard Road saja. Bila lebih dari 12 jam, aku akan dengan senang hati pergi ke sana. Akan tetapi bila transit seperti ini, tour pribadi keliling airport sudah cukuplah. Semoga saja tidak ada yang memperhatikan dan berpikir, itu ada anak hilang berkeliaran di bandara!

Pk. 8 aku menuju terminal dua, lokasi pintu gerbang keberangkatan penerbanganku. Sementara mengurus boarding aku berharap nanti akan diberi kelas bisnis lagi, tetapi he he he aku ditempatkan di kelas ekonomi yang memang adalah hak-ku sepenuhnya. Ditawarkan untuk mengambil penerbangan yang lebih awal, akan tetapi kutolak karena di Jakarta nanti aku juga masih harus menanti penerbangan pk. 4 sore. Perasaanku mengatakan lebih nyaman menanti di Singapura daripada di bandara Sukarno Hatta. Maka aku pergi mencari makan. Bertemu restoran India yang menyediakan nasi biryuni, akan tetapi ini adalah restoran vegetarian, tak apalah, dan memang benar, bagaimanapun nasi dan rasa pedas selalu berhasil menggugah seleraku. Penerbangan Singapura ke Jakarta hanya memakan waktu 1 1/2 jam saja, aku tak yakin menu yang di berikan di pesawat cukup besar untuk memenuhi kebutuhan perutku. Untung sekalipun sedikit, porsi sarapan saja, menu India ini cukup untuk mengganjal perut sampai saat makan berikutnya.

Akhirnya, bye bye Singapura! Dari jendela pesawat saat beranjak akan berangkat lamat-lamat kudapat kabut asap. Berbeda dengan mendung, asap tak kenal ketinggian, sudah menyelimuti sejak permukaan tanah. Semua itu dituduhkan ke wilayah Indonesia sebagai biang keladinya. Akan tetapi kemana hasil penjualan kayu dan perkebunan baru yang didapat dari pembukaan lahan hutan Sumatra-Kalimantan? Apakah Singapura tidak ikut menikmatinya juga? Wallahualam bissawab, aku hanya bertanya bukan aku yang harus menjawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s