Mengajar Jujur

Saya sudah cerita ke sedikit teman ttg kejadian rabu sore minggu yll. Sekitar jam 14-an saya sms anak saya (laki, 13 tahun) utk ingatkan bahwa jam 15 dia ada les. Sorenya menjelang jam 16 saat mau pulang saya telepon dia untuk cek dia dan bilang saya sudah mau pulang. Dia bilang listrik mati. Saya pesan ini itu dan sudah, saya tutup hp.

Sesampai di rumah, dia bukakan pintu lalu sambil ngikuti saya taruh tas, cuci tangan kaki dan sebagainya dia nerocos menceritakan ini itu, khususnya rasa senang karena ternyata bapaknya akan pulang malam nanti (dari luar kota, dari rencana semula esok harinya). Saat saya siapkan makan di dapur dia bilang,

“Bu, ternyata Tuhan itu baik banget ya sama aku.”

Saya pandangi dia dengan agak heran, “Emang kenapa?” saya bertanya.

“Tadi aku bergumul banget pengin main game di internet depan kompleks (di depan gerbang kompleks memang ada The Patch tempat internetan). Trus aku ke sana, sampai sana ternyata listrik mati. Jadi gak jadi trus pulang. Sepertinya Tuhan pake listrik mati supaya aku gak jadi main,”

panjang lebar dia menjelaskan. “Syukurlah. Memang Tuhan itu selalu menjagai kita utk hal-hal yang baik,” jawab saya.

Memang sampai saat ini saya/kami menetapkan aturan bahwa dia hanya boleh main di warnet di luar kalau ditemani bapaknya. Kalau online di rumah saya atau bapaknya yg ‘menemani’. Intinya tidak sendirian. Kami berdiskusi plus minusnya main internet (di luar), dan kesimpulannya memang banyak sekali minusnya. Dia tahu itu.

Saya belajar memahami dia bahwa hal ini tidak sesimpel yg kelihatan, tekanan/godaanya cukup besar. Beberapa teman di sekolahnya (beberapa diantaranya adalah teman dekatnya) getol main game di internet baik sepulang sekolah bahkan ada yg pagi2 sebelum sekolah (karena pas ujian masuknya jam 8). Kami sering mendiskusikan ttg hal ini. Mengapa, bagaimana, dan sebagainya. Sepertinya dia semakin memahami, meskipun godaan/tekanan itu tetap ada.

***

Geng Blok C
bersama geng blok C (2008)

Kejadian di atas bukanlah yang pertama terjadi. Beberapa waktu sebelumnya pernah juga terjadi. Dia berniat main di blok C (kami sekarang di blok E, tapi dulu di blok C), ternyata teman2nya lagi pada males main (maunya nongkrong2 di rumah). Lalu dia kayuh sepeda putar2 kompleks. Sampai di gerbang timbul keinginannya untuk nyebrang lalu main internet. Dia diam sebentar bingung, lalu memutuskan segera pulang. Sampai di rumah saya yang keheranan,

“Lho kok cepet pulang? Gak jadi main? Kok ngos-ngosan dan keringetan kayak dikejar apa gitu, ada apa?”

Lalu mengalirlah cerita dia melewati pergumulan sampai memutuskan untuk pulang dengan bercucuran keringat karena ‘beratnya’ pergumulan di jalan tadi.

***

Lalu tadi pagi. Hari ini dia tidak ke sekolah melainkan ke UI (Universitas Indonesia) untuk ambil nilai atletik lari 400 m. Setengah delapan mulainya. Sekitar enam lewat sepuluh dia sudah berangkat, naik angkot M04 turun depan Gunadharma lalu jalan ke stadion UI, sekalian pemanasan katanya. Saya tanya, “Sayang, pulangnya kira-kira jam berapa, pasti cepat ya?”

“Gak tahu Bu, karena nanti semua klas 7 ambil nilai jadi bisa jadi agak siang.”

Dalam hati saya ada semacam suara halus yg memberikan peringatan sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu (main internet di luar?). “Ok, nanti kabari ya kalau pulangnya agak siangan.” pesan saya. Diapun berangkat.

Pukul 9 kurang seperempat saat saya sibuk di dapur ada becak berhenti di depan rumah. Ternyata dia sudah pulang. Langsung masuk dapur. “Halo sayang, capek ya? Kok cepet banget jam segini sudah pulang?” saya sambut dia dengan sapaan dan pertanyaan.Dan seperti biasa banyak cerita dia sampaikan.

“Hebat lho Buk, aku pulang pergi dapet 04 (angkot) , wus, wus, wus jadi lancar, makanya cepet. Aku naik becak masuknya karena capek. Tadi Jaka kayaknya maksain banget larinya terus pas pulang naik sepeda kulihat agak sempoyongan seperti mau muntah, eh, bener dia lalu muntah2 banyak, tapi air semua…bla, bla, bla….”

Lalu dia tanya saya, “Ibu dari pagi tadi aku berangkat ngapain aja?” Saya jawab ‘ritual’ pagi saya sampai saat saya masak pas dia datang. “Kayak robot dong,” dia menimpali. Lalu tiba2 dia bilang begini,

“Ternyata Tuhan itu memakai segala cara untuk menolong aku.”

Saya hanya memandangi dia.

“Tadi pas pulang sampai depan aku langsung ke The Patch. Udah sampai pintu masuk tapi penjaganya bilang gak bisa karena sudah penuh. Gak ada yang kosong. Jadi aku terus pulang,”

dia mengakui apa yang barusan dia alami. “Ko, seandainya, ini seandainya ya, tadi itu masih ada tempat, apa yang kemudian akan kamu lakukan?” tanya saya dengan nada dan intonasi biasa saja, memang ingin tahu. “Malu, ah.” jawabnya. “Malu apa, sayang?” saya bertanya lagi. “Ya, malu. Karena sudah berbuat hal yang salah.” jawabnya lagi.

***

Kalau teman2 ingat hampir setahunan yll dia banyak bertanya tentang apakah Tuhan itu memang benar2 ada. Dia merasa dari banyak hal yang dia pikirkan, alami/rasakan dan lihat kok kayaknya menunjuk ke suatu kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada. Sesuatu yang meresahkan hati dan pikiran dia pada saat-saat tertentu. Saat itu jauh di dalam hati saya, saya nangis ke Tuhan. Karena saya menyadari bahwa saya (kami) hanya bisa memberi teladan, mengasihi, mengajar, mendoakan, dsb, dsb tapi yang bisa membuat dia ‘konek, online’ secara pribadi dengan Tuhan adalah Tuhan sendiri melalui Roh Kudus.

Saat ini melihat ungkapan2 dia yang seperti itu (bahwa Tuhan itu baik kepada dia secara personal) saya hanya bersyukur dan memuji Dia, itu adalah pekerjaan Dia semata. Saya menyadari ini semua merupakan salah satu titik dalam perjalanan panjang kehidupan dia pribadi dengan Tuhan. Mungkin nanti ada jatuh bangunnya, mungkin nanti ada puncak dan jurangnya, dst. Bagian saya hanya menemani. Saya semakin diteguhkan bahwa memang hanya Dia yang paling bisa diandalkan.

Advertisements

One thought on “Mengajar Jujur

  1. mba list … anak ku gabriel juga senang sekali main game … minggu lalu kami sudah buat kesepakatan2 yang gabriel tentukan bersama papa nya … namun, senin sampai jumat ini, dilanggar terus mengenai game … kami sudah beri pengertian kepada gabriel … dan saya sendiri saat ini terus bergumul untuk berhenti kerja kantoran dan bapak gabriel setuju … apa ada cara lain agar anak tidak suka main game ya? padahal di rumah satu minggu ini kita bebaskan internet supaya gabriel tidak ke warnet depan rumah ,,, tetap aja ke warnet. alasannya: di warnet ada teman …

    yang terus bergumul
    roma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s