Remaja Lelakiku

Tibalah hari yg kunantikan, setelah hampir seminggu tanpa kabar bahkan sepotong sms-pun tiada. Sejatinya aku sangat kangen, benakku bertanya-tanya adakah sesuatu yg telah berubah pada sosoknya. Siang itu muncul smsnya mengabarkan kereta yg membawanya pulang mengalami kerusakan dan sudah satu jam tertahan di Purwokerto. Kujawab,”Ok, banyak minum dan makan sayang. Thx smsnya. Ibu kangen.”

Ya, sudah sekitar sepuluh hari remaja lelakiku yang bulan lalu genap 15 th berada di luar kota, tepatnya di Yogyakarta. Tiga hari live in di sebuah desa dan 6 hari berikutnya diisi berbagai kegiatan: belajar batik kayu, nonton sendratari Ramayana, ngunjungi Prambanan, diskusi, debat, renungan, dsb dsb… (Summer English)

Selama berpisah dengannya aku banyak merenungkan mengenai hubungan kami. Mendoakan beberapa hal dan mensyukuri lebih banyak hal lagi. Hampir satu semester kami melewati masa-masa yang tidak mudah. Salah paham banyak mewarnai komunikasi kami, meski secara umum tidak begitu kritis namun aku resah. Aku tahu dia juga merasa tidak nyaman. Kami sedang berseberangan dalam satu hal yaitu pacaran. Sebelumnya kami sepakat bahwa rasa suka atau jatuh cinta itu normal, biasa… Siapapun bisa mengalami. Tapi yg perlu diperhatikan adalah saat atau setelah mengalaminya, apa yg terjadi atau dilakukan/diputuskan. Perasaan seringkali tidak bisa “disetel”. Jadi rasa suka ok tapi pacaran nanti. Satu semester sebelumnya dia berhasil melewati “kejaran sang gadis adik kelasnya”, namun satu semester berikutnya pertahannya runtuh. Meski
berseberangan aku belajar untuk mengasihi dan menerima dia apa adanya.

Ini tidaklah mudah. Sering tergoda untuk mengkaitkan banyak hal dengan “ketidaktaatannya”, betapa piciknya aku. Sering tergoda menggunakan berbagai keadaan sebagai alasan untuk dia merasa bersalah, betapa liciknya aku. Sering tergoda menyalahgunakan otoritas yg kupunya untuk memutuskan hubungannya dengan sang gadis, betapa sewenang-wenangnya aku. Sampai akhirnya aku menyadari dan malu, aku seperti seorang ibu tanpa pengharapan karena sedang tidak mengandalkan Allah.

Aku belajar melihat dia sedang berlayar di tengah badai menuju kedewasaan dan mau tak mau akupun (tentu dg suami)ikut dalam pelayarannya. Mengapa aku tidak tinggal tenang mendampinginya hingga sampai di sebrang sana? Bukankah ada Allah yang berdaulat atas apa yg saat ini kami alami? Aku menjadi lebih tenang dengan pemikiran ini dan ketenanganku sepertinya membuatnya juga lebih tenang dan rileks. Ini lebih baik karena dia sedang menghadapi berbagai ujian untuk menyelesaikan SMPnya dan mengejar SMA yg diidamkannya.

Pernah pagi2 dia menyusul di ruang kerjaku (baca: dapur), ikut membantu-bantu beberapa hal kecil sambil berujar,”Ibu kok tenang2 saja, padahal aku sedang tidak taat…” Kupandangi dia beberapa saat, lalu kujawab,”Ibu belajar banyak dari Tuhan sayang, ibu belajar mengampunimu, mengasihimu. Apakah karena soko tidak taat lalu soko ibu biarkan atau marahi habis2an atau sia-siakan? Kita sudah banyak bicara tentang hal ini…”

Kembali ke awal kisah. Petang itu aku menjemput ke Gambir nebeng teman (tetangga yang baik hati). Di perjalanan kuterima sms yg mengabarkan kereta baru akan tiba pukul 9 malam, telat 3 jam dari jadwal semula. Masih cukup waktu untuk bezuk seorang teman di rs cikini (Ita) dan menikmati setengah mangkok bubur ayam cikini yg kesohor itu (ditraktir tangte yang baik hati itu) sebelum meluncur ke Gambir. Tepat pukul 9 kereta tiba. Aku menunggu di ujung tangga peron 2 beberapa saat sebelum remaja lelakiku muncul berkaus abu2 dan bercelana hitam. Dia tampak lebih tinggi dari saat berangkat (aku makin tertinggal jauh). Senyum “arif” mengembang di bibirnya menyambutku, kami berjabatan dan kutepuk2 pelan bahunya. “Bagaimana keadaanmu sayang?” “Baik2, Bu.”… Beberapa saat kemudian, kamipun pulang.

Sesampai di rumah menjelang tengah malam, mengalirlah ceritanya bertubi-tubi dengan penuh semangat. Aku berusaha mendengarkan dan mengomentari tapi mata dan tubuh tua ini rupanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Tinggal lima watt, thelik2, berjuang untuk tidak terlelap. Akhirnya bapaknya memintanya masuk kamar dan tidur karena ibunya ini sudah ngantuk dan capai. Sebelum beranjak ke kamarnya dia
mengatakan bahwa melalui acara tsb,”Aku disadarkan beberapa hal. Aku pokoknya mau cerita banyak ke ibu, besok ya.” Setengah tertidur aku merasa kata-katanya kok kayak orang dewasa… dan zzzzzzz….

Esok paginya sekitar pukul 7 setelah urusan kantorku (tetap baca: dapur) beres, aku masuk ke kamarnya. Dia sudah bangun tapi masih baring2 di tempat tidur. Aku “ndhesel” di sebelahnya, lalu ku “isik2″ punggungnya (hal yg sangat disukainya sejak dia balita). Dia kemudian berbalik dan duduk di depanku. Kemudian mengalirlah ceritanya pelan2 mengenai pelajaran2 dan pengalaman selama di Yogya, disambung dengan pengakuan dan permintaan maaf atas sikap dan kelakuannya selama ini kepada kami (ortu). Dia dengan tenang dan berurai air mata mengatakan secara detil dan lugas. Kemudian sambil terisak-isak dia mengatakan bahwa hal yang paling membuatnya sedih dan menyesal adalah,”Aku telah menyia-nyiakan penebusan Tuhan.”

Air mataku nyaris tumpah mendengar semuanya, namun pada bagian penyesalannya tersebut hatiku serasa kelu dan terpaku, pasrah kepada-Mu. Aku semakin disadarkan bahwa remaja lelakiku ini bukanlah milikku, Dia yg empunya dan berdaulat penuh atas dirinya. Jiwa ragaku meluap dengan pujian dan syukur.

Akupun memeluknya, dan kami saling bermaaf-maafan… (hmmm…suasananya bak lebaran tanpa ketupat dan opor ayam).

Aku kembali belajar bahwa inilah perjalanan remaja lelakiku dengan Dia, perjalanannya yg sekaligus juga perjalananku. Seperti yg pernah kutulis bahwa ada puncak dan jurang atau lembah di sana, ada tawa dan tangis, ada pasang dan surut dan seterusnya… Selagi menapaki perjalanan, aku merindukan perjalanan … perjalanan yg seringkali tidak mudah namun membuatku terpukau akan diri-Mu…

Advertisements

8 thoughts on “Remaja Lelakiku

  1. jangan ingin mengalami pengalaman yang sama… tak mungkin lah… tapi percayalah bahwa kita semua akan mengalami hal-hal indah, pada waktunya… untuk setiap hal ada waktunya…

  2. Mbak List & Mas Sety…
    Keren banget tulisannya…….indah ya ternyata hubungan orang tua dan anak….:)
    kalau bersama Tuhan…..petualangan kehidupan jd tak menakutkan…….

  3. Soko dewasa banget ya, kayak drama2 natal di TV atau drama natal di sekolah dulu, hihihiihih, bahasanya serius banget, tampak gak mungkin kalau dalam kehidupan sehari2 dalam pikiranku.. ternyata ada juga yg seperti itu… saluutz…..

  4. wah…soko dikejar-kejar adik kelas????…pasti ada yg menarik dari pribadinya….mungkin dia menebar keharuman Isa, mba List….hehehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s