mbah Maridjan: Celebrate Simplicity

mbah MaridjanSaya pernah ngobrol ama pemilik perusahaan jamu yang mengorbitkan mbah Maridjan sebagai bintang iklan… kebetulan dia duduk di sebelah saya di pesawat. Ketika saya pancing obrolan tentang mbah Maridjan, memang terkesan sang pengusaha jamu punya sebentuk rasa hormat kepada sang icon Merapi ini….

Sejauh yang saya dengar beberapa cerita dari orang yang pernah berinteraksi dengan beliau – salah satunya adalah teman saya yang sering jadi relawan bencana – tidak ada perubahan sikap sama sekali dari diri sang icon setelah mendapatkan popularitas lewat iklannya yang memanggil-manggil nama penyanyi mungil dari Sumedang itu.

Continue reading “mbah Maridjan: Celebrate Simplicity”

Dunia Menjerit, Apa Jawabmu

Judul di atas adalah sebuah judul/topik bahasan sebuah “seminar” waktu saya masih SMA (some time between 1983-1986). Dunia menjerit, apa jawabmu? Seorang sobat saya menyahut di belakang: “Ikut  menjerit!” Ha..ha.. dia memang lucu.

Rom 8:22  Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

Segala makhluk sama-sama sedang menjerit. Kemacetan, penyakit, kemiskinan, gempa bumi, banjir, … apalagi yang kurang di negara kita ini? Dunia menjerit.

dunia  menjerit, apa  jawabmu
jakarta dari atas monas

Rom 8:23  Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Continue reading “Dunia Menjerit, Apa Jawabmu”