mbah Maridjan: Celebrate Simplicity

mbah MaridjanSaya pernah ngobrol ama pemilik perusahaan jamu yang mengorbitkan mbah Maridjan sebagai bintang iklan… kebetulan dia duduk di sebelah saya di pesawat. Ketika saya pancing obrolan tentang mbah Maridjan, memang terkesan sang pengusaha jamu punya sebentuk rasa hormat kepada sang icon Merapi ini….

Sejauh yang saya dengar beberapa cerita dari orang yang pernah berinteraksi dengan beliau – salah satunya adalah teman saya yang sering jadi relawan bencana – tidak ada perubahan sikap sama sekali dari diri sang icon setelah mendapatkan popularitas lewat iklannya yang memanggil-manggil nama penyanyi mungil dari Sumedang itu.

Bungkus yang kuat dari keluguan dan kesederhanaan orang desa membuat mbah Maridjan seperti immune terhadap pengaruh popularitas yang menjadi value yang dihargai dan sering dikejar oleh orang modern. Orang modern ini merujuk pada kaum terdidik yang dengan mudah menyerap the so-called nilai-nilai modernitas yang to some extent sangat dekat dengan materialisme.

Ini jadi cukup menarik buat saya, karena seandainya saya yang dapat kesempatan jadi populer, saya bayangkan pasti akan sangat sulit bagi saya bisa tetap bersikap biasa-biasa saja secara otentik seperti mbah Maridjan. Artinya, kalaupun saya tetap mempertahankan sebuah sikap yang low-profile di tengah popularitas, itu butuh sebuah upaya acting yang kuat dari diri saya…. sebuah kerendahan hati yang diperjuangkan.. because modernity values (gold-glory minus gospel) are indeed permeatedly sinked in within my DNA as a byproduct of modernity…

Jadi ingat satu teman saya, mantan peneliti di sebuah think tank di Jakarta, yang baru saja diundang dalam sebuah acara talkshow sebuah stasiun TV, ngomongin perspektif ekonomi dari perencanaan jangka panjang Jakarta… Dia spent his energy untuk kirim sms ke saya, ngabari kalo mo masuk tipi..duduk bareng beberapa celebrity intelektual lainnya yang lebih dulu sering nongol di TV… Well, dia hanyalah manusia generasi saya, secuil kisah dari sekian budak-budak modernitas yang punya tingkat kebutuhan tertentu akan nilai popularitas. Jadi saya pun respon saja kebutuhannya dengan positif. “OK kawan akan saya tonton penampilan ente.”

Sampai di sini, ada pikiran hypothetical lain yang mengusik saya yaitu, seandainya seorang manusia Maridjan sempat mengenyam pendidikan tinggi, dan terekspose ke berbagai realitas glory and gold… ada kemungkinan dia juga akan mempertontonkan fenomena yang sama yang diperlihatkan kawan saya tadi.. because when money talks even GOd listens after all….

Berapa persen sang maridjan yang berpendidikan tinggi tetap bisa mempertontonkan keindahan dari kesederhanaan dan keluguan manusia desa-nya?

Celebrate simplicity…. (RH)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s