Fenomena Inequality

Saya kemarin chatting dengan teman lama di ugm dulu… kawan saya ini sekarang jadi buruh arsitek di Dubai.. dan ternyata dia adalah salah satu arsitek yang terlibat dalam sebuah projek raksasa, hotel Burj al Arab, yang konon hotel paling mewah di dunia saat ini. Kalo mo lihat hotel itu, ini link-nya: http://www.dubai-architecture.info/DUB-003.htm.

Waktu saya tanya ke kawan saya, berapa rate nginap di situ yang paling mahal… dia bilang $30.000 per malam ..

“bujubuneng!! .. duit kabeh sak mono kuwi dab??” tanya saya ke kawan saya…

Mbayangin ada orang yang bakar duit 300juta semalam cuma buat tidur.. bikin rambut saya langsung kriting..

Tapi perilaku orang-orang kaya kelas dunia memang beyond my comprehension.. Saya rasa harga kamar segitu itu juga ada dalam jangkauan people on the money di Indonesia.. Waktu masih kost di Menteng dulu, saya tiap sabtu jogging di tepi sebuah danau buatan di situ, namanya Situ Lmbang.. Salah satu teman lari jogging saya adalah seorang mantan pejabat yang tinggal di Menteng..  Suatu kali bapak itu pamit ke saya ga bisa ikut jogging Sabtu berikutnya… ketika saya tanya, dia bilang mau ke Eropa jenguk anaknya yang disekolahin di sana..
“wah kuliah di bidang apa pak? di universitas mana?” tanya saya..
Si bapak lalu ketawa dan menjawab begini…
“hehe .. sebenanrya bukan anak beneran.. ini saya mau jenguk kuda saya.. yg lagi saya sekolahin di sana”
Buat orang kaya baru (OKB) di Indonesia.. biasanya standardnya kan punya bbrp rumah dan mobil.. Nah bapak ini mungkin mengikuti jejak kelas di atas OKB, yang standar kemewahannya lebih dari sekadar rumah dan kendaraan mewah.. tapi sudah melibatkan hobby mewah spt piara kuda, mancing di laut lepas pakai yacth pribadi..etc..etc..
Beberapa waktu yll saya untuk pertama kalinya mengunjungi rumah salah satu anak asuh saya di sebuah lokasi pinggir rel kereta di Jakarta Timur.. Rumah keluarga ini ternyata kecil sekali..lebih sempit dari typikal rumah petak Betawi di Jakarta yang biasa saya kenal… dan yg membuat saya prihatin, rumah mereka ini ada di dekat pasar, tepatnya di dekat tumpukan sampah dari pasar itu.. dan karena Jakarta baru sering hujan hari-hari ini.. jadi bau sampah basah itu begitu menyengat… to the extent of bikin saya mau muntah waktu ngobrol di ruang tamu mereka yang sempit banget.. Sebuah fenomena lingkungan kumuh perkotaan yang juga saya temui waktu tinggal di Manila..
Dua buah kenyataan dari dua belahan dunia yang berbeda… sebuah realitas kepincangan tingkat kemakmuran.. Antara the have and the have not.. Antara negara maju dan negara miskin.. Antara mereka yang memiliki akses yang berlimpah ke sumber daya dan mereka yang tertutup aksesnya dari segala arah…
Baik teoritis maupun empiris, pendidikan adalah harapan bagi orang untuk keluar dari kemiskinan .. Tapi baik di negara kita maupun di banyak negara maju, pendidikan adalah barang yang semakin mewah saja..
Kalo seseorang berasal dari layer miskin, tapi memiliki potensi akademik yang baik, mungkin masih ada akses lewat berbagai program beasiswa.. yang kasihan memang mereka yang berasal dari backdrop miskin tapi kapasitas akademis juga terbatas.. Harapan mereka adalah basic education murah yg disediakan pemerintah.. Pertanyaannya, bagaimana kinerja pemerintah kita (pusat dan daerah) dalam menyediakan akses pendidikan yang luas bagi rakyatnya.. in light of poverty alleviation.. ?

-to-be-continued-
erha
Advertisements

One thought on “Fenomena Inequality

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s