Mengenali Sapaan TUHAN

Sapaan Tuhan setiap kali kukenali, dalam diri para sahabat yang bersapa, memberiku salam, dan mengasihi.  Sakit dan sikon yang dibatasi bahkan memberiku lebih banyak kesempatan menikmati relasi baru,  baik dengan sahabat lama, juga dengan kawan-kawan yang baru baru berjumpa.

***
Hari ini jadwalku cuci darah maju lebih pagi. Ruang HD ini seakan jadi tempat pertemuan yang memang dirancang untuk memberi kesempatan bagi antar pasien dan perawat yang berjaga untuk saling berbagi. Demikian juga antar sesama pengantar yang menunggui.  Mendapatkan bahwa saat sakit ada sesama yang senasib dan sepenanggungan ternyata menguatkan. Dan kesaksian serta tips-trik bagaimana mengatasi kondisi-kondisi dalam keterbatasan menjadi lebih didengar karena langsung diceritakan oleh yang mengalami, bukan katanya-katanya.

Percakapan-percakapan yang terjadi membantuku untuk lebih dalam lagi ber-refleksi, betapa memaknai keberadaan diri memang bukan perkara sederhana. Itu dilakukan pasti dalam dialog terus menerus dengan relasi dan pengalaman keseharian yang dijalani.  Kawan bercakap membantu sungguh untuk aku bisa mengerti, juga mengerti bahwa dalam perkara-perkara tertentu aku belum atau bahkan tidak mengerti sama sekali. Padahal pengertian adalah kunci menemukan bijak. Bila kita masih saja bebal tak peduli bagaimana bisa tahu bahwa yang dijalani itu memang berharga dan nyata?

***
Aku tak menghitung berapa, tapi rasanya orang yang kontak denganku dan bahkan secara sengaja mengunjungi untuk bertemu di hari-hari sesudah aku diproklamirkan  sebagai pasien gagal ginjal ini bahkan lebih banyak.  Selain cinta apakah yang bisa membuat orang sedemikian memperhatikan, mencari kabar berita, berusaha membantu semampu yang bisa, mendoakan, dan tiap kali ikut menangis dan tertawa bersama? Dengan apa aku bisa menghargai segenap keprihatinan dan pernyataan berbela rasa yang diwujudkan?

Beberapa kawan sedemikian istimewa berinisiatif dan sungguh aku sangat menghargainya. Ada kawan yang tinggal di belahan bumi sana, tapi melalui email senantiasa mengikuti perkembangan dari hari ke hari sejak mengetahui sakitku. Tahu betapa aku capek dan jenuh dengan beratus ribu artikel dan situs website tentang penanganan sakit gagal ginjal mendorongnya mengirim hanya beberapa artikel dan topik pilihan yang kurasakan sungguh sangat berguna. Ada yang mencetakkan buku panduan dari National Kidney Foundation yang sangat ringkas tetapi memang harus diketahui dan memberikannya padaku. Ada yang dengan sangat hati-hati memberikan wawasan dan pertimbangan lain sehingga tiap-tiap langkah medis maupun metode alternatif yang kujalani sungguh teruji dan aman.

Tak kalah penting juga kawan hehehe yang memelihara kewarasanku dengan kegilaan mereka menggoda dan meledekku tiap bertemu, maupun lewat sms maupun pesan-pesan singkat yang tiap kali dikirimkan. Kaco memang, tapi bahkan dalam kekacauan itu kurasakan ada dinamika kehidupan.  Jadi janganlah bayangkan rutinitasku sebagai pasien yang lesu tak berdaya meratapi nasibnya. Sebaliknya bahkan sekalipun melewati lembah kekelaman, gada dan tongkat yang tersedia cukup menghiburku.  Bagi yang mengikuti jurnal-jurnal yang kutulis di hari-hari lalu, tentu dapat dengan segera mendapati bahwa aku ternyata tetap bisa “gila” hahaha.

***
Aku pernah nulis, refleksi perjalanan hidupku, betapa Tuhan menyapaku tiap kali dengan canda-canda yang membuatku harus berhadapan dengan keadaan yang sama sekali tidak kurencanakan, atau kuingini. Satu sobat kecilku kemarin bilang, itu cara yang dipakai supaya hidup kita bisa naik kelas, jadi memang perlu ada test dan ujian. Nah, kalau seperti itu, orang lain tak bisa iri, wong mengingini saja tak bisa, mau ikut-ikutan juga buntu jalannya. Sekarang aku mikir,  bisa nggak ya pemahaman tentang Tuhan yang bercanda diajarkan di PPA GKJ (Pokok-pokok Ajaran).  Paling tidak bagiku pribadi, itu menolongku untuk kuat dan tegar, bahkan bisa menertawai diri dengan bebas lepas dan syukur.

Hidup beriman adalah menyiapkan diri  agar bisa merayakan karya penyelamatan  Allah dalam kehidupan kini dan di sini.  Aku ingin beriman dengan otentik,  dengan sukacita  dan syukur senantiasa. Semoga catatanku ini juga bisa menjadi sumbangan untuk arak-arakan meriah, bukan malah keluh  dan kesah. (ytp)

Ruang HD RS Bethesda, Senin 15 April 2013

Advertisements

Tentang Mujizat

Sejak aku diberitahu sakitku adalah gagal ginjal kronis, sifatnya permanen, dan bahwa fungsi ginjal yang rusak tak bisa dipulihkan lagi atau diperbaiki lagi aku berpikir bahwa hanya mujizat Tuhan saja yang kuasa menolongku. Tapi sejak itu, aku mendengar banyak orang juga memakai dan mempergunakan kata mujizat itu dalam kasusku, dengan berbagai-bagai pemahaman yang malahan membingungkanku.  Kalau mujizat adalah intervensi kuasa illahi yang berlawanan dengan hukum alam dan nalar dalam kehidupan ini, dan tujuannya adalah agar nama Tuhan dan karya penyelamatanNya dimuliakan, dan kita percaya bahwa sekarang mujizat juga masih terjadi, bagaimana hal itu hendak dimengerti?

***
Saat pertama kali diberitahu dokter yang dengan sangat berhati-hati memberitahuku bahwa berdasarkan pemeriksaan darah dan USG aku sakit gagal ginjal dan tidak bisa tidak harus cuci darah, reaksi spontan pertama adalah menolaknya. Tapi kesadaran bahwa tak mungkin petugas lab dan para dokter itu mempertaruhkan integritasnya dan memanipulasi hasil pemeriksaan mereka menyadarkanku untuk mau memeriksa second opinion, malah third opinion, sambil juga browsing segala macam informasi dari sumber-sumber yang tersedia di internet. Dalam waktu singkat dan proses yang kurasa tidak terlalu sulit, aku bisa menerima bahwa aku sakit gagal ginjal. Jadi aku harus mengambil langkah-langkah yang tepat sebagaimana seharusnya orang gagal ginjal. Memberitahu istri, keluarga dekat, dan majelis jemaat sehingga semua tugas tanggungjawab bisa ditata.  Bagiku sekarang, bahwa aku mau mengaku dengan segera bahwa aku sakit gagal ginjal itu adalah mujizat.

Tetapi sampai cuci darah yang ketiga, ternyata aku masih menyimpan harapan palsu, gagal-ginjalku bukan kronis yang bersifat permanen, tetapi gagal-ginjal akut yang setelah perawatan beberapa saat dan diet ketat nanti akan membaik dan bisa kembali hidup normal. Paling tidak aku mikir sejak awal bagaimana supaya cuci darah yang sudah divonis dua kali seminggu itu bisa diperjarang, kalau bisa seminggu sekali saja, atau lebih baik lagi dua minggu sekali hahaha. Tetapi pemeriksaan kadar kreatin dan ureum yang meningkat dengan cepat dalam darahku hanya satu dua hari usai cuci darah sudah sampai di ambang yang mengharuskan pasien wajib melakukan cuci darah lagi mematahkan harapan palsu yang kubangun sendiri.  Dengan kesadaran bahwa aku memang harus rutin cuci darah, maka tanggal 25 Maret, minggu kedua sesudah seminggu pertama aku melakukan hemodialisa aku memasang AV Shunt dan kateter sementara untuk alat bantu cuci darah.

Kuingat semua perawat di ruang cuci darah mengacungkan jempol melihat perban penutup operasi pemasangan AV Shunt dan kateter sementara yang kulakukan. Keputusan yang tepat!  Jadilah sejak cuci darah ke-4 sampai ke-9 kemarin aku sudah mempergunakan kateter sementara di pundak kanan. Jahitan operasi AV Shunt sudah dilepas, hasilnya baik dan dapat dipergunakan dua minggu lagi, bila beres semua kateter di bahu bisa juga dilepas. Bagiku, ini juga mujizat.  Beberapa pasien gagal memasang AV Shunt dalam operasi pertama, sehingga harus mengulangi lagi, bahkan rekor di pasien yang satu ruang denganku adalah sampai 8 kali melakukan operasi AV shunt, hiiiii  dipasang sekali saja aku jadi seminggu menderita panas demam tinggi mual muntah dan segala kutukannya, nggak mau sama sekali kalau harus mengulangi lagi. Nah aku mencatatnya sebagai mujizat.

***
Bagi para pendeta di lingkungan klasis Wonogiri dan Sukoharjo, atau malah se-Surakarta, bisa jadi tahun 1990-an lalu aku termasuk satu pendeta muda yang usil dengan sistem dana pensiun untuk para pendeta GKJ. Puncak usilku terjadi saat memutuskan keluar dari kepesertaan dana pensiun pendeta GKJ, tapi sudah kuperbaiki lho sekarang aku jadi anggota dana pensiun yang baik lagi. Tujuanku waktu itu hanya satu, agar para pendeta yang kebetulan melayani di gereja yang secara ekonomi lemah dan tidak berkelimpahan, sebagaimana gerejaku, tetap dapat menikmati kesejahteraan dan juga jaminan pemeliharaan kesehatan yang layak saat tua nanti dan sakit.  Tapi aku usil dengan layak, karena selain protes aku juga membangun dan mengikuti asuransi yang pada waktu itu preminya kurasa sangat mahal. Ada tahun-tahun di mana 20% pendapatanku harus kualokasikan dengan disiplin untuk itu. Ternyata memang aku membutuhkannya sekarang. Itu yang menjadikanku bisa pamit mau perawatan hemodialisis kepada Majelis Gereja-ku sambil matur, “Sementara dana sudah ada dan ditanggung oleh asuransi”.  Dulu kupilih premi yang kuukur cukup mahal bagiku, sekarang aku sadar dibanding kebutuhan khusus karena sakitku ini, maka nilai pertanggungan yang kupilih masih terlalu kecil. Ternyata asuransi yang kupunya masih masuk kategori asuransi orang miskin yang pas-pas-an saja. Tapi bagiku, pertanggungan yang diberikan asuransi itu bisa kucatat sebagai mujizat. Ini cara Tuhan menolongku, dan ini juga cara Tuhan menolong jemaatku!

A friend in need is a friend indeed.  Mujizat selanjutnya adalah saat kawan-kawan membantu. Aku dengar ada keluarga-keluarga di jemaat-ku yang secara khusus melakukan aksi doa dan puasa, mohon pada Tuhan untuk kesembuhanku. Aku dapat ratusan kunjungan, salam, pesan, sms, email, bingkisan kue roti dan buah (yang hampir semuanya tak bisa ku makan hehehehe…), dan juga sumbangan semua dengan doa dan harapan yang baik untukku. Semula aku miris tiap mendengar ucapan semoga lekas sembuh. Tahu nggak bahwa gagal-ginjal kronis yang kualami ini bersifat permanen dan tak mungkin sembuh?  Tapi aku sekarang belajar menampilkan diri kuat sekalipun dalam kelemahanku. Juga belajar mencukupkan diri sekalipun dalam ketiadaan segala sesuatu. bahwa dulu aku berpinsip biar miskin tetapi sombong

Dalam diri saudara-saudara, kawan, sahabat, dan persekutuan banyak sekali orang yang mengelilingiku saat ini kudapatkan kembali kekuatan hidup, lebih dari sekedar sembuh, memang masih dalam keterbatasan dan larangan-larangan tidak boleh ini itu yang masih sering membuatku sangat jengkel dan bertanya mengapa-mengapa. Namun lebih dari itu ku dapat bahwa ketika aku masih bisa mensyukuri dan menjalani keberadaanku sekarang apa adanya, aku menjadi lebih kuat, hidupku menjadi lebih indah, sakitku kuhadapi dengan lebih nyaman. Kucatat kebersamaan dan bantuan kawan-kawan sampai hari ini sebagai peristiwa mujizat, yang masih berlangsung, yang terus berjalan dan belum berhenti hanya sekedar cerita.

***
Aku tak menolak peristiwa mujizat sebagai intervensi Illahi dalam tata dunia ini. Pracaya iku tampa, bungah iku tamba. Tapi apa salah bila sampai sekarang aku bisa tetap bergembira dan semangatku tetap bernyala, aku juga menerima itu sebagai mujizat?  Sebagai seorang pastor, dalam perlawatan orang sakit sering setelah mendoakan jemaat yang kukunjungi mereka bersaksi tentang kuasa Tuhan yang menyembuhkan dan menguatkan, memberi harapan. Ada istilah pasien dengan penyakit psikhosomatis,  secara fisik sebenarnya sehat, dengan demikian saat ia mendapat sugesti, penghiburan, dorongan atau semangat maka langsung saja sakitnya lenyap, mau makan lagi dengan enak, tenaganya tiba-tiba pulih. Hal itu sangat berbeda dengan orang buta melihat dan orang lumpuh membuang tongkatnya dan mengikut Yesus, apalagi orang mati bangkit.

Karena itu aku tak pernah punya keyakinan untuk menghentikan cuci darah, dengan maksud biar nanti Tuhan menyembuhkan dengan mujizat.  Kutanya dua perawat di ruang HD yang kurasa paling senior, mereka sudah bekerja di ruang hemodialisis rumah sakit puluhan tahun, bukan hanya belasan tahun. “Apa bekerja selama ini pernah menemui mujizat, pasien gagal ginjal kronis yang harus cuci darah seminggu dua kali seperti saya bisa tidak cuci darah? Atau dikurangi frekwensi cuci darahnya?”  Semua perawat yang kutanya orang Kristen, warga gereja, bahkan satu perawat selalu bernyanyi sambil menunggu pasien di ruang HD. Jawabnya tegas, “Wah kalau yang frekwensi cuci darah bisa dikurangi tidak ada Pak, kalau tidak cuci darah lagi sama sekali ada?” Tapi jawabnya kok sambil tersenyum nakal, “Maksudnya?” “Lha sudah mati, jadi tidak perlu cuci darah lagi”.

***
Pernah saat cuci darah, pasien di ranjang seberangku menyusul masuk pk. 22.00. Usai peralatan dipasang ada sekelompok orang yang datang dan mendoakan. Doanya model kharismatis.  Lama sekali mereka berdoa, kayaknya diulang-ulang, mungkin takut Tuhan lalai tidak mendengarkan.  Lalu ada pengurapan minyak, dari pengalamanku dulu aku tahu itu pasti pakai baby-oil. Dioleskan di kepala, di badannya, di tangan, di kaki, untung tidak di mesin hemodialisisnya sekalian.  Sambil bisik-bisik perawat cerita padaku itu pasien opname yang sudah dijadwalkan cuci darah sejak pk. 20.00 tadi, sudah dipanggil berulang kali katanya masih ada percakapan dengan pendetanya. Kondisi pasien agak setengah sadar karena sakitnya,  sangat beda denganku yang sadar sepenuhnya. Suster sudah akan menghentikan doa dan mengusir mereka dari ruang HD eh ternyata pendetanya malah melayankan perjamuan. Masing-masing memegang cawan anggur kecil, dan satu cawan diminumkan ke pasiennya, yang kemudian tersedak dan terbatuk-batuk.  Perawat datang dan meminta mereka keluar, sudah satu jam lebih, sudah cukup doanya, sekarang biar pasien istirahat dulu ya. Kurasa tindakan perawat itu bahkan mujizat yang sebenarnya, paling tidak bagiku yang sudah kuatir mereka nanti akan datang padaku begitu usai dengan pasien di seberangku itu.

Wah, ternyata aku masih menyimpan beberapa cerita mujizat lagi, tapi dalam konteks yang lain. Kusimpan dulu saja. Biar bisa kukirim posting yang sudah cukup panjang  ini sekarang. (ytp)

Salam, Pemulung Cerita, Yogya 13 April 2013

Pasien Sialan

Pasien Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Tadi pagi aku nulis “Penghibur Sialan” bagian kedua,
ada email masuk, nanggapi jurnalku “penghibur sialan” kemarin. Jelas
sekali sejak semalam ia galau, dan dengan sangat emosi dan sensitif
minta penegasanku bahwa caranya selama ini bukan masuk kriteria
“penghibur sialan”. Spontan akubalas emailnya, “Syukurlah, kau tidak
bilang padaku: pasien sialan!” wkwkwkwkwkwk…..

Lalu aku nelpun, eh tidak diangkat. Beberapa saat
kemudian ia yang nelpun, kujawab dengan sapaan seperti biasa, tapi
aneh jawabannya. Tak bisa disembunyikan lagi, rupanya ia menangis,
karena aku menurut dia dengan tulisanku itu menganggap bahwa ia
hanyalah semacam penghibur sialan saja.

Jadilah, tiga jam tadi aku tak jadi menyelesaikan dan
mengirim jurnal ke-5, “penghibur sialan bagian kedua”. Kalau bagian
pertama kemarin dalam kasus bapakku yang sedang sakit, seharusnya
bagian ini jauh lebih lucu dan hidup. Karena aku menuliskan kisahku
sendiri. Dan untuk urusan menulis dengan gaya ironis dan satiris
kayaknya aku memang sudah mahir. Betapapun aku harus secara khusus
menghargai air mata yang sudah dicurahkan karena memprihatinkan
keadaanku saat ini. Maka tulisan ini kutujukan khusus padanya,  semoga
sialanku bisa menghiburnya.

***

Aku sadar bahwa aku termasuk golongan pasien sialan
sejak mendapatkan kepastian dokter lewat check-up, dipertegas lagi
dengan hasil pemeriksaan lab, USG, dan rhenogram. Kuingat waktu itu
ketika dirujuk dari satu dokter ke dokter yang lain, bisa dipastikan
aku selalu paling lama bertanya jawab di ruang periksa. Jujur kutanya
hal yang tidak kutahu, perlu kukonfirmasi, perlu penjelasan lagi.
Bahkan bila ada yang yang butuh konfirmasi second opinion, dalam waktu
tiga hari aku sudah mendapatkan third opinion dengan menemui tiga
orang dokter spesialis ginjal yang berbeda di dua rumah sakit yang
berbeda, dua orang radiolog, dan dua ahli gizi. Secara nalar aku sudah
menerima keberadaanku sekarang memang sudah menjadi pasien gagal
ginjal, kronis lagi. Tapi bagaimana menyampaikan hal ini kepada orang
lain?

Dari browsing di internet, aku himpun artikel-artikel
populer berkenaan dengan sakitku dan bagaimana perlakuan yang
disarankan agar tidak semakin parah. Aku jadikan satu bendel dan
kucetak. Saat bilang ke istri bahwa aku sudah periksa sendiri dan
hasilnya seperti itu. Jadilah sekarang istriku yang shock, nelpun ke
sini – ke sana,  lha mau dibagaimanakan lagi adanya? Terima, kenyataan
yang ada!

***

Perkara yang juga sulit dan membuatku terus berpikir
adalah bagaimana menyampaikan keadaanku saat ini kepada Majelis
Gereja. Sampai seminggu sebelumnya aku masih intensif mendampingi
mereka yang merasa kehilangan dan bersedih dengan pengunduran diri
calon pendeta yang akan ditahbiskan saat ulang tahun gereja tgl. 25
Mei 2013 ini, karena alasan sakit. Sekarang terlebih lagi yang sakit
adalah pendetanya yang sehari-hari sangatlah energik dan aktif.

Ternyata mudah saja. Hari Minggu  17 Maret secara
khusus aku mengundang para Majelis untuk memberikan informasi. Mereka
datang masih dengan pikiran ini kelanjutan dari pengunduran diri calon
pendeta. Ternyata informasi tentang kesehatan pendeta. Aku sampaikan
apa adanya, jujur dan lugas kepada Majelis, bahwa aku sudah periksa
dokter, lab, USG dan rhenogram, dan semua hasilnya menyatakan aku
gagal ginjal, kronis. Untuk itu dalam jangka dekat terapi yang tidak
bisa ditunda adalah hemodialisa.  Kusengaja supaya sekalipun mereka
mendengar tetapi tidak paham. Dan memang tak ada yang tahu bahwa
hemodialisa adalah cuci darah. Kubacakan hasil pemeriksaan darahku
dengan angka kreatin, ureum, hemoglobin, juga resume USG dan rhenogram
yang masing-masing hanya berupa kalimat pendek penuh istilah medis
berbahasa Latin yang aku sendiri juga banyak yang tidak memahaminya,
apalagi kalau harus menerangkan detail. “Tahu artinya angka kreatin
11,69 dan ureum 168?” hehehe….. Kebetulan Majelis dengan latar
belakang tenaga medis tidak hadir. Aku minta ijin untuk opname di RS
Bethesda dan melakukan perawatan penyakitku selama yang diperlukan,
tidak usah ditengok karena jarak yang jauh jadi cukup dengan telepon
atau SMS saja pasti aku jawab, dan memberitahukan bahwa aku mempunyai
asuransi kesehatan yang menanggung biaya opname, dan sudah lebih
sepuluh tahun ini sama sekali belum pernah kumanfaatkan fasilitasnya
jadi biaya tidak atau belum menjadi masalah.

Sekaligus kutantang, menurut pengamatan mereka, aku
yang hari-hari sebelumnya masih memimpin ibadah jemaat, dan naik motor
bahkan Purwantoro Yogya terlihat sakit dan lemah? Tentu saja tak ada
yang menjawab dengan ya karena mereka tahu betapa minggu-minggu lalu
dengan serial pertemuan beruntun membahas pengunduran diri calon
pendeta aku sama sekali aku tak ada tanda sedang sakit. Maka dengan
mudah dibuat keputusan Majelis: 1. Memberi cuti kepada Pendeta
sepenuhnya dari tugas pelayanan kependetaan di jemaat. 2. Kesempatan
cuti dipergunakan sebagai waktu berobat dan perawatan yang diperlukan.
3.Tugas-tugas kependetaan akan ditata oleh Majelis, dan minta bantuan
pendeta seklasis.  Mudah sekali keputusan itu dibuat. Bahkan langsung
telepun dan sms kontak petugas jadwal-jadwal menjelang Paskah yang
mendesak. Tinggal acara penutup dan makan bersama. Istriku yang kuajak
dalam pertemuan sejak awal hanya diam, saat penutup diminta untuk juga
memberikan tanggapan.

Berbeda denganku yang memberi keterangan sengaja
dengan istilah medis yang sulit, istriku langsung saja mengungkapkan
gejolak hati berhari-hari yang dirasa bahwa aku gagal ginjal dan
satu-satunya jalan adalah harus cuci darah. Kurasakan sungguh
perubahan suasana yang ada. Majelis yang semula sekalipun prihatin dan
kaget tetap bisa bicara satu sama lain dengan rileks seakan tiba-tiba
terhenjak, selaput kesadaran yang menutup terlepas. Pak Pendeta sakit
ginjal dan harus cuci darah! Bayangan mereka yang ada bukan lagi
pendetanya yang masih guyon dan dengan cerdas menerangkan keadaan
sakitnya dan langkah-langkah medis yang akan ditempuh, tetapi ganti
dengan bayangan-bayangan dari  pengalaman dengan beberapa warga yang
terkapar  hampir mati dan juga diharuskan cuci darah atau transfusi
darah. Wah, salah cara memberikan informasinya.  Jadilah para Majelis
yang datang terdiam, tak bisa bicara apa. Apa dengan demikian
keputusan yang tadi diambil hendak ditinjau ulang? “Tidak Pak, sudah
baik, tinggal dilaksanakan”.

***

Menurutku pasien yang baik adalah yang memahami
diagnosis, prognosis, dan perawatan baik obat maupun menu dan cara
hidup yang mendukung keberadaannya. Aku sendiri menyadari secara emosi
aku masih menyadangkan pikiran bahwa semua diagnosis itu keliru dan
sebenarnya aku sehat atau kondisinya lebih baik. Tapi aku sadar bahwa
itu harapan yang menggantung tanpa dasar. Dokter2 yang kuhadapi semua
sudah dididik untuk hanya mendasarkan penilaian mereka dari bukti
hasil pemeriksaan, bukan apa yang kurasakan, apalagi apa yang
kuharapkan.

Akhirnya, hari ketiga aku opname dan sudah menjalani
dua kali hemodialisa berturut-turut sebelumnya rombongan Majelis
datang, dengan takut-takut karena paham melanggar pesan supaya tidak
usah menjenguk. Aku ketawain saat salah seorang bertanya, “Yang
dirasakan badannya apa Pak?” Mereka tetap tak percaya bahwa aku masih
bisa main lumpat tali berjalan dan beraktifitas seperti biasa.
Anggapannya sesudah cuci darah dua kali, lima jam berbaring dan darah
disaring lewat mesin, maka pasien akan lesu lemah dan menderita.
Tetapi pasien yang sekarang ditengok malah memberondong dengan banyak
tanya yang menunjukkan bahwa aku mengikuti perkembangan jemaat,
“Sekarang sudah ketemu, ayo giliran saya dihibur, wong saya yang
sedang sakit dan jadi pasien”. Hehehe, tak ada yang berani bicara.
Akhirnya, daripada jauh-jauh mereka datang dan hanya diam percuma, aku
berinisiatif memberdayakan keberadaan mereka, “Minta tolong ya, pijit
kaki saya, pegal-pegal karena di sini kurang jalan-jalan tiga hari ini
kemana-mana pasti pakai kursi roda tak boleh jalan sendiri”.

***

Aku harus mengaku lagi, aku memang jenis pasien
sialan. Karena aku selalu mau mencari tahu dan mempertanyakan apapun
saran rekomendasi yang katanya-katanya adalah untuk kebaikanku.
Terlebih lagi untuk saran makanan kesehatan maupun obat alternatif
yang entah bagaimana tiba-tiba saja banyak proposal diajukan padaku.
Aku tak mau jadi kelinci percobaan, apalagi secara medis ginjalku tak
bisa pulih kinerjanya. Bukan menutup diri dari alternatif, tetapi
sangat berhati-hati, itu amatlah beda. Bahwa sebagai pasien aku tetap
bisa berlagak kuat, berargumentasi dengan waras, dan berpendirian
keras kepala, ternyata bagi beberapa orang itu adalah ciri pasien
sialan hahahaha.

Sebenarnya tadi sudah kutulis dan hampir selesai
tulisan sambungan kemarin, penghibur sialan bagian dua. Tapi tak jadi
kuselesaikan dan kukirim, demi menghormati kawan yang kudengar isak
tangisnya tadi pagi karena merasa dengan tulisanku aku menganggapnya
sebagai penghibur sialan; Juga demi menghormat satu kawan dari masa
kecil yang tak berani menengok, bahkan untuk sekedar menelpun, tetapi
sampai kemarin masih menangisi keadaan sakitku dan sempat ngirim sms
padaku, “… Yahya, aku menemanimu duduk di atas abu….” aku cerita,
“Lha aku tadi mboncengkan Mirma ke pasar belanja, juga ke apotik dan
bank. Lalu yang kau temani duduk di atas abu tadi siapa?”
Wkwkwkwkwk…

Sekarang sudah pukul 14 lebih, tadi ada tiga rombongan
rombongan, berbeda, tiga mobil datang. Aku menerangkan yang kutulis di
posting ini kepada mereka, tentu dengan sepenuh humor yang aku bisa,
eh tetep saja ada beberapa Ibu yang menangis. Lha pasien yang
dikunjungi bisa ketawa kok yang ngunjungi jauh-jauh dari Purwantoro
malah menangis? Eh, saat pamit dan dengan dengan gagah aku berdiri
menyalami mereka satu-satu kembali lagi beberapa menangis.

Memang, aku ini pasien sialan.

Wisma LPP Sinode, Yogya, 6 April 2013

Penghibur Sialan

Penghibur Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Bila ada teman atau saudara yang sakit, untuk apa kita mengunjunginya? Mengapa secara khusus kita merasa perlu untuk berkirim salam dan doa menyapa, kalau tak bisa langsung berkunjung ya dengan sms, telepon, atau email? Jelas jawabannya, untuk menghibur, untuk menguatkan, untuk menemani, untuk membuat si sakit merasa lebih nyaman. Secara psikhis suasana yang nyaman sangat mendukung proses penyembuhan seseorang. Akan tetapi bagaimana bila sakit pasien sifatnya permanen, tak mungkin sembuh secara medis?

***

Sejak bulan Juli tahun lalu karena kedua orangtua sudah waktunya ganti dijaga oleh anak-anaknya, sebisa mungkin aku mencari kesempatan untuk mampir atau menginap di rumah orangtua di Pajang. Ibu dengan gayanya selalu menanya dan bercerita macam-macam, iya dilayani saja. Tetapi Bapak dengan gayanya pula tak pernah menceritakan apa bagaimana yang dirasakan oleh tubuhnya. Dari ponakanku, juga kawanku yang dokter mereka bilang bahwa bapak tentu sakit dan menderita sekali. Akan tetapi, sebagai anak aku tahu, tak mungkin Bapak akan mengeluhkan itu.

Anak-anak tahu, Ibu sangat senang dan tak akan menolak siapapun yang mengunjunginya, sedangkan Bapak hanya bisa nyaman bersama dengan anak-anak atau sahabat-sahabat tertentu dan kami anak-anak semua sudah mengenal mereka juga. Itu juga sebabnya kamar Bapak dan Ibu dipisah, kamar Ibu lebih luas. Dengan kursi tamu yang sangat nyaman untuk duduk-duduk lama. Tetapi tiap ada tamu untuk Ibu anak-anak juga was-was. Kalau yang berkunjung ngobrol terlalu lama, apalagi bawa makanan sedangkan sebagai penderita diabet dan hipertensi yang pernah stroke diet Ibu dijaga sangat cermat. Akibatnya baru dirasakan nanti kalau sudah malam atau hari berlalu, badan pegal-pegal minta pijit, tensi yang naik tinggi, gula darah yang tidak terkontrol….

Sebaliknya Bapak menurut Dr. Pangesti yang merawatnya adalah pasien yang disiplin dan cerdas. Beliau tahu semua aspek penyakitnya, bahkan di awal-awal dulu mencari sendiri buku dan brosur-brosur berkenaan dengan terapi dan diet. Jadilah ketika ada kakakku yang masih takut menyampaikan hasil diagnosa kepada Bapak dan lebih memilih bilang, “tidak tahu”, Bapak bahkan menasehati, “Kowe aja ngapusi Bapak”.

Ada banyak sekali sekali tablet, kapsul, dan sirup yang diminum Bapak sejak bulan Juli lalu, dan tiap kali berubah-ubah menyesuaikan perkembangan . Nah, jangan sampai salah melayani Bapak karena Bapak hafal semua macam jenis obatnya, satu-satu. Pengalaman sekitar 6 tahun menyiapkan diet makanan dan obat untuk Ibu menjadikan Bapak jauh lebih ahli. Jadilah, bahkan kemudian anak-anak berbagi diri, siapa menyiapkan menu diet harian. Siapa mengatur rumah. Siapa pula mengurus urusan-urusan obat, dengan dokter, dan rumah sakit ketika akhirnya diputuskan Bapak dirawat home-care sejak Januari lalu, maka dokter dan perawat dari rumah sakit yang mengunjungi bergantian tiap 2 hari sekali.

***

Bapakku orang yang religius dan aktifis gerejawi. Hal itu sangatlah jelas. Bahkan pernah menjadi Ketua Majelis Gereja untuk dua gereja, menjadi anggota deputat klasis, dan bahkan diutus untuk ikut sidang sinode. Entah apa yang jadi presedennya, tapi Bapak tidak mau didoakan oleh sembarang orang. Dan kemudian, juga berpesan, “Yen ndonga aja dhawa-dhawa, mengko aku ndak bingung”. Dan sejak Januari lalu mantaplah sudah doa Simeon yang diucapkan oleh Beliau, “Keparenga samenika abdi Paduka tilar-donya klawan tentrem” (Lukas 2:29). Aku yang disuruh Bapak pertama kali mengucapkan doa ini, anak-anak dan cucu yang di Solo semua berkumpul. Dan setelah itu Ibu yang menangis disuruh pindah ke kamarnya oleh Bapak, anak-anak yang lain entah bagaimana mengucapkan amin.

Sejak itu, doa Simeon yang menjadi doa Bapak. Apakah aku salah karena bulan Juli sudah matur kepada Bapak saat ditanya tentang diagnosa penyakitnya, prognosis dan therapi medis yang akan ditempuh, dan bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya nanti kematian tidak dapat dihindari? Ada yang masih tetap percaya mujizat, berharap keajaiban, dan Bapak bisa sembuh pulih lagi. Tapi Bapakku aku sangat tahu bukan orang yang seperti itu. Kedisiplinan sebagai guru gambar tehnik selama lebih empat puluh tahun membuatnya sangat teliti sekaligus rasional. Dan aku tahu, Bapak juga tidak suka didoakan agar mujizat penyembuhan terjadi. “Kehendak Tuhan sajalah yang jadi”. Bagaimana kita bisa lebih menghibur lagi orang yang sudah sepenuhnya berserah?

Sudah dua bulan ini Bapak tiap hari mendapatkan obat anti nyeri yang paling kuat, di tempel di bagian dada atau bagian tubuh yang dirasa sakit. Akibat samping yang secara langsung terlihat adalah sering ada halusinasi dan bicara tanpa sadar. Keadaannya semakin lemah, terlebih setelah Ibu lebih dahulu meninggal dunia 6 Februari lalu. Bapak merasa bahwa semua tanggungjawab hidupnya sudah tuntas. Upaya untuk memasukkan obat dan makanan lewat infus juga sudah mulai sangat susah dilakukan karena pembuluh darah di tangan sudah nyaris tak terdeteksi lagi, sedangkan di kaki bengkak dan tak bisa. Jadilah, ada kasak-kusuk yang lalu kudengar dari orang yang pernah mengunjungi dan mendoakan Bapak,”Bapak masih punya cekelan, itu yang menjadikannya tetap bertahan”.

***

Melalui artikel ini, dengan mengutip Ayub 16:2 ; aku hanya ingin singkat mengatakan, “panglipurmu mung wujud panyiksa tumraping aku” atau dalam bahasa Indonesia, “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”

LPP Sinode, Yogya, 5 April 2013

Pemulung Cerita.