Penghibur Sialan

Penghibur Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Bila ada teman atau saudara yang sakit, untuk apa kita mengunjunginya? Mengapa secara khusus kita merasa perlu untuk berkirim salam dan doa menyapa, kalau tak bisa langsung berkunjung ya dengan sms, telepon, atau email? Jelas jawabannya, untuk menghibur, untuk menguatkan, untuk menemani, untuk membuat si sakit merasa lebih nyaman. Secara psikhis suasana yang nyaman sangat mendukung proses penyembuhan seseorang. Akan tetapi bagaimana bila sakit pasien sifatnya permanen, tak mungkin sembuh secara medis?

***

Sejak bulan Juli tahun lalu karena kedua orangtua sudah waktunya ganti dijaga oleh anak-anaknya, sebisa mungkin aku mencari kesempatan untuk mampir atau menginap di rumah orangtua di Pajang. Ibu dengan gayanya selalu menanya dan bercerita macam-macam, iya dilayani saja. Tetapi Bapak dengan gayanya pula tak pernah menceritakan apa bagaimana yang dirasakan oleh tubuhnya. Dari ponakanku, juga kawanku yang dokter mereka bilang bahwa bapak tentu sakit dan menderita sekali. Akan tetapi, sebagai anak aku tahu, tak mungkin Bapak akan mengeluhkan itu.

Anak-anak tahu, Ibu sangat senang dan tak akan menolak siapapun yang mengunjunginya, sedangkan Bapak hanya bisa nyaman bersama dengan anak-anak atau sahabat-sahabat tertentu dan kami anak-anak semua sudah mengenal mereka juga. Itu juga sebabnya kamar Bapak dan Ibu dipisah, kamar Ibu lebih luas. Dengan kursi tamu yang sangat nyaman untuk duduk-duduk lama. Tetapi tiap ada tamu untuk Ibu anak-anak juga was-was. Kalau yang berkunjung ngobrol terlalu lama, apalagi bawa makanan sedangkan sebagai penderita diabet dan hipertensi yang pernah stroke diet Ibu dijaga sangat cermat. Akibatnya baru dirasakan nanti kalau sudah malam atau hari berlalu, badan pegal-pegal minta pijit, tensi yang naik tinggi, gula darah yang tidak terkontrol….

Sebaliknya Bapak menurut Dr. Pangesti yang merawatnya adalah pasien yang disiplin dan cerdas. Beliau tahu semua aspek penyakitnya, bahkan di awal-awal dulu mencari sendiri buku dan brosur-brosur berkenaan dengan terapi dan diet. Jadilah ketika ada kakakku yang masih takut menyampaikan hasil diagnosa kepada Bapak dan lebih memilih bilang, “tidak tahu”, Bapak bahkan menasehati, “Kowe aja ngapusi Bapak”.

Ada banyak sekali sekali tablet, kapsul, dan sirup yang diminum Bapak sejak bulan Juli lalu, dan tiap kali berubah-ubah menyesuaikan perkembangan . Nah, jangan sampai salah melayani Bapak karena Bapak hafal semua macam jenis obatnya, satu-satu. Pengalaman sekitar 6 tahun menyiapkan diet makanan dan obat untuk Ibu menjadikan Bapak jauh lebih ahli. Jadilah, bahkan kemudian anak-anak berbagi diri, siapa menyiapkan menu diet harian. Siapa mengatur rumah. Siapa pula mengurus urusan-urusan obat, dengan dokter, dan rumah sakit ketika akhirnya diputuskan Bapak dirawat home-care sejak Januari lalu, maka dokter dan perawat dari rumah sakit yang mengunjungi bergantian tiap 2 hari sekali.

***

Bapakku orang yang religius dan aktifis gerejawi. Hal itu sangatlah jelas. Bahkan pernah menjadi Ketua Majelis Gereja untuk dua gereja, menjadi anggota deputat klasis, dan bahkan diutus untuk ikut sidang sinode. Entah apa yang jadi presedennya, tapi Bapak tidak mau didoakan oleh sembarang orang. Dan kemudian, juga berpesan, “Yen ndonga aja dhawa-dhawa, mengko aku ndak bingung”. Dan sejak Januari lalu mantaplah sudah doa Simeon yang diucapkan oleh Beliau, “Keparenga samenika abdi Paduka tilar-donya klawan tentrem” (Lukas 2:29). Aku yang disuruh Bapak pertama kali mengucapkan doa ini, anak-anak dan cucu yang di Solo semua berkumpul. Dan setelah itu Ibu yang menangis disuruh pindah ke kamarnya oleh Bapak, anak-anak yang lain entah bagaimana mengucapkan amin.

Sejak itu, doa Simeon yang menjadi doa Bapak. Apakah aku salah karena bulan Juli sudah matur kepada Bapak saat ditanya tentang diagnosa penyakitnya, prognosis dan therapi medis yang akan ditempuh, dan bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya nanti kematian tidak dapat dihindari? Ada yang masih tetap percaya mujizat, berharap keajaiban, dan Bapak bisa sembuh pulih lagi. Tapi Bapakku aku sangat tahu bukan orang yang seperti itu. Kedisiplinan sebagai guru gambar tehnik selama lebih empat puluh tahun membuatnya sangat teliti sekaligus rasional. Dan aku tahu, Bapak juga tidak suka didoakan agar mujizat penyembuhan terjadi. “Kehendak Tuhan sajalah yang jadi”. Bagaimana kita bisa lebih menghibur lagi orang yang sudah sepenuhnya berserah?

Sudah dua bulan ini Bapak tiap hari mendapatkan obat anti nyeri yang paling kuat, di tempel di bagian dada atau bagian tubuh yang dirasa sakit. Akibat samping yang secara langsung terlihat adalah sering ada halusinasi dan bicara tanpa sadar. Keadaannya semakin lemah, terlebih setelah Ibu lebih dahulu meninggal dunia 6 Februari lalu. Bapak merasa bahwa semua tanggungjawab hidupnya sudah tuntas. Upaya untuk memasukkan obat dan makanan lewat infus juga sudah mulai sangat susah dilakukan karena pembuluh darah di tangan sudah nyaris tak terdeteksi lagi, sedangkan di kaki bengkak dan tak bisa. Jadilah, ada kasak-kusuk yang lalu kudengar dari orang yang pernah mengunjungi dan mendoakan Bapak,”Bapak masih punya cekelan, itu yang menjadikannya tetap bertahan”.

***

Melalui artikel ini, dengan mengutip Ayub 16:2 ; aku hanya ingin singkat mengatakan, “panglipurmu mung wujud panyiksa tumraping aku” atau dalam bahasa Indonesia, “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”

LPP Sinode, Yogya, 5 April 2013

Pemulung Cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s