Pasien Sialan

Pasien Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Tadi pagi aku nulis “Penghibur Sialan” bagian kedua,
ada email masuk, nanggapi jurnalku “penghibur sialan” kemarin. Jelas
sekali sejak semalam ia galau, dan dengan sangat emosi dan sensitif
minta penegasanku bahwa caranya selama ini bukan masuk kriteria
“penghibur sialan”. Spontan akubalas emailnya, “Syukurlah, kau tidak
bilang padaku: pasien sialan!” wkwkwkwkwkwk…..

Lalu aku nelpun, eh tidak diangkat. Beberapa saat
kemudian ia yang nelpun, kujawab dengan sapaan seperti biasa, tapi
aneh jawabannya. Tak bisa disembunyikan lagi, rupanya ia menangis,
karena aku menurut dia dengan tulisanku itu menganggap bahwa ia
hanyalah semacam penghibur sialan saja.

Jadilah, tiga jam tadi aku tak jadi menyelesaikan dan
mengirim jurnal ke-5, “penghibur sialan bagian kedua”. Kalau bagian
pertama kemarin dalam kasus bapakku yang sedang sakit, seharusnya
bagian ini jauh lebih lucu dan hidup. Karena aku menuliskan kisahku
sendiri. Dan untuk urusan menulis dengan gaya ironis dan satiris
kayaknya aku memang sudah mahir. Betapapun aku harus secara khusus
menghargai air mata yang sudah dicurahkan karena memprihatinkan
keadaanku saat ini. Maka tulisan ini kutujukan khusus padanya,  semoga
sialanku bisa menghiburnya.

***

Aku sadar bahwa aku termasuk golongan pasien sialan
sejak mendapatkan kepastian dokter lewat check-up, dipertegas lagi
dengan hasil pemeriksaan lab, USG, dan rhenogram. Kuingat waktu itu
ketika dirujuk dari satu dokter ke dokter yang lain, bisa dipastikan
aku selalu paling lama bertanya jawab di ruang periksa. Jujur kutanya
hal yang tidak kutahu, perlu kukonfirmasi, perlu penjelasan lagi.
Bahkan bila ada yang yang butuh konfirmasi second opinion, dalam waktu
tiga hari aku sudah mendapatkan third opinion dengan menemui tiga
orang dokter spesialis ginjal yang berbeda di dua rumah sakit yang
berbeda, dua orang radiolog, dan dua ahli gizi. Secara nalar aku sudah
menerima keberadaanku sekarang memang sudah menjadi pasien gagal
ginjal, kronis lagi. Tapi bagaimana menyampaikan hal ini kepada orang
lain?

Dari browsing di internet, aku himpun artikel-artikel
populer berkenaan dengan sakitku dan bagaimana perlakuan yang
disarankan agar tidak semakin parah. Aku jadikan satu bendel dan
kucetak. Saat bilang ke istri bahwa aku sudah periksa sendiri dan
hasilnya seperti itu. Jadilah sekarang istriku yang shock, nelpun ke
sini – ke sana,  lha mau dibagaimanakan lagi adanya? Terima, kenyataan
yang ada!

***

Perkara yang juga sulit dan membuatku terus berpikir
adalah bagaimana menyampaikan keadaanku saat ini kepada Majelis
Gereja. Sampai seminggu sebelumnya aku masih intensif mendampingi
mereka yang merasa kehilangan dan bersedih dengan pengunduran diri
calon pendeta yang akan ditahbiskan saat ulang tahun gereja tgl. 25
Mei 2013 ini, karena alasan sakit. Sekarang terlebih lagi yang sakit
adalah pendetanya yang sehari-hari sangatlah energik dan aktif.

Ternyata mudah saja. Hari Minggu  17 Maret secara
khusus aku mengundang para Majelis untuk memberikan informasi. Mereka
datang masih dengan pikiran ini kelanjutan dari pengunduran diri calon
pendeta. Ternyata informasi tentang kesehatan pendeta. Aku sampaikan
apa adanya, jujur dan lugas kepada Majelis, bahwa aku sudah periksa
dokter, lab, USG dan rhenogram, dan semua hasilnya menyatakan aku
gagal ginjal, kronis. Untuk itu dalam jangka dekat terapi yang tidak
bisa ditunda adalah hemodialisa.  Kusengaja supaya sekalipun mereka
mendengar tetapi tidak paham. Dan memang tak ada yang tahu bahwa
hemodialisa adalah cuci darah. Kubacakan hasil pemeriksaan darahku
dengan angka kreatin, ureum, hemoglobin, juga resume USG dan rhenogram
yang masing-masing hanya berupa kalimat pendek penuh istilah medis
berbahasa Latin yang aku sendiri juga banyak yang tidak memahaminya,
apalagi kalau harus menerangkan detail. “Tahu artinya angka kreatin
11,69 dan ureum 168?” hehehe….. Kebetulan Majelis dengan latar
belakang tenaga medis tidak hadir. Aku minta ijin untuk opname di RS
Bethesda dan melakukan perawatan penyakitku selama yang diperlukan,
tidak usah ditengok karena jarak yang jauh jadi cukup dengan telepon
atau SMS saja pasti aku jawab, dan memberitahukan bahwa aku mempunyai
asuransi kesehatan yang menanggung biaya opname, dan sudah lebih
sepuluh tahun ini sama sekali belum pernah kumanfaatkan fasilitasnya
jadi biaya tidak atau belum menjadi masalah.

Sekaligus kutantang, menurut pengamatan mereka, aku
yang hari-hari sebelumnya masih memimpin ibadah jemaat, dan naik motor
bahkan Purwantoro Yogya terlihat sakit dan lemah? Tentu saja tak ada
yang menjawab dengan ya karena mereka tahu betapa minggu-minggu lalu
dengan serial pertemuan beruntun membahas pengunduran diri calon
pendeta aku sama sekali aku tak ada tanda sedang sakit. Maka dengan
mudah dibuat keputusan Majelis: 1. Memberi cuti kepada Pendeta
sepenuhnya dari tugas pelayanan kependetaan di jemaat. 2. Kesempatan
cuti dipergunakan sebagai waktu berobat dan perawatan yang diperlukan.
3.Tugas-tugas kependetaan akan ditata oleh Majelis, dan minta bantuan
pendeta seklasis.  Mudah sekali keputusan itu dibuat. Bahkan langsung
telepun dan sms kontak petugas jadwal-jadwal menjelang Paskah yang
mendesak. Tinggal acara penutup dan makan bersama. Istriku yang kuajak
dalam pertemuan sejak awal hanya diam, saat penutup diminta untuk juga
memberikan tanggapan.

Berbeda denganku yang memberi keterangan sengaja
dengan istilah medis yang sulit, istriku langsung saja mengungkapkan
gejolak hati berhari-hari yang dirasa bahwa aku gagal ginjal dan
satu-satunya jalan adalah harus cuci darah. Kurasakan sungguh
perubahan suasana yang ada. Majelis yang semula sekalipun prihatin dan
kaget tetap bisa bicara satu sama lain dengan rileks seakan tiba-tiba
terhenjak, selaput kesadaran yang menutup terlepas. Pak Pendeta sakit
ginjal dan harus cuci darah! Bayangan mereka yang ada bukan lagi
pendetanya yang masih guyon dan dengan cerdas menerangkan keadaan
sakitnya dan langkah-langkah medis yang akan ditempuh, tetapi ganti
dengan bayangan-bayangan dari  pengalaman dengan beberapa warga yang
terkapar  hampir mati dan juga diharuskan cuci darah atau transfusi
darah. Wah, salah cara memberikan informasinya.  Jadilah para Majelis
yang datang terdiam, tak bisa bicara apa. Apa dengan demikian
keputusan yang tadi diambil hendak ditinjau ulang? “Tidak Pak, sudah
baik, tinggal dilaksanakan”.

***

Menurutku pasien yang baik adalah yang memahami
diagnosis, prognosis, dan perawatan baik obat maupun menu dan cara
hidup yang mendukung keberadaannya. Aku sendiri menyadari secara emosi
aku masih menyadangkan pikiran bahwa semua diagnosis itu keliru dan
sebenarnya aku sehat atau kondisinya lebih baik. Tapi aku sadar bahwa
itu harapan yang menggantung tanpa dasar. Dokter2 yang kuhadapi semua
sudah dididik untuk hanya mendasarkan penilaian mereka dari bukti
hasil pemeriksaan, bukan apa yang kurasakan, apalagi apa yang
kuharapkan.

Akhirnya, hari ketiga aku opname dan sudah menjalani
dua kali hemodialisa berturut-turut sebelumnya rombongan Majelis
datang, dengan takut-takut karena paham melanggar pesan supaya tidak
usah menjenguk. Aku ketawain saat salah seorang bertanya, “Yang
dirasakan badannya apa Pak?” Mereka tetap tak percaya bahwa aku masih
bisa main lumpat tali berjalan dan beraktifitas seperti biasa.
Anggapannya sesudah cuci darah dua kali, lima jam berbaring dan darah
disaring lewat mesin, maka pasien akan lesu lemah dan menderita.
Tetapi pasien yang sekarang ditengok malah memberondong dengan banyak
tanya yang menunjukkan bahwa aku mengikuti perkembangan jemaat,
“Sekarang sudah ketemu, ayo giliran saya dihibur, wong saya yang
sedang sakit dan jadi pasien”. Hehehe, tak ada yang berani bicara.
Akhirnya, daripada jauh-jauh mereka datang dan hanya diam percuma, aku
berinisiatif memberdayakan keberadaan mereka, “Minta tolong ya, pijit
kaki saya, pegal-pegal karena di sini kurang jalan-jalan tiga hari ini
kemana-mana pasti pakai kursi roda tak boleh jalan sendiri”.

***

Aku harus mengaku lagi, aku memang jenis pasien
sialan. Karena aku selalu mau mencari tahu dan mempertanyakan apapun
saran rekomendasi yang katanya-katanya adalah untuk kebaikanku.
Terlebih lagi untuk saran makanan kesehatan maupun obat alternatif
yang entah bagaimana tiba-tiba saja banyak proposal diajukan padaku.
Aku tak mau jadi kelinci percobaan, apalagi secara medis ginjalku tak
bisa pulih kinerjanya. Bukan menutup diri dari alternatif, tetapi
sangat berhati-hati, itu amatlah beda. Bahwa sebagai pasien aku tetap
bisa berlagak kuat, berargumentasi dengan waras, dan berpendirian
keras kepala, ternyata bagi beberapa orang itu adalah ciri pasien
sialan hahahaha.

Sebenarnya tadi sudah kutulis dan hampir selesai
tulisan sambungan kemarin, penghibur sialan bagian dua. Tapi tak jadi
kuselesaikan dan kukirim, demi menghormati kawan yang kudengar isak
tangisnya tadi pagi karena merasa dengan tulisanku aku menganggapnya
sebagai penghibur sialan; Juga demi menghormat satu kawan dari masa
kecil yang tak berani menengok, bahkan untuk sekedar menelpun, tetapi
sampai kemarin masih menangisi keadaan sakitku dan sempat ngirim sms
padaku, “… Yahya, aku menemanimu duduk di atas abu….” aku cerita,
“Lha aku tadi mboncengkan Mirma ke pasar belanja, juga ke apotik dan
bank. Lalu yang kau temani duduk di atas abu tadi siapa?”
Wkwkwkwkwk…

Sekarang sudah pukul 14 lebih, tadi ada tiga rombongan
rombongan, berbeda, tiga mobil datang. Aku menerangkan yang kutulis di
posting ini kepada mereka, tentu dengan sepenuh humor yang aku bisa,
eh tetep saja ada beberapa Ibu yang menangis. Lha pasien yang
dikunjungi bisa ketawa kok yang ngunjungi jauh-jauh dari Purwantoro
malah menangis? Eh, saat pamit dan dengan dengan gagah aku berdiri
menyalami mereka satu-satu kembali lagi beberapa menangis.

Memang, aku ini pasien sialan.

Wisma LPP Sinode, Yogya, 6 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s