Tentang Mujizat

Sejak aku diberitahu sakitku adalah gagal ginjal kronis, sifatnya permanen, dan bahwa fungsi ginjal yang rusak tak bisa dipulihkan lagi atau diperbaiki lagi aku berpikir bahwa hanya mujizat Tuhan saja yang kuasa menolongku. Tapi sejak itu, aku mendengar banyak orang juga memakai dan mempergunakan kata mujizat itu dalam kasusku, dengan berbagai-bagai pemahaman yang malahan membingungkanku.  Kalau mujizat adalah intervensi kuasa illahi yang berlawanan dengan hukum alam dan nalar dalam kehidupan ini, dan tujuannya adalah agar nama Tuhan dan karya penyelamatanNya dimuliakan, dan kita percaya bahwa sekarang mujizat juga masih terjadi, bagaimana hal itu hendak dimengerti?

***
Saat pertama kali diberitahu dokter yang dengan sangat berhati-hati memberitahuku bahwa berdasarkan pemeriksaan darah dan USG aku sakit gagal ginjal dan tidak bisa tidak harus cuci darah, reaksi spontan pertama adalah menolaknya. Tapi kesadaran bahwa tak mungkin petugas lab dan para dokter itu mempertaruhkan integritasnya dan memanipulasi hasil pemeriksaan mereka menyadarkanku untuk mau memeriksa second opinion, malah third opinion, sambil juga browsing segala macam informasi dari sumber-sumber yang tersedia di internet. Dalam waktu singkat dan proses yang kurasa tidak terlalu sulit, aku bisa menerima bahwa aku sakit gagal ginjal. Jadi aku harus mengambil langkah-langkah yang tepat sebagaimana seharusnya orang gagal ginjal. Memberitahu istri, keluarga dekat, dan majelis jemaat sehingga semua tugas tanggungjawab bisa ditata.  Bagiku sekarang, bahwa aku mau mengaku dengan segera bahwa aku sakit gagal ginjal itu adalah mujizat.

Tetapi sampai cuci darah yang ketiga, ternyata aku masih menyimpan harapan palsu, gagal-ginjalku bukan kronis yang bersifat permanen, tetapi gagal-ginjal akut yang setelah perawatan beberapa saat dan diet ketat nanti akan membaik dan bisa kembali hidup normal. Paling tidak aku mikir sejak awal bagaimana supaya cuci darah yang sudah divonis dua kali seminggu itu bisa diperjarang, kalau bisa seminggu sekali saja, atau lebih baik lagi dua minggu sekali hahaha. Tetapi pemeriksaan kadar kreatin dan ureum yang meningkat dengan cepat dalam darahku hanya satu dua hari usai cuci darah sudah sampai di ambang yang mengharuskan pasien wajib melakukan cuci darah lagi mematahkan harapan palsu yang kubangun sendiri.  Dengan kesadaran bahwa aku memang harus rutin cuci darah, maka tanggal 25 Maret, minggu kedua sesudah seminggu pertama aku melakukan hemodialisa aku memasang AV Shunt dan kateter sementara untuk alat bantu cuci darah.

Kuingat semua perawat di ruang cuci darah mengacungkan jempol melihat perban penutup operasi pemasangan AV Shunt dan kateter sementara yang kulakukan. Keputusan yang tepat!  Jadilah sejak cuci darah ke-4 sampai ke-9 kemarin aku sudah mempergunakan kateter sementara di pundak kanan. Jahitan operasi AV Shunt sudah dilepas, hasilnya baik dan dapat dipergunakan dua minggu lagi, bila beres semua kateter di bahu bisa juga dilepas. Bagiku, ini juga mujizat.  Beberapa pasien gagal memasang AV Shunt dalam operasi pertama, sehingga harus mengulangi lagi, bahkan rekor di pasien yang satu ruang denganku adalah sampai 8 kali melakukan operasi AV shunt, hiiiii  dipasang sekali saja aku jadi seminggu menderita panas demam tinggi mual muntah dan segala kutukannya, nggak mau sama sekali kalau harus mengulangi lagi. Nah aku mencatatnya sebagai mujizat.

***
Bagi para pendeta di lingkungan klasis Wonogiri dan Sukoharjo, atau malah se-Surakarta, bisa jadi tahun 1990-an lalu aku termasuk satu pendeta muda yang usil dengan sistem dana pensiun untuk para pendeta GKJ. Puncak usilku terjadi saat memutuskan keluar dari kepesertaan dana pensiun pendeta GKJ, tapi sudah kuperbaiki lho sekarang aku jadi anggota dana pensiun yang baik lagi. Tujuanku waktu itu hanya satu, agar para pendeta yang kebetulan melayani di gereja yang secara ekonomi lemah dan tidak berkelimpahan, sebagaimana gerejaku, tetap dapat menikmati kesejahteraan dan juga jaminan pemeliharaan kesehatan yang layak saat tua nanti dan sakit.  Tapi aku usil dengan layak, karena selain protes aku juga membangun dan mengikuti asuransi yang pada waktu itu preminya kurasa sangat mahal. Ada tahun-tahun di mana 20% pendapatanku harus kualokasikan dengan disiplin untuk itu. Ternyata memang aku membutuhkannya sekarang. Itu yang menjadikanku bisa pamit mau perawatan hemodialisis kepada Majelis Gereja-ku sambil matur, “Sementara dana sudah ada dan ditanggung oleh asuransi”.  Dulu kupilih premi yang kuukur cukup mahal bagiku, sekarang aku sadar dibanding kebutuhan khusus karena sakitku ini, maka nilai pertanggungan yang kupilih masih terlalu kecil. Ternyata asuransi yang kupunya masih masuk kategori asuransi orang miskin yang pas-pas-an saja. Tapi bagiku, pertanggungan yang diberikan asuransi itu bisa kucatat sebagai mujizat. Ini cara Tuhan menolongku, dan ini juga cara Tuhan menolong jemaatku!

A friend in need is a friend indeed.  Mujizat selanjutnya adalah saat kawan-kawan membantu. Aku dengar ada keluarga-keluarga di jemaat-ku yang secara khusus melakukan aksi doa dan puasa, mohon pada Tuhan untuk kesembuhanku. Aku dapat ratusan kunjungan, salam, pesan, sms, email, bingkisan kue roti dan buah (yang hampir semuanya tak bisa ku makan hehehehe…), dan juga sumbangan semua dengan doa dan harapan yang baik untukku. Semula aku miris tiap mendengar ucapan semoga lekas sembuh. Tahu nggak bahwa gagal-ginjal kronis yang kualami ini bersifat permanen dan tak mungkin sembuh?  Tapi aku sekarang belajar menampilkan diri kuat sekalipun dalam kelemahanku. Juga belajar mencukupkan diri sekalipun dalam ketiadaan segala sesuatu. bahwa dulu aku berpinsip biar miskin tetapi sombong

Dalam diri saudara-saudara, kawan, sahabat, dan persekutuan banyak sekali orang yang mengelilingiku saat ini kudapatkan kembali kekuatan hidup, lebih dari sekedar sembuh, memang masih dalam keterbatasan dan larangan-larangan tidak boleh ini itu yang masih sering membuatku sangat jengkel dan bertanya mengapa-mengapa. Namun lebih dari itu ku dapat bahwa ketika aku masih bisa mensyukuri dan menjalani keberadaanku sekarang apa adanya, aku menjadi lebih kuat, hidupku menjadi lebih indah, sakitku kuhadapi dengan lebih nyaman. Kucatat kebersamaan dan bantuan kawan-kawan sampai hari ini sebagai peristiwa mujizat, yang masih berlangsung, yang terus berjalan dan belum berhenti hanya sekedar cerita.

***
Aku tak menolak peristiwa mujizat sebagai intervensi Illahi dalam tata dunia ini. Pracaya iku tampa, bungah iku tamba. Tapi apa salah bila sampai sekarang aku bisa tetap bergembira dan semangatku tetap bernyala, aku juga menerima itu sebagai mujizat?  Sebagai seorang pastor, dalam perlawatan orang sakit sering setelah mendoakan jemaat yang kukunjungi mereka bersaksi tentang kuasa Tuhan yang menyembuhkan dan menguatkan, memberi harapan. Ada istilah pasien dengan penyakit psikhosomatis,  secara fisik sebenarnya sehat, dengan demikian saat ia mendapat sugesti, penghiburan, dorongan atau semangat maka langsung saja sakitnya lenyap, mau makan lagi dengan enak, tenaganya tiba-tiba pulih. Hal itu sangat berbeda dengan orang buta melihat dan orang lumpuh membuang tongkatnya dan mengikut Yesus, apalagi orang mati bangkit.

Karena itu aku tak pernah punya keyakinan untuk menghentikan cuci darah, dengan maksud biar nanti Tuhan menyembuhkan dengan mujizat.  Kutanya dua perawat di ruang HD yang kurasa paling senior, mereka sudah bekerja di ruang hemodialisis rumah sakit puluhan tahun, bukan hanya belasan tahun. “Apa bekerja selama ini pernah menemui mujizat, pasien gagal ginjal kronis yang harus cuci darah seminggu dua kali seperti saya bisa tidak cuci darah? Atau dikurangi frekwensi cuci darahnya?”  Semua perawat yang kutanya orang Kristen, warga gereja, bahkan satu perawat selalu bernyanyi sambil menunggu pasien di ruang HD. Jawabnya tegas, “Wah kalau yang frekwensi cuci darah bisa dikurangi tidak ada Pak, kalau tidak cuci darah lagi sama sekali ada?” Tapi jawabnya kok sambil tersenyum nakal, “Maksudnya?” “Lha sudah mati, jadi tidak perlu cuci darah lagi”.

***
Pernah saat cuci darah, pasien di ranjang seberangku menyusul masuk pk. 22.00. Usai peralatan dipasang ada sekelompok orang yang datang dan mendoakan. Doanya model kharismatis.  Lama sekali mereka berdoa, kayaknya diulang-ulang, mungkin takut Tuhan lalai tidak mendengarkan.  Lalu ada pengurapan minyak, dari pengalamanku dulu aku tahu itu pasti pakai baby-oil. Dioleskan di kepala, di badannya, di tangan, di kaki, untung tidak di mesin hemodialisisnya sekalian.  Sambil bisik-bisik perawat cerita padaku itu pasien opname yang sudah dijadwalkan cuci darah sejak pk. 20.00 tadi, sudah dipanggil berulang kali katanya masih ada percakapan dengan pendetanya. Kondisi pasien agak setengah sadar karena sakitnya,  sangat beda denganku yang sadar sepenuhnya. Suster sudah akan menghentikan doa dan mengusir mereka dari ruang HD eh ternyata pendetanya malah melayankan perjamuan. Masing-masing memegang cawan anggur kecil, dan satu cawan diminumkan ke pasiennya, yang kemudian tersedak dan terbatuk-batuk.  Perawat datang dan meminta mereka keluar, sudah satu jam lebih, sudah cukup doanya, sekarang biar pasien istirahat dulu ya. Kurasa tindakan perawat itu bahkan mujizat yang sebenarnya, paling tidak bagiku yang sudah kuatir mereka nanti akan datang padaku begitu usai dengan pasien di seberangku itu.

Wah, ternyata aku masih menyimpan beberapa cerita mujizat lagi, tapi dalam konteks yang lain. Kusimpan dulu saja. Biar bisa kukirim posting yang sudah cukup panjang  ini sekarang. (ytp)

Salam, Pemulung Cerita, Yogya 13 April 2013

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Mujizat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s