Catatan Dari Pendonor Ginjal

oleh Immanuel Teja Harjaya Samadhi, Bandung, 27 Nov. 2013

Perkenalan

Saya bernama Immanuel Teja Harjaya, putra ke 7 (dari 8 bersaudara) dari Bapak  Wahyu Samadhi (alm, 8 April 2013) dan Ibu Sri Suminah (alm, 6 Februari 2013, diberkatilah semua kenangan akan mereka).  Sejak kedua orang tua meninggal saya merasa perlu menyematkan nama ayah saya di belakang nama saya, sehingga nama saya menjadi Immanuel Teja Harjaya Samadhi. Orang sering memanggil saya dengan lafal Tejo, tetapi karena saya sudah lama tinggal di Bandung, tatar Sunda, maka orang lebih sering memanggil saya dengan lafal Teja. Saya adalah adik kandung dari Yahya Tirta Prewita.

Istri saya, Agustein Okamita  Asima Rasmalem, berayah dari suku Karo bermarga Sembiring Meliala dan beribu dari suku Toba dari marga Sitompul. Karena saya menikah dengan seorang putri Karo secara adat, maka saya pun dianugrahkan marga Sebayang.

Image            Kami dikaruniai Tuhan dua orang anak, satu pasang, yang pertama perempuan, bernama Kasih Karunia Indah (11 th), dan yang kedua adalah Anugrah Agung Sejati (7 th). Karena terpesona anugrah Tuhan maka kedua nama anak saya kami beri nama demikian. Ketika nama anak saya lahir, saya mempunyai julukan baru untuk nama saya, yaitu Bapak Kasih. Nama anak saya yang pertama, Kasih, disematkan menjadi identitas saya. Nama Teja pun lenyaplah, identitas saya sudah menjadi Bapak Kasih. Identitas saya terhisap di dalam identitas anak saya yang terkasih, yang sedang menumbuhkan generasi kehidupan yang baru. Para kerabat,  terutama dari pihak Istri lebih sering memanggil dan mengenal nama itu dibandingkan nama asli saya. Ternyata saya lebih suka dipanggil demikian, Bapak Kasih.

Ketika di pagi hari saya pamit untuk ke RS PGI Cikini Jakarta menjelang operasi tranplantasi ginjal, saya sempatkan untuk berbicara ke anak-anak saya satu persatu mengenai keputusan ayahnya seraya pamit dan meminta mereka juga ikut mendoakan ayahnya. Saya perhatikan anakku Kasih matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha menyembunyikan air matanya yang akan menetes dari hadapan saya, kemudian aku peluk dia dan menasihatinya supaya tidak usah kuatir dan tetap doakan ayah. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena ia akan memiliki bumi. Kamu adalah orang yang berbahagia nak.

Saya tidak tau apa yang ada di benak anak saya, tetapi mungkin itu gambaran dari suasana hati para kekasih hati menjelang operasi yang akan dilaksanakan. Mereka berusaha menyembunyikan kegundahan hati mereka untuk keputusan yang diambil. Banyak ketidakpastian yang akan dihadapi, tetapi mereka memilih untuk percaya dan mendukung keputusan yang telah diambil.

 

Keputusan

Ketika Mas Yahya bertanya, apakah kamu bersedia  menjadi donor ginjal, saya langsung jawab mau. Dan Mas Yahya langsung memberi  tahu kalau kamu ada di urutan ke-2. Urutan pertama mBakyu saya, Magdalena Kartika Sari. Ketika ternyata mBakyu saya tidak lolos untuk menjadi donor ginjal secara medis, maka pilihan jatuh kepada saya.

Kemudian saya berproses untuk melakukan berbagai macam test kesehatan di laboratorium untuk memastikan kecocokan saya serta untuk persiapan operasi transplantasi yang akan dilakukan. Proses ini sendiri cukup memakan waktu, kurang lebih perlu beberapa kali bolak-balik ke RS PGI Cikini dalam jangka waktu 2-3 bulan untuk melakukan semua pemeriksaan kesehatan.

Proses mengkomunikasikan kepada istri, anak dan juga mertua merupakan hal yang kemudian saya lakukan. Puji Tuhan istri dan keluarga dari pihak istri mendukung keputusan ini. Sehingga di dalam melangkah ke depan tidak ada hal yang membebani di dalam menjalani proses ini.

Keputusan ini saya rasa merupakan keputusan yang penuh pertanyaan bagi banyak orang, sehingga orang-orang terdekat pun ketika bertanya mengenai keputusan ini pun sebenarnya lebih dipenuhi keengganan untuk bertanya lebih lanjut, apalagi ketika menyinggung mengenai keamanan dan keselamatan selama operasi dan konsekuensi pasca operasi yang dilakukan.

Saya pikir hal ini wajar karena memang banyak pertanyaan yang terkait dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia serta tidak banyak atau belum banyak contoh yang bisa disaksikan mengenai kesuksesan operasi transplantasi ginjal. Saya punya sahabat seorang dokter, Dr. Billy N., sehingga banyak hal yang secara teknis kedokteran saya bisa diskusikan dengan dia sebagai sebuah second opinion selama proses transplantasi ini. Disamping itu teknologi kedokteran yang telah berkembang pesat, dan RS yang dipilih adalah RS yang terbaik di bidangnya, kemudian berdasarkan hasil uji lab kondisi kesehatan saya memang memenuhi syarat untuk melangkah lebih lanjut dalam tahap operasi. Hal ini secara empiris sudah cukup mempermudah saya untuk melangkah dalam tahap selanjutnya.

Mengambil keputusan untuk mendonorkan ginjal merupakan keputusan yang tidak tiba-tiba, sederhana dan cenderung intuitif dan relasional. Keputusan ini bukan merupakan keputusan yang serta merta diambil tanpa banyak pertimbangan, tetapi sebaliknya keputusan ini didasarkan banyaknya informasi yang telah diperoleh berkaitan dengan sakit yang dialami oleh mas saya, baik itu secara langsung dari sumber nya, yaitu mas saya, dari orang lain, atau pun dari berbagai informasi yang tersebar di mana saja terkait dengan penyakit ini. Dan melalui jurnal yang selalu di tulis, maka perkembangan segala sesuatunya menjadi begitu jelas dari waktu ke waktu.

Keputusan ini merupakan keputusan sederhana, bukankah Firman Tuhan mengatakan, Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”. Keputusan ini adalah keputusan yang benar. Di dalam kesederhanaan dan kejelasan Firman Tuhan itu saya ingin meresponinya. Tidak seharusnya saya terlalu banyak mengkuatirkan hal yang tidak perlu, apalagi berpikir diluar parameter tadi atau justru memikirkan hal-hal yang lebih dari yang bisa saya pikirkan. Apakah ada banyak pergumulan di dalam mengambil keputusan tersebut? Mungkin malah di dalam banyak pergumulan sebenarnya saya sedang menunda kehendak Allah dinyatakan, lha wong sudah jelas keputusan yang harus diambil kok malah bergumul.

Keputusan ini adalah keputusan intuitif dan relasional. Intuitif dalam pengertian keputusan didasarkan pemahaman akan “rasa” yang lebih dari sekedar adanya bukti, informasi atau sesuatu yang jelas dan nyata. Relasional dalam pengertian bahwa ini adalah tentang saya dan mas saya, saya dan istri saya, saya dan keluarga saya, saya dan orang-orang yang mengasihi saya, dan terutama juga antara saya dan Tuhan. Ada batas-batas yang tidak bisa ditanggung oleh saya sendiri, terutama berkaitan dengan pertanyaan “bagaimana nanti jika” (sesuatu tidak berjalan sesuai rencana)? “Bagaimana nanti jika” adalah pertanyaan yang diluar kapasitas saya untuk mejelaskannya, dan tidak pernah bisa dengan puas saya menemukan jawabannya. Banyak hal yang harus saya serahkan kepada Tuhan atau bahkan semuanya perlu saya serahkan kepada Tuhan yang memampukan kami menghadapi segala hal.

Mungkin keputusan ini adalah bagian dari sebuah langkah iman. Iman yang paling sederhana, percaya saja, “amung pangandel iku uwiting karosanku” (Hanya percaya sumber kekuatanku). Mungkin hal ini tidak terlalu populer, tetapi justru hal ini rupanya yang justru menuntun batin saya untuk melangkah.

KPKL 127 : Pangandel  (Percaya)

Amung kumandel iku, uwiting karosanku
Amung kumandel iku, etuking kraharjanku

#   Aku dhatan kuwatir,  Pangeran pepujanku
#   Allah dadi kraharjanku,  uwiting karosanku

Amung pracaya iku, kang mbungahken driyaku
Amung pracaya iku, panglipuring batinku

Srana pangandel iku, ngilangken prihatinku
Srana pracaya iku, nyirnakken kuwatirku

             Jikalau hal tersebut didasarkan oleh “kasih” saya kepada mas saya, maka bukankah memang harusnya demikian, apalagi itu adalah mas saya kandung? Jadi tidak ada yang istimewa. Saya malah agak bingung mengelaborasinya kata kasih itu di dalam menguji motivasi saya mendonorkan ginjal. Kata “kasih” menjadi kata yang terlalu sentimental dan agak tidak nyambung dengan permasalahan yang saya dihadapi, saya takutnya malah kebebanan dengan kata yang sungguh agung tersebut. Saya biasanya “nyengir” kalau mendengar kata-kata itu dalam percakapan dengan orang lain.

Saya perlu menata hati saya untuk melihat keputusan ini merupakan sebuah keputusan yang benar, karena alasan yang benar, yang merupakan sebuah konstruksi pikiran dan perasaan yang benar, sehingga saya tidak terganggu dengan banyak hal yang nanti akan menghalangi langkah ke depan.

Mengambil keputusan sebagai orang yang merdeka merupakan sebuah anugrah. Merdeka dalam pengertian terbebas dari rasa takut dan kuatir dalam melangkah. Saya ingin mengambil keputusan sebagai orang yang merdeka, dimana tidak ada intimidasi dan rasa taku menghantuinya.

Kehadiran

Saya teringat ketika masih menjalani masa pemulihan pada minggu pertama paska operasi. Saya terheran-heran kok saya bicaranya jadi lebih pelan dan lebih lembut ya. Ah, ternyata itu adalah efek dari kondisi fisik yang saya alami, karena kalau bicara dengan penuh tekanan dan keras itu membutuhkan energi yang lebih banyak dan membuat otot-otot perut berkontraksi sehingga menghasilkan rasa sakit. Jadi saya pikir hal itu merupakan respon alamiah yang membuat saya menjadi lebih lemah lembut dalam berbicara, saya berharap ini keterusan, jadi pascaoperasi saya bisa bertutur kata dengan lemah lembut. Ternyata itu tidak terlalu lama terjadi, menginjak minggu ketiga suara saya sudah balik ke kondisi semula, keras dan kasar.

Kemudian ketika menimbang badan, berat badan saya turun 4 kg, saya merasa lebih pas dengan bobot yang baru 76 kg, saya berpikir ini operasinya mendapat bonus sedot lemak. Tetapi ternyata memasuki minggu ke-4 pemulihan, bobot sudah mulai merangkak naik lagi. Wah, gagal mendapat manfaat bonus sedot lemaknya.

Saya bukan orang sakit, tetapi setelah operasi, saya tahu apa itu rasanya menjadi sakit.  Rasanya ngilu semua sekujur badanku setelah operasi. Bagaimana bisa berganti dengan segera dari sakit menjadi sukacita? Ternyata dua hal itu bukan saling meniadakan, tetapi bisa berjalan seiring. Sakit secara fisik tetapi tetap bersukacita.

Saya mencoba ketika menahan sakit dengan mengaduh, dan kemudian aku rasa-rasakan, ternyata atmosfir-nya menjadi sangat menyedihkan, bagi diriku sendiri dan apalagi bagi yang mendengar. Tetapi ketika aku mengekspresikan rasa sakit dengan senyum atau pun ucapan syukur, maka atmosfir nya menjadi berbeda. Bersyukurlah senantiasa, pun disaat sakit, ternyata menjadi obat mujarab di dalam mejalani hari-hari pemulihan saya.

Namun di sisi yang lain, saya sungguh menikmati kunjungan dari banyak orang yang datang untuk menjenggukku. Banyak orang datang untuk berkunjung dan mendoakan, baik orang yang aku kenal maupun orang yang tidak aku kenal. Ada dari pelayanan gereja, pelayanan sahabat orang sakit, pihak konseling rumah sakit, dari warga jemaat, rekan para alumni dan para kerabat. Ada banyak kata nasihat dan penguatan yang aku dengar. Banyak doa yang dilantunkan untuk operasi kami serta pemulihan kami.

Saya sangat senang ketika didoakan.

Aku sebenarnya sedang tidak mengharapkan mujizat dari Tuhan, tetapi aku selalu berharap kebaikan demi kebaikan Allah setiap saat bisa aku alami. Saya selalu terkagum-kagum dengan orang yang bisa mengucapkan “Dalam nama Yesus” dengan keras dan mantap, dan tanpa keraguan supaya ada mujizat kesembuhan yang wah terjadi. Saya pernah mencoba berdoa seperti itu, tetapi ternyata saya merasa tidak cocok. Rasanya saya malah menjadi orang asing dan aneh bagi diri sendiri. Mungkin itu bukan gaya doa yang pas buatku, tetapi mungkin sangat pas bagi mereka yang mempunyai karunia mendoakan kesembuhan bagi yang sakit.  Jikalau doa bukan hanya sekedar kata-kata dan juga bukan sebuah mantra, sebenarnya saya tidak perlu risau dengan bagaimana ucapan doa yang saya ingin sampaikan serta pilihan kata yang harus saya pakai. Bukankah justru di dalam ketidakmampuan saya untuk berkata-kata maka Roh Suci menolong saya di dalam doa di dalam keluh kesah yang tidak terucapkan kepada Allah?

Syukurlah di dalam kasih karunia Tuhan, saya tidak perlu menunjukkan kebisaan saya di dalam berdoa untuk menghampiri tahta kasih karunia Nya. Di dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan yang sesungguhnya. Justru yang dinanti-nantikan adalah kehadiran Allah yang mengatasi dimensi ruang dan waktu serta anjangsana di bilik batin kita terdalam untuk menyatakan kasih dan penghiburan yang sejati. Saat berbaring pemulihan rupanya menjadi saat yang istimewa untuk saya memikirkan dan merefleksikan banyak hal di dalam kacamata yang berbeda.

Selama hampir setengah bulan berbaring di RS saya menjumpai fakta yang menarik, bahwa seorang pasien lebih tidak nyaman di dalam kesendirian yang dihadapi  ketika menghadapi sakit penyakit dibandingkan penyakitnya itu sendiri. Ternyata yang dibutuhkan orang yang sakit bukan hanya kesembuhan, tetapi juga kehadiran.

Saya malah lebih merasakan, kehadiran itu bukan hanya bagi saya seorang, tetapi juga bagi komunitas secara keseluruhan. Saya sungguh tidak mengira bahwa keputusan untuk mendonorkan ginjal yang seolah merupakan keputusan individual, ternyata hal tersebut hanyalah bagian kecil dari rancangan kehadiran Allah yang bekerja melalui banyak orang baik yang jauh maupun yang dekat, yang bersama dengan kami maupun yang tidak bersama kami untuk menyatakan kasih dan perhatiannya. Allah yang Immanuel, menyelenggarakan banyak hal melalui kehadiran para kekasih hati selama kami menjalani proses ini.

Kehadiran itu memberi kesembuhan yang sejati. Ia memulihkan. Ia melayani. Ia ikut bersimpati di dalam penderitaan. Ia memberi ruang kepada ketidaksempurnaan untuk terpapar apa adanya. Ia menyatakan kesabarannya. Ia tidak pernah terlambat menyatakan kasih. Ia mengampuni. Ia mendamaikan. Ia hadir memberi pengharapan.

Terima kasih kepada semua yang telah hadir di dalam semua proses ini, bukan hanya kehadiran secara fisik semata, tetapi juga terlebih kehadirannya secara non fisik untuk bersimpati kepada kami.

 

Menguliti Rahasia Allah

Operasi sudah berjalan dengan baik, semua berjalan melebihi apa yang direncanakan. Kehidupan terus berjalan, dan hal-hal baru akan terus menanti. Dengan kondisi yang baru, apakah ada yang berubah? Sebenarnya tidak ada yang berubah. Ada keinginan secepatnya bisa berakivitas seperti sediakala, tetapi memang saya harus hati-hati sampai luka bekas operasi benar-benar kering. Tidak ada kebiasaan atau gaya hidup yang perlu diubah setelah operasi ini, hanya perlu lebih memberi perhatian gaya hidup yang sehat. Makan secukupnya, istirahat secukupnya dan bekerja secukupnya.

Seperti halnya tidak ada perubahan di dalam diri saya setelah operasi. Tidak ada perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang dari tubuh ini, dan di sisi lain justru banyak hal yang telah ditambahkan di dalam hidup saya.

Bersamaan dengan kegiatan pemulihan, saya pun juga perlu mengklarifikasi dan menguji diri saya sendiri supaya saya tetap berpikir sebagaimana seharusnya saya berpikir, sakmadyo saja tidak lebay, yang sewajarnya saja.   Saya rasa saya tidak perlu membuktikan apa pun di dalam hidup saya ini.

Di dalam anugrah Kristus, saya tidak perlu membuktikan apa pun. Saya tidak perlu berbuat sesuatu untuk menyenangkan Tuhan. Justru sebuah bahaya laten selalu menghantui saya untuk mencoba membuktikan diri di hadapan Tuhan kebisaan saya atau berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan Tuhan.

Keputusan untuk mendonorkan ginjal bukan dalam kerangka membuktikan diri atau pun sebuah usaha untuk menyenangkan Tuhan. Ini bukan juga sebuah keputusan transaksional untuk mendapatkan pahala, apalagi supaya amal ibadah diterima, atau pun keputusan yang didasarkan pamrih apa pun. Semua sudah dibayar Kristus dengan lunas, saya hanya menerima anugrah demi anugrah Nya. Rencana kasih karunia Allah ingin diwujudkan di dalam proses ini, supaya kemuliaan hanya bagi nama Tuhan semata. Saya ingin memaknainya bahwa proses yang baru saja saya jalani adalah wujud persembahan ucapan syukur kepada Tuhan.

Saat ini saya ingin terus menguliti lapisan-lapisan rahasia-demi-rahasia Tuhan dengan kondisi saya yang baru saat ini. Jikalau kemuliaan Nya adalah menyembunyikan segala sesuatu, bukankah saya orang yang beruntung apabila diijinkan untuk menyingkap sedikit rahasia-demi-rahasia Tuhan yang tersembunyi, sehingga saya boleh terpesona oleh kemuliaan Nya yang disingkapkan hari demi hari.

Biarlah segala puji hanya bagi Tuhan.

Salam Taklim

Teja Samadhi

Transformasi Kedukaan

RS Cikini, Jakarta, 7 November 2013

Ada TV kabel di ruang isolasi, salah satu film yang kutonton dari HBO berjudul “Mary and Martha”. Mary berasal dari keluarga kelas atas di NY USA, sedangkan Martha keluarga biasa dari UK. Kesamaan keduanya, putra mereka sama-sama meninggal di Afrika, oleh karena malaria.
Mary membawa anaknya George yang baru berusia 10 tahun untuk tinggal dan belajar pengalaman hidup di negeri Afrika. Di satu pelosok benua itu ia bertemu dengan Dolp,  pemuda sukarelawan yang bersemangat  mengajar anak-anak di satu panti asuhan, anak dari Mary.
Musibah terjadi, George digigit nyamuk malaria. Fasilitas medis tak memadai dan sudah terlambat untuk menolongnya. Ternyata putra Martha kemudian juga mengalami hal serupa. Jadilah dua orang dari negara maju dan kaya itu juga menjadi korban, meninggal bersama statistik setengah juta anak Afrika yang mati tiap tahun karena wabah malaria. Korban meninggal karena malaria pertahun di antara anak-anak Afrika dua kali lebih besar daripada korban tentara AS yang mati sepanjang perang Korea,  Vietnam, Irak dan Afganistan.

***
Martha dengan kesedihannya pergi ke Afrika ke panti asuhan tempat mendiang anaknya menjadi relawan mengajar, bertemu dengan Mary yang juga tak habis menyesali mengapa anaknya meninggal. Martha usai melihat pekerjaan anaknya menjadi bersemangat untuk menjadi relawan juga, sementara itu wabah malaria terus membuat anak-anak menderita sakit dan meninggal.
Maka bila adegan-adegan awal banyak mengekpos eksotisme negeri Afrika, keelokan padang sabana dan hewan-hewan besar yang berlarian di atasnya; Adegan selanjutnya adalah betapa wabah kematian karena malaria mengganas dan menyebarkan duka. Mary dan Martha sekarang menghadapi kenyataan duka yang ada. There must be more to life than this! Malaria bukan wabah yang tak bisa dilawan!
Singkat cerita, Mary pulang dan memperjuangkan ke pemerintahnya agar program perang melawan malaria dijalankan sebagaimana mestinya. Sementara Martha mengerjakan tugas relawan dengan kenangan akan anaknya. Dengan banyak halangan dan ketidakpedulian, akhirnya dengar pendapat di Senat memutuskan untuk mendukung program perang melawan malaria.

***
Aku senang nonton film ini, indah, manusiawi, mengubah dari kedukaan bahkan menjadi ethos juang kemanusiaan yang universal.
Delapan bulan sebagai pasien gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu dua kali yang kujalani selama ini juga layak kusebut sebagai pengalaman kedukaan. Bukan hanya untukku pribadi, tetapi juga keluarga, jemaat, dan komunitas terkasih yang mengitariku selama ini.
Sekarang aku dalam masa pemulihan usai transplantasi ginjal. Enam hari kujalani tanpa hemodialisis dan kreatinku pagi ini turun lagi ke angka 1,4. Beberapa hari lagi semua jarum dan selang yang menempeliku dilepas. Serasa jadi manusia baru, bebas dan lepas.
Sekarang dengan apa hendak kunyatakan syukurku? Bila dalam kisah Mary dan Martha di atas mereka menemukan jalan panggilan yang baru dengan menggerakkan program melawan malaria di seluruh dunia, misi apa yang menantiku seusai ini?

***
Aku sadar dan bersabar, masih harus menjalani masa isolasi dan beberapa keterbatasan sebagai orang yang menerima transplantasi ginjal. Apapun itu, sekarang aku ingin mengajak merayakan hidup baru dengan ginjal baru yang sudah bebas cuci darah dua kali seminggu.

Salam
Pemulung Cerita

Pasca Operasi Transplantasi

RS Cikini Jakarta, Rabu 6 November 2013

Malam keempat usai operasi transplantasi kulalui. Kemarin malam aku tidur agak awal. Dan pagi ini pukul 5 aku terbangun dengan perasaan segar. Semalam sudah bisa BAB dan kentut memberi kelegaan besar bagi perut. Juga harapan bahwa hari ini kateter urin dan pendarahan akan dilepas membuatku lebih bersemangat.
Ternyata benar, kunjungan dokter yang pertama pagi ini adalah untuk melepas kateter urinku. Sebentar saja dilakukan sudah selesai, aku nyaris tak percaya mengingat selama ini kateter itu membuatku sakit sedemikian saat kencing. Bagaimanapun juga ia telah berjasa, mengukur urin yang keluar, hari pertama pasca operasi 5,1 liter, hari kedua 2,9, lalu 3,2 liter, dan kemarin 2,8 liter.

***
Lebih dari sekedar berapa banyak urin yang keluar, keberhasilan operasi transplantasi ginjal dilihat dari penurunan angka kreatin dan ureum dalam darah. Angka normal kreatin di bawah 1 dan ureum di bawah 40. Hari Jumat sebelum operasi aku sudah cuci darah, tapi pemeriksaan darah hari Sabtu angka sudah 7,9 dan 115.
Keluar dari ruang operasi darahku diperiksa tiap dua jam, hari kedua tiap 4 jam, sekarang tiap 6 jam. Syukur alhamdullillah, ginjal adik yang didonorkan padaku bekerja baik. Kemarin malam sudah sampai angka kreatin 1,5 dan ureum 50.
Lebih gembira lagi tak ada pendarahan, atau hanya minimal saja. Tiap hari dokter David yang membedahku memeriksa dan mengatakan baik. Juga dokter Egi yang memeriksa dengan mesin USG. Diperlihatkan padaku gambar ginjal baru, saat darah masuk dan keluar, juga suara dari sambungan pembuluh darah ginjal yang baru. “Sejauh ini semua baik Pak, terus berdoa ya”.

***
Jangan tanya aku dapat mimpi apa selama dibius. Sama sekali tak kutemui kilat cahaya, atau wajah ramah kakek  putih berjanggut seperti dalam banyak cerita. Sejak masuk kamar operasi hari Sabtu 2 Nov pukul 10 pagi sampai keluar sore hari pk 17.00 dengan didorong hampir tak ada yang kuingat kecuali suasana ruang operasi yang senyap, dan satu-persatu perawat dan dokter yang bertugas memperkenalkan diri di balik masker mereka. Saat siuman, tak ada rasa sakit yang sangat sebagaimana kubayangkan sebelumnya. Padahal kata dokter bedah bagian yang dijahit di sisi kanan perutku sepanjang 25-30 cm besarnya.
Masih dalam pengaruh bius, kukenali satu-satu yang setia menungguiku selama operasi. Istriku, saudara-saudaraku, teman, semua terlihat girang. Mulutku terasa sangat kering, tentu saja karena sejak Jumat malam aku puasa. Lebih dari itu rasa pahit obat naik ke mulut,  dan serasa ada yang mengganjal di langit-langit mulut, katanya itu bekas respirator yang membantuku bernafas. “Nanti akan hilang Pak”, akan tetapi aku tetap tak diijinkan minum sampai dokter anestesi memperbolehkan. Malam yang berat dan panjang usai operasi. Toh akhirnya pagi datang menjelang.

***
Hari kedua aku bisa mendapatkan handphoneku, “Dilap dulu dengan alkhohol ya!” Demikian pesan dokter. Aku memang masuk ruang isolasi, bahkan jauh lebih ketat dari ICU karena satu ruang hanya kupakai sendiri, dan selain perawat jaga atau dokter yang harus memakai baju steril yang disediakan di sana tak ada lagi yang boleh masuk.
Alas kaki atau sepatu dari luar juga harus dilepas. Beberapa sendal plastik “Lily” berderet di dekat pintu kamar untuk dokter-dokter yang menjengukku. Hari pertama dan kedua aku nyaris tak ditinggalkan perawat, ada saja suntikan dan monitor macam-macam yang diperiksa padaku.
Yang kutahu, EKG untuk rekam jantung dilakukan dua kali sehari, ada enam panel yang ditempel kayak bekam di dadaku, lalu dua di pergelangan kaki, dan dua di pergelangan tangan. Dr Dasnan yang ahli jantung tiap kali memeriksa hasil rekaman dan mendengar detak jantung secara langsung dari stetoskopnya. “Bagus Pak”, singkat saja komentarnya.
Ternyata tiap dokter punya kewenangan yang berbeda. Mereka hanya memeriksa sebatas kewenangannya saja. Bahkan Dr David yang disebut komandan oleh kawan-kawan tim dokter lain saat kutanya kapan kateter urin dilepas juga menjawab, “Nanti tanyakan ke dokter PD (penyakit dalam) ya. Sekarang masih diukur akurasinya.”

***
Dua hari ini aku diberi obat penurun tensi. Sekalipun wajar bahwa pasien pasca ooperasi transplantasi tensi naik, tapi dokter kuatir bila aku pusing dan mual karenanya. Tadi pagi amlodipine dosisnya jadi dua kali lipat kemarin, 10 mg/hari. Dan pesan: Tidur yang banyak dan lelap Pak, itu cara paling efektif menurunkan tensi.
Aku sangat bergembira tadi sudah berdiri dan jalan sendiri ke toilet. Jauh lebih nyaman daripada melakukannya dengan pispot di bed. Tapi sekarang aku harus berusaha tidur yang banyak lagi, handphone kusilent lagi. Kukirim cerita ini.

***
Sekali lagi, terimakasih untuk semua dukungan dan doa. Puji Tuhan, operasi lancar, cepat pulih, dijalani dengan senang,

Salam
Pemulung Cerita

Menjelang Operasi Transplantasi Hari Ini

RS Cikini Jakarta, 2 Nov 2013

Tak ada sarapan untukku pagi hari ini
Sebagai ganti, sejak malam bahkan diminta puasa
Setengah empat pagi sudah “maaf-maaf ya” membangunkan untuk mengukur suhu dan tensi, 36,7 dan 130/80, bagus!
Sambil sekali lagi mengulang agenda hari ini, entah ke berapa kali sudah diulangi, tapi oleh petugas yang berbeda setiap kali

Ya, aku siap, terserah mau diapain
Tak akan aku lari
Paling aku akan bernyanyi, “Mamae!”
Seruan bila merasa sakit, diajarkan kawan Papua buatku

Tadi sudah mandi sendiri, masih mandiri,  pakai dettol banyak-banyak lagi.
Kemudian tak lagi mandiri, perawat yang menggosoki, pakai dettol lagi, bahkan kompres betadine di bagian pinggang dan perut
Tangan diinfus
Perawat berjaga
Padahal sudah pasti, aku tak ada niat untuk lari atau bersembunyi

Tinggal beberapa menit lagi
Aku dibawa ke ruang operasi
Bertemu para perawat dan dokter yang selama ini sudah setiap kali datang dan memperkenalkan diri
Tapi nanti mereka akan pakai masker N95, tutup rambut dan kepala, kayak ninja hanya kelihatan matanya, mana bisa aku mengenali mereka

Beberapa sms masih masuk, berisi doa, penguatan, harapan. Aku malah menuliskan ini semua. Jangan-jangan yang lebih cemas malah mereka?

Dengan beribu doa hari ini aku berada. Jemaat yang serentak mengadakan hari doa dan puasa. Para sahabat yang rela. Keluarga yang menunggu dan berjaga. Para tercinta yang tiada habisnya.

Tuhan, hiburlah mereka.
Ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku, ya Tuhan Penyelamatku
Engkaulah Mahabesar, ya Tuhan yang benar
Ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku, ya Tuhan Penyelamatku.

Aku pamit, 30 menit lagi handphone tak kupegang. Sore nanti bila sudah sadar dan bisa nulis lagi, kusapa lagi kalian. Terimakasih untuk semua doa, dukungan, perhatian dan harapan baik yang telah dinyatakan.

Salam
Pemulung Cerita

Aku Sudah Menandatangani Lembar Persetujuan Operasi

RS Cikini Jakarta, 1 November 2013

Hari Jumat 1 November 2013 di Cikini, sehari sebelum jadwal operasi. Tadi di ruang hemodialisis aku tidur, tapi ternyata AC kurang dingin sehingga rasa sumuk di punggung dan kepala yang setiap kali minta bantalnya dibalik membuatku tak bisa nyenyak tidur. Jadilah aku malah kirim-kirim pesan dan menelepon beberapa anggota majelis, memberitahu update perkembangan terakhirku. Boleh jadi yang selalu membaca jurnal ceritaku bahkan lebih memahami update berita terkiniku daripada banyak warga dan majelis di gerejaku yang tak punya akses email.

Aku belum menyampaikan pesan Dr. David saat menemuiku pertama setelah aku opname di rumah sakit ini, “Sekarang yang harus dipersiapkan lebih dari sebelumnya adalah doa”.  Tetapi ternyata Majelis GKJ Purwantoro sudah memutuskan, malam ini mengadakan persekutuan doa, dan besok akan diadakan hari doa dan puasa, bertepatan dengan pelaksanaan operasi transplantasiku.  Oh, menghubungi tiga orang anggota Majelis GKJ Purwantoro dan masing-masing dengan caranya sendiri menginformasikan hal itu dan mendoakanku membuat I am almost crying.

***

Ternyata beberapa tamu yang mengunjungiku tidak seperti sebelumnya di antar oleh Suster sampai di hadapanku, kemudian berpesan, “Pasien sudah dibatasi, jadi sebentar saja berkunjungnnya”. Tadi paman ipar kakakku mengunjungi hanya diberi waktu 5 menit. Tadi pagi saudara iparku dari kakak lain yang mengunjungi bahkan langsung balik badan setelah melihatku sudah mengenakan masker, tapi terus kembali lagi bersama istrinya yang dinas sebagai perawat di Cikini ini.

Usai hd tadi aku tidur sangat nyenyak, dan ada dua petugas pastoral yang datang bergantian untuk mendoakanku pamit lagi karena melihatku tidur sangat nyenyak lengkap dengan maskerku. Wah betul sekali kata Mazmur 127, bahwa berkat itu dikaruniakan Tuhan kepada orang yang dikasihi selagi mereka tidur. Coba, kalau aku tidak tidur, pasti aku akan didoakan berpanjang-panjang lagi oleh mereka. Masing-masing telah mendoakanku dua kali selama aku mondok, jadi aku cukup tahulah bagaimana gaya mereka berdoa. Karena itu sungguh aku ingat dengan terpesona pesan Bapakku (almarhum, 8 April 2013, diberkatilah semua kenangan akan beliau)  yang tak jemu berkata kepada orang yang akan mendoakannya saat beliau sakit dulu, “Kalau berdoa jangan panjang-panjang, nanti aku jadi bingung”.  Waktu itu aku berpikir Bapakku berani sekali berpesan seperti itu, padahal jelas beliau tidak pikun dan dapat mengikuti semua pembicaraan dengan baik. Sekarang setelah didoakan sekian banyak orang dengan segala macam gaya, ternyata aku ikut-ikutan bersikap seperti Bapak.

***

Satu prosedur yang harus kulakukan adalah menandatangani lembar persetujuan operasi. Blangko yang disodorkan perawat padaku sudah diisi dengan tulisan tangan yang sekalipun terbaca tapi sangat tidak rapi, dan ditandatangani dengan tulisan lain yang berbeda oleh Dr. David Manuputty. Saat sampai bagian resiko aku baca keras-keras bahwa operasi ini akan bisa berakibat dan membawa resiko: 1. Nyeri pasca operasi, 2. Pendarahan 3. Infeksi. 4. Penolakan terhadap organ yang  ditransplantasikan. Akibat nomor 1 tak bisa tidak dihindari, sekalipun tehnik bedah sudah sangat maju dan luka yang dibuat seminim mungkin.  Resiko no 2-4 tak bisa dijamin bebas sama sekali, karena itu sangat perlu menjaga kebersihan dan kehati-hatian dengan perawatan terbaik dan obat-obatan agar itu tidak terjadi. Tegas kubaca pula dalam formulir ini, bahwa tindakan medis transplantasi ini merupakan alternatif satu-satunya untuk kasus gagal ginjal kronik yang kualami, tak ada jalan lain untuk sembuh. Udah ah, aku kan sudah menyerah.

Tadi saudara istrinya Teja datang dan kebetulan bertemu aku juga. Kudengar pertanyaannya ke Teja, “Takut nggak?” Hahaha, jawabnya sama denganku, “Pertanyaan itu tidak relevan dikemukakan sekarang. Kalau takut, aku kabur dari tempat ini sekarang juga”. “Iya, jadi kayak film Dono Warkop yang jadi pasien melarikan diri dari rumah sakit”, istri Teja menimpali sambil semua tertawa. Ternyata memang tertawa meredakan banyak ketegangan menanti selama ini, yang kadang juga dibuat sendiri. Pasien lain mengenalku selalu gembira, tersenyum dan menyapa terlebih dahulu siapapun yang berpapasan. Para perawat yang kadang, eh sering kuusili sehingga sungguh tanpa gelang identitas pasienpun tak mungkin aku tak akan dikenal oleh para perawat yang bertugas di sal ini.

Aku juga hendak berterima kasih untuk semua pemberian, dukungan, dan terkhusus makanan yang mengalir bersama kunjungan padaku. Ah, apa karena aku selalu nulis tentang makanan sehingga banyak yang membawa kemari ya? Lebih berbahagia memberi daripada menerima. Maka supaya kebahagiaanku lengkap, kubagi-bagi juga makanan yang ada ke semua pasien yang lain, terlebih yang aku tahu tak ada yang menjenguk, atau terlihat murung, juga saudara yang menemani pasiennya.

***

Barusan perawat yang lain lagi datang dan mengulang prosedur khusus yang akan kujalani sejak sore sampai pagi besok. Aku harus keramas, mandi dengan dettol, cukur gundul semua rambut, dan diberi obat pembersih lewat anal segala, lewat pukul 22 ini aku sudah harus puasa. Hiks, aku malas menuliskan detailnya. Baru membayangkan saja sudah hehehehe.  Udah ah, aku sudah menandatangani lembar persetujuan operasi. Bahkan semua urusan administrasi pasien ke rumah sakit juga sudah dibereskan dengan bantuan Pak Mulyo yang cekatan mendampingi. Betul sekali pesan Dr. David, “Yang perlu sekarang doa Pak Pendeta”. Doa yang sederhana, semoga semua lancar adanya. Itu mujizat yang sebenarnya.

salam

Pemulung Cerita