Pasca Operasi Transplantasi

RS Cikini Jakarta, Rabu 6 November 2013

Malam keempat usai operasi transplantasi kulalui. Kemarin malam aku tidur agak awal. Dan pagi ini pukul 5 aku terbangun dengan perasaan segar. Semalam sudah bisa BAB dan kentut memberi kelegaan besar bagi perut. Juga harapan bahwa hari ini kateter urin dan pendarahan akan dilepas membuatku lebih bersemangat.
Ternyata benar, kunjungan dokter yang pertama pagi ini adalah untuk melepas kateter urinku. Sebentar saja dilakukan sudah selesai, aku nyaris tak percaya mengingat selama ini kateter itu membuatku sakit sedemikian saat kencing. Bagaimanapun juga ia telah berjasa, mengukur urin yang keluar, hari pertama pasca operasi 5,1 liter, hari kedua 2,9, lalu 3,2 liter, dan kemarin 2,8 liter.

***
Lebih dari sekedar berapa banyak urin yang keluar, keberhasilan operasi transplantasi ginjal dilihat dari penurunan angka kreatin dan ureum dalam darah. Angka normal kreatin di bawah 1 dan ureum di bawah 40. Hari Jumat sebelum operasi aku sudah cuci darah, tapi pemeriksaan darah hari Sabtu angka sudah 7,9 dan 115.
Keluar dari ruang operasi darahku diperiksa tiap dua jam, hari kedua tiap 4 jam, sekarang tiap 6 jam. Syukur alhamdullillah, ginjal adik yang didonorkan padaku bekerja baik. Kemarin malam sudah sampai angka kreatin 1,5 dan ureum 50.
Lebih gembira lagi tak ada pendarahan, atau hanya minimal saja. Tiap hari dokter David yang membedahku memeriksa dan mengatakan baik. Juga dokter Egi yang memeriksa dengan mesin USG. Diperlihatkan padaku gambar ginjal baru, saat darah masuk dan keluar, juga suara dari sambungan pembuluh darah ginjal yang baru. “Sejauh ini semua baik Pak, terus berdoa ya”.

***
Jangan tanya aku dapat mimpi apa selama dibius. Sama sekali tak kutemui kilat cahaya, atau wajah ramah kakek  putih berjanggut seperti dalam banyak cerita. Sejak masuk kamar operasi hari Sabtu 2 Nov pukul 10 pagi sampai keluar sore hari pk 17.00 dengan didorong hampir tak ada yang kuingat kecuali suasana ruang operasi yang senyap, dan satu-persatu perawat dan dokter yang bertugas memperkenalkan diri di balik masker mereka. Saat siuman, tak ada rasa sakit yang sangat sebagaimana kubayangkan sebelumnya. Padahal kata dokter bedah bagian yang dijahit di sisi kanan perutku sepanjang 25-30 cm besarnya.
Masih dalam pengaruh bius, kukenali satu-satu yang setia menungguiku selama operasi. Istriku, saudara-saudaraku, teman, semua terlihat girang. Mulutku terasa sangat kering, tentu saja karena sejak Jumat malam aku puasa. Lebih dari itu rasa pahit obat naik ke mulut,  dan serasa ada yang mengganjal di langit-langit mulut, katanya itu bekas respirator yang membantuku bernafas. “Nanti akan hilang Pak”, akan tetapi aku tetap tak diijinkan minum sampai dokter anestesi memperbolehkan. Malam yang berat dan panjang usai operasi. Toh akhirnya pagi datang menjelang.

***
Hari kedua aku bisa mendapatkan handphoneku, “Dilap dulu dengan alkhohol ya!” Demikian pesan dokter. Aku memang masuk ruang isolasi, bahkan jauh lebih ketat dari ICU karena satu ruang hanya kupakai sendiri, dan selain perawat jaga atau dokter yang harus memakai baju steril yang disediakan di sana tak ada lagi yang boleh masuk.
Alas kaki atau sepatu dari luar juga harus dilepas. Beberapa sendal plastik “Lily” berderet di dekat pintu kamar untuk dokter-dokter yang menjengukku. Hari pertama dan kedua aku nyaris tak ditinggalkan perawat, ada saja suntikan dan monitor macam-macam yang diperiksa padaku.
Yang kutahu, EKG untuk rekam jantung dilakukan dua kali sehari, ada enam panel yang ditempel kayak bekam di dadaku, lalu dua di pergelangan kaki, dan dua di pergelangan tangan. Dr Dasnan yang ahli jantung tiap kali memeriksa hasil rekaman dan mendengar detak jantung secara langsung dari stetoskopnya. “Bagus Pak”, singkat saja komentarnya.
Ternyata tiap dokter punya kewenangan yang berbeda. Mereka hanya memeriksa sebatas kewenangannya saja. Bahkan Dr David yang disebut komandan oleh kawan-kawan tim dokter lain saat kutanya kapan kateter urin dilepas juga menjawab, “Nanti tanyakan ke dokter PD (penyakit dalam) ya. Sekarang masih diukur akurasinya.”

***
Dua hari ini aku diberi obat penurun tensi. Sekalipun wajar bahwa pasien pasca ooperasi transplantasi tensi naik, tapi dokter kuatir bila aku pusing dan mual karenanya. Tadi pagi amlodipine dosisnya jadi dua kali lipat kemarin, 10 mg/hari. Dan pesan: Tidur yang banyak dan lelap Pak, itu cara paling efektif menurunkan tensi.
Aku sangat bergembira tadi sudah berdiri dan jalan sendiri ke toilet. Jauh lebih nyaman daripada melakukannya dengan pispot di bed. Tapi sekarang aku harus berusaha tidur yang banyak lagi, handphone kusilent lagi. Kukirim cerita ini.

***
Sekali lagi, terimakasih untuk semua dukungan dan doa. Puji Tuhan, operasi lancar, cepat pulih, dijalani dengan senang,

Salam
Pemulung Cerita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s