Transformasi Kedukaan

RS Cikini, Jakarta, 7 November 2013

Ada TV kabel di ruang isolasi, salah satu film yang kutonton dari HBO berjudul “Mary and Martha”. Mary berasal dari keluarga kelas atas di NY USA, sedangkan Martha keluarga biasa dari UK. Kesamaan keduanya, putra mereka sama-sama meninggal di Afrika, oleh karena malaria.
Mary membawa anaknya George yang baru berusia 10 tahun untuk tinggal dan belajar pengalaman hidup di negeri Afrika. Di satu pelosok benua itu ia bertemu dengan Dolp,  pemuda sukarelawan yang bersemangat  mengajar anak-anak di satu panti asuhan, anak dari Mary.
Musibah terjadi, George digigit nyamuk malaria. Fasilitas medis tak memadai dan sudah terlambat untuk menolongnya. Ternyata putra Martha kemudian juga mengalami hal serupa. Jadilah dua orang dari negara maju dan kaya itu juga menjadi korban, meninggal bersama statistik setengah juta anak Afrika yang mati tiap tahun karena wabah malaria. Korban meninggal karena malaria pertahun di antara anak-anak Afrika dua kali lebih besar daripada korban tentara AS yang mati sepanjang perang Korea,  Vietnam, Irak dan Afganistan.

***
Martha dengan kesedihannya pergi ke Afrika ke panti asuhan tempat mendiang anaknya menjadi relawan mengajar, bertemu dengan Mary yang juga tak habis menyesali mengapa anaknya meninggal. Martha usai melihat pekerjaan anaknya menjadi bersemangat untuk menjadi relawan juga, sementara itu wabah malaria terus membuat anak-anak menderita sakit dan meninggal.
Maka bila adegan-adegan awal banyak mengekpos eksotisme negeri Afrika, keelokan padang sabana dan hewan-hewan besar yang berlarian di atasnya; Adegan selanjutnya adalah betapa wabah kematian karena malaria mengganas dan menyebarkan duka. Mary dan Martha sekarang menghadapi kenyataan duka yang ada. There must be more to life than this! Malaria bukan wabah yang tak bisa dilawan!
Singkat cerita, Mary pulang dan memperjuangkan ke pemerintahnya agar program perang melawan malaria dijalankan sebagaimana mestinya. Sementara Martha mengerjakan tugas relawan dengan kenangan akan anaknya. Dengan banyak halangan dan ketidakpedulian, akhirnya dengar pendapat di Senat memutuskan untuk mendukung program perang melawan malaria.

***
Aku senang nonton film ini, indah, manusiawi, mengubah dari kedukaan bahkan menjadi ethos juang kemanusiaan yang universal.
Delapan bulan sebagai pasien gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu dua kali yang kujalani selama ini juga layak kusebut sebagai pengalaman kedukaan. Bukan hanya untukku pribadi, tetapi juga keluarga, jemaat, dan komunitas terkasih yang mengitariku selama ini.
Sekarang aku dalam masa pemulihan usai transplantasi ginjal. Enam hari kujalani tanpa hemodialisis dan kreatinku pagi ini turun lagi ke angka 1,4. Beberapa hari lagi semua jarum dan selang yang menempeliku dilepas. Serasa jadi manusia baru, bebas dan lepas.
Sekarang dengan apa hendak kunyatakan syukurku? Bila dalam kisah Mary dan Martha di atas mereka menemukan jalan panggilan yang baru dengan menggerakkan program melawan malaria di seluruh dunia, misi apa yang menantiku seusai ini?

***
Aku sadar dan bersabar, masih harus menjalani masa isolasi dan beberapa keterbatasan sebagai orang yang menerima transplantasi ginjal. Apapun itu, sekarang aku ingin mengajak merayakan hidup baru dengan ginjal baru yang sudah bebas cuci darah dua kali seminggu.

Salam
Pemulung Cerita

Advertisements

One thought on “Transformasi Kedukaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s