Kasih Karunia TUHAN Yang Memampukan

KASIH KARUNIA TUHAN YANG MEMAMPUKAN BAHKAN DALAM KETIDAKSIAPAN MANUSIA MENERIMA TUGAS PANGGILAN-NYA

Abram sudah berusia 99 tahun, saat mendengar janji Tuhan yang akan memberikan anak dari istrinya Sarai. Abram meragu sekalipun di hadapan Tuhan tidak berani menyatakan kebimbangannya. Dalam relung hati kecilnya nyaring terbaca, “Bagaimana bisa usia seabad, dan istriku 90 tahun, akan hamil dan melahirkan putra?”

Bahkan sekalipun dalam kepercayaan yang tiada bulat, penerimaan Abram sudah dipandang modal berharga, sehingga Tuhan berkenan kepadanya. “Namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham. Bapa orang beriman. Dan istrimu bukan lagi Sarai, namun Sarah, Ibu bagi kaumnya, banyak bangsa akan menjadi keturunannya.”

Para murid sedemikian mendapatkan kesempatan istimewa, saat Tuhan Yesus sendiri terlebih dahulu menjelaskan bahwa Anak Manusia harus menderita sengsara, ditolak, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga.  Namun bukan kesediaan untuk ikut berbelarasa, dan berprihatin dalam kepedihan yang sangat dalam pada para murid yang  mendengarnya. Petrus sebagai yang terkemuka di antara para murid lainnya langsung saja menarik Tuhan Yesus dan memperingatkan, agar tak berkata seperti itu adanya. Menurut Petrus, Mesias adalah Pembebas Israel yang Jaya, jauh dari gambaran Mesias yang menderita.  Maka dengan spontan dan seru paling keras yang pernah diucapkan oleh Yesus kepada para murid-Nya, balas dimarahilah Petrus, “Enyahlah engkau Iblis, bukan Sabda Tuhan yang kau dengarkan, tetapi keinginan manusia!”

Abram dan Petrus adalah teladan iman kita. Namun mereka tidak sempurna. Sekarang kita bisa menilainya. Akan tetapi bila kita yang menjadi mereka, bisa jadi kita juga melakukan kesalahan serupa.

***

Setiap kita mendoakan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kita mengulang seruan, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di Sorga”. Namun sering maksud tersembunyi yang dihayati adalah, “Jadilah kehendakku….”. Maka  terjadilah, saat Sabda Tuhan dinyatakan, kita meragukan bila itu tidak sejalan dengan nalar kita, karunia akal budi yang diberikan kepada manusia malah membatasi kuasa Tuhan hanya sejauh itu bersesuaian dengan kecupetan nalar dan cara pikir kita yang sangat terbatas. Kita menolak bila itu tidak sesuai dengan angan pemikiran dan keinginan kita. Manusia dengan kebebasan yang diberikan berkehendak agar penderitaan, penolakan, dan kematian dapat dihindari, sangat berbeda dengan kesukarelaan menjalani jalan salib karena itulah jalan kemuridan yang memang harus ditempuh untuk menemukan hidup kekal.

Tak ada gagang pada salib, seperti gagang pada rantang makanan (alangkah indahnya kedatangan rantang bersusun empat dengan segala macam makanan antaran yang memenuhinya, aneka kemasan makanan bermerk tak akan dapat menandinginya). Karena itu salib harus dipikul karena berat, tak bisa dijinjing sebab bukan sesuatu yang ringan.  Bukan Tuhan yang harus menunggu waktu yang tepat untuk berfirman kepada manusia. Manusia yang harus menyangkal diri. Bukan Tuhan yang mengikuti manusia apa maunya dengan segala kuasa dan kebebasan hidup yang sudah dikaruniakan sejak penciptaannya sebagai Gambar dan Rupa Allah, melainkan manusia yang harus mendengar seruan “Ikutlah Aku”, dengan meninggalkan kemelekatan yang membebaninya, ke hidup bebas lepas yang menanti di peziarahan menjejak tapak tilas Sang Guru kehidupan, yang taat menjalani sampai akhir.

***

Sungguh alangkah indah kasih karunia yang tetap mau menerima, melayakkan, dan mengampuni segala kekurangan, cacat cela dan bahkan pemberontakan manusia kepada Sang Pencipta. Hidup hanya sekali berarti, sesudah itu mati. Karena itu kesediaan untuk senantiasa dalam keadaan sadar, siap mendengar firman Tuhan, dan hidup menurut panggilan kasih karunia Tuhan itu patut kita jaga senantiasa.   Kasih karunia itulah yang memampukan Abraham, Paulus, Petrus dan murid-murid lainnya dapat terus berjalan mengikut Yesus, sekalipun sebenarnya mereka tidak dan belum siap saat dipanggil.

Bukankah demikian juga kita? Mengapa bermegah terhadap kelemahan dan ketidaksiapan diri yang jelas tidak mungkin kita sembunyikan dan nyata mewujud dalam hidup kita? Hanya oleh anugerah, hanya dengan kasih karunia, kita dilayakkan, kita dimampukan. Bukan kelemahan dan ketidaksiapan yang dilihat oleh Tuhan, melainkan kesediaan untuk terus mengikut Yesus, memikul salib, menyangkal diri, oleh karena kasih karunia-Nya memampukan dan menguatkan. Maka jadilah Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sarah, Saulus menjadi Rasul Paulus, dan Petrus menjadi pemegang kunci kerajaan sorga, batu karang tempat jemaat Tuhan berdiri.

***

Tak ada orang yang sungguh-sungguh siap saat menerima tugas panggilan dengan status serta tugas baru dalam hidupnya. Tugas panggilan dari Tuhan dapat dinyatakan kapanpun dalam hidup kita, entah kita siap atau tidak, entah pikiran dan wawasan kita sudah cukup atau belum. Hal yang sama terjadi juga dalam hidup bersama berbangsa. Jokowi belum tentu siap saat menjadi Presiden RI, juga Ahok belum tentu siap saat jadi Gubernur DKI. Sistem administrasi pemerintahan dan mental berbangsa yang kacau memungkinkan banyak manipulasi tetap lestari dan korupsi sukar diberantas.  Dalam keadaan seperti ini yang sungguh diperlukan hanyalah keberanian untuk berserah kepada kasih karunia Allah yang terus memampukan dan memimpin kepada pembaharuan, sampai kepada kepenuhan dan kesempurnaan.  Saat memanggil seseorang Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7). Berhadapan dengan kuasa yang merusak dan membawa kehancuran dalam hidup bersama, hanya karunia Tuhan yang memampukan untuk tetap berjuang dengan berani, atas dasar kasih, melawan segala bentuk kekacauan yang melanggar norma ketertiban umum.

Maka, bersiaplah sekarang ini, apakah kita siap atau tidak siap inilah waktunya, bukan nanti kalau sudah siap, bukan nanti bila sudah bisa, atau sudah mampu, beranjak dari keberadaan sekarang yang ada, untuk dipersembahkan dengan mengikut Tuhan.  Karena akhirnya, toh kasih karunia Tuhan yang akan menyempurnakan dan menguatkan kita dalam perjuangan hidup ini.

-ytp,28 feb 2015

Advertisements

One thought on “Kasih Karunia TUHAN Yang Memampukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s