Umur adalah Misteri

downloadTanggal 22 Maret malam, adik dari istri ponakan meninggal dunia di fitness centre, usia menjelang 28. Dia meninggalkan seorang istri dengan baby yang belum sebulan di kandungan (menikah belum 3 minggu).

Tanggal 29 Maret malam, abangnya kawan meninggal ketika main futsal di Cikarang (after office hour), usia 42. Dia meninggalkan istri dan 3 anak di Citayam (Depok).

Keduanya meninggal pas atau usai olahraga, yang notabene adalah kegiatan kesehatan.

Pelajarannya:

  • Apakah saya mengambil jenis dan intensitas olahraga yang tepat buat saya?
  • Apakah saya aware dengan kondisi-kondisi khusus tubuh saya?
  • Apakah saya seimbang dalam berbagai pola hidup? (istirahat, makan, olahraga, pikiran, dst)
  • Apakah saya telah menyiapkan diri bahwa saya bisa dipanggil setiap saat? Apakah saya telah menyiapkan sesuatu yang perlu buat orang-orang yang akan saya tinggal?

Cinta Mengatasi Perbedaan Pendidikan Dan Pekerjaan

Ketika berdoa, meminta seorang pasangan hidup, saya mendoakan seorang yang percaya Kristus dan bertumbuh. Setelah itu bertanggung jawab/bekerja, berasal dari keluarga yang baik, mengasihi dan menerima saya dan keluarga saya. Baru kemudian pendidikan sejajar dan memiliki pekerjaan yang tetap.

BD sudah pedekate sejak 2010, saat saya lulus kuliah. Dia beberapa kali sms/telp/komunikasi di facebook. Saat itu, saya sedang merangkai mimpi-mimpi tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi. Saya tidak menanggapi BD karena dia bukan tipe saya, secara fisik, pendidikan dan pekerjaan. BD kerja di bengkel sebagai montir (lulusan STM).

Kemudian saya mendapatkan pekerjaan yang berbeda/baru. Saya banyak berubah, tidak terlalu perfek lagi/lebih santai, tidak terlalu pemikir dan lebih siap menghadapi segala keadaan, yang buruk sekalipun. Karena seorang supervisor sering dihadapkan pada masalah, mental saya sudah sering diuji melalui pekerjaan. Suatu saat, saya ingin hidup sederhana, ingin mengurus rumah, ingin bisa mengatur keuangan dengan baik … dan ingin menikah. Menurut saya, Tuhan yang menaruh keinginan ini dalam hati saya.

Sebenarnya saya mendoakan BD sejak dia pedekate, tapi saya tidak terlalu yakin karena dia bukan tipe saya. Memang saya bergumul tentang pendidikan dan pekerjaan BD. Saya nangis beberapa kali karena hal ini. Tapi saya diingatkan tujuan saya mendoakan pasangan hidup. Seorang anak Tuhan, percaya kepada Tuhan, takut akan Tuhan. Bukan status pendidikan dan pekerjaannya.
Saat pulang ke kampung Natal 2013, saya menghubungi BD untuk bertemu (kami satu kota asal, teman SMP). Saat itu saya berdoa, ingin berteman dan mengenal BD karena selama ini kami hanya komunikasi via sms/telp/facebook. Sejak itu kami semakin intens berkomunikasi. Dan akhirnya dia ke kota saya untuk pertama kali bulan Februari. Setelah itu kami pacaran.


Saya menerima BD karena dia anak Tuhan, dia mengenal Tuhan sejak 2004, baptis 2008. Dia bertumbuh di gereja, berbeda dengan saya yang sejak lahir sudah Kristen, bertumbuh di gereja dan persekutuan. BD pekerja keras, dia bekerja setiap hari jam 8 pagi-6 sore. Dulu dia harus membiayai bapak ibunya saat sakit, menyekolahkan adik-adiknya. Kakak-kakaknya di kampung pekerjaannya tidak tetap, jadi mereka mengandalkan BD, sebagai anak satu-satunya yang kerja di Jakarta. Maka BD pandai mengatur keuangan sampai sekarang.

Bapak ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Adik-adiknya sudah menikah. Diapun telah mendoakan saya sejak lama tapi tidak berani datang ke kota saya karena dia pikir saya telah punya pacar karena saya tidak menanggapinya. Setelah saya ajak dia ketemu, kami berkomunikasi dan dia mengajak saya berpacaran.
Saya berdoa dan melihat kriteria utama. Dia anak Tuhan. Walaupun kami bertumbuh di tempat yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula tapi saya melihat dia serius dengan imannya. Dia rajin belajar FT. Maka saya mau berpacaran dengannya. Kami beberapa kali diskusi tentang FT. Saat berpacaran saya ajak dia baca buku-buku tentang pacaran dan pernikahan. Kami diskusi. Hal ini menolong kami memiliki pengetahuan yang benar tentang pacaran yang berkenan kepada Tuhan. Saya ajak BD ketemu dengan teman couple di kota saya. Kami belajar beberapa hal, yaitu kejujuran dan keterbukaan.

Kami memang memiliki karakter yang berbeda. Saya pemikir, perfeksionis, banyak pertimbangan, berhati-hati dalam mengambil keputusan, tertutup. Dia mandiri, berani ambil resiko, tegas, konsisten, mandiri. Dia memang tidak banyak teman selain di pekerjaan karena waktunya tersita di pekerjaan. Lingkungan kerjanya tidak baik, dulu pertama-tama di Jakarta dia diajak ke club, main kartu, judi, minum, dll. Maka dia, setelah pulang kerja jam 6 sore di mess aja, ke mall kadang-kadang. BD ikut bible study di gerejanya tiap Rabu sore setelah pulang kerja.

Kehidupan BD di Jakarta adalah kerja kerja kerja. Kemudian istrahat di mess, ke mall/ke gereja dan kerja lagi esok harinya. Sebenarnya dia bisa libur seminggu sekali tapi tidak diambil. Dia akumulasikan liburnya untuk mudik. Saat pacaran saya sering ledekin dia kuper. Karena memang jarang keluar. Saya juga bergumul tentang ini. Dia kok gak punya teman banyak, jarang pergi kemana-mana, kerja terus. Saya berdoa dan sempet protes sama Tuhan. Tapi Saya ingat alasan kenapa dia kuper, karena lingkungan yang tidak baik. Makanya saat pacaran saya pernah ajak dia menengok anaknya teman, bareng teman-teman komunitas. Rencana saya ingin ajak dia saat persekutuan tapi kendalanya kadang-kadang dia gak bisa libur karena pekerjaan membutuhkan dia.

Saya juga kadang sebel. Saya liburnya hari Minggu, BD hari Minggu jarang bisa libur, palingan 1 kali hari Minggu dalam sebulan. Jadi kalau saya ada kegiatan komunitas, BD jarang ikut. Tapi yang saya pelajari dari sebuah hubungan pacaran adalah saling mengerti. Dia tidak melarang saya kegiatan di luar, saya juga harus mengerti pekerjaannya yang malah rame di hari Minggu.

13 September 2014
the happy lady: MS

Bergantung pada Tuhan dalam Studi

good lesson, mas Handy…

My life journey

Kemarin saya memperoleh pengalaman yang berharga dalam proses studi (dan hidup) saya. Saya mendapat kritikan yang cukup tajam dari pembimbing saat pembimbingan. Sebenarnya saya sudah menghabiskan banyak waktu untuk belajar, namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan saya (dan harapan mereka). Melalui itu, Tuhan mengingatkan saya akan 1 hal penting.

Pentingnya senantiasa bergantung pada Tuhan dalam studi saya.

education_student_news

Saya ingat 3 bulan pertama saya memulai studi Ph.D., saya benar – benar merasa bodoh dan rendah diri karena demikian banyak hal yang saya tidak tahu. Btw, saya memilih jurusan Computer Science & Engineering di UNSW, sementara S1 dan S2 saya dari Control System Engineering, ITS. Meski sama – sama CSE-nya, namun tentunya sangat berbeda bidang ilmunya :).

View original post 390 more words

Anak dan Motor

Saya ingin bercerita hal kecil tentang anak saya (sekarang udah kuliah, baru masuk semester 1) dan motor. Hal yang kecil tapi penting dalam fase pertumbuhan anak.

Sejak kecil kami menyadari anak kami kurang bagus dalam hal motorik (kasar). Saya ndak tahu apakah jatuh dari mainan baja di TK Besar (yang membuat dia patah tulang dan digips) adalah bagian dari itu. Main sepeda juga tidak secepat kebanyakan anak tetangga. Dia baru bisa naik sepeda seingat saya kelas 4 (setelah saya ajarin dengan cara preman di kampus). Dan setelah bisa naik sepeda dia hobi banget sepedaan dengan anak-anak tetangga (dan bersama dengan jus tiap hari, membuat dia sembuh dari asma).

belajar motor di kampusAkhirnya tahun 2010 saya mulai ajarin dia naik motor, juga di kampus. Foto terpampang adalah Desember 2010, berarti kelas 10 (umur 15). Terasa lambat sekali dibanding anak teman saya, SMP pun sudah bawa motor ke sekolah (tidak disarankan). Rencananya ntar pas umur 16 udah sedikit trampil dan bisa ambil SIM lalu ke sekolah bisa bawa motor, lebih murah daripada ngojek (sering ngojek daripada ngangkot).

Meski relatif lambat belajar secara fisik, tapi anak saya punya kelebihan yaitu mudah menangkap omongan. Jadi kalau ngajarin motor misalnya, kita harus banyak ngomong yang bener, karena omongan ini lebih masuk, lebih dulu dimengerti dibanding ketrampilan naik motor. He..he..

Begitu yakin udah bisa, maka pas libur naik kelas 11 urus SIM. Praktek dua kali gagal dan keburu udah masuk tahun ajaran baru. Lalu kesibukan dengan programming begitu tinggi, malas lanjutin urus SIM. Jadilah dua tahun (sepanjang kelas 11 & 12) lebih sering ngojek dan ngangkot (waktu itu dia udah lumayan dapat uang dari hasil programming sehingga merasa oke aja bayar ojek… demi waktu).

Akhirnya setelah lulus SMA timbul kembali keinginan dapat SIM spy bisa bawa motor ke kampus. Kembali ke Kantor Layanan SIM di Pasar Segar utk lanjut urus SIM. Udah 2 tahun, kelihatannya berkasnya udah hilang entah kemana, tapi diterima untuk lanjut ujian praktek (karena bukti panggilan ujian praktek masih tersimpan di dompet, meski udah sangat lusuh). Terima kasih, pak Pol.

Ujian praktek pun perlu berkali-kali lagi. Ya memang saya lihat dia tidak sangat trampil naik motor, tapi menurut saya ketrampilannya sudah cukup untuk berkendara di jalan raya khususnya ke kampus. Ujian praktek SIMnya menurut saya tidak realistis, tidak sesuai kebutuhan/kenyataan. (Saya perhatikan ada orang yang sangat trampil pun bisa tidak lolos ujian itu.) Tapi akhirnya dapet juga.

Saat-saat awal, saya yang bawa motor ke kampus, dia di belakang. Sambil saya kasih contoh cara paling aman untuk berkendara. Ambil sebelah kiri, jangan zig-zag, dst… cukup banyak teorinya (dan biasanya dia mudah ngerti teori itu, semoga dia betul tidak emosi dan langgar itu teori).

Kalau pulang dari kampus, sering saya tanya gimana pengalamanan berkendara. Dan dia banyak cerita pengalaman yang berbeda: pengalaman dengan kondisi jalan dan cuaca, pengendara lain, dst. Dan itu dievaluasi. Sejauh ini banyak pelajaran dan semua berjalan baik. Kecepatan dia maksimum 60 km/jam (udah pas lah, saran kami 50-60 saja). Mulai berani berkendara malam, subuh, … mulai merasa lebih nyaman mboncengin teman (dan dia selalu bawa helm kedua) -mboncengin orang memang kadang tidak mudah ya.

Ya demikianlah cerita kecil yang penting tentang kemampuan anak, tentang kedewasaan emosi, kepatuhan hukum, keamanan berkendara, mengambil keputusan sesuai keadaan dan keyakinan.

Kadang kuatir keamanan di jalan, tapi sejauh ini kami yakin itulah yang pas buat anak kami. Jadi jalani saja sebaik mungkin. Semoga selalu selamat di jalan.

Mengenali Sapaan TUHAN

Sapaan Tuhan setiap kali kukenali, dalam diri para sahabat yang bersapa, memberiku salam, dan mengasihi.  Sakit dan sikon yang dibatasi bahkan memberiku lebih banyak kesempatan menikmati relasi baru,  baik dengan sahabat lama, juga dengan kawan-kawan yang baru baru berjumpa.

***
Hari ini jadwalku cuci darah maju lebih pagi. Ruang HD ini seakan jadi tempat pertemuan yang memang dirancang untuk memberi kesempatan bagi antar pasien dan perawat yang berjaga untuk saling berbagi. Demikian juga antar sesama pengantar yang menunggui.  Mendapatkan bahwa saat sakit ada sesama yang senasib dan sepenanggungan ternyata menguatkan. Dan kesaksian serta tips-trik bagaimana mengatasi kondisi-kondisi dalam keterbatasan menjadi lebih didengar karena langsung diceritakan oleh yang mengalami, bukan katanya-katanya.

Percakapan-percakapan yang terjadi membantuku untuk lebih dalam lagi ber-refleksi, betapa memaknai keberadaan diri memang bukan perkara sederhana. Itu dilakukan pasti dalam dialog terus menerus dengan relasi dan pengalaman keseharian yang dijalani.  Kawan bercakap membantu sungguh untuk aku bisa mengerti, juga mengerti bahwa dalam perkara-perkara tertentu aku belum atau bahkan tidak mengerti sama sekali. Padahal pengertian adalah kunci menemukan bijak. Bila kita masih saja bebal tak peduli bagaimana bisa tahu bahwa yang dijalani itu memang berharga dan nyata?

***
Aku tak menghitung berapa, tapi rasanya orang yang kontak denganku dan bahkan secara sengaja mengunjungi untuk bertemu di hari-hari sesudah aku diproklamirkan  sebagai pasien gagal ginjal ini bahkan lebih banyak.  Selain cinta apakah yang bisa membuat orang sedemikian memperhatikan, mencari kabar berita, berusaha membantu semampu yang bisa, mendoakan, dan tiap kali ikut menangis dan tertawa bersama? Dengan apa aku bisa menghargai segenap keprihatinan dan pernyataan berbela rasa yang diwujudkan?

Beberapa kawan sedemikian istimewa berinisiatif dan sungguh aku sangat menghargainya. Ada kawan yang tinggal di belahan bumi sana, tapi melalui email senantiasa mengikuti perkembangan dari hari ke hari sejak mengetahui sakitku. Tahu betapa aku capek dan jenuh dengan beratus ribu artikel dan situs website tentang penanganan sakit gagal ginjal mendorongnya mengirim hanya beberapa artikel dan topik pilihan yang kurasakan sungguh sangat berguna. Ada yang mencetakkan buku panduan dari National Kidney Foundation yang sangat ringkas tetapi memang harus diketahui dan memberikannya padaku. Ada yang dengan sangat hati-hati memberikan wawasan dan pertimbangan lain sehingga tiap-tiap langkah medis maupun metode alternatif yang kujalani sungguh teruji dan aman.

Tak kalah penting juga kawan hehehe yang memelihara kewarasanku dengan kegilaan mereka menggoda dan meledekku tiap bertemu, maupun lewat sms maupun pesan-pesan singkat yang tiap kali dikirimkan. Kaco memang, tapi bahkan dalam kekacauan itu kurasakan ada dinamika kehidupan.  Jadi janganlah bayangkan rutinitasku sebagai pasien yang lesu tak berdaya meratapi nasibnya. Sebaliknya bahkan sekalipun melewati lembah kekelaman, gada dan tongkat yang tersedia cukup menghiburku.  Bagi yang mengikuti jurnal-jurnal yang kutulis di hari-hari lalu, tentu dapat dengan segera mendapati bahwa aku ternyata tetap bisa “gila” hahaha.

***
Aku pernah nulis, refleksi perjalanan hidupku, betapa Tuhan menyapaku tiap kali dengan canda-canda yang membuatku harus berhadapan dengan keadaan yang sama sekali tidak kurencanakan, atau kuingini. Satu sobat kecilku kemarin bilang, itu cara yang dipakai supaya hidup kita bisa naik kelas, jadi memang perlu ada test dan ujian. Nah, kalau seperti itu, orang lain tak bisa iri, wong mengingini saja tak bisa, mau ikut-ikutan juga buntu jalannya. Sekarang aku mikir,  bisa nggak ya pemahaman tentang Tuhan yang bercanda diajarkan di PPA GKJ (Pokok-pokok Ajaran).  Paling tidak bagiku pribadi, itu menolongku untuk kuat dan tegar, bahkan bisa menertawai diri dengan bebas lepas dan syukur.

Hidup beriman adalah menyiapkan diri  agar bisa merayakan karya penyelamatan  Allah dalam kehidupan kini dan di sini.  Aku ingin beriman dengan otentik,  dengan sukacita  dan syukur senantiasa. Semoga catatanku ini juga bisa menjadi sumbangan untuk arak-arakan meriah, bukan malah keluh  dan kesah. (ytp)

Ruang HD RS Bethesda, Senin 15 April 2013

Perjuangan Masa Kuliah

sate maulana yusuf
sate maulana yusuf

Apa obrolan hangat dengan teman-teman Depok/Bogor saat ini? Makanan dan jalanan… :). Dua hari ini dinner dengan dua kawan lama berbeda di dua tempat berbeda di Bandung: resto Thai Dago dan sate Maulana Yusuf. Obrolan tentang ini membangkitkan kenangan makanan dan harga makanan ketika zaman kuliah dulu, tahun 1986/1987. Mungkin kenangan ini tidak persis seperti kejadiannya, tapi cobalah kutuliskan….

Tahun 1986, tahun pertama kuliah, jatah makannya 40rb rupiah sebulan sesuai jumlah uang beasiswa yang kuterima (dari PII). Heran juga, mahasiswa tingkat pertama sudah bisa dapat beasiswa. Itu berarti 36rb secara realnya, karena -sebagai orang GPdI- sudah didisiplin untuk menyisihkan 4rb di awal (10%) sebagai offering/tithe. Jadi diaturlah seribu sehari untuk makan, selebihnya (6rb) untuk transport dll. Pagi 200rp, makan siang 500rp, malam 300rp (rupiah lho)… kira-kira begitulah…. Makanan apa 200rp? Itu kira-kira sepiring nasi yang banyak, ditambah kuah, lalu tempe atau tomat buah yang agak besar dan kecap. 500rp? Nasi, sayur, telur/tempe-tahu. Kira-kira begitulah. 🙂

Ngomong-omong… uang buku gimana? Ya ndak bisa beli buku lah, paling banter kadang fotocopy resume bahan kuliah. Dan lebih seringnya pinjam buku kawan sekamar atau sebelah kamar -kalau pas mereka ndak pakai lah, spy tidak mengganggu. Thanks to teman sekamar (Heri Purnomo), kawan-kawan sebelah kamar di Taman Hewan (Catur, Gadang, Mangihut, Tiopan).

Yang mengherankan, dengan cara begitu… tahun pertama adalah tahun paling makmur dalam perjuangan saya. IP saya paling tinggi di tahun itu, berat badan saya paling tinggi di tahun itu. Saya merasa seperti Daniel, yang dengan fasilitas sayur tapi bisa hidup cukup top. 🙂

Cerita ini sering menjadi cerita ringan saya bagi beberapa teman mahasiswa yang saya  temui saat ini. Jika memang pas suasananya, dan diingatkan untuk menceritakannya… 🙂

 

Dunia Menjerit, Apa Jawabmu

Judul di atas adalah sebuah judul/topik bahasan sebuah “seminar” waktu saya masih SMA (some time between 1983-1986). Dunia menjerit, apa jawabmu? Seorang sobat saya menyahut di belakang: “Ikut  menjerit!” Ha..ha.. dia memang lucu.

Rom 8:22  Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

Segala makhluk sama-sama sedang menjerit. Kemacetan, penyakit, kemiskinan, gempa bumi, banjir, … apalagi yang kurang di negara kita ini? Dunia menjerit.

dunia  menjerit, apa  jawabmu
jakarta dari atas monas

Rom 8:23  Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Continue reading “Dunia Menjerit, Apa Jawabmu”