Sedikit Kabar dari Desa

Sedikit Kabar dari Desa, Ujang Sanusi, 2 Agustus 2019

Hari ini hari ke-2 saya di desa Tunggorono (tunggu disana 😀), Kec. Kutoarjo, Kab. Purworejo.

Ibu meminta saya mengantarnya ke makam ayahnya (kakek saya) sebelum kami mengunjugi makam nenek kesayangan saya yg dipanggil dgn panggilan sayang simbok Wagina.

Agak ironis ibu dan saya seumur hidup belum pernah menengok makam kakek yang adalah suami simbok Wagina.

Nama Kakek adalah Pawiro Taruno. Wow keren tenan, selama ini cuma tahu nama sapaannya “mbah Ro“.

Leluhur saya dari ibu agak komplikatit karena simbok Wagina adalah istri kedua dari Mr. Pawiro Taruno beranakkan ibu saya. Dari istri pertamanya melahirkan 1 anak saja bernama alm. Manisem. Simbok Wagina juga punya suami lagi yaitu simbah Dollah sebagai istri keduanya beranakkan 1 anak yang bernama Martinah. Kedatangan saya ke kampung dalam rangka menjenguk bulik Martinah ini yang terkena stroke.

So, ibu ada 3 bersaudara. Kakaknya Manisem satu bapak tapi lain ibu. Adiknya adalah Martinah yang adalah satu ibu tapi lain bapak… so complex flowchart.

Back to the laptop.
Makam kakek jauh dari kampung asal karena dibawa cucunya yang bernama Paini (anak dari Manisem) ke kampung suaminya Paini di selatan untuk dirawat dan akhirnya dimakamkan disana.

Jadi tujuan today adalah ke kampung si Paini yg menurut silsilah dia itu sepupu saya atau keponakan ibu saya.

Agak kesasar karena paklik sebagai guider lupa-lupa ingat sampai berhenti di depan balai desa untuk bertanya. Saat bertanya, tiba-tiba ada orang berdua datang naik motor mau rapat ke balai desa yang tak lain adalah si Mbakyu Paini dan suaminya.

Jujur saya lupa-lupa inget dengan mbakyuku ini (terlalu! 😂). Kalau ibunya, bude Manisem saya ingat karena sering lihat waktu saya kecil dulu. Tapi karena wajahnya mirip ibunya, saya guess ini pasti Paini…. Dia ingat saya dan berteriak menyapa tanpa tahu di belakang duduk ibu saya. Saya turunkan kaca belakang dan dia surprise melihat ibu saya yg adalah bulik (tante)-nya.

Dia memeluk ibu sambil menangis dan berkata, “Saya rindu sekali tak melihat bulik sudah lama sekali…” Saya terharu melihat peristiwa ini dan sempat saya foto….

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.55

Saya sempat meneteskan air mata tanda penyesalan why didn’t I bring her to this place to see her beloved big family long time ago.

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.57

Ada banyak air mata kerinduan dari kerabat dan handai taulan yang mungkin agak terlupakan oleh kesibukan kita.

Ketika turun dari mobil, mbakyu Paini memelukku begitu erat seperti seorang kekasih yang ditinggal lama… ya, dia rindu adik sepupunya yang ganteng ini 😜..

(Ah, kapan ya awak dipeluk erat begini oleh istriku yang cantik di Cibubur… wakakakakk😍..)

Aku pun baru mengenal suami Paini (terlalu lagi!!😂). Namanya mas Masiso. Lah kok mirip-mirip namanya dengan mertuanya…. mantu Maniso = mertua Manisem 🤣.

Mas Maniso dan mbakyu Paini begitu ramah menjamu di rumahnya… mengenalkan anak-anak dan cucu. Inilah budaya Indonesia khususnya Jawa yang ramah dan rendah hati, hangat dan tulus.

Kami diantar ke makam kakek. Again ini kali pertama melihat makam kakekku yang dikubur jauh dari nenekku. Dikelilingi sawah nan hijau dalam ketentraman desa….

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.53

Ibu berkata, “Bapak aku datang….” ❤

WhatsApp Image 2019-08-02 at 12.07.56

Jumat, 2 Agt 2019

Advertisements

Gunawan Sri Haryono

dalam kenangan:
Gunawan Sri Haryono
Solo, 23 April 1964 – 13 Juni 2019

oleh: Pdt Yahya Tirta Prewita

Relasi saat masih ada bersama berbeda dengan relasi saat berjauhan. Ada perberbedaan relasi saat satu sama lain tiada halangan untuk bertemu, dibanding ketika jarak memisahkan, atau ada tugas kewajiban yang harus dilaksanakan.

Saat relasi terputus, tak ada kontak satu sama lain, sering membawa angan pemikiran jadi bertanya dan resah. Sebaliknya, sekalipun ada di tempat yang sangat jauh, bila ada kabar berita dan dapat berkomunikasi rasa hati lebih tentram dan sejahtera.

Peristiwa kematian lebih dari sekedar keterpisahan dan tak ada kontak. Keberakhiran daur hidup makhluk fana di dunia ini ternyata membawa dimensi pengalaman iman, berupa dimensi relasi yang baru kepada para murid. Yaitu peristiwa Yesus yang bangkit, menjumpai para murid, dan kenaikan ke Sorga, dan klimaksnya adalah turunnya Roh Kudus.

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga dan turunnya Roh Kudus membawa corak relasi yang baru. Corak baru ini adalah relasi yang mengatasi relasi fisik.Yesus sudah naik ke Sorga dan para murid masih hidup di dunia . Karunia Roh Kudus dicurahkan agar para murid senantiasa dalam persekutuan dengan Yesus. Roh Kudus mengajar para murid untuk senantiasa belajar mengerti kehendak Allah Bapa, apa yang akan terjadi kemudian, sebagaimana Yesus bersama dan mengajar para murid.

Hidup ini memperhadapkan kita kepada situasi, keadaan, dan perkara yang tidak kita ingini. Setiap kebersamaan pasti berakhir, sukacita ganti berganti dengan kesusahan, pengharapan kita diuji oleh kesabaran, dan kekuatan diri kita sangatlah lemah menghadapi semua tanya dan resah.

Syukur kepada Allah. Bacaan dari Roma 5:1-5 dan Yohanes 16:12-15 mengingatkan, karunia Roh Kudus yang mendampingi, dan menguatkan kita untuk terus hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, dalam segala kasih dan anugerah.

Dalam Tuhan, kematian pun bukan lagi perpisahan yang harus membuat takut, tanya, dan resah. Roh Kudus menolong semua orang percaya untuk belajar mengerti dan menerima, bahwa dalam kesemua itu ada kehendak Allah Bapa yang baik bagi semua anak-anak-Nya.

Doa: Syukur untuk cinta Tuhan, dan karunia Roh Kudus, kuatkanlah kami untuk tetap bersukacita dalam kesusahan, dalam kesabaran, dalam pengharapan, dalam kasih Tuhan. Amin.IMG_20190608_0052 (1 Des 85)Menerima Teguran dengan Baik

Cinta Mengatasi Perbedaan Pendidikan Dan Pekerjaan

Ketika berdoa, meminta seorang pasangan hidup, saya mendoakan seorang yang percaya Kristus dan bertumbuh. Setelah itu bertanggung jawab/bekerja, berasal dari keluarga yang baik, mengasihi dan menerima saya dan keluarga saya. Baru kemudian pendidikan sejajar dan memiliki pekerjaan yang tetap.

BD sudah pedekate sejak 2010, saat saya lulus kuliah. Dia beberapa kali sms/telp/komunikasi di facebook. Saat itu, saya sedang merangkai mimpi-mimpi tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi. Saya tidak menanggapi BD karena dia bukan tipe saya, secara fisik, pendidikan dan pekerjaan. BD kerja di bengkel sebagai montir (lulusan STM).

Kemudian saya mendapatkan pekerjaan yang berbeda/baru. Saya banyak berubah, tidak terlalu perfek lagi/lebih santai, tidak terlalu pemikir dan lebih siap menghadapi segala keadaan, yang buruk sekalipun. Karena seorang supervisor sering dihadapkan pada masalah, mental saya sudah sering diuji melalui pekerjaan. Suatu saat, saya ingin hidup sederhana, ingin mengurus rumah, ingin bisa mengatur keuangan dengan baik … dan ingin menikah. Menurut saya, Tuhan yang menaruh keinginan ini dalam hati saya.

Sebenarnya saya mendoakan BD sejak dia pedekate, tapi saya tidak terlalu yakin karena dia bukan tipe saya. Memang saya bergumul tentang pendidikan dan pekerjaan BD. Saya nangis beberapa kali karena hal ini. Tapi saya diingatkan tujuan saya mendoakan pasangan hidup. Seorang anak Tuhan, percaya kepada Tuhan, takut akan Tuhan. Bukan status pendidikan dan pekerjaannya.
Saat pulang ke kampung Natal 2013, saya menghubungi BD untuk bertemu (kami satu kota asal, teman SMP). Saat itu saya berdoa, ingin berteman dan mengenal BD karena selama ini kami hanya komunikasi via sms/telp/facebook. Sejak itu kami semakin intens berkomunikasi. Dan akhirnya dia ke kota saya untuk pertama kali bulan Februari. Setelah itu kami pacaran.


Saya menerima BD karena dia anak Tuhan, dia mengenal Tuhan sejak 2004, baptis 2008. Dia bertumbuh di gereja, berbeda dengan saya yang sejak lahir sudah Kristen, bertumbuh di gereja dan persekutuan. BD pekerja keras, dia bekerja setiap hari jam 8 pagi-6 sore. Dulu dia harus membiayai bapak ibunya saat sakit, menyekolahkan adik-adiknya. Kakak-kakaknya di kampung pekerjaannya tidak tetap, jadi mereka mengandalkan BD, sebagai anak satu-satunya yang kerja di Jakarta. Maka BD pandai mengatur keuangan sampai sekarang.

Bapak ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Adik-adiknya sudah menikah. Diapun telah mendoakan saya sejak lama tapi tidak berani datang ke kota saya karena dia pikir saya telah punya pacar karena saya tidak menanggapinya. Setelah saya ajak dia ketemu, kami berkomunikasi dan dia mengajak saya berpacaran.
Saya berdoa dan melihat kriteria utama. Dia anak Tuhan. Walaupun kami bertumbuh di tempat yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula tapi saya melihat dia serius dengan imannya. Dia rajin belajar FT. Maka saya mau berpacaran dengannya. Kami beberapa kali diskusi tentang FT. Saat berpacaran saya ajak dia baca buku-buku tentang pacaran dan pernikahan. Kami diskusi. Hal ini menolong kami memiliki pengetahuan yang benar tentang pacaran yang berkenan kepada Tuhan. Saya ajak BD ketemu dengan teman couple di kota saya. Kami belajar beberapa hal, yaitu kejujuran dan keterbukaan.

Kami memang memiliki karakter yang berbeda. Saya pemikir, perfeksionis, banyak pertimbangan, berhati-hati dalam mengambil keputusan, tertutup. Dia mandiri, berani ambil resiko, tegas, konsisten, mandiri. Dia memang tidak banyak teman selain di pekerjaan karena waktunya tersita di pekerjaan. Lingkungan kerjanya tidak baik, dulu pertama-tama di Jakarta dia diajak ke club, main kartu, judi, minum, dll. Maka dia, setelah pulang kerja jam 6 sore di mess aja, ke mall kadang-kadang. BD ikut bible study di gerejanya tiap Rabu sore setelah pulang kerja.

Kehidupan BD di Jakarta adalah kerja kerja kerja. Kemudian istrahat di mess, ke mall/ke gereja dan kerja lagi esok harinya. Sebenarnya dia bisa libur seminggu sekali tapi tidak diambil. Dia akumulasikan liburnya untuk mudik. Saat pacaran saya sering ledekin dia kuper. Karena memang jarang keluar. Saya juga bergumul tentang ini. Dia kok gak punya teman banyak, jarang pergi kemana-mana, kerja terus. Saya berdoa dan sempet protes sama Tuhan. Tapi Saya ingat alasan kenapa dia kuper, karena lingkungan yang tidak baik. Makanya saat pacaran saya pernah ajak dia menengok anaknya teman, bareng teman-teman komunitas. Rencana saya ingin ajak dia saat persekutuan tapi kendalanya kadang-kadang dia gak bisa libur karena pekerjaan membutuhkan dia.

Saya juga kadang sebel. Saya liburnya hari Minggu, BD hari Minggu jarang bisa libur, palingan 1 kali hari Minggu dalam sebulan. Jadi kalau saya ada kegiatan komunitas, BD jarang ikut. Tapi yang saya pelajari dari sebuah hubungan pacaran adalah saling mengerti. Dia tidak melarang saya kegiatan di luar, saya juga harus mengerti pekerjaannya yang malah rame di hari Minggu.

13 September 2014
the happy lady: MS

Aku Sudah Menandatangani Lembar Persetujuan Operasi

RS Cikini Jakarta, 1 November 2013

Hari Jumat 1 November 2013 di Cikini, sehari sebelum jadwal operasi. Tadi di ruang hemodialisis aku tidur, tapi ternyata AC kurang dingin sehingga rasa sumuk di punggung dan kepala yang setiap kali minta bantalnya dibalik membuatku tak bisa nyenyak tidur. Jadilah aku malah kirim-kirim pesan dan menelepon beberapa anggota majelis, memberitahu update perkembangan terakhirku. Boleh jadi yang selalu membaca jurnal ceritaku bahkan lebih memahami update berita terkiniku daripada banyak warga dan majelis di gerejaku yang tak punya akses email.

Aku belum menyampaikan pesan Dr. David saat menemuiku pertama setelah aku opname di rumah sakit ini, “Sekarang yang harus dipersiapkan lebih dari sebelumnya adalah doa”.  Tetapi ternyata Majelis GKJ Purwantoro sudah memutuskan, malam ini mengadakan persekutuan doa, dan besok akan diadakan hari doa dan puasa, bertepatan dengan pelaksanaan operasi transplantasiku.  Oh, menghubungi tiga orang anggota Majelis GKJ Purwantoro dan masing-masing dengan caranya sendiri menginformasikan hal itu dan mendoakanku membuat I am almost crying.

***

Ternyata beberapa tamu yang mengunjungiku tidak seperti sebelumnya di antar oleh Suster sampai di hadapanku, kemudian berpesan, “Pasien sudah dibatasi, jadi sebentar saja berkunjungnnya”. Tadi paman ipar kakakku mengunjungi hanya diberi waktu 5 menit. Tadi pagi saudara iparku dari kakak lain yang mengunjungi bahkan langsung balik badan setelah melihatku sudah mengenakan masker, tapi terus kembali lagi bersama istrinya yang dinas sebagai perawat di Cikini ini.

Usai hd tadi aku tidur sangat nyenyak, dan ada dua petugas pastoral yang datang bergantian untuk mendoakanku pamit lagi karena melihatku tidur sangat nyenyak lengkap dengan maskerku. Wah betul sekali kata Mazmur 127, bahwa berkat itu dikaruniakan Tuhan kepada orang yang dikasihi selagi mereka tidur. Coba, kalau aku tidak tidur, pasti aku akan didoakan berpanjang-panjang lagi oleh mereka. Masing-masing telah mendoakanku dua kali selama aku mondok, jadi aku cukup tahulah bagaimana gaya mereka berdoa. Karena itu sungguh aku ingat dengan terpesona pesan Bapakku (almarhum, 8 April 2013, diberkatilah semua kenangan akan beliau)  yang tak jemu berkata kepada orang yang akan mendoakannya saat beliau sakit dulu, “Kalau berdoa jangan panjang-panjang, nanti aku jadi bingung”.  Waktu itu aku berpikir Bapakku berani sekali berpesan seperti itu, padahal jelas beliau tidak pikun dan dapat mengikuti semua pembicaraan dengan baik. Sekarang setelah didoakan sekian banyak orang dengan segala macam gaya, ternyata aku ikut-ikutan bersikap seperti Bapak.

***

Satu prosedur yang harus kulakukan adalah menandatangani lembar persetujuan operasi. Blangko yang disodorkan perawat padaku sudah diisi dengan tulisan tangan yang sekalipun terbaca tapi sangat tidak rapi, dan ditandatangani dengan tulisan lain yang berbeda oleh Dr. David Manuputty. Saat sampai bagian resiko aku baca keras-keras bahwa operasi ini akan bisa berakibat dan membawa resiko: 1. Nyeri pasca operasi, 2. Pendarahan 3. Infeksi. 4. Penolakan terhadap organ yang  ditransplantasikan. Akibat nomor 1 tak bisa tidak dihindari, sekalipun tehnik bedah sudah sangat maju dan luka yang dibuat seminim mungkin.  Resiko no 2-4 tak bisa dijamin bebas sama sekali, karena itu sangat perlu menjaga kebersihan dan kehati-hatian dengan perawatan terbaik dan obat-obatan agar itu tidak terjadi. Tegas kubaca pula dalam formulir ini, bahwa tindakan medis transplantasi ini merupakan alternatif satu-satunya untuk kasus gagal ginjal kronik yang kualami, tak ada jalan lain untuk sembuh. Udah ah, aku kan sudah menyerah.

Tadi saudara istrinya Teja datang dan kebetulan bertemu aku juga. Kudengar pertanyaannya ke Teja, “Takut nggak?” Hahaha, jawabnya sama denganku, “Pertanyaan itu tidak relevan dikemukakan sekarang. Kalau takut, aku kabur dari tempat ini sekarang juga”. “Iya, jadi kayak film Dono Warkop yang jadi pasien melarikan diri dari rumah sakit”, istri Teja menimpali sambil semua tertawa. Ternyata memang tertawa meredakan banyak ketegangan menanti selama ini, yang kadang juga dibuat sendiri. Pasien lain mengenalku selalu gembira, tersenyum dan menyapa terlebih dahulu siapapun yang berpapasan. Para perawat yang kadang, eh sering kuusili sehingga sungguh tanpa gelang identitas pasienpun tak mungkin aku tak akan dikenal oleh para perawat yang bertugas di sal ini.

Aku juga hendak berterima kasih untuk semua pemberian, dukungan, dan terkhusus makanan yang mengalir bersama kunjungan padaku. Ah, apa karena aku selalu nulis tentang makanan sehingga banyak yang membawa kemari ya? Lebih berbahagia memberi daripada menerima. Maka supaya kebahagiaanku lengkap, kubagi-bagi juga makanan yang ada ke semua pasien yang lain, terlebih yang aku tahu tak ada yang menjenguk, atau terlihat murung, juga saudara yang menemani pasiennya.

***

Barusan perawat yang lain lagi datang dan mengulang prosedur khusus yang akan kujalani sejak sore sampai pagi besok. Aku harus keramas, mandi dengan dettol, cukur gundul semua rambut, dan diberi obat pembersih lewat anal segala, lewat pukul 22 ini aku sudah harus puasa. Hiks, aku malas menuliskan detailnya. Baru membayangkan saja sudah hehehehe.  Udah ah, aku sudah menandatangani lembar persetujuan operasi. Bahkan semua urusan administrasi pasien ke rumah sakit juga sudah dibereskan dengan bantuan Pak Mulyo yang cekatan mendampingi. Betul sekali pesan Dr. David, “Yang perlu sekarang doa Pak Pendeta”. Doa yang sederhana, semoga semua lancar adanya. Itu mujizat yang sebenarnya.

salam

Pemulung Cerita

Penghibur Sialan

Penghibur Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Bila ada teman atau saudara yang sakit, untuk apa kita mengunjunginya? Mengapa secara khusus kita merasa perlu untuk berkirim salam dan doa menyapa, kalau tak bisa langsung berkunjung ya dengan sms, telepon, atau email? Jelas jawabannya, untuk menghibur, untuk menguatkan, untuk menemani, untuk membuat si sakit merasa lebih nyaman. Secara psikhis suasana yang nyaman sangat mendukung proses penyembuhan seseorang. Akan tetapi bagaimana bila sakit pasien sifatnya permanen, tak mungkin sembuh secara medis?

***

Sejak bulan Juli tahun lalu karena kedua orangtua sudah waktunya ganti dijaga oleh anak-anaknya, sebisa mungkin aku mencari kesempatan untuk mampir atau menginap di rumah orangtua di Pajang. Ibu dengan gayanya selalu menanya dan bercerita macam-macam, iya dilayani saja. Tetapi Bapak dengan gayanya pula tak pernah menceritakan apa bagaimana yang dirasakan oleh tubuhnya. Dari ponakanku, juga kawanku yang dokter mereka bilang bahwa bapak tentu sakit dan menderita sekali. Akan tetapi, sebagai anak aku tahu, tak mungkin Bapak akan mengeluhkan itu.

Anak-anak tahu, Ibu sangat senang dan tak akan menolak siapapun yang mengunjunginya, sedangkan Bapak hanya bisa nyaman bersama dengan anak-anak atau sahabat-sahabat tertentu dan kami anak-anak semua sudah mengenal mereka juga. Itu juga sebabnya kamar Bapak dan Ibu dipisah, kamar Ibu lebih luas. Dengan kursi tamu yang sangat nyaman untuk duduk-duduk lama. Tetapi tiap ada tamu untuk Ibu anak-anak juga was-was. Kalau yang berkunjung ngobrol terlalu lama, apalagi bawa makanan sedangkan sebagai penderita diabet dan hipertensi yang pernah stroke diet Ibu dijaga sangat cermat. Akibatnya baru dirasakan nanti kalau sudah malam atau hari berlalu, badan pegal-pegal minta pijit, tensi yang naik tinggi, gula darah yang tidak terkontrol….

Sebaliknya Bapak menurut Dr. Pangesti yang merawatnya adalah pasien yang disiplin dan cerdas. Beliau tahu semua aspek penyakitnya, bahkan di awal-awal dulu mencari sendiri buku dan brosur-brosur berkenaan dengan terapi dan diet. Jadilah ketika ada kakakku yang masih takut menyampaikan hasil diagnosa kepada Bapak dan lebih memilih bilang, “tidak tahu”, Bapak bahkan menasehati, “Kowe aja ngapusi Bapak”.

Ada banyak sekali sekali tablet, kapsul, dan sirup yang diminum Bapak sejak bulan Juli lalu, dan tiap kali berubah-ubah menyesuaikan perkembangan . Nah, jangan sampai salah melayani Bapak karena Bapak hafal semua macam jenis obatnya, satu-satu. Pengalaman sekitar 6 tahun menyiapkan diet makanan dan obat untuk Ibu menjadikan Bapak jauh lebih ahli. Jadilah, bahkan kemudian anak-anak berbagi diri, siapa menyiapkan menu diet harian. Siapa mengatur rumah. Siapa pula mengurus urusan-urusan obat, dengan dokter, dan rumah sakit ketika akhirnya diputuskan Bapak dirawat home-care sejak Januari lalu, maka dokter dan perawat dari rumah sakit yang mengunjungi bergantian tiap 2 hari sekali.

***

Bapakku orang yang religius dan aktifis gerejawi. Hal itu sangatlah jelas. Bahkan pernah menjadi Ketua Majelis Gereja untuk dua gereja, menjadi anggota deputat klasis, dan bahkan diutus untuk ikut sidang sinode. Entah apa yang jadi presedennya, tapi Bapak tidak mau didoakan oleh sembarang orang. Dan kemudian, juga berpesan, “Yen ndonga aja dhawa-dhawa, mengko aku ndak bingung”. Dan sejak Januari lalu mantaplah sudah doa Simeon yang diucapkan oleh Beliau, “Keparenga samenika abdi Paduka tilar-donya klawan tentrem” (Lukas 2:29). Aku yang disuruh Bapak pertama kali mengucapkan doa ini, anak-anak dan cucu yang di Solo semua berkumpul. Dan setelah itu Ibu yang menangis disuruh pindah ke kamarnya oleh Bapak, anak-anak yang lain entah bagaimana mengucapkan amin.

Sejak itu, doa Simeon yang menjadi doa Bapak. Apakah aku salah karena bulan Juli sudah matur kepada Bapak saat ditanya tentang diagnosa penyakitnya, prognosis dan therapi medis yang akan ditempuh, dan bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya nanti kematian tidak dapat dihindari? Ada yang masih tetap percaya mujizat, berharap keajaiban, dan Bapak bisa sembuh pulih lagi. Tapi Bapakku aku sangat tahu bukan orang yang seperti itu. Kedisiplinan sebagai guru gambar tehnik selama lebih empat puluh tahun membuatnya sangat teliti sekaligus rasional. Dan aku tahu, Bapak juga tidak suka didoakan agar mujizat penyembuhan terjadi. “Kehendak Tuhan sajalah yang jadi”. Bagaimana kita bisa lebih menghibur lagi orang yang sudah sepenuhnya berserah?

Sudah dua bulan ini Bapak tiap hari mendapatkan obat anti nyeri yang paling kuat, di tempel di bagian dada atau bagian tubuh yang dirasa sakit. Akibat samping yang secara langsung terlihat adalah sering ada halusinasi dan bicara tanpa sadar. Keadaannya semakin lemah, terlebih setelah Ibu lebih dahulu meninggal dunia 6 Februari lalu. Bapak merasa bahwa semua tanggungjawab hidupnya sudah tuntas. Upaya untuk memasukkan obat dan makanan lewat infus juga sudah mulai sangat susah dilakukan karena pembuluh darah di tangan sudah nyaris tak terdeteksi lagi, sedangkan di kaki bengkak dan tak bisa. Jadilah, ada kasak-kusuk yang lalu kudengar dari orang yang pernah mengunjungi dan mendoakan Bapak,”Bapak masih punya cekelan, itu yang menjadikannya tetap bertahan”.

***

Melalui artikel ini, dengan mengutip Ayub 16:2 ; aku hanya ingin singkat mengatakan, “panglipurmu mung wujud panyiksa tumraping aku” atau dalam bahasa Indonesia, “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”

LPP Sinode, Yogya, 5 April 2013

Pemulung Cerita.

Aktivitas dan Konsep Diri

Aktivitas bersama orang tua dan anak, dan apalagi dalam komunitas besar, bisa sangat berguna untuk mendidik konsep diri anak-anak kita. Kebersamaan dan aktivitas itu sendiri saja sudah berguna, apalagi jika ketika aktivitas itu orang tua memberi komentar-komentar yang bagus/membangun.

anak - mahasiswa - orang tua

Salah satu aktivitas yang favorit adalah olahraga bersama (badminton, bola tangan, futsal, dst). Olahraga sudah jelas baik bagi kesehatan fisik. Olahraga tim lebih lagi gunanya untuk kesehatan mental. Melalui olahraga, kita bertumbuh dalam banyak hal.

Variasi komunitas: selain komunitas keluarga, aktivitas ini bisa dilakukan dalam konteks dengan mahasiswa. Ada kelebihannya lagi: anak-anak akan menatap seniornya, dan mulai diberi wawasan tantangan ke depannya. Variasi lain adalah menerima tamu atau interaksi dengan satu dua keluarga dari komunitas lain.

Self Development

Bagaimana kita berkembang? Bagaimana kita bertumbuh? Salah satu jawaban sentral atas pertanyaan itu adalah: siapa di sekitar saya, bagaimana interaksi saya dengan sekitar saya.

Pro 13:20  Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.

self development = community development

Setiap orang dalam komunitas memiliki setting hidup berbeda, keyakinan yang berbeda/unik, kemampuan dan cara berpikir yang berbeda, dst. Interaksi orang-orang yang berbeda ini akan saling melengkapi dan memberi inspirasi, membawa keseluruhan komunitas itu ke arah kemajuan bersama-sama. Adalah sayang sekali, jika kita tidak memanfaatkan atau tidak saling bergantung satu sama lain, apalagi jika kita loneranger.

Bagaimana setting saling mengembangkan ini? Satu orang ketika perjalanan dinas ke kota lain, bisa mengunjungi keluarga/teman yang ada di kota tsb, menikmati waktu bersama dan saling berdiskusi tentang isu-isu yang dihadapi. Oh indahnya… Setting lain lagi adalah: interaksi makan siang dengan teman-teman yang kantornya satu gedung, meski beda kantor/pekerjaan. Setting ini sangat simpel, tidak perlu energi besar.