Jalan Buntu

stock-photo-dead-end-sign-935018Sebagai orang beriman walau memiliki banyak pegangan Firman Tuhan dan pengalaman bersama Tuhan, ada kalanya satu masa dalam hidup kita, kita menemui jalan buntu dan keadaan yang dinilai sangat tidak menyenangkan.

Tokoh-tokoh Alkitab juga mengalaminya.

  • Musa dengan jalan buntu berupa padang gurun.
  • Daniel dengan jalan buntu berupa gua singa.
  • Sadrakh dkk jalan buntu berupa dapur api.
  • Tuhan Yesus jalan buntu berupa ‘cawan itu’ yang harus diminum.
  • Paulus jalan buntu berupa penistaan agama.
  • Dst.

Tips untuk meresponi keadaan jalan buntu sebagai pemenang pertarungan iman:

  • Datang kepada Allah Bapa dalam doa.
  • Mengakui kedaulatan mutlak Allah atas segala sesuatu dan bersyukur atas anugerah-Nya dalam Kristus.
  • Mengakui kesempurnaan jalan-jalan dan rencana Tuhan dan berserah diri sepenuhnya pada kehendak-Nya.
  • Jujur dengan keadaan diri dan memohon kelepasan.
  • Menyatakan diri berserah dan tunduk jika harus melalui jalan yang tidak kita kehendaki, “jangan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi”.
  • Bersyukur dan memuji DIA karena rencana-Nya yang mulia.

Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Daniel 3:17-18, 26 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.

Filipi 4:6-7 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Krista, 1 April 2017
Advertisements

Bersama DIA dalam Penderitaan

Rahasia hidup sukacita dan damai sejahtera sejati di tengah dunia yang penuh dengan keruwetan adalah kesadaran yang terus menerus bahwa Kristus Sang Raja sedang bersama kita setiap saat.

Semakin sadar akan kebersamaan bersama-Nya dalam penderitaan, dalam kesusahan, semakin menikmati keindahan dan kemuliaan-Nya sebagai Raja kehidupan yang sedang menebus dan memulihkan segala sesuatu untuk dikembalikan seperti rancangan-Nya semula, yaitu rancangan sebelum segala sesuatu diciptakan.

Makin akrab dengan penderitaan bersama Dia… makin menikmati sukacita dan damai sejati yang diberikan-Nya.

Dipanggil untuk menderita bersama-Nya dan menikmati kemuliaan-Nya…. adalah sukacita hidup sejati.

Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Efesus 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Roma 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Krista, 31 Maret 2017

Kasih Karunia TUHAN Yang Memampukan

KASIH KARUNIA TUHAN YANG MEMAMPUKAN BAHKAN DALAM KETIDAKSIAPAN MANUSIA MENERIMA TUGAS PANGGILAN-NYA

Abram sudah berusia 99 tahun, saat mendengar janji Tuhan yang akan memberikan anak dari istrinya Sarai. Abram meragu sekalipun di hadapan Tuhan tidak berani menyatakan kebimbangannya. Dalam relung hati kecilnya nyaring terbaca, “Bagaimana bisa usia seabad, dan istriku 90 tahun, akan hamil dan melahirkan putra?”

Bahkan sekalipun dalam kepercayaan yang tiada bulat, penerimaan Abram sudah dipandang modal berharga, sehingga Tuhan berkenan kepadanya. “Namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham. Bapa orang beriman. Dan istrimu bukan lagi Sarai, namun Sarah, Ibu bagi kaumnya, banyak bangsa akan menjadi keturunannya.”

Para murid sedemikian mendapatkan kesempatan istimewa, saat Tuhan Yesus sendiri terlebih dahulu menjelaskan bahwa Anak Manusia harus menderita sengsara, ditolak, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga.  Namun bukan kesediaan untuk ikut berbelarasa, dan berprihatin dalam kepedihan yang sangat dalam pada para murid yang  mendengarnya. Petrus sebagai yang terkemuka di antara para murid lainnya langsung saja menarik Tuhan Yesus dan memperingatkan, agar tak berkata seperti itu adanya. Menurut Petrus, Mesias adalah Pembebas Israel yang Jaya, jauh dari gambaran Mesias yang menderita.  Maka dengan spontan dan seru paling keras yang pernah diucapkan oleh Yesus kepada para murid-Nya, balas dimarahilah Petrus, “Enyahlah engkau Iblis, bukan Sabda Tuhan yang kau dengarkan, tetapi keinginan manusia!”

Abram dan Petrus adalah teladan iman kita. Namun mereka tidak sempurna. Sekarang kita bisa menilainya. Akan tetapi bila kita yang menjadi mereka, bisa jadi kita juga melakukan kesalahan serupa.

***

Setiap kita mendoakan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kita mengulang seruan, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di Sorga”. Namun sering maksud tersembunyi yang dihayati adalah, “Jadilah kehendakku….”. Maka  terjadilah, saat Sabda Tuhan dinyatakan, kita meragukan bila itu tidak sejalan dengan nalar kita, karunia akal budi yang diberikan kepada manusia malah membatasi kuasa Tuhan hanya sejauh itu bersesuaian dengan kecupetan nalar dan cara pikir kita yang sangat terbatas. Kita menolak bila itu tidak sesuai dengan angan pemikiran dan keinginan kita. Manusia dengan kebebasan yang diberikan berkehendak agar penderitaan, penolakan, dan kematian dapat dihindari, sangat berbeda dengan kesukarelaan menjalani jalan salib karena itulah jalan kemuridan yang memang harus ditempuh untuk menemukan hidup kekal.

Tak ada gagang pada salib, seperti gagang pada rantang makanan (alangkah indahnya kedatangan rantang bersusun empat dengan segala macam makanan antaran yang memenuhinya, aneka kemasan makanan bermerk tak akan dapat menandinginya). Karena itu salib harus dipikul karena berat, tak bisa dijinjing sebab bukan sesuatu yang ringan.  Bukan Tuhan yang harus menunggu waktu yang tepat untuk berfirman kepada manusia. Manusia yang harus menyangkal diri. Bukan Tuhan yang mengikuti manusia apa maunya dengan segala kuasa dan kebebasan hidup yang sudah dikaruniakan sejak penciptaannya sebagai Gambar dan Rupa Allah, melainkan manusia yang harus mendengar seruan “Ikutlah Aku”, dengan meninggalkan kemelekatan yang membebaninya, ke hidup bebas lepas yang menanti di peziarahan menjejak tapak tilas Sang Guru kehidupan, yang taat menjalani sampai akhir.

***

Sungguh alangkah indah kasih karunia yang tetap mau menerima, melayakkan, dan mengampuni segala kekurangan, cacat cela dan bahkan pemberontakan manusia kepada Sang Pencipta. Hidup hanya sekali berarti, sesudah itu mati. Karena itu kesediaan untuk senantiasa dalam keadaan sadar, siap mendengar firman Tuhan, dan hidup menurut panggilan kasih karunia Tuhan itu patut kita jaga senantiasa.   Kasih karunia itulah yang memampukan Abraham, Paulus, Petrus dan murid-murid lainnya dapat terus berjalan mengikut Yesus, sekalipun sebenarnya mereka tidak dan belum siap saat dipanggil.

Bukankah demikian juga kita? Mengapa bermegah terhadap kelemahan dan ketidaksiapan diri yang jelas tidak mungkin kita sembunyikan dan nyata mewujud dalam hidup kita? Hanya oleh anugerah, hanya dengan kasih karunia, kita dilayakkan, kita dimampukan. Bukan kelemahan dan ketidaksiapan yang dilihat oleh Tuhan, melainkan kesediaan untuk terus mengikut Yesus, memikul salib, menyangkal diri, oleh karena kasih karunia-Nya memampukan dan menguatkan. Maka jadilah Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sarah, Saulus menjadi Rasul Paulus, dan Petrus menjadi pemegang kunci kerajaan sorga, batu karang tempat jemaat Tuhan berdiri.

***

Tak ada orang yang sungguh-sungguh siap saat menerima tugas panggilan dengan status serta tugas baru dalam hidupnya. Tugas panggilan dari Tuhan dapat dinyatakan kapanpun dalam hidup kita, entah kita siap atau tidak, entah pikiran dan wawasan kita sudah cukup atau belum. Hal yang sama terjadi juga dalam hidup bersama berbangsa. Jokowi belum tentu siap saat menjadi Presiden RI, juga Ahok belum tentu siap saat jadi Gubernur DKI. Sistem administrasi pemerintahan dan mental berbangsa yang kacau memungkinkan banyak manipulasi tetap lestari dan korupsi sukar diberantas.  Dalam keadaan seperti ini yang sungguh diperlukan hanyalah keberanian untuk berserah kepada kasih karunia Allah yang terus memampukan dan memimpin kepada pembaharuan, sampai kepada kepenuhan dan kesempurnaan.  Saat memanggil seseorang Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7). Berhadapan dengan kuasa yang merusak dan membawa kehancuran dalam hidup bersama, hanya karunia Tuhan yang memampukan untuk tetap berjuang dengan berani, atas dasar kasih, melawan segala bentuk kekacauan yang melanggar norma ketertiban umum.

Maka, bersiaplah sekarang ini, apakah kita siap atau tidak siap inilah waktunya, bukan nanti kalau sudah siap, bukan nanti bila sudah bisa, atau sudah mampu, beranjak dari keberadaan sekarang yang ada, untuk dipersembahkan dengan mengikut Tuhan.  Karena akhirnya, toh kasih karunia Tuhan yang akan menyempurnakan dan menguatkan kita dalam perjuangan hidup ini.

-ytp,28 feb 2015

Transformasi Kedukaan

RS Cikini, Jakarta, 7 November 2013

Ada TV kabel di ruang isolasi, salah satu film yang kutonton dari HBO berjudul “Mary and Martha”. Mary berasal dari keluarga kelas atas di NY USA, sedangkan Martha keluarga biasa dari UK. Kesamaan keduanya, putra mereka sama-sama meninggal di Afrika, oleh karena malaria.
Mary membawa anaknya George yang baru berusia 10 tahun untuk tinggal dan belajar pengalaman hidup di negeri Afrika. Di satu pelosok benua itu ia bertemu dengan Dolp,  pemuda sukarelawan yang bersemangat  mengajar anak-anak di satu panti asuhan, anak dari Mary.
Musibah terjadi, George digigit nyamuk malaria. Fasilitas medis tak memadai dan sudah terlambat untuk menolongnya. Ternyata putra Martha kemudian juga mengalami hal serupa. Jadilah dua orang dari negara maju dan kaya itu juga menjadi korban, meninggal bersama statistik setengah juta anak Afrika yang mati tiap tahun karena wabah malaria. Korban meninggal karena malaria pertahun di antara anak-anak Afrika dua kali lebih besar daripada korban tentara AS yang mati sepanjang perang Korea,  Vietnam, Irak dan Afganistan.

***
Martha dengan kesedihannya pergi ke Afrika ke panti asuhan tempat mendiang anaknya menjadi relawan mengajar, bertemu dengan Mary yang juga tak habis menyesali mengapa anaknya meninggal. Martha usai melihat pekerjaan anaknya menjadi bersemangat untuk menjadi relawan juga, sementara itu wabah malaria terus membuat anak-anak menderita sakit dan meninggal.
Maka bila adegan-adegan awal banyak mengekpos eksotisme negeri Afrika, keelokan padang sabana dan hewan-hewan besar yang berlarian di atasnya; Adegan selanjutnya adalah betapa wabah kematian karena malaria mengganas dan menyebarkan duka. Mary dan Martha sekarang menghadapi kenyataan duka yang ada. There must be more to life than this! Malaria bukan wabah yang tak bisa dilawan!
Singkat cerita, Mary pulang dan memperjuangkan ke pemerintahnya agar program perang melawan malaria dijalankan sebagaimana mestinya. Sementara Martha mengerjakan tugas relawan dengan kenangan akan anaknya. Dengan banyak halangan dan ketidakpedulian, akhirnya dengar pendapat di Senat memutuskan untuk mendukung program perang melawan malaria.

***
Aku senang nonton film ini, indah, manusiawi, mengubah dari kedukaan bahkan menjadi ethos juang kemanusiaan yang universal.
Delapan bulan sebagai pasien gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu dua kali yang kujalani selama ini juga layak kusebut sebagai pengalaman kedukaan. Bukan hanya untukku pribadi, tetapi juga keluarga, jemaat, dan komunitas terkasih yang mengitariku selama ini.
Sekarang aku dalam masa pemulihan usai transplantasi ginjal. Enam hari kujalani tanpa hemodialisis dan kreatinku pagi ini turun lagi ke angka 1,4. Beberapa hari lagi semua jarum dan selang yang menempeliku dilepas. Serasa jadi manusia baru, bebas dan lepas.
Sekarang dengan apa hendak kunyatakan syukurku? Bila dalam kisah Mary dan Martha di atas mereka menemukan jalan panggilan yang baru dengan menggerakkan program melawan malaria di seluruh dunia, misi apa yang menantiku seusai ini?

***
Aku sadar dan bersabar, masih harus menjalani masa isolasi dan beberapa keterbatasan sebagai orang yang menerima transplantasi ginjal. Apapun itu, sekarang aku ingin mengajak merayakan hidup baru dengan ginjal baru yang sudah bebas cuci darah dua kali seminggu.

Salam
Pemulung Cerita

Pasca Operasi Transplantasi

RS Cikini Jakarta, Rabu 6 November 2013

Malam keempat usai operasi transplantasi kulalui. Kemarin malam aku tidur agak awal. Dan pagi ini pukul 5 aku terbangun dengan perasaan segar. Semalam sudah bisa BAB dan kentut memberi kelegaan besar bagi perut. Juga harapan bahwa hari ini kateter urin dan pendarahan akan dilepas membuatku lebih bersemangat.
Ternyata benar, kunjungan dokter yang pertama pagi ini adalah untuk melepas kateter urinku. Sebentar saja dilakukan sudah selesai, aku nyaris tak percaya mengingat selama ini kateter itu membuatku sakit sedemikian saat kencing. Bagaimanapun juga ia telah berjasa, mengukur urin yang keluar, hari pertama pasca operasi 5,1 liter, hari kedua 2,9, lalu 3,2 liter, dan kemarin 2,8 liter.

***
Lebih dari sekedar berapa banyak urin yang keluar, keberhasilan operasi transplantasi ginjal dilihat dari penurunan angka kreatin dan ureum dalam darah. Angka normal kreatin di bawah 1 dan ureum di bawah 40. Hari Jumat sebelum operasi aku sudah cuci darah, tapi pemeriksaan darah hari Sabtu angka sudah 7,9 dan 115.
Keluar dari ruang operasi darahku diperiksa tiap dua jam, hari kedua tiap 4 jam, sekarang tiap 6 jam. Syukur alhamdullillah, ginjal adik yang didonorkan padaku bekerja baik. Kemarin malam sudah sampai angka kreatin 1,5 dan ureum 50.
Lebih gembira lagi tak ada pendarahan, atau hanya minimal saja. Tiap hari dokter David yang membedahku memeriksa dan mengatakan baik. Juga dokter Egi yang memeriksa dengan mesin USG. Diperlihatkan padaku gambar ginjal baru, saat darah masuk dan keluar, juga suara dari sambungan pembuluh darah ginjal yang baru. “Sejauh ini semua baik Pak, terus berdoa ya”.

***
Jangan tanya aku dapat mimpi apa selama dibius. Sama sekali tak kutemui kilat cahaya, atau wajah ramah kakek  putih berjanggut seperti dalam banyak cerita. Sejak masuk kamar operasi hari Sabtu 2 Nov pukul 10 pagi sampai keluar sore hari pk 17.00 dengan didorong hampir tak ada yang kuingat kecuali suasana ruang operasi yang senyap, dan satu-persatu perawat dan dokter yang bertugas memperkenalkan diri di balik masker mereka. Saat siuman, tak ada rasa sakit yang sangat sebagaimana kubayangkan sebelumnya. Padahal kata dokter bedah bagian yang dijahit di sisi kanan perutku sepanjang 25-30 cm besarnya.
Masih dalam pengaruh bius, kukenali satu-satu yang setia menungguiku selama operasi. Istriku, saudara-saudaraku, teman, semua terlihat girang. Mulutku terasa sangat kering, tentu saja karena sejak Jumat malam aku puasa. Lebih dari itu rasa pahit obat naik ke mulut,  dan serasa ada yang mengganjal di langit-langit mulut, katanya itu bekas respirator yang membantuku bernafas. “Nanti akan hilang Pak”, akan tetapi aku tetap tak diijinkan minum sampai dokter anestesi memperbolehkan. Malam yang berat dan panjang usai operasi. Toh akhirnya pagi datang menjelang.

***
Hari kedua aku bisa mendapatkan handphoneku, “Dilap dulu dengan alkhohol ya!” Demikian pesan dokter. Aku memang masuk ruang isolasi, bahkan jauh lebih ketat dari ICU karena satu ruang hanya kupakai sendiri, dan selain perawat jaga atau dokter yang harus memakai baju steril yang disediakan di sana tak ada lagi yang boleh masuk.
Alas kaki atau sepatu dari luar juga harus dilepas. Beberapa sendal plastik “Lily” berderet di dekat pintu kamar untuk dokter-dokter yang menjengukku. Hari pertama dan kedua aku nyaris tak ditinggalkan perawat, ada saja suntikan dan monitor macam-macam yang diperiksa padaku.
Yang kutahu, EKG untuk rekam jantung dilakukan dua kali sehari, ada enam panel yang ditempel kayak bekam di dadaku, lalu dua di pergelangan kaki, dan dua di pergelangan tangan. Dr Dasnan yang ahli jantung tiap kali memeriksa hasil rekaman dan mendengar detak jantung secara langsung dari stetoskopnya. “Bagus Pak”, singkat saja komentarnya.
Ternyata tiap dokter punya kewenangan yang berbeda. Mereka hanya memeriksa sebatas kewenangannya saja. Bahkan Dr David yang disebut komandan oleh kawan-kawan tim dokter lain saat kutanya kapan kateter urin dilepas juga menjawab, “Nanti tanyakan ke dokter PD (penyakit dalam) ya. Sekarang masih diukur akurasinya.”

***
Dua hari ini aku diberi obat penurun tensi. Sekalipun wajar bahwa pasien pasca ooperasi transplantasi tensi naik, tapi dokter kuatir bila aku pusing dan mual karenanya. Tadi pagi amlodipine dosisnya jadi dua kali lipat kemarin, 10 mg/hari. Dan pesan: Tidur yang banyak dan lelap Pak, itu cara paling efektif menurunkan tensi.
Aku sangat bergembira tadi sudah berdiri dan jalan sendiri ke toilet. Jauh lebih nyaman daripada melakukannya dengan pispot di bed. Tapi sekarang aku harus berusaha tidur yang banyak lagi, handphone kusilent lagi. Kukirim cerita ini.

***
Sekali lagi, terimakasih untuk semua dukungan dan doa. Puji Tuhan, operasi lancar, cepat pulih, dijalani dengan senang,

Salam
Pemulung Cerita

Life is a journey!

Hidup adalah sebuah perjalanan. Awal dengan kelahiran, akhir dengan kematian. Suatu misteri yang bagi beberapa orang menegangkan, tapi bagi sebagian yang lain sebuah keasyikan untuk menjalaninya. Banyak gambaran tentang bagaimana itu kehidupan. Film-film menyatakan apa yang orang pikir tentang kehidupan. Apakah kita cukup yakin dengan apa yang kita jalani?

Remaja Lelakiku

Tibalah hari yg kunantikan, setelah hampir seminggu tanpa kabar bahkan sepotong sms-pun tiada. Sejatinya aku sangat kangen, benakku bertanya-tanya adakah sesuatu yg telah berubah pada sosoknya. Siang itu muncul smsnya mengabarkan kereta yg membawanya pulang mengalami kerusakan dan sudah satu jam tertahan di Purwokerto. Kujawab,”Ok, banyak minum dan makan sayang. Thx smsnya. Ibu kangen.”

Continue reading “Remaja Lelakiku”