Simple Things About Discipline

Mantap… Ganbate!!!

dic.tion.ary of Doules

My work sometimes takes me to a place far away that I never know before. Sometimes this makes me tired but encouraged me to have a constant discipline to make things easy and orderly. I still learn to manage time for my family and me, my life, my hobbies, my social life, my spiritual time (Bible study and pray), and also social media time. There are many things to do. Laundry piled up, cleaning my room, pay a fee of rent, managing money, shopping list to do, rest, art, cooking, praying and seeking God, caring for family and friends (and the most important is the job).

Sometimes I let everything fall apart, I don’t care and too lazy. As a result I found a lot of laundry, no time for exercise, sleep deprivation, unhealthy food and sick then (I was infected by dengue fever last month-will tell you about the…

View original post 241 more words

Missiology Book Review: Beyond Christendom

CWoznicki Think Out Loud

Hanciles, Jehu. Beyond Christendom. Maryknoll: Orbis Books, 2008.

In this book Hanciles looks at three different subjects: 1) globalization, 2) African migration, and 3) the transformation of the West by these immigrants. Hanciles’ main argument is that migration and mission are inextricably connected. He shows that migration and Christian expansion have always gone hand in hand, and that in the West migration will change the shape of Christianity.

One of the most insightful chapters in this book is his chapter on assimilation. His exposition of the straight-line model, or “Anglo-conformity” model, helps the reader understand the immigrant experience in a new way. Anglo-conformity assumes that Anglo-Saxon culture is the superior and normative culture, and that immigrants should conform to this culture. He shows that this has been the assimilation model that most Americans have bought in to. (Think for a moment… do you feel as though this is…

View original post 156 more words

Book Review on Beyond Christendom by Jehu Hanciles

Karen's Journey at Fuller Theological Seminary

This book was an interesting study on religious expansion throughout the globe as a whole. Hanciles, being from Africa, provides a unique perspective on globalization and how trends are moving through the Western as well as Non-Western Worlds. The book is divided into three portions, those being globalization and the key factors that have lead up to the stage in which we find ourselves in now, the reshaping of the world order and what role international migrations play in it, and finally exploring the movement of South to North and how religion has moved as such.

Chapter one discusses globalization including its descriptions, debate surrounding it, and the destiny for which it is headed. Hanciles notes three factors leading to the rapid expansion of globalization. They are: Global time keeping, the moon landing, and the Living Room and room for living. This chapter is quite interesting because it shows the…

View original post 434 more words

Bergantung pada Tuhan dalam Studi

good lesson, mas Handy…

My life journey

Kemarin saya memperoleh pengalaman yang berharga dalam proses studi (dan hidup) saya. Saya mendapat kritikan yang cukup tajam dari pembimbing saat pembimbingan. Sebenarnya saya sudah menghabiskan banyak waktu untuk belajar, namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan saya (dan harapan mereka). Melalui itu, Tuhan mengingatkan saya akan 1 hal penting.

Pentingnya senantiasa bergantung pada Tuhan dalam studi saya.

education_student_news

Saya ingat 3 bulan pertama saya memulai studi Ph.D., saya benar – benar merasa bodoh dan rendah diri karena demikian banyak hal yang saya tidak tahu. Btw, saya memilih jurusan Computer Science & Engineering di UNSW, sementara S1 dan S2 saya dari Control System Engineering, ITS. Meski sama – sama CSE-nya, namun tentunya sangat berbeda bidang ilmunya :).

View original post 390 more words

Catatan Dari Pendonor Ginjal

oleh Immanuel Teja Harjaya Samadhi, Bandung, 27 Nov. 2013

Perkenalan

Saya bernama Immanuel Teja Harjaya, putra ke 7 (dari 8 bersaudara) dari Bapak  Wahyu Samadhi (alm, 8 April 2013) dan Ibu Sri Suminah (alm, 6 Februari 2013, diberkatilah semua kenangan akan mereka).  Sejak kedua orang tua meninggal saya merasa perlu menyematkan nama ayah saya di belakang nama saya, sehingga nama saya menjadi Immanuel Teja Harjaya Samadhi. Orang sering memanggil saya dengan lafal Tejo, tetapi karena saya sudah lama tinggal di Bandung, tatar Sunda, maka orang lebih sering memanggil saya dengan lafal Teja. Saya adalah adik kandung dari Yahya Tirta Prewita.

Istri saya, Agustein Okamita  Asima Rasmalem, berayah dari suku Karo bermarga Sembiring Meliala dan beribu dari suku Toba dari marga Sitompul. Karena saya menikah dengan seorang putri Karo secara adat, maka saya pun dianugrahkan marga Sebayang.

Image            Kami dikaruniai Tuhan dua orang anak, satu pasang, yang pertama perempuan, bernama Kasih Karunia Indah (11 th), dan yang kedua adalah Anugrah Agung Sejati (7 th). Karena terpesona anugrah Tuhan maka kedua nama anak saya kami beri nama demikian. Ketika nama anak saya lahir, saya mempunyai julukan baru untuk nama saya, yaitu Bapak Kasih. Nama anak saya yang pertama, Kasih, disematkan menjadi identitas saya. Nama Teja pun lenyaplah, identitas saya sudah menjadi Bapak Kasih. Identitas saya terhisap di dalam identitas anak saya yang terkasih, yang sedang menumbuhkan generasi kehidupan yang baru. Para kerabat,  terutama dari pihak Istri lebih sering memanggil dan mengenal nama itu dibandingkan nama asli saya. Ternyata saya lebih suka dipanggil demikian, Bapak Kasih.

Ketika di pagi hari saya pamit untuk ke RS PGI Cikini Jakarta menjelang operasi tranplantasi ginjal, saya sempatkan untuk berbicara ke anak-anak saya satu persatu mengenai keputusan ayahnya seraya pamit dan meminta mereka juga ikut mendoakan ayahnya. Saya perhatikan anakku Kasih matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha menyembunyikan air matanya yang akan menetes dari hadapan saya, kemudian aku peluk dia dan menasihatinya supaya tidak usah kuatir dan tetap doakan ayah. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena ia akan memiliki bumi. Kamu adalah orang yang berbahagia nak.

Saya tidak tau apa yang ada di benak anak saya, tetapi mungkin itu gambaran dari suasana hati para kekasih hati menjelang operasi yang akan dilaksanakan. Mereka berusaha menyembunyikan kegundahan hati mereka untuk keputusan yang diambil. Banyak ketidakpastian yang akan dihadapi, tetapi mereka memilih untuk percaya dan mendukung keputusan yang telah diambil.

 

Keputusan

Ketika Mas Yahya bertanya, apakah kamu bersedia  menjadi donor ginjal, saya langsung jawab mau. Dan Mas Yahya langsung memberi  tahu kalau kamu ada di urutan ke-2. Urutan pertama mBakyu saya, Magdalena Kartika Sari. Ketika ternyata mBakyu saya tidak lolos untuk menjadi donor ginjal secara medis, maka pilihan jatuh kepada saya.

Kemudian saya berproses untuk melakukan berbagai macam test kesehatan di laboratorium untuk memastikan kecocokan saya serta untuk persiapan operasi transplantasi yang akan dilakukan. Proses ini sendiri cukup memakan waktu, kurang lebih perlu beberapa kali bolak-balik ke RS PGI Cikini dalam jangka waktu 2-3 bulan untuk melakukan semua pemeriksaan kesehatan.

Proses mengkomunikasikan kepada istri, anak dan juga mertua merupakan hal yang kemudian saya lakukan. Puji Tuhan istri dan keluarga dari pihak istri mendukung keputusan ini. Sehingga di dalam melangkah ke depan tidak ada hal yang membebani di dalam menjalani proses ini.

Keputusan ini saya rasa merupakan keputusan yang penuh pertanyaan bagi banyak orang, sehingga orang-orang terdekat pun ketika bertanya mengenai keputusan ini pun sebenarnya lebih dipenuhi keengganan untuk bertanya lebih lanjut, apalagi ketika menyinggung mengenai keamanan dan keselamatan selama operasi dan konsekuensi pasca operasi yang dilakukan.

Saya pikir hal ini wajar karena memang banyak pertanyaan yang terkait dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia serta tidak banyak atau belum banyak contoh yang bisa disaksikan mengenai kesuksesan operasi transplantasi ginjal. Saya punya sahabat seorang dokter, Dr. Billy N., sehingga banyak hal yang secara teknis kedokteran saya bisa diskusikan dengan dia sebagai sebuah second opinion selama proses transplantasi ini. Disamping itu teknologi kedokteran yang telah berkembang pesat, dan RS yang dipilih adalah RS yang terbaik di bidangnya, kemudian berdasarkan hasil uji lab kondisi kesehatan saya memang memenuhi syarat untuk melangkah lebih lanjut dalam tahap operasi. Hal ini secara empiris sudah cukup mempermudah saya untuk melangkah dalam tahap selanjutnya.

Mengambil keputusan untuk mendonorkan ginjal merupakan keputusan yang tidak tiba-tiba, sederhana dan cenderung intuitif dan relasional. Keputusan ini bukan merupakan keputusan yang serta merta diambil tanpa banyak pertimbangan, tetapi sebaliknya keputusan ini didasarkan banyaknya informasi yang telah diperoleh berkaitan dengan sakit yang dialami oleh mas saya, baik itu secara langsung dari sumber nya, yaitu mas saya, dari orang lain, atau pun dari berbagai informasi yang tersebar di mana saja terkait dengan penyakit ini. Dan melalui jurnal yang selalu di tulis, maka perkembangan segala sesuatunya menjadi begitu jelas dari waktu ke waktu.

Keputusan ini merupakan keputusan sederhana, bukankah Firman Tuhan mengatakan, Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”. Keputusan ini adalah keputusan yang benar. Di dalam kesederhanaan dan kejelasan Firman Tuhan itu saya ingin meresponinya. Tidak seharusnya saya terlalu banyak mengkuatirkan hal yang tidak perlu, apalagi berpikir diluar parameter tadi atau justru memikirkan hal-hal yang lebih dari yang bisa saya pikirkan. Apakah ada banyak pergumulan di dalam mengambil keputusan tersebut? Mungkin malah di dalam banyak pergumulan sebenarnya saya sedang menunda kehendak Allah dinyatakan, lha wong sudah jelas keputusan yang harus diambil kok malah bergumul.

Keputusan ini adalah keputusan intuitif dan relasional. Intuitif dalam pengertian keputusan didasarkan pemahaman akan “rasa” yang lebih dari sekedar adanya bukti, informasi atau sesuatu yang jelas dan nyata. Relasional dalam pengertian bahwa ini adalah tentang saya dan mas saya, saya dan istri saya, saya dan keluarga saya, saya dan orang-orang yang mengasihi saya, dan terutama juga antara saya dan Tuhan. Ada batas-batas yang tidak bisa ditanggung oleh saya sendiri, terutama berkaitan dengan pertanyaan “bagaimana nanti jika” (sesuatu tidak berjalan sesuai rencana)? “Bagaimana nanti jika” adalah pertanyaan yang diluar kapasitas saya untuk mejelaskannya, dan tidak pernah bisa dengan puas saya menemukan jawabannya. Banyak hal yang harus saya serahkan kepada Tuhan atau bahkan semuanya perlu saya serahkan kepada Tuhan yang memampukan kami menghadapi segala hal.

Mungkin keputusan ini adalah bagian dari sebuah langkah iman. Iman yang paling sederhana, percaya saja, “amung pangandel iku uwiting karosanku” (Hanya percaya sumber kekuatanku). Mungkin hal ini tidak terlalu populer, tetapi justru hal ini rupanya yang justru menuntun batin saya untuk melangkah.

KPKL 127 : Pangandel  (Percaya)

Amung kumandel iku, uwiting karosanku
Amung kumandel iku, etuking kraharjanku

#   Aku dhatan kuwatir,  Pangeran pepujanku
#   Allah dadi kraharjanku,  uwiting karosanku

Amung pracaya iku, kang mbungahken driyaku
Amung pracaya iku, panglipuring batinku

Srana pangandel iku, ngilangken prihatinku
Srana pracaya iku, nyirnakken kuwatirku

             Jikalau hal tersebut didasarkan oleh “kasih” saya kepada mas saya, maka bukankah memang harusnya demikian, apalagi itu adalah mas saya kandung? Jadi tidak ada yang istimewa. Saya malah agak bingung mengelaborasinya kata kasih itu di dalam menguji motivasi saya mendonorkan ginjal. Kata “kasih” menjadi kata yang terlalu sentimental dan agak tidak nyambung dengan permasalahan yang saya dihadapi, saya takutnya malah kebebanan dengan kata yang sungguh agung tersebut. Saya biasanya “nyengir” kalau mendengar kata-kata itu dalam percakapan dengan orang lain.

Saya perlu menata hati saya untuk melihat keputusan ini merupakan sebuah keputusan yang benar, karena alasan yang benar, yang merupakan sebuah konstruksi pikiran dan perasaan yang benar, sehingga saya tidak terganggu dengan banyak hal yang nanti akan menghalangi langkah ke depan.

Mengambil keputusan sebagai orang yang merdeka merupakan sebuah anugrah. Merdeka dalam pengertian terbebas dari rasa takut dan kuatir dalam melangkah. Saya ingin mengambil keputusan sebagai orang yang merdeka, dimana tidak ada intimidasi dan rasa taku menghantuinya.

Kehadiran

Saya teringat ketika masih menjalani masa pemulihan pada minggu pertama paska operasi. Saya terheran-heran kok saya bicaranya jadi lebih pelan dan lebih lembut ya. Ah, ternyata itu adalah efek dari kondisi fisik yang saya alami, karena kalau bicara dengan penuh tekanan dan keras itu membutuhkan energi yang lebih banyak dan membuat otot-otot perut berkontraksi sehingga menghasilkan rasa sakit. Jadi saya pikir hal itu merupakan respon alamiah yang membuat saya menjadi lebih lemah lembut dalam berbicara, saya berharap ini keterusan, jadi pascaoperasi saya bisa bertutur kata dengan lemah lembut. Ternyata itu tidak terlalu lama terjadi, menginjak minggu ketiga suara saya sudah balik ke kondisi semula, keras dan kasar.

Kemudian ketika menimbang badan, berat badan saya turun 4 kg, saya merasa lebih pas dengan bobot yang baru 76 kg, saya berpikir ini operasinya mendapat bonus sedot lemak. Tetapi ternyata memasuki minggu ke-4 pemulihan, bobot sudah mulai merangkak naik lagi. Wah, gagal mendapat manfaat bonus sedot lemaknya.

Saya bukan orang sakit, tetapi setelah operasi, saya tahu apa itu rasanya menjadi sakit.  Rasanya ngilu semua sekujur badanku setelah operasi. Bagaimana bisa berganti dengan segera dari sakit menjadi sukacita? Ternyata dua hal itu bukan saling meniadakan, tetapi bisa berjalan seiring. Sakit secara fisik tetapi tetap bersukacita.

Saya mencoba ketika menahan sakit dengan mengaduh, dan kemudian aku rasa-rasakan, ternyata atmosfir-nya menjadi sangat menyedihkan, bagi diriku sendiri dan apalagi bagi yang mendengar. Tetapi ketika aku mengekspresikan rasa sakit dengan senyum atau pun ucapan syukur, maka atmosfir nya menjadi berbeda. Bersyukurlah senantiasa, pun disaat sakit, ternyata menjadi obat mujarab di dalam mejalani hari-hari pemulihan saya.

Namun di sisi yang lain, saya sungguh menikmati kunjungan dari banyak orang yang datang untuk menjenggukku. Banyak orang datang untuk berkunjung dan mendoakan, baik orang yang aku kenal maupun orang yang tidak aku kenal. Ada dari pelayanan gereja, pelayanan sahabat orang sakit, pihak konseling rumah sakit, dari warga jemaat, rekan para alumni dan para kerabat. Ada banyak kata nasihat dan penguatan yang aku dengar. Banyak doa yang dilantunkan untuk operasi kami serta pemulihan kami.

Saya sangat senang ketika didoakan.

Aku sebenarnya sedang tidak mengharapkan mujizat dari Tuhan, tetapi aku selalu berharap kebaikan demi kebaikan Allah setiap saat bisa aku alami. Saya selalu terkagum-kagum dengan orang yang bisa mengucapkan “Dalam nama Yesus” dengan keras dan mantap, dan tanpa keraguan supaya ada mujizat kesembuhan yang wah terjadi. Saya pernah mencoba berdoa seperti itu, tetapi ternyata saya merasa tidak cocok. Rasanya saya malah menjadi orang asing dan aneh bagi diri sendiri. Mungkin itu bukan gaya doa yang pas buatku, tetapi mungkin sangat pas bagi mereka yang mempunyai karunia mendoakan kesembuhan bagi yang sakit.  Jikalau doa bukan hanya sekedar kata-kata dan juga bukan sebuah mantra, sebenarnya saya tidak perlu risau dengan bagaimana ucapan doa yang saya ingin sampaikan serta pilihan kata yang harus saya pakai. Bukankah justru di dalam ketidakmampuan saya untuk berkata-kata maka Roh Suci menolong saya di dalam doa di dalam keluh kesah yang tidak terucapkan kepada Allah?

Syukurlah di dalam kasih karunia Tuhan, saya tidak perlu menunjukkan kebisaan saya di dalam berdoa untuk menghampiri tahta kasih karunia Nya. Di dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan yang sesungguhnya. Justru yang dinanti-nantikan adalah kehadiran Allah yang mengatasi dimensi ruang dan waktu serta anjangsana di bilik batin kita terdalam untuk menyatakan kasih dan penghiburan yang sejati. Saat berbaring pemulihan rupanya menjadi saat yang istimewa untuk saya memikirkan dan merefleksikan banyak hal di dalam kacamata yang berbeda.

Selama hampir setengah bulan berbaring di RS saya menjumpai fakta yang menarik, bahwa seorang pasien lebih tidak nyaman di dalam kesendirian yang dihadapi  ketika menghadapi sakit penyakit dibandingkan penyakitnya itu sendiri. Ternyata yang dibutuhkan orang yang sakit bukan hanya kesembuhan, tetapi juga kehadiran.

Saya malah lebih merasakan, kehadiran itu bukan hanya bagi saya seorang, tetapi juga bagi komunitas secara keseluruhan. Saya sungguh tidak mengira bahwa keputusan untuk mendonorkan ginjal yang seolah merupakan keputusan individual, ternyata hal tersebut hanyalah bagian kecil dari rancangan kehadiran Allah yang bekerja melalui banyak orang baik yang jauh maupun yang dekat, yang bersama dengan kami maupun yang tidak bersama kami untuk menyatakan kasih dan perhatiannya. Allah yang Immanuel, menyelenggarakan banyak hal melalui kehadiran para kekasih hati selama kami menjalani proses ini.

Kehadiran itu memberi kesembuhan yang sejati. Ia memulihkan. Ia melayani. Ia ikut bersimpati di dalam penderitaan. Ia memberi ruang kepada ketidaksempurnaan untuk terpapar apa adanya. Ia menyatakan kesabarannya. Ia tidak pernah terlambat menyatakan kasih. Ia mengampuni. Ia mendamaikan. Ia hadir memberi pengharapan.

Terima kasih kepada semua yang telah hadir di dalam semua proses ini, bukan hanya kehadiran secara fisik semata, tetapi juga terlebih kehadirannya secara non fisik untuk bersimpati kepada kami.

 

Menguliti Rahasia Allah

Operasi sudah berjalan dengan baik, semua berjalan melebihi apa yang direncanakan. Kehidupan terus berjalan, dan hal-hal baru akan terus menanti. Dengan kondisi yang baru, apakah ada yang berubah? Sebenarnya tidak ada yang berubah. Ada keinginan secepatnya bisa berakivitas seperti sediakala, tetapi memang saya harus hati-hati sampai luka bekas operasi benar-benar kering. Tidak ada kebiasaan atau gaya hidup yang perlu diubah setelah operasi ini, hanya perlu lebih memberi perhatian gaya hidup yang sehat. Makan secukupnya, istirahat secukupnya dan bekerja secukupnya.

Seperti halnya tidak ada perubahan di dalam diri saya setelah operasi. Tidak ada perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang dari tubuh ini, dan di sisi lain justru banyak hal yang telah ditambahkan di dalam hidup saya.

Bersamaan dengan kegiatan pemulihan, saya pun juga perlu mengklarifikasi dan menguji diri saya sendiri supaya saya tetap berpikir sebagaimana seharusnya saya berpikir, sakmadyo saja tidak lebay, yang sewajarnya saja.   Saya rasa saya tidak perlu membuktikan apa pun di dalam hidup saya ini.

Di dalam anugrah Kristus, saya tidak perlu membuktikan apa pun. Saya tidak perlu berbuat sesuatu untuk menyenangkan Tuhan. Justru sebuah bahaya laten selalu menghantui saya untuk mencoba membuktikan diri di hadapan Tuhan kebisaan saya atau berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan Tuhan.

Keputusan untuk mendonorkan ginjal bukan dalam kerangka membuktikan diri atau pun sebuah usaha untuk menyenangkan Tuhan. Ini bukan juga sebuah keputusan transaksional untuk mendapatkan pahala, apalagi supaya amal ibadah diterima, atau pun keputusan yang didasarkan pamrih apa pun. Semua sudah dibayar Kristus dengan lunas, saya hanya menerima anugrah demi anugrah Nya. Rencana kasih karunia Allah ingin diwujudkan di dalam proses ini, supaya kemuliaan hanya bagi nama Tuhan semata. Saya ingin memaknainya bahwa proses yang baru saja saya jalani adalah wujud persembahan ucapan syukur kepada Tuhan.

Saat ini saya ingin terus menguliti lapisan-lapisan rahasia-demi-rahasia Tuhan dengan kondisi saya yang baru saat ini. Jikalau kemuliaan Nya adalah menyembunyikan segala sesuatu, bukankah saya orang yang beruntung apabila diijinkan untuk menyingkap sedikit rahasia-demi-rahasia Tuhan yang tersembunyi, sehingga saya boleh terpesona oleh kemuliaan Nya yang disingkapkan hari demi hari.

Biarlah segala puji hanya bagi Tuhan.

Salam Taklim

Teja Samadhi