Anak dan Motor

Saya ingin bercerita hal kecil tentang anak saya (sekarang udah kuliah, baru masuk semester 1) dan motor. Hal yang kecil tapi penting dalam fase pertumbuhan anak.

Sejak kecil kami menyadari anak kami kurang bagus dalam hal motorik (kasar). Saya ndak tahu apakah jatuh dari mainan baja di TK Besar (yang membuat dia patah tulang dan digips) adalah bagian dari itu. Main sepeda juga tidak secepat kebanyakan anak tetangga. Dia baru bisa naik sepeda seingat saya kelas 4 (setelah saya ajarin dengan cara preman di kampus). Dan setelah bisa naik sepeda dia hobi banget sepedaan dengan anak-anak tetangga (dan bersama dengan jus tiap hari, membuat dia sembuh dari asma).

belajar motor di kampusAkhirnya tahun 2010 saya mulai ajarin dia naik motor, juga di kampus. Foto terpampang adalah Desember 2010, berarti kelas 10 (umur 15). Terasa lambat sekali dibanding anak teman saya, SMP pun sudah bawa motor ke sekolah (tidak disarankan). Rencananya ntar pas umur 16 udah sedikit trampil dan bisa ambil SIM lalu ke sekolah bisa bawa motor, lebih murah daripada ngojek (sering ngojek daripada ngangkot).

Meski relatif lambat belajar secara fisik, tapi anak saya punya kelebihan yaitu mudah menangkap omongan. Jadi kalau ngajarin motor misalnya, kita harus banyak ngomong yang bener, karena omongan ini lebih masuk, lebih dulu dimengerti dibanding ketrampilan naik motor. He..he..

Begitu yakin udah bisa, maka pas libur naik kelas 11 urus SIM. Praktek dua kali gagal dan keburu udah masuk tahun ajaran baru. Lalu kesibukan dengan programming begitu tinggi, malas lanjutin urus SIM. Jadilah dua tahun (sepanjang kelas 11 & 12) lebih sering ngojek dan ngangkot (waktu itu dia udah lumayan dapat uang dari hasil programming sehingga merasa oke aja bayar ojek… demi waktu).

Akhirnya setelah lulus SMA timbul kembali keinginan dapat SIM spy bisa bawa motor ke kampus. Kembali ke Kantor Layanan SIM di Pasar Segar utk lanjut urus SIM. Udah 2 tahun, kelihatannya berkasnya udah hilang entah kemana, tapi diterima untuk lanjut ujian praktek (karena bukti panggilan ujian praktek masih tersimpan di dompet, meski udah sangat lusuh). Terima kasih, pak Pol.

Ujian praktek pun perlu berkali-kali lagi. Ya memang saya lihat dia tidak sangat trampil naik motor, tapi menurut saya ketrampilannya sudah cukup untuk berkendara di jalan raya khususnya ke kampus. Ujian praktek SIMnya menurut saya tidak realistis, tidak sesuai kebutuhan/kenyataan. (Saya perhatikan ada orang yang sangat trampil pun bisa tidak lolos ujian itu.) Tapi akhirnya dapet juga.

Saat-saat awal, saya yang bawa motor ke kampus, dia di belakang. Sambil saya kasih contoh cara paling aman untuk berkendara. Ambil sebelah kiri, jangan zig-zag, dst… cukup banyak teorinya (dan biasanya dia mudah ngerti teori itu, semoga dia betul tidak emosi dan langgar itu teori).

Kalau pulang dari kampus, sering saya tanya gimana pengalamanan berkendara. Dan dia banyak cerita pengalaman yang berbeda: pengalaman dengan kondisi jalan dan cuaca, pengendara lain, dst. Dan itu dievaluasi. Sejauh ini banyak pelajaran dan semua berjalan baik. Kecepatan dia maksimum 60 km/jam (udah pas lah, saran kami 50-60 saja). Mulai berani berkendara malam, subuh, … mulai merasa lebih nyaman mboncengin teman (dan dia selalu bawa helm kedua) -mboncengin orang memang kadang tidak mudah ya.

Ya demikianlah cerita kecil yang penting tentang kemampuan anak, tentang kedewasaan emosi, kepatuhan hukum, keamanan berkendara, mengambil keputusan sesuai keadaan dan keyakinan.

Kadang kuatir keamanan di jalan, tapi sejauh ini kami yakin itulah yang pas buat anak kami. Jadi jalani saja sebaik mungkin. Semoga selalu selamat di jalan.

Advertisements

Mentraktir Allah

Interaksi kita dengan anak banyak memberikan pelajaran. Betullah kata orang: mendidik anak adalah mendidik orang tua. Berikut ini kesaksian seorang teman tentang anaknya yang berusia sekitar 7th.

anak memerlukan banyak latihan

Kemarin putra kami menjemput saya di kantor. Sambil nunggu saya, dia minta diantar maminya untuk ambil uang dari tabungannya di ATM Mall Gran Indonesia. Saya menjumpai anak saya dan maminya di satu resto, dan maminya cerita bahwa anak kami mau traktir. Tapi hanya minuman, dengan syarat harga dibatasi. Tapi maminya sendiri justru sudah memesan makanan dengan harga jauh lebih mahal. 🙂

Dia terlihat sangat bangga ketika membayar tagihan minuman, yang dipisah dari makanan. Apalagi ketika kami ucapkan terimakasih atas “kesediaannya mentraktir”…. Dia lupa bahwa dana yang ada di rekeningnya adalah dari papi maminya, disamping pemberian dari kerabat-kerabat. Ketika anak saya menghitung uang untuk membayar dan mencek kembaliannya, sebetulnya saya merasa tidak tega bahwa dia membayar minuman. Tapi saya tahan perasaan dan biarkan dia belajar untuk membayar dan berbagi. Ketika kemudian kami mau beli yoghurt, dia kembali mau bayar sendiri, tapi saya buru-buru membayar.

Hari ini, saya dan maminya transfer lagi uang ke rekening tabungannya. Lebih banyak dari yang dibelanjakannya kemarin. Rasanya, senang sekali hati ini, ketika kemarin kami “ditraktirnya”, walau uang itu dari kami asalnya.

Saya merenung, mungkin hal yg sama sering terjadi pada kita. Saat saya merasa sudah berbuat baik ketika memberi pada-Nya, dari apa yang sebenarnya adalah milik-Nya, pemberian-Nya. Mungkin saya justru sering berhitung-hitung atau sudah merasa sangat pemurah dalam memberi sebagian kecil dari pemberian-Nya itu… Kalau kita ortu yang tidak sempurna bersikap begitu sayang dan protektif terhadap anak kita, bukankah Allah yang Maha Kaya dan Pemurah itu lebih lagi, dalam mewujudkan kasih-Nya pada kita?

Saya belajar banyak dari kejadian kecil tsb…. (HP)

Mengajar Jujur

Saya sudah cerita ke sedikit teman ttg kejadian rabu sore minggu yll. Sekitar jam 14-an saya sms anak saya (laki, 13 tahun) utk ingatkan bahwa jam 15 dia ada les. Sorenya menjelang jam 16 saat mau pulang saya telepon dia untuk cek dia dan bilang saya sudah mau pulang. Dia bilang listrik mati. Saya pesan ini itu dan sudah, saya tutup hp.

Continue reading “Mengajar Jujur”

Humor: dari Anak-anak Kita

Menikmati waktu dengan anak-anak, tak habisnya kita ini dibuat terbengong-bengong, geli, dsb… Banyak yg kita rasa sudah kita ajarkan tapi makin banyak pula hal yang tampaknya muncul sesuai dengan keunikan anak-anak.

Joke 'Kusoko'
Daniel - Soko (1998?)

Continue reading “Humor: dari Anak-anak Kita”