Ketahanan Dalam Sakit

Kehidupan adalah perjuangan. Salah satu perjuangannya adalah dalam menghadapi penyakit sementara mengemban sebuah tugas. Di bawah ini cuplikan kesaksian tentang seorang ibu (yang ditulis 3 hari sebelum ibu tsb dipanggil Tuhan), semoga menjadi berkat.

————

Di tengah pergumulan ibu Yuheni (ibu saya) yang telah bersahabat dengan kanker selama lebih dari 30 tahun, hal yg membesarkan hati saya sebagai anaknya adalah kesaksian-kesaksian tentang ibu saya tersebut:

Tim dokter paliatip yg menangani ibu di masa-masa yang paling berat dari seorang yang mengalami kanker adalah ketika rasa sakit yang luar biasa menyerang dan obat pengurang rasa sakit (morfin) sudah tidak bisa ditambah lagi dosisnya. Di saat seperti inilah menurut para dokter dan perawat, watak asli penderita benar-benar tak tertahankan terekspresi: ada yang teriak-teriak, ada yang menyumpah serapah, ada yang melampiaskan kemarahannya kepada semua orang di sekitarnya, dan bahkan ada yang mengutuk Tuhan dang mengingkari kadaulatan-Nya…..

Para dokter, perawat dan penjaga ibu, sangat terinspirasi arti daya tahan dan kesabaran sejati dari ibu Yuheni, dalam perjuangan yang sangat berat, penuh kesakitan, mencekam dan melelahkan, respon ibu sangat jujur: “duh Gusti, kawulo sampun sayah, kawulo nyuwun ngaso” (Ya Tuhan, hamba sudah lelah, hamba mohon istirahat). Di saat-saat pergumulan lain ibu mengeluh: “kawulo sampun mboten kiat, duh Gusti, nyuwun ngaso; namung mugi karso Tuwan ingkang kalampahan” (hamba sudah tidak kuat, ya Tuhan, mohon istirahat; tetapi kiranya hanya kehendakMulah yang jadi)….

“kawulo nyuwun kekiatan Gusti, secuil kemawon” (hamba mohon kekuatan, ya Tuhan, secuil saja….)

Saya hanya bisa memeluk ibu, mengusap-usap punggung dan tangannya, sambil meng-echo-kan keluhan dan doanya.

Dari pak pendeta emeritus Tono, yang datang menjenguk ibu untuk mendoakan, saya mendapat kesaksian bahwa ibu punya reputasi sebagai bidan/perawat yang punya kesabaran asli, bukan karena dipaksa oleh sistem managemen seperti sekarang…. Juga para dokter dan perawat memberi kesaksian tentang ibu sebagai seorang yang profesional, sabar dan guru yang sangat dihormati….

Sikap dalam menghadapi kankernya sehingga bisa begitu lama, 30 tahun, sikap “hati yang gembira karena Tuhan adalah obat yang manjur”, sangat memberi inspirasi banyak orang termasuk saya sendiri. Banyak penduduk desa dari pelosok kabupaten Kediri merasakan layanannya sebagai bidan yang profesional namun ibu tetap low profile. Ibu banyak memberi pertolongan melahirkan bayi tanpa meminta bayaran dan banyak mendandani jenazah para warga gereja yang meninggal dunia. Ibu banyak dipanggil untuk situasi genting apakah bayi akan lahir, atau seseorang dipersiapkan untuk menghadap Tuhan di ambang kematian…..

Di usia yg sudah lanjut, ibu masih berupaya menghafal ayat-ayat Firman Tuhan, baik ayat hafalan 5 jaminan maupun TMS 60 ayat lengkap. Juga ibu terus membaca Alkitab dan bahan-bahan PA dan tulisan saya tentang misi…. Hati senang belajar–

Kini, ibu terbaring tak berdaya, mengalami penderitaan yang luar biasa, tetapi dengan iman dan daya tahan memandang kepada penderitaan Kristus Isa Almasih di kayu salib, ibu dikuatkan untuk meresponi dengan sikap iman yg gigih….

Ketika saya ditanya ibu, sampai kapan penderitaan seperti ini? Ibu sudah ingin pulang (dari RS)—saya tidak bisa memberi jawab– hanya bilang agar tunggu rekomendasi dari dokter, hanya ini yang bisa meredam kegelisahan ibu. Ibu sangat dikenal sebagai orang yang taat otoritas terutama dokter. Walau di tengah penderitaan dan situasi yang sulit, ibu sangat tunduk dan hormat pada perkataan dokter. Sikap yang peka dan tunduk pada otoritas adalah pancaran dari sikap Kristus di Filipi 2:5-8, telah ibu demonstrasikan dengan konsisten, baik di rumah, di Rumah Sakit tempatnya bekerja maupun di lingkungan masyarakat dan gereja.

Saya sendiri terus merenung, nanti ketika giliran saya dalam posisi seperti ibu Yuheni, apakah saya sekuat beliau? dan setangguh beliau? dalam hati saya berdoa, kalau bisa Tuhan panggil saya tanpa harus menderita seperti ibu, tapi kalaupun Tuhan ijinkan untuk memuliakan Dia dengan cara menghadaoi kematian seperti ibu, saya hanya mohon kekuatan seperti yang ibu Yuheni miliki…… bisa berbagi cerita/pengalaman bagaimana rasa sakit akibat dosa yang manusia warisi dari kejatuhan manusia dalam dosa (Adam dan Hawa)…..

Keadaan ibu sendiri masih tidak menentu— sampai kapan? — masih tanda tanya terus. Yang jelas, berada di sampingnya, saya menyaksikan kesabaran dan penyerahan pada kedaulatan Tuhan. Saya melihat “Kristus” yang menderita di atas kayu salib……

Kediri, 7 April 2010 (KRT)

Advertisements