Mentraktir Allah

Interaksi kita dengan anak banyak memberikan pelajaran. Betullah kata orang: mendidik anak adalah mendidik orang tua. Berikut ini kesaksian seorang teman tentang anaknya yang berusia sekitar 7th.

anak memerlukan banyak latihan

Kemarin putra kami menjemput saya di kantor. Sambil nunggu saya, dia minta diantar maminya untuk ambil uang dari tabungannya di ATM Mall Gran Indonesia. Saya menjumpai anak saya dan maminya di satu resto, dan maminya cerita bahwa anak kami mau traktir. Tapi hanya minuman, dengan syarat harga dibatasi. Tapi maminya sendiri justru sudah memesan makanan dengan harga jauh lebih mahal. 🙂

Dia terlihat sangat bangga ketika membayar tagihan minuman, yang dipisah dari makanan. Apalagi ketika kami ucapkan terimakasih atas “kesediaannya mentraktir”…. Dia lupa bahwa dana yang ada di rekeningnya adalah dari papi maminya, disamping pemberian dari kerabat-kerabat. Ketika anak saya menghitung uang untuk membayar dan mencek kembaliannya, sebetulnya saya merasa tidak tega bahwa dia membayar minuman. Tapi saya tahan perasaan dan biarkan dia belajar untuk membayar dan berbagi. Ketika kemudian kami mau beli yoghurt, dia kembali mau bayar sendiri, tapi saya buru-buru membayar.

Hari ini, saya dan maminya transfer lagi uang ke rekening tabungannya. Lebih banyak dari yang dibelanjakannya kemarin. Rasanya, senang sekali hati ini, ketika kemarin kami “ditraktirnya”, walau uang itu dari kami asalnya.

Saya merenung, mungkin hal yg sama sering terjadi pada kita. Saat saya merasa sudah berbuat baik ketika memberi pada-Nya, dari apa yang sebenarnya adalah milik-Nya, pemberian-Nya. Mungkin saya justru sering berhitung-hitung atau sudah merasa sangat pemurah dalam memberi sebagian kecil dari pemberian-Nya itu… Kalau kita ortu yang tidak sempurna bersikap begitu sayang dan protektif terhadap anak kita, bukankah Allah yang Maha Kaya dan Pemurah itu lebih lagi, dalam mewujudkan kasih-Nya pada kita?

Saya belajar banyak dari kejadian kecil tsb…. (HP)