Pasca Operasi Transplantasi

RS Cikini Jakarta, Rabu 6 November 2013

Malam keempat usai operasi transplantasi kulalui. Kemarin malam aku tidur agak awal. Dan pagi ini pukul 5 aku terbangun dengan perasaan segar. Semalam sudah bisa BAB dan kentut memberi kelegaan besar bagi perut. Juga harapan bahwa hari ini kateter urin dan pendarahan akan dilepas membuatku lebih bersemangat.
Ternyata benar, kunjungan dokter yang pertama pagi ini adalah untuk melepas kateter urinku. Sebentar saja dilakukan sudah selesai, aku nyaris tak percaya mengingat selama ini kateter itu membuatku sakit sedemikian saat kencing. Bagaimanapun juga ia telah berjasa, mengukur urin yang keluar, hari pertama pasca operasi 5,1 liter, hari kedua 2,9, lalu 3,2 liter, dan kemarin 2,8 liter.

***
Lebih dari sekedar berapa banyak urin yang keluar, keberhasilan operasi transplantasi ginjal dilihat dari penurunan angka kreatin dan ureum dalam darah. Angka normal kreatin di bawah 1 dan ureum di bawah 40. Hari Jumat sebelum operasi aku sudah cuci darah, tapi pemeriksaan darah hari Sabtu angka sudah 7,9 dan 115.
Keluar dari ruang operasi darahku diperiksa tiap dua jam, hari kedua tiap 4 jam, sekarang tiap 6 jam. Syukur alhamdullillah, ginjal adik yang didonorkan padaku bekerja baik. Kemarin malam sudah sampai angka kreatin 1,5 dan ureum 50.
Lebih gembira lagi tak ada pendarahan, atau hanya minimal saja. Tiap hari dokter David yang membedahku memeriksa dan mengatakan baik. Juga dokter Egi yang memeriksa dengan mesin USG. Diperlihatkan padaku gambar ginjal baru, saat darah masuk dan keluar, juga suara dari sambungan pembuluh darah ginjal yang baru. “Sejauh ini semua baik Pak, terus berdoa ya”.

***
Jangan tanya aku dapat mimpi apa selama dibius. Sama sekali tak kutemui kilat cahaya, atau wajah ramah kakek  putih berjanggut seperti dalam banyak cerita. Sejak masuk kamar operasi hari Sabtu 2 Nov pukul 10 pagi sampai keluar sore hari pk 17.00 dengan didorong hampir tak ada yang kuingat kecuali suasana ruang operasi yang senyap, dan satu-persatu perawat dan dokter yang bertugas memperkenalkan diri di balik masker mereka. Saat siuman, tak ada rasa sakit yang sangat sebagaimana kubayangkan sebelumnya. Padahal kata dokter bedah bagian yang dijahit di sisi kanan perutku sepanjang 25-30 cm besarnya.
Masih dalam pengaruh bius, kukenali satu-satu yang setia menungguiku selama operasi. Istriku, saudara-saudaraku, teman, semua terlihat girang. Mulutku terasa sangat kering, tentu saja karena sejak Jumat malam aku puasa. Lebih dari itu rasa pahit obat naik ke mulut,  dan serasa ada yang mengganjal di langit-langit mulut, katanya itu bekas respirator yang membantuku bernafas. “Nanti akan hilang Pak”, akan tetapi aku tetap tak diijinkan minum sampai dokter anestesi memperbolehkan. Malam yang berat dan panjang usai operasi. Toh akhirnya pagi datang menjelang.

***
Hari kedua aku bisa mendapatkan handphoneku, “Dilap dulu dengan alkhohol ya!” Demikian pesan dokter. Aku memang masuk ruang isolasi, bahkan jauh lebih ketat dari ICU karena satu ruang hanya kupakai sendiri, dan selain perawat jaga atau dokter yang harus memakai baju steril yang disediakan di sana tak ada lagi yang boleh masuk.
Alas kaki atau sepatu dari luar juga harus dilepas. Beberapa sendal plastik “Lily” berderet di dekat pintu kamar untuk dokter-dokter yang menjengukku. Hari pertama dan kedua aku nyaris tak ditinggalkan perawat, ada saja suntikan dan monitor macam-macam yang diperiksa padaku.
Yang kutahu, EKG untuk rekam jantung dilakukan dua kali sehari, ada enam panel yang ditempel kayak bekam di dadaku, lalu dua di pergelangan kaki, dan dua di pergelangan tangan. Dr Dasnan yang ahli jantung tiap kali memeriksa hasil rekaman dan mendengar detak jantung secara langsung dari stetoskopnya. “Bagus Pak”, singkat saja komentarnya.
Ternyata tiap dokter punya kewenangan yang berbeda. Mereka hanya memeriksa sebatas kewenangannya saja. Bahkan Dr David yang disebut komandan oleh kawan-kawan tim dokter lain saat kutanya kapan kateter urin dilepas juga menjawab, “Nanti tanyakan ke dokter PD (penyakit dalam) ya. Sekarang masih diukur akurasinya.”

***
Dua hari ini aku diberi obat penurun tensi. Sekalipun wajar bahwa pasien pasca ooperasi transplantasi tensi naik, tapi dokter kuatir bila aku pusing dan mual karenanya. Tadi pagi amlodipine dosisnya jadi dua kali lipat kemarin, 10 mg/hari. Dan pesan: Tidur yang banyak dan lelap Pak, itu cara paling efektif menurunkan tensi.
Aku sangat bergembira tadi sudah berdiri dan jalan sendiri ke toilet. Jauh lebih nyaman daripada melakukannya dengan pispot di bed. Tapi sekarang aku harus berusaha tidur yang banyak lagi, handphone kusilent lagi. Kukirim cerita ini.

***
Sekali lagi, terimakasih untuk semua dukungan dan doa. Puji Tuhan, operasi lancar, cepat pulih, dijalani dengan senang,

Salam
Pemulung Cerita

Advertisements

Bagaimana Rasanya Naik Pesawat Terbang?

Purwantoro, 31 Oktober 2006

Bagaimana Rasanya Naik Pesawat Terbang?”

“Pak, bagaimana rasanya naik pesawat terbang itu?” Mendengar pertanyaan polos di hari kedatanganku sesudah melewati dua kali pergantian hari di dalam pesawat terbang, terasa sangat kesulitan untuk menjawabnya dengan baik. Sekarang aku menuliskannya, aku berhutang untuk berbagi cerita kepada penanya dan juga sekian banyak wargaku yang belum tahu bagaimana rasanya naik pesawat terbang itu. Karena itu cerita ini bisa dilewatkan saja bagi yang merasa bahwa cerita kayak gini tak penting adanya.

***

Aku tak yakin apakah aku harus menceritakan prosesnya, sama seperti bila hendak pergi naik bus ke Jakarta, maka harus pesan dan beli karcis terlebih dahulu? Datang mendadak ke lapangan terbang tentu saja juga bisa, tetapi tidak ada jaminan bahwa nanti pasti akan bisa terbang, harus masuk daftar tunggu kalau memang tidak ada kursi kosong tersedia, syukur bila ada penumpang yang sampai menit terakhir ternyata tidak datang sehingga bisa menggantikan tempatnya. Hal ini memang sangat berbeda dengan bus antar kota yang tetap saja meneriakkan “kosong!” dan mengajak setiap orang yang berdiri di pinggir jalan untuk masuk berjejal sampai tak bisa dipaksakan ditambah penumpang lagi.

Sekarang aku bisa menambahkan cerita, bahwa di Amrik sana sama sekali tidak ada karcis biaya pelayanan bandara. Itu sudah termasuk harga pembelian tiket penerbangannya, jadi perusahaan penerbangan nanti yang akan membayar kepada pihak bandara. Kalau di Solo, Yogya, Jakarta paling tidak harus sedia uang 20-30 ribu rupiah untuk penerbangan dalam negeri, bahkan untuk ke luar negeri biaya pelayanan bandara dengan fasilitas ala kadarnya ini dipungut biaya Rp 100.000, dan pajak bepergian ke luar negeri (fiskal) sebesar Rp 1.000.000. Lha belum terbang baru masuk bandara saja sudah membayar harga yang tidak murah, pantas lebih banyak yang mengantar hanya sampai ke ruang bebas saja.

***

Mungkin naik pesawat terbang itu seperti bus AC-eksekutif, semua penumpang dapat tempat duduk, tak ada yang berdiri. Pesawat paling kecil yang kutumpangi selama perjalanan adalam EMB, Embraer N145, buatan Brazil. Ukuran ruang kabin penumpang hanya muat kursi tiga, satu di kiri, gang di tengah, dan dua di kanan, memanjang ke belakang dari nomor 1 sampai nomor 22. Penumpang sebanyak 63 orang cukup dilayani satu pramugari dan dua awak kabin pilot dan pembantu pilot. Pesawat yang lain ada yang memuat sekitar 80 orang, 100 orang, 200 orang, dan yang terbesar yang pernah kunaiki adalah pesawat Jumbo Jet Boeing 747-400, tak kuhitung sendiri tetapi katanya bisa muat sampai empat ratus orang masuk ke dalamnya. Aku yakin semua warga RT-ku ditambah RT sebelah dapat sekaligus masuk ke dalamnya.

Bila naik motor baru kecepatan 60 km/jam saja sudah terasa ngebut, tapi pesawat penumpang dengan mesin jet tak bisa terbang kalau kecepatan kurang dari 300 km/jam. Dan setelah lepas landas masih tetap saja mempercepat laju kecepatannya, dan sesudah ketinggian 6-11 km dari permukaan laut akan stabil dengan kecepatan rata-rata 800-900 km/jam, sedikit di bawah kecepatan suara. Meski demikian kecuali suara mendengung mesin yang bekerja keras nyaris tak ada suara di kabin penumpang yang kedap suara ini, apalagi hembusan angin yang katanya bersuhu minus 50 derajat Celcius. Membayangkan tehnologi yang memungkinkan sedemikian banyak penumpang terbang di ruang sempit tertutup kabin pesawat ini merupakan tambahan kesukaran lagi.

Meski penerbangan pendek kurang dari 60 menit, tetap saja pramugari dengan sigap menawarkan dan membagikan paling tidak minuman kepada para penumpang. Waktu menunggu jadwal keberangkatan pesawat sering lebih lama dari waktu penerbangannya, membuat banyak penumpang sungguh kehausan dan segera saja menghabiskan minumannya. Memang tak banyak waktu untuk berlama-lama di pesawat. Lagipula bila sudah mendarat di kota tujuan, tak ada alasan untuk duduk lebih lama lagi di dalam pesawat. Untuk penerbangan dengan waktu yang lebih lama, disediakan snack dan bahkan makan besar dengan pilihan menu makanan dan minuman yang beragam. Dengan alasan untuk menghemat biaya, beberapa penerbangan di Amrik sudah menghapuskan acara snack dan makan. Bila memang menghendaki snack atau makanan, silahkan beli di bandara dan bawa sendiri ke kabin penumpang. Ada juga yang menawarkan paket snack aneka macam seharga 5 US$, heran, ada juga yang beli dan makan!

***

Tiket Kelas Bisnis

Tiket boarding yang sudah kudapatkan sejak di Lousville jelas menuliskan bahwa aku mendapat tiket kelas bisnis untuk penerbangan Hongkong-Singapura. Jadwalku seharusnya penerbangan pulang langsung dari Chicago ke Singapura, perubahan rute ini lebih menyita perhatianku daripada perubahan kelas penumpang yang kudapatkan. Karena itu sampai saat transit di bandara Hongkong aku tidak begitu memperhatikan hal ihwal tiket kelas bisnis yang kudapatkan ini.

Saat antri akan masuk pesawat baru aku sadar bahwa aku memegang tiket bukan dengan kelas ekonomi lagi seperti belasan penerbangan yang kulakukan sebulan ini, dan harap tahu saja bahwa antrian untuk penerbangan jarak jauh dengan pesawat jumbo jet memakan waktu jauh lebih lama bisa sampai satu jam sebelum keberangkatan karena memang tidak mudah untuk memasukkan empat ratus penumpang sekaligus dan memeriksa semuanya beres sebelum memberangkatkan mereka ke negara lain.

Dari barisan antrean saja sudah terlihat perbedaan tiket kelas bisnis dan kelas ekonomi! Sejak awal aku selalu masuk pesawat di urutan belakang, tak pernah mau berdiri lama di antrean. “Ngapain antri berlama-lama, wong yang masuk duluan atau belakangan sampai di tujuan di waktu yang bersamaan!”, begitu pikirku. Dan barisan kelas bisnis selalu lebih sedikit dari barisan kelas ekonomi yang mengularpanjang. Lebih dari itu barisan kelas bisnis selalu lebih lancar didahulukan dari kelas ekonomi. Sekarang setelah masuk ke barisan ini baru aku tahu sebabnya.

Prosedur standar saat akan masuk pesawat adalah pemeriksaan barang bawaan ke kabin penumpang. Ada deretan petugas yang siap memeriksa, penumpang tinggal menyerahkan tas kepada mereka dan mereka yang akan melaksanakan tugasnya. Aku takjub setengah tak percaya bahwa sekalipun aku membawa tas yang cukup besar, tapi langsung saja dipersilahkan masuk tanpa diperiksa! Padahal di barisan yang memegang tiket ekonomi, masih mengekor panjang barisan yang antre di pemeriksaan yang dilaksanakan di lorong pintu masuk pesawat ini.

Sesudah melewati petugas pemeriksa, lorong masuk pesawat bercabang dua. Lorong tertutup tidak memungkinkanku untuk memeriksa benar tidak aku menuju bagian kepala pesawat, terlebih lagi menuju bagian punuk di kepala pesawat Jumbo Jet Boeing 747/400 yang bila diperhatikan dari luar menampakkan jendela penumpang bertingkat dua itu. Tapi tak bisa lain, lorong yang kumasuki mengarah naik, bukan menurun. Betul! Aku betul-betul naik punuk jumbo jet!

***

Pemandangan yang terhampar di dalam kabin sungguh melegakan, kursi-kursi yang lumayan lebar, dengan jarak antar kursi yang memungkinkan antar penumpang bergerak tanpa saling bersentuhan. Begitu duduk langsung terasa perbedaannya, pramugari langsung datang dan mempersilahkan penumpang memilih aneka minuman tertuang di gelas kaca bukan plastik yang tersedia di mampan. Tak berapa lama kemudian ia datang lagi, menyerahkan menu makan dari beberapa pilihan menu yang tercetak di kertas yang indah, lebih kaget lagi, ia menyebut namaku sekalipun dengan pengucapan yang kurang pas, sambil melirik catatan di tangannya, lengkap dengan gelar jabatanku! Wuih, aku bukan lagi sekedar seorang penumpang dengan nomor seat sekian!

Sambil menikmati pilihan video yang dapat dinikmati secara pribadi di antara 28 judul film yang diputar selama penerbangan 3,5 jam ini, sambil membaca majalah Reader Digest yang disediakan, sambil masih tertakjub-takjub dengan pelayanan dan fasilitas yang sama sekali berbeda dan jauh lebih baik dari yang kudapatkan selama penerbangan ini, aku bertanya mimpi apa dikasih tiket kelas bisnis untuk rute ini padahal jelas bahwa itinerary elektronik yang kupegang bilang semua penerbangan yang kutempuh adalah dengan fasilitas kelas ekonomi.

Kalau itu pesanan khusus saat membeli tiket, seharusnya di itinerary juga sudah tertulis bahwa aku dapat tiket kelas bisnis. Maka tak bisa lain ini adalah bonus yang diberikan oleh perusahaan penerbangan United Airlines, karena sebulan ini dari 19 penerbangan yang kulakukan paling banyak memakai jasa penerbangan mereka. Lagipula rute ini adalah rute terakhir yang memakai jasa penerbangan mereka. Kalaupun tiket bisnis yang diberikan padaku ini adalah kesalahan administrasi, aku tak pernah akan menyesalinya!

***

Transit 9 jam di Changi Singapura

Perubahan rute sekalipun memberikan bonus tiket kelas bisnis padaku di penerbangan Hongkong-Singapura menyebabkan aku baru mendarat pk. 12.30 tengah malam atau dini hari di Singapura. Padahal penerbangan berikut dengan Singapura Airways baru pk. 10 pagi. Sejak hendak meninggalkan Amrik aku berpikir lihat saja nanti situasi di Singapura, apakah untuk transit akan menginap di hotel transit, ataukah tidur saja di pelataran bandara yang seingatku mempunyai banyak karpet tebal untuk membaringkan badan.

Aroma kopi dari kedai yang buka 24 jam di terminal kedatangan membujukku untuk duduk di kursinya, terlebih lagi bersebelahan dengannya ada kerdip-kerdip layar monitor dan keyboard dengan fasilitas akses internet gratis. Di bandara Hongkong juga disediakan fasilitas internet gratis, dengan komputer Apple Mac, sedangkan di Changi sistem operasi yang dipakai berbasis Windows XP, tak masalah karena sama-sama menyediakan akses internet supercepat. Entah berapa kali aku log-out dan kembali log-in lagi di komputer yang sama karena memang secara otomatis setiap lima belas menit akses internet akan berakhir. Hanya setelah itu rasa bosan dan sedikit rasa kantuk menyerang, masih pukul 3 dinihari, padahal penerbangan berikut pk. 10.00, boarding paling cepat pk. 9.00.

Kuputuskan untuk tidak usah booking ruang di hotel bandara karena waktu yang tersisa tinggal beberapa jam saja. Uang 50 dollar Singapura hanya untuk fasilitas ruang tidur sekalipun nanti bisa kumintakan ganti (reimburse) kurasa terlalu mewah. Berjalan-jalan sebentar di lorong-lorong bandara yang sunyi sepi memberiku banyak tempat pilihan untuk membaringkan badan. Akhirnya kuputuskan tidur dekat kolam air yang bergemericik, jalan di situ buntu, jadi bila aku bangun kesiangan akan tetap aman karena tidak akan dipakai untuk jalan. Ternyata harapanku untuk bangun siang tetap tidak terkabulkan, pukul enam pagi mata sudah terbuka dan tidak bisa diajak tidur lagi. Ayo bangun, cari sarapan! Tetapi terlebih dahulu aku ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi dan ganti baju dulu. Sekalipun tidak berkeringat tetap terasa lebih nyaman untuk ganti baju baru.

Yang kuingat untuk sarapan adalah nasi kuning pedas masakan India lengkap dengan kuah kare-nya: Nasi Biryuni. Akan tetapi pk. 6 pagi masih terlalu pagi untuk mendapatkan menu ini. Restoran yang buka 24 jam sehari tak ada yang menyajikan menu India ini, baik tunggu saja nanti agak siang. Jalan-jalan pagi sepanjang terminal ABCDEF bandara Changi sudah pasti cukup memenuhi standar olahraga santai pagi hari karena bila dijelajahi lorong-lorongnya lebih panjang dari 3 km. Tersedia toko mulai dari pakaian, makanan, minuman, restoran, sampai parfum, kerajinan dan aneka produk elektronik-digital yang mutakhir. Bila lelah jalan-jalan, duduk saja di mesin pijat kaki yang lagi-lagi disediakan gratis sebagai salah satu fasilitas bandara.

Dengan pertimbangan bila keluar bandara saat masuk lagi nanti aku harus bayar airport tax, kuurungkan niat untuk jalan-jalan keluar. Lagipula lagi-lagi masih terlalu pagi untuk mengambil paket tour yang ditawarkan dari bandara Changi ke tempat tertentu di Singapura. Akhirnya, lagi-lagi aku menginap di Singapura, tetapi hanya di bandaranya saja! Seorang kawan kirim sms, bila butuh penginapan ke wisma YMCA di Orchard Road saja. Bila lebih dari 12 jam, aku akan dengan senang hati pergi ke sana. Akan tetapi bila transit seperti ini, tour pribadi keliling airport sudah cukuplah. Semoga saja tidak ada yang memperhatikan dan berpikir, itu ada anak hilang berkeliaran di bandara!

Pk. 8 aku menuju terminal dua, lokasi pintu gerbang keberangkatan penerbanganku. Sementara mengurus boarding aku berharap nanti akan diberi kelas bisnis lagi, tetapi he he he aku ditempatkan di kelas ekonomi yang memang adalah hak-ku sepenuhnya. Ditawarkan untuk mengambil penerbangan yang lebih awal, akan tetapi kutolak karena di Jakarta nanti aku juga masih harus menanti penerbangan pk. 4 sore. Perasaanku mengatakan lebih nyaman menanti di Singapura daripada di bandara Sukarno Hatta. Maka aku pergi mencari makan. Bertemu restoran India yang menyediakan nasi biryuni, akan tetapi ini adalah restoran vegetarian, tak apalah, dan memang benar, bagaimanapun nasi dan rasa pedas selalu berhasil menggugah seleraku. Penerbangan Singapura ke Jakarta hanya memakan waktu 1 1/2 jam saja, aku tak yakin menu yang di berikan di pesawat cukup besar untuk memenuhi kebutuhan perutku. Untung sekalipun sedikit, porsi sarapan saja, menu India ini cukup untuk mengganjal perut sampai saat makan berikutnya.

Akhirnya, bye bye Singapura! Dari jendela pesawat saat beranjak akan berangkat lamat-lamat kudapat kabut asap. Berbeda dengan mendung, asap tak kenal ketinggian, sudah menyelimuti sejak permukaan tanah. Semua itu dituduhkan ke wilayah Indonesia sebagai biang keladinya. Akan tetapi kemana hasil penjualan kayu dan perkebunan baru yang didapat dari pembukaan lahan hutan Sumatra-Kalimantan? Apakah Singapura tidak ikut menikmatinya juga? Wallahualam bissawab, aku hanya bertanya bukan aku yang harus menjawab.

Terbang Ke Luar Negeri Lagi

Purwantoro, 30 Oktober 2006

Kawan-kawan, selama bulan Ramadhan lalu aku berkesempatan ke Amrik, sempat nelpon Kang Djodi di Arizona, waktu mau nelpon Kang Abel di NY dan Kang Joe Ragan, eh kartu teleponku habis. Berikut beberapa catatan perjalanan, ditulis dengan gaya kampungan, karena memang sudah berbelas tahun tinggal di kampung. Beberapa tulisan lain nanti akan menyusul.

 

Terbang Ke Luar Negeri Lagi

Aku masih di Solo, dan lewat telepon istri di rumah Purwantoro mengabarkan bahwa ada yang mencari, saat diberitahu bahwa aku sedang dalam perjalanan ke USA teman yang mencariku berkomentar, “Hah, ke Luar Negeri lagi. Enak ya, jalan-jalan terus!” Wah, keliru besar tuh kawan yang satu ini, aku tidak jalan-jalan, kemana-mana aku pasti naik mobil bahkan naik pesawat terbang.

***

Penerbangan

Dua bulan sebelum keberangkatan tiket pesawat sudah kupegang. Untuk penerbangan lokal Solo-Jakarta dengan tiket cetakan, pakai Garuda Indonesia Airways, tetapi perusahaan yang mengeluarkan tiket adalah dari dari biro jasa Travel Authority, dengan penerbangan utama memakai United Airlines. Travel Authority pula yang memberikan tiket elektronik padaku untuk penerbangan dari Jakarta-Seoul dengan Korean Air (KA 628), baru dari Incheon ke Narita memakai pesawat United Airlines (UA 884), berlanjut kemudian ke O’Hare Chicago dan ganti pesawat lagi ke Lousville Kentucky. Dari Solo sampai Louville total penerbangan 37 jam, semuanya di kelas ekonomi yang untuk meluruskan kaki saja susah.

Bulan September 2006 ini semua penerbangan di USA sudah memakai sistem tiket elektronik. Kepada setiap penumpang yang sudah memesan tiket hanya diberikan nomor kode perjalanannya. Aku sudah mencetak jadwal perjalanan yang dikirimkan padaku oleh pengundang. Lewat internet sudah aku chek bahwa semuanya beres, kudapat namaku di daftar penumpang yang pasti berangkat, berikut nomor penerbangan, waktu dan tempat keberangkatan. Bahkan di situs penerbangan itu ada beberapa penerbangan yang sampai menawarkan nomor tempat duduk yang dikehendaki di pesawat, apakah dekat jendela ataukah dekat gang, dekat toilet ataukah di baris paling belakang. Hal yang tak kalah penting adalah keterangan nomor pintu gerbang keberangkatan yang di beberapa bandara besar bisa sangat menyusahkan bila waktu antar penerbangan sangat sempit karena bisa jadi pintu gerbang kedatangan pesawat dan keberangkatan jauh letaknya, bukan hanya berbeda nomor, tetapi juga berbeda terminal.

***

Sewaktu di Australia aku juga pernah memesan tiket pesawat secara elektronik. Sama sekali tak ada tiket yang kupegang, cukup dengan membawa identitas (ID Card, untuk orang asing dengan menunjukkan passport dan visa yang masih berlaku)  dan datang ke kounter penerbangan saat boarding-time, dan sesaat kemudian diberikan boarding-ticket, bagasi bisa ditimbang dan diserahkan, dan penumpang bisa masuk kawasan sekuriti lewat pemeriksaan ketat metal-detector dan x-ray untuk barang tentengan yang dibawa ke kabin pesawat.

Semua dokumen pribadi yang diperlukan sampai urusan imigrasi di negri kedatangan sudah kusiapkan. Dengan keyakinan semua akan beres aku mendaftar ke kounter Korean Air di Bandara Sukarno Hatta. Sapaan “anyong haseyo” yang kusiapkan tak jadi kuucapkan karena kudapat wajah berseri sepertiku berjaga di sana. Tapi aduh alamak, ternyata lama sekali ia memastikan bahwa aku memang penumpang yang berhak mendapat karcis boarding.

Petugas itu tak berhasil menemukan namaku lewat komputer online yang ada di depannya, tetapi tak hendak bersedia juga memberitahukanku apa adanya. Sesudah menyerah, baru ia memberitahuku.  Jadilah aku yang menunjukkan website dan password nomor kode perjalananku. Hanya satu kode perjalanan yang kupegang untuk 18 kali ganti pesawat dalam perjalanan satu bulan sampai 28 Oktober 2006 mendatang karena semuanya memang diurus oleh satu biro perjalanan sekaligus, tak boleh dirubah lagi, tinggal dijalani. Belum cukup kesulitan dengan konfirmasi boarding-tiket, tambah malang lagi, petugas bloon ini tidak dapat  menjawab apakah  satu tas yang kutitipkan di bagasi harus kuambil di bandara Chicago ataukah Lousville. Sabar, sabar, meskipun sudah berlatih sabar sekian lama ternyata sekolah kesabaranku belum dianggap cukup.  Akhirnya, “Selamat jalan”, ia ucapkan, tetap dengan senyum lebar.

****

Terminal Keberangkatan Internasional

Sekalipun masih di bandara Sukarno Hatta, di negeri sendiri, perasaan terisolasi dan terasing begitu mengungkung. Tak ada banyak wajah Indonesia berlalu lalang, bila ada, kebanyakan dengan seragam yang membuatnya jadi berjarak. Ini masih di Jakarta, bagaimana sebulan nanti di luar sana?

Bangku-bangku ruang tunggu sudah dipenuhi dengan penumpang Korean Air, kebanyakan pria dan dewasa, businesman mestinya, sedikit wanita, lebih sedikit lagi keluarga, mungkin karena bukan musim liburan. Masih satu jam sebelum waktu keberangkatan, dan aku mencari tempat duduk untuk makan malam. Kudapat rangkaian empat kursi berjajar dengan hanya satu orang, asyik mendaraskan bacaan Qoran yang terbuka di hadapannya. Aha, aku mau duduk di sampingnya!

Makan

Saat diantar ke bandara Adi Sumarmo Solo, kakak bawakan beberapa roti berukuran cukup besar dan botol minuman, “Ini untuk makan di pesawat”. Cukup banyak urusan sebelum keberangkatan membuatku tidak berpikir tentang makanan. Dan dengan pemikiran bahwa penerbangan internasional, dengan waktu terbang lebih dari tiga jam pasti menyediakan makanan gratis untuk penumpang membuatku hanya mengambil dua buah roti saja: roti pisang dan roti kacang. Meski membawa bekal uang yang cukup, aku selalu merasa makanan yang disajikan di  rumah makan Bandara selalu tak memenuhi selera, apalagi bila dibandingkan dengan harganya. Maka duduklah aku disamping pria kurus berkacamata berambut gondrong keriting ini. Ia terlalu berkonsentrasi dengan bacaannya sehingga salam lewat senyum dan anggukanku saat akan duduk terlewat begitu saja.

Kubuka roti pisang dan kumulai makan malamku.  Sambil membayangkan nanti setiap hari akan jauh dari nasi, sayur lodeh dengan sambal tomat ataupun tempe goreng. Tapi tak perlulah sentimen seperti ini, sudah terbukti perutku dapat beradaptasi dengan segala macam makanan, lagipula tubuhku menyimpan cukup cadangan makanan sekalipun aku kurang makan berhari-hari akan tetap dapat tahan. Selesai makan, ternyata pria di sebelahku juga sudah mengakhiri pendarasan bacaannya. Dia menoleh padaku dan mulailah percakapan.

Kawan Baru

            Di tengah kerumunan muka-muka asing, mendapatkan kawan yang dapat diajak bicara sebahasa adalah berkat tersendiri. Namanya Mulyatno, dosen komunikasi di Sekolah Tinggi Pembangunan Desa Yogyakarta. Ah, tetangga dekat ternyata, tiga bulan sesudah gempa Yogya 27 Mei 2006 aku lebih sering menginap di rumah teman berjarak hanya beberapa gang saja dari sekolah itu.  Juga lima tahun sekolah di Yogya membuatku merasa Yogya sebagai bagian kampung halamanku juga. Ia pergi ke Korea Selatan, mendapat undangan dari Unesco, untuk menjadi salah satu pembicara seminar tentang perlunya membangun komunikasi dalam pembangunan kawasan pedesaan. Ternyata dengan berbekal menulis saja dapat gratis pergi ke luar negeri.

Ketika tahu aku pendeta, bahkan tambah seru lagi perbincangan antara kami berdua. Dikatakan bahwa saat SMA dulu ia sekolah di SMA Kristen, bahkan menjadi pengurus OSIS, dan pendeta yang mengajar di sekolah itu sudah dianggapnya orangtua kandung, dan olehnya ia didorong untuk masuk aktif di organisasi, ia pilih HMI, dan sekarang jadi dosen. Ia bahkan seperti diingatkan belum menelpon orangtua “angkat”nya bahwa ia akan ke luar negeri. Jadilah saat itu juga ia menelpon mereka, mohon pamit. Bertukar kartu nama dan janji akan kontak lagi baik lewat e-mail maupun ketemu darat tak kurasa sebagai basa-basi saja. Kalau pulang nanti ia akan kuhubungi sehingga dapat mengembangkan hubungan lebih lanjut lagi. JERAMI, Jejaring Rakyat Mandiri nama organisasi petani di timur Wonogiri dimana aku ikut mendukungnya tentu akan dapat banyak manfaat dengan menjalin jejaring dengan orang dan lembaga seperti yang dimiliki oleh teman baruku ini. Selamat bertugas kawan! Selamat menikmati kimchi di Korea!

****

Aku duduk di baris kiri dekat jendela, teman sebelahku kusangka Korea, ternyata orang Jepang. Ia hanya transit saja di Seoul, dari sana melanjutkan perjalanan lagi ke Narita. Ia masih muda, ternyata masih mahasiswa, jurusan pertanian, baru saja menyelesaikan praktek lapangan 2 bulan di sekitar Makasar untuk mempelajari pola tanam padi di sana. Aku agak heran juga bagaimana ia bisa melakukannya karena bahasa Inggrisnya amat sangat minim, apalagi bahasa Indonesia, minta ampun, agaknya kemampuan bahasa memang tidak diperlukan untuk bisa belajar ataupun survive hidup dalam banyak hal. Yang lebih penting dari itu mungkin uang. Asal bisa bayar semua pelayanan akan datang. Lho, apakah memang begitu? Hal itu tak berlaku untukku ternyata, tak mungkin orang Amrik mengundangku kalau mereka tak yakin bahwa aku bisa bicara dan komunikasi dengan mereka, mereka mengirimi tiket dan segala keperluan pengurusan visa dan menanggung semua kebutuhan perjalanan karena aku diundang untuk bertemu dan bicara dengan mereka, bahkan disediakan uang saku juga.

 

***

Incheon dan Narita

Ada waktu tiga setengah jam di bandara Seoul sebelum melanjutkan perjalanan ke Narita. Sekalipun di layar informasi jelas berkedip-kedip nomor penerbangan dan nomor pintu gerbang keberangkatan, tetap saja aku merasa perlu mencari loket informasi supaya tidak perlu berkeliaran mencarinya. Ada wanita berseragam, dan ketika kutunjukkan tiket pesawatku langsung saja melingkari satu nomor di denah bandara Incheon yang disediakan. Ternyata aku harus ganti naik satu tingkat dan dari sana baru kutemukan nomor pintu gerbang keberangkatan yang kucari. Menyusuri lorong-lorong panjang bandara tanpa berbekal denah sering menyesatkan, terlalu panjang selasar yang menanti, terlalu asing pemandangan kiri kanan, lebih aman tanya ke bagian informasi, sesudah tahu dengan menghitung waktu barulah boleh jalan-jalan untuk melemaskan kaki yang selalu tertekuk dan badan yang selalu dalam posisi duduk selama berjam-jam penerbangan. Kalaupun malas jalan-jalan karena masih terlalu pagi dan toko-toko di bandara belum juga buka (kalaupun buka ternyata yang dipajang dan dijual lebih banyak cindera mata untuk konsumsi turis saja, tak ada yang istimewa dan baru lagi ternyata) dapat juga membaringkan diri, entah di kursi, entah di lantai yang selalu tertutup dengan karpet tebal empuk untuk duduk ataupun membaringkan diri.

Di jaman serba kartu kredit dan mesin otomatis seperti ini, cilaka juga awak tak punya sekepingpun kartu untuk bertransaksi. Tetapi apa pula yang ingin kubeli di sini? Tak ada koin won maupun yen, tak masalah untuk minum karena tetap tersedia kran air minum gratis di sepanjang lorong bandara. Bila ingin makan baru ada masalah sekalipun hanya masalah kecil saja, tunggu saja layanan makan kalau sudah masuk di pesawat nanti.

Ada dua macam hidangan ditawarkan di penerbangan ke Seoul dan Narita, tiap penumpang boleh pilih salah satu di antaranya. Roti tawar bundar kecil ditawarkan boleh ambil berapapun banyaknya, melengkapi salad, nasi, lauk ikan, semacam tumis buncis wortel dan sawi dengan seekor udang, cake atau kue manis, permen dan  buah yang sudah dikupas. Minuman dapat memilih antara aneka minuman soda, hangat, juice, dan tak ketinggalan sebagai penutup bila menghendaki anggur putih ataupun anggur merah. Beraneka ragam makanan kompak tersaji di baki kecil, dengan penataan yang menarik. Melihat menu seperti ini, pantas ada yang memilih jasa penerbangan tertentu karena suka kepada menu makanan yang disajikan.

***

Langit biru dan awan kelabu

Bagaimana aku melukiskan suasana di balik jendela pesawat dan di bilik sempit kabin penumpang yang terisi penuh semua kursinya? Perjalanan panjang dengan pesawat selalu membuat diri sebegitu kecil, langit biru dan awan kelabu. Sedikit cerah saat malam pekat memperlihatkan bintang-bintang berkelip, sangat berbeda dari ketinggian saat mengudara 8-9 km dari permukaan laut dibandingkan dengan saat memandang dari permukaan daratan. Sedikit perubahan cuaca sudah membuat pilot mengumumkan peringatan kepada ratusan penumpang pesawat Boeing Jumbo Jet 747 yang dibawanya agar mengenakan kencang ikat pinggang. Sensasi getaran apalagi guncangan mendekatkan makna hidup menghadapi kuasa alam yang tak dapat dilawan bahkan sebaiknya selalu dijadikan kawan. Tehnologi tak dapat berpongah dan beribu aturan keselamatan penerbangan sudah seharusnya membuat manusia berendah diri selalu.            Langit biru dan awan kelabu, kerlip bintang di pekat malam. Terang temaram kabin penumpang selalu membawa lamunan terbang ke rumah, keluarga, dan kampung halaman yang ditinggalkan.

***

Imigrasi USA

Dari sekian banyak penumpang di pesawat yang kutumpangi dari Narita ke Chicago, ternyata hanya dua orang saja yang baru pertama kali ini menjejakkan kaki di bumi USA. Dengan jelas di antrean imigrasi ada jalur-jalur yang menunjukkan: untuk warga negara USA, untuk yang sudah pernah berkunjung ke sana, dan untuk yang baru pertama kali datang. Aku agak kasihan dengan seorang ibu tua berwajah dan berpakaian sari India, untuk mengisi satu lembar bolak-balik formulirpun ia kesulitan, mungkin masih jetlag, tapi dari beberapa percakapan yang kudengar, ia selalu menjawab dengan bahasa yang aku tak tahu.

Bahkan di negeri Bill Gates ini  sekalipun komputer imigrasi yang digunakan aku yakin merupakan produk terbaru, layar LCD tipis yang ada di meja menunjukkan hal itu,  namun ternyata mesin scan yang ada di sana tak bisa mengenali passport dan visa yang tidak kusangsikan keasliannya karena kuperoleh dengan susah payah antri menghabiskan waktu beberapa hari baik di kantor imigrasi Solo yang mengeluarkan passport, maupun di Konsulat Amrik Surabaya yang mengeluarkan visa. Jadilah petugas yang kuhadapi tetap saja mencoba-coba dan tetap tak bisa juga, memanggil beberapa teman, disela beberapa pekerjaan lain yang datang kemudian, si Ibu berwajah India sudah diajak ke ruang lain, entah kemana. Akhirnya setelah 50 menit dibiarkan begitu saja, aku dipanggil, ditanya alamat yang dituju, kegiatan apa yang dilakukan, akan pergi kemana saja, dan ternyata surat rekomendasi dari pengundang adalah mutlak. Sidik jari telunjuk kanan dan kiriku diambil, lagi-lagi dengan mesin scanner khusus untuk sidik jari, dan kemudian fotoku diambil lewat kamera digital yang standby di tripod mejanya. Beres sudah. Welcome to United States of America! Have a nice day!

Tetapi aku belum tahu nasib bagasiku yang cuma sepotong itu, yang kata petugas di Jakarta dan juga catatan tiket yang kupegang harus kuambil di Chicago. Lagipula sesudah semua tetek bengek imigrasi waktu yang tersisa untuk mengejar penerbangan selanjutnya ke Lousville KY tinggal 20 menit lagi. Bagaimana bisa?

Tertinggal Pesawat

            Pergi ke tempat pengambilan bagasi, ada beberapa kopor tertinggal kucari jelas tak ada bagasiku di sana. Kutunjukkan tiketku ke petugas yang berjaga dan ia bilang bagasiku sudah dikirim ke Lousville. Setengah tak percaya akan tetapi tak bisa membantahnya karena karcis yang kupegang mengharuskanku mengambil bagasi di Chicago iya sudahlah, waktu memburu, aku lari, di pintu gerbang dan terminal mana pesawatku untuk penerbangan selanjutnya?

Aku tahu tiap terminal pasti ada denah peta airport dan juga kerlip-kerlip monitor TV yang setiap kali memperbaharui informasi penerbangan satu-dua-tiga jam ke depan di bandara itu. Tetapi aku tak ada waktu untuk mempelajarinya sendiri. Lagipula  budaya kampung yang kubawa cenderung membawaku menyapa dan bertanya kepada orang bukan kepada papan berita. Ternyata yang bertugas di bagian informasi adalah seorang sukarelawan, nenek yang untuk membaca tiket saja harus dengan kaca pembesar. Meski sukarelawan akan tetapi ternyata ia tahu benar tugasnya. Sesudah menelpon sebentar, ia bilang, “Kamu terlambat, pintu keberangkatan pesawat ini di G10, terminal tiga. Sekarang kita di terminal kedatangan internasional, jadi kamu keluar, naik kereta airport, turun di terminal tiga. Tetapi waktumu tak akan cukup untuk sampai ke sana”. Terima kasih banyak Nenek!

Petugas imigrasi tadi bilang dengan enteng, tak masalah aku tertinggal pesawat, pakai saja penerbangan berikutnya. Meski demikian sepanjang lorong aku tetap saja jalan secepat yang aku bisa, meski tahu bahwa tak mungkin pesawat menungguku. Tapi dua tahun lalu di Bandara Bangkok aku juga mengalami hal serupa, ternyata sekalipun terlambat 30 menit ada petugas yang khusus menungguku dan langsung mengantarkanku melewati antrean panjang penumpang domestik, dan membawaku ke pesawat yang akan melanjutkan perjalanan ke Chiang Mai. Itu enaknya memakai jasa penerbangan yang sama. Antara berharap bahwa pesawat akan menungguku dan juga kesadaran bahwa aku sudah tertinggal pesawat, 10 menit sesudah jadwal keberangkatan aku sampai ke gerbang pemberangkatan pesawat. Di monitor nomor penerbanganku sudah tak ada. Jadilah, aku tertinggal pesawat.

Petugas yang baik

Mungkin petugas itu sudah melihat nafasku yang memburu saat datang ke kounternya. Mungkin juga karena aku datang dengan permohonan minta tolong, sekaligus keterangan bahwa itu adalah hari pertama aku menjejakkan kaki di negeri mereka, mungkin juga ia iba karena aku menunggu sekian lama untuk urusan imigrasi. Akan tetapi yang jelas, ia petugas yang baik. Segera setelah kuutarakan permasalahanku, sebentar saja ia mengetik di keyboard komputer di depannya dan segera tercetak tiket baru untuk penerbangan berikutnya. Aku harus menunggu 2 jam lagi padahal dari Chicago ke Lousville hanya 40 menit lama penerbangannya. Tapi apa mau dikata?

Di kantongku sudah ada uang dolar yang sejak dari Jakarta tak pernah digunakan. Aku sudah berpikir menukarkannya dengan uang koin untuk menelepon penjemputku bahwa penerbanganku terlambat dari jadwal yang seharusnya. Wah, belajar menelpon di Amrik dalam keadaan terdesak! Baliklah lagi aku petugas yang melayaniku tadi, bilang bahwa aku tak punya telepon, dan bermaksud memberitahu penjemputku bahwa aku ganti penerbangan dan terlambat dari jadwal. Eh, ternyata langsung saja ia mengeluarkan ponsel dan kemudian menelpon ke alamat yang kuberikan. “Do you want to speak to him by yourself?” Oh, no thanks, dan dari percakapan singkat yang kudengar semakin aku terkesan, betapa profesional ia menyampaikan berita keterlambatan penerbanganku kepada penjemputku yang bila tidak kuberitahu aduh alangkah suntuknya ia! Cukuplah sudah kesulitan hari ini, sekarang aku hanya ingin minum dan beristirahat menunggu waktu keberangkatan pesawat.

Tetapi ternyata orientasi perjalanan dengan pesawat dan pengenalan bandara di hari pertama aku datang di Chicago belumlah cukup. Aku masih harus pindah dari terminal domestik 3 ke terminal domestik 2. Bila tadi naik kereta bandara, sekarang turun ke landasan dan menunggu sebentar datanglah bus yang menjemput. Hanya ada tiga orang bersamaku di bus itu. Kunikmati sekarang berkendara di tepian landasan pesawat yang berlalu-lalang dengan mesin mereka yang terus bergemuruh menghabiskan minyak ribuan liter setiap mengangkasa.

***

Selamat Datang

Sudah terlanjur lelah dan kesal, aku tak berusaha mencari makan sembari menunggu. Dua jam berlalu, dan sampailah aku di penerbangan ke tempatku berkegiatan selama tiga hari mendatang. Kali ini penerbangan domestik, sudah kuperoleh ijin masuk negeri ini, tak ada lagi urusan imigrasi dan segala macam kesulitannya. Di gerbang penjemputan ada wajah yang photonya sangat kukenal selama tiga bulan ini menjemputku. Aku melihatnya terlebih dahulu, memegang selembar kertas bertuliskan namaku. “Welcome to United states”, sambutnya sambil memelukku.

Selama tiga puluh hari mendatang aku akan pergi ke lima tempat yang berbeda, dan masing-masing dengan connecting flight yang mengharuskan aku pasti ganti pesawat setiap kali pergi, sendiri, sebagaimana kualami dalam keberangkatan ini. Orientasi tentang tata cara penerbangan lengkap dengan simulasi bilamana ada keterlambatan dan penundaan jadwal terbang benar-benar terjadi sudah kualami di saat kedatangan ini. Aku tak mau sujud ke tanah mengucap syukur, aku hanya sebulan berkunjung di sini, ini bukan tanah airku.