Transformasi Kedukaan

RS Cikini, Jakarta, 7 November 2013

Ada TV kabel di ruang isolasi, salah satu film yang kutonton dari HBO berjudul “Mary and Martha”. Mary berasal dari keluarga kelas atas di NY USA, sedangkan Martha keluarga biasa dari UK. Kesamaan keduanya, putra mereka sama-sama meninggal di Afrika, oleh karena malaria.
Mary membawa anaknya George yang baru berusia 10 tahun untuk tinggal dan belajar pengalaman hidup di negeri Afrika. Di satu pelosok benua itu ia bertemu dengan Dolp,  pemuda sukarelawan yang bersemangat  mengajar anak-anak di satu panti asuhan, anak dari Mary.
Musibah terjadi, George digigit nyamuk malaria. Fasilitas medis tak memadai dan sudah terlambat untuk menolongnya. Ternyata putra Martha kemudian juga mengalami hal serupa. Jadilah dua orang dari negara maju dan kaya itu juga menjadi korban, meninggal bersama statistik setengah juta anak Afrika yang mati tiap tahun karena wabah malaria. Korban meninggal karena malaria pertahun di antara anak-anak Afrika dua kali lebih besar daripada korban tentara AS yang mati sepanjang perang Korea,  Vietnam, Irak dan Afganistan.

***
Martha dengan kesedihannya pergi ke Afrika ke panti asuhan tempat mendiang anaknya menjadi relawan mengajar, bertemu dengan Mary yang juga tak habis menyesali mengapa anaknya meninggal. Martha usai melihat pekerjaan anaknya menjadi bersemangat untuk menjadi relawan juga, sementara itu wabah malaria terus membuat anak-anak menderita sakit dan meninggal.
Maka bila adegan-adegan awal banyak mengekpos eksotisme negeri Afrika, keelokan padang sabana dan hewan-hewan besar yang berlarian di atasnya; Adegan selanjutnya adalah betapa wabah kematian karena malaria mengganas dan menyebarkan duka. Mary dan Martha sekarang menghadapi kenyataan duka yang ada. There must be more to life than this! Malaria bukan wabah yang tak bisa dilawan!
Singkat cerita, Mary pulang dan memperjuangkan ke pemerintahnya agar program perang melawan malaria dijalankan sebagaimana mestinya. Sementara Martha mengerjakan tugas relawan dengan kenangan akan anaknya. Dengan banyak halangan dan ketidakpedulian, akhirnya dengar pendapat di Senat memutuskan untuk mendukung program perang melawan malaria.

***
Aku senang nonton film ini, indah, manusiawi, mengubah dari kedukaan bahkan menjadi ethos juang kemanusiaan yang universal.
Delapan bulan sebagai pasien gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu dua kali yang kujalani selama ini juga layak kusebut sebagai pengalaman kedukaan. Bukan hanya untukku pribadi, tetapi juga keluarga, jemaat, dan komunitas terkasih yang mengitariku selama ini.
Sekarang aku dalam masa pemulihan usai transplantasi ginjal. Enam hari kujalani tanpa hemodialisis dan kreatinku pagi ini turun lagi ke angka 1,4. Beberapa hari lagi semua jarum dan selang yang menempeliku dilepas. Serasa jadi manusia baru, bebas dan lepas.
Sekarang dengan apa hendak kunyatakan syukurku? Bila dalam kisah Mary dan Martha di atas mereka menemukan jalan panggilan yang baru dengan menggerakkan program melawan malaria di seluruh dunia, misi apa yang menantiku seusai ini?

***
Aku sadar dan bersabar, masih harus menjalani masa isolasi dan beberapa keterbatasan sebagai orang yang menerima transplantasi ginjal. Apapun itu, sekarang aku ingin mengajak merayakan hidup baru dengan ginjal baru yang sudah bebas cuci darah dua kali seminggu.

Salam
Pemulung Cerita

Pasca Operasi Transplantasi

RS Cikini Jakarta, Rabu 6 November 2013

Malam keempat usai operasi transplantasi kulalui. Kemarin malam aku tidur agak awal. Dan pagi ini pukul 5 aku terbangun dengan perasaan segar. Semalam sudah bisa BAB dan kentut memberi kelegaan besar bagi perut. Juga harapan bahwa hari ini kateter urin dan pendarahan akan dilepas membuatku lebih bersemangat.
Ternyata benar, kunjungan dokter yang pertama pagi ini adalah untuk melepas kateter urinku. Sebentar saja dilakukan sudah selesai, aku nyaris tak percaya mengingat selama ini kateter itu membuatku sakit sedemikian saat kencing. Bagaimanapun juga ia telah berjasa, mengukur urin yang keluar, hari pertama pasca operasi 5,1 liter, hari kedua 2,9, lalu 3,2 liter, dan kemarin 2,8 liter.

***
Lebih dari sekedar berapa banyak urin yang keluar, keberhasilan operasi transplantasi ginjal dilihat dari penurunan angka kreatin dan ureum dalam darah. Angka normal kreatin di bawah 1 dan ureum di bawah 40. Hari Jumat sebelum operasi aku sudah cuci darah, tapi pemeriksaan darah hari Sabtu angka sudah 7,9 dan 115.
Keluar dari ruang operasi darahku diperiksa tiap dua jam, hari kedua tiap 4 jam, sekarang tiap 6 jam. Syukur alhamdullillah, ginjal adik yang didonorkan padaku bekerja baik. Kemarin malam sudah sampai angka kreatin 1,5 dan ureum 50.
Lebih gembira lagi tak ada pendarahan, atau hanya minimal saja. Tiap hari dokter David yang membedahku memeriksa dan mengatakan baik. Juga dokter Egi yang memeriksa dengan mesin USG. Diperlihatkan padaku gambar ginjal baru, saat darah masuk dan keluar, juga suara dari sambungan pembuluh darah ginjal yang baru. “Sejauh ini semua baik Pak, terus berdoa ya”.

***
Jangan tanya aku dapat mimpi apa selama dibius. Sama sekali tak kutemui kilat cahaya, atau wajah ramah kakek  putih berjanggut seperti dalam banyak cerita. Sejak masuk kamar operasi hari Sabtu 2 Nov pukul 10 pagi sampai keluar sore hari pk 17.00 dengan didorong hampir tak ada yang kuingat kecuali suasana ruang operasi yang senyap, dan satu-persatu perawat dan dokter yang bertugas memperkenalkan diri di balik masker mereka. Saat siuman, tak ada rasa sakit yang sangat sebagaimana kubayangkan sebelumnya. Padahal kata dokter bedah bagian yang dijahit di sisi kanan perutku sepanjang 25-30 cm besarnya.
Masih dalam pengaruh bius, kukenali satu-satu yang setia menungguiku selama operasi. Istriku, saudara-saudaraku, teman, semua terlihat girang. Mulutku terasa sangat kering, tentu saja karena sejak Jumat malam aku puasa. Lebih dari itu rasa pahit obat naik ke mulut,  dan serasa ada yang mengganjal di langit-langit mulut, katanya itu bekas respirator yang membantuku bernafas. “Nanti akan hilang Pak”, akan tetapi aku tetap tak diijinkan minum sampai dokter anestesi memperbolehkan. Malam yang berat dan panjang usai operasi. Toh akhirnya pagi datang menjelang.

***
Hari kedua aku bisa mendapatkan handphoneku, “Dilap dulu dengan alkhohol ya!” Demikian pesan dokter. Aku memang masuk ruang isolasi, bahkan jauh lebih ketat dari ICU karena satu ruang hanya kupakai sendiri, dan selain perawat jaga atau dokter yang harus memakai baju steril yang disediakan di sana tak ada lagi yang boleh masuk.
Alas kaki atau sepatu dari luar juga harus dilepas. Beberapa sendal plastik “Lily” berderet di dekat pintu kamar untuk dokter-dokter yang menjengukku. Hari pertama dan kedua aku nyaris tak ditinggalkan perawat, ada saja suntikan dan monitor macam-macam yang diperiksa padaku.
Yang kutahu, EKG untuk rekam jantung dilakukan dua kali sehari, ada enam panel yang ditempel kayak bekam di dadaku, lalu dua di pergelangan kaki, dan dua di pergelangan tangan. Dr Dasnan yang ahli jantung tiap kali memeriksa hasil rekaman dan mendengar detak jantung secara langsung dari stetoskopnya. “Bagus Pak”, singkat saja komentarnya.
Ternyata tiap dokter punya kewenangan yang berbeda. Mereka hanya memeriksa sebatas kewenangannya saja. Bahkan Dr David yang disebut komandan oleh kawan-kawan tim dokter lain saat kutanya kapan kateter urin dilepas juga menjawab, “Nanti tanyakan ke dokter PD (penyakit dalam) ya. Sekarang masih diukur akurasinya.”

***
Dua hari ini aku diberi obat penurun tensi. Sekalipun wajar bahwa pasien pasca ooperasi transplantasi tensi naik, tapi dokter kuatir bila aku pusing dan mual karenanya. Tadi pagi amlodipine dosisnya jadi dua kali lipat kemarin, 10 mg/hari. Dan pesan: Tidur yang banyak dan lelap Pak, itu cara paling efektif menurunkan tensi.
Aku sangat bergembira tadi sudah berdiri dan jalan sendiri ke toilet. Jauh lebih nyaman daripada melakukannya dengan pispot di bed. Tapi sekarang aku harus berusaha tidur yang banyak lagi, handphone kusilent lagi. Kukirim cerita ini.

***
Sekali lagi, terimakasih untuk semua dukungan dan doa. Puji Tuhan, operasi lancar, cepat pulih, dijalani dengan senang,

Salam
Pemulung Cerita

Menjelang Operasi Transplantasi Hari Ini

RS Cikini Jakarta, 2 Nov 2013

Tak ada sarapan untukku pagi hari ini
Sebagai ganti, sejak malam bahkan diminta puasa
Setengah empat pagi sudah “maaf-maaf ya” membangunkan untuk mengukur suhu dan tensi, 36,7 dan 130/80, bagus!
Sambil sekali lagi mengulang agenda hari ini, entah ke berapa kali sudah diulangi, tapi oleh petugas yang berbeda setiap kali

Ya, aku siap, terserah mau diapain
Tak akan aku lari
Paling aku akan bernyanyi, “Mamae!”
Seruan bila merasa sakit, diajarkan kawan Papua buatku

Tadi sudah mandi sendiri, masih mandiri,  pakai dettol banyak-banyak lagi.
Kemudian tak lagi mandiri, perawat yang menggosoki, pakai dettol lagi, bahkan kompres betadine di bagian pinggang dan perut
Tangan diinfus
Perawat berjaga
Padahal sudah pasti, aku tak ada niat untuk lari atau bersembunyi

Tinggal beberapa menit lagi
Aku dibawa ke ruang operasi
Bertemu para perawat dan dokter yang selama ini sudah setiap kali datang dan memperkenalkan diri
Tapi nanti mereka akan pakai masker N95, tutup rambut dan kepala, kayak ninja hanya kelihatan matanya, mana bisa aku mengenali mereka

Beberapa sms masih masuk, berisi doa, penguatan, harapan. Aku malah menuliskan ini semua. Jangan-jangan yang lebih cemas malah mereka?

Dengan beribu doa hari ini aku berada. Jemaat yang serentak mengadakan hari doa dan puasa. Para sahabat yang rela. Keluarga yang menunggu dan berjaga. Para tercinta yang tiada habisnya.

Tuhan, hiburlah mereka.
Ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku, ya Tuhan Penyelamatku
Engkaulah Mahabesar, ya Tuhan yang benar
Ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku, ya Tuhan Penyelamatku.

Aku pamit, 30 menit lagi handphone tak kupegang. Sore nanti bila sudah sadar dan bisa nulis lagi, kusapa lagi kalian. Terimakasih untuk semua doa, dukungan, perhatian dan harapan baik yang telah dinyatakan.

Salam
Pemulung Cerita

Aku Sudah Menandatangani Lembar Persetujuan Operasi

RS Cikini Jakarta, 1 November 2013

Hari Jumat 1 November 2013 di Cikini, sehari sebelum jadwal operasi. Tadi di ruang hemodialisis aku tidur, tapi ternyata AC kurang dingin sehingga rasa sumuk di punggung dan kepala yang setiap kali minta bantalnya dibalik membuatku tak bisa nyenyak tidur. Jadilah aku malah kirim-kirim pesan dan menelepon beberapa anggota majelis, memberitahu update perkembangan terakhirku. Boleh jadi yang selalu membaca jurnal ceritaku bahkan lebih memahami update berita terkiniku daripada banyak warga dan majelis di gerejaku yang tak punya akses email.

Aku belum menyampaikan pesan Dr. David saat menemuiku pertama setelah aku opname di rumah sakit ini, “Sekarang yang harus dipersiapkan lebih dari sebelumnya adalah doa”.  Tetapi ternyata Majelis GKJ Purwantoro sudah memutuskan, malam ini mengadakan persekutuan doa, dan besok akan diadakan hari doa dan puasa, bertepatan dengan pelaksanaan operasi transplantasiku.  Oh, menghubungi tiga orang anggota Majelis GKJ Purwantoro dan masing-masing dengan caranya sendiri menginformasikan hal itu dan mendoakanku membuat I am almost crying.

***

Ternyata beberapa tamu yang mengunjungiku tidak seperti sebelumnya di antar oleh Suster sampai di hadapanku, kemudian berpesan, “Pasien sudah dibatasi, jadi sebentar saja berkunjungnnya”. Tadi paman ipar kakakku mengunjungi hanya diberi waktu 5 menit. Tadi pagi saudara iparku dari kakak lain yang mengunjungi bahkan langsung balik badan setelah melihatku sudah mengenakan masker, tapi terus kembali lagi bersama istrinya yang dinas sebagai perawat di Cikini ini.

Usai hd tadi aku tidur sangat nyenyak, dan ada dua petugas pastoral yang datang bergantian untuk mendoakanku pamit lagi karena melihatku tidur sangat nyenyak lengkap dengan maskerku. Wah betul sekali kata Mazmur 127, bahwa berkat itu dikaruniakan Tuhan kepada orang yang dikasihi selagi mereka tidur. Coba, kalau aku tidak tidur, pasti aku akan didoakan berpanjang-panjang lagi oleh mereka. Masing-masing telah mendoakanku dua kali selama aku mondok, jadi aku cukup tahulah bagaimana gaya mereka berdoa. Karena itu sungguh aku ingat dengan terpesona pesan Bapakku (almarhum, 8 April 2013, diberkatilah semua kenangan akan beliau)  yang tak jemu berkata kepada orang yang akan mendoakannya saat beliau sakit dulu, “Kalau berdoa jangan panjang-panjang, nanti aku jadi bingung”.  Waktu itu aku berpikir Bapakku berani sekali berpesan seperti itu, padahal jelas beliau tidak pikun dan dapat mengikuti semua pembicaraan dengan baik. Sekarang setelah didoakan sekian banyak orang dengan segala macam gaya, ternyata aku ikut-ikutan bersikap seperti Bapak.

***

Satu prosedur yang harus kulakukan adalah menandatangani lembar persetujuan operasi. Blangko yang disodorkan perawat padaku sudah diisi dengan tulisan tangan yang sekalipun terbaca tapi sangat tidak rapi, dan ditandatangani dengan tulisan lain yang berbeda oleh Dr. David Manuputty. Saat sampai bagian resiko aku baca keras-keras bahwa operasi ini akan bisa berakibat dan membawa resiko: 1. Nyeri pasca operasi, 2. Pendarahan 3. Infeksi. 4. Penolakan terhadap organ yang  ditransplantasikan. Akibat nomor 1 tak bisa tidak dihindari, sekalipun tehnik bedah sudah sangat maju dan luka yang dibuat seminim mungkin.  Resiko no 2-4 tak bisa dijamin bebas sama sekali, karena itu sangat perlu menjaga kebersihan dan kehati-hatian dengan perawatan terbaik dan obat-obatan agar itu tidak terjadi. Tegas kubaca pula dalam formulir ini, bahwa tindakan medis transplantasi ini merupakan alternatif satu-satunya untuk kasus gagal ginjal kronik yang kualami, tak ada jalan lain untuk sembuh. Udah ah, aku kan sudah menyerah.

Tadi saudara istrinya Teja datang dan kebetulan bertemu aku juga. Kudengar pertanyaannya ke Teja, “Takut nggak?” Hahaha, jawabnya sama denganku, “Pertanyaan itu tidak relevan dikemukakan sekarang. Kalau takut, aku kabur dari tempat ini sekarang juga”. “Iya, jadi kayak film Dono Warkop yang jadi pasien melarikan diri dari rumah sakit”, istri Teja menimpali sambil semua tertawa. Ternyata memang tertawa meredakan banyak ketegangan menanti selama ini, yang kadang juga dibuat sendiri. Pasien lain mengenalku selalu gembira, tersenyum dan menyapa terlebih dahulu siapapun yang berpapasan. Para perawat yang kadang, eh sering kuusili sehingga sungguh tanpa gelang identitas pasienpun tak mungkin aku tak akan dikenal oleh para perawat yang bertugas di sal ini.

Aku juga hendak berterima kasih untuk semua pemberian, dukungan, dan terkhusus makanan yang mengalir bersama kunjungan padaku. Ah, apa karena aku selalu nulis tentang makanan sehingga banyak yang membawa kemari ya? Lebih berbahagia memberi daripada menerima. Maka supaya kebahagiaanku lengkap, kubagi-bagi juga makanan yang ada ke semua pasien yang lain, terlebih yang aku tahu tak ada yang menjenguk, atau terlihat murung, juga saudara yang menemani pasiennya.

***

Barusan perawat yang lain lagi datang dan mengulang prosedur khusus yang akan kujalani sejak sore sampai pagi besok. Aku harus keramas, mandi dengan dettol, cukur gundul semua rambut, dan diberi obat pembersih lewat anal segala, lewat pukul 22 ini aku sudah harus puasa. Hiks, aku malas menuliskan detailnya. Baru membayangkan saja sudah hehehehe.  Udah ah, aku sudah menandatangani lembar persetujuan operasi. Bahkan semua urusan administrasi pasien ke rumah sakit juga sudah dibereskan dengan bantuan Pak Mulyo yang cekatan mendampingi. Betul sekali pesan Dr. David, “Yang perlu sekarang doa Pak Pendeta”. Doa yang sederhana, semoga semua lancar adanya. Itu mujizat yang sebenarnya.

salam

Pemulung Cerita

Tentang Mujizat

Sejak aku diberitahu sakitku adalah gagal ginjal kronis, sifatnya permanen, dan bahwa fungsi ginjal yang rusak tak bisa dipulihkan lagi atau diperbaiki lagi aku berpikir bahwa hanya mujizat Tuhan saja yang kuasa menolongku. Tapi sejak itu, aku mendengar banyak orang juga memakai dan mempergunakan kata mujizat itu dalam kasusku, dengan berbagai-bagai pemahaman yang malahan membingungkanku.  Kalau mujizat adalah intervensi kuasa illahi yang berlawanan dengan hukum alam dan nalar dalam kehidupan ini, dan tujuannya adalah agar nama Tuhan dan karya penyelamatanNya dimuliakan, dan kita percaya bahwa sekarang mujizat juga masih terjadi, bagaimana hal itu hendak dimengerti?

***
Saat pertama kali diberitahu dokter yang dengan sangat berhati-hati memberitahuku bahwa berdasarkan pemeriksaan darah dan USG aku sakit gagal ginjal dan tidak bisa tidak harus cuci darah, reaksi spontan pertama adalah menolaknya. Tapi kesadaran bahwa tak mungkin petugas lab dan para dokter itu mempertaruhkan integritasnya dan memanipulasi hasil pemeriksaan mereka menyadarkanku untuk mau memeriksa second opinion, malah third opinion, sambil juga browsing segala macam informasi dari sumber-sumber yang tersedia di internet. Dalam waktu singkat dan proses yang kurasa tidak terlalu sulit, aku bisa menerima bahwa aku sakit gagal ginjal. Jadi aku harus mengambil langkah-langkah yang tepat sebagaimana seharusnya orang gagal ginjal. Memberitahu istri, keluarga dekat, dan majelis jemaat sehingga semua tugas tanggungjawab bisa ditata.  Bagiku sekarang, bahwa aku mau mengaku dengan segera bahwa aku sakit gagal ginjal itu adalah mujizat.

Tetapi sampai cuci darah yang ketiga, ternyata aku masih menyimpan harapan palsu, gagal-ginjalku bukan kronis yang bersifat permanen, tetapi gagal-ginjal akut yang setelah perawatan beberapa saat dan diet ketat nanti akan membaik dan bisa kembali hidup normal. Paling tidak aku mikir sejak awal bagaimana supaya cuci darah yang sudah divonis dua kali seminggu itu bisa diperjarang, kalau bisa seminggu sekali saja, atau lebih baik lagi dua minggu sekali hahaha. Tetapi pemeriksaan kadar kreatin dan ureum yang meningkat dengan cepat dalam darahku hanya satu dua hari usai cuci darah sudah sampai di ambang yang mengharuskan pasien wajib melakukan cuci darah lagi mematahkan harapan palsu yang kubangun sendiri.  Dengan kesadaran bahwa aku memang harus rutin cuci darah, maka tanggal 25 Maret, minggu kedua sesudah seminggu pertama aku melakukan hemodialisa aku memasang AV Shunt dan kateter sementara untuk alat bantu cuci darah.

Kuingat semua perawat di ruang cuci darah mengacungkan jempol melihat perban penutup operasi pemasangan AV Shunt dan kateter sementara yang kulakukan. Keputusan yang tepat!  Jadilah sejak cuci darah ke-4 sampai ke-9 kemarin aku sudah mempergunakan kateter sementara di pundak kanan. Jahitan operasi AV Shunt sudah dilepas, hasilnya baik dan dapat dipergunakan dua minggu lagi, bila beres semua kateter di bahu bisa juga dilepas. Bagiku, ini juga mujizat.  Beberapa pasien gagal memasang AV Shunt dalam operasi pertama, sehingga harus mengulangi lagi, bahkan rekor di pasien yang satu ruang denganku adalah sampai 8 kali melakukan operasi AV shunt, hiiiii  dipasang sekali saja aku jadi seminggu menderita panas demam tinggi mual muntah dan segala kutukannya, nggak mau sama sekali kalau harus mengulangi lagi. Nah aku mencatatnya sebagai mujizat.

***
Bagi para pendeta di lingkungan klasis Wonogiri dan Sukoharjo, atau malah se-Surakarta, bisa jadi tahun 1990-an lalu aku termasuk satu pendeta muda yang usil dengan sistem dana pensiun untuk para pendeta GKJ. Puncak usilku terjadi saat memutuskan keluar dari kepesertaan dana pensiun pendeta GKJ, tapi sudah kuperbaiki lho sekarang aku jadi anggota dana pensiun yang baik lagi. Tujuanku waktu itu hanya satu, agar para pendeta yang kebetulan melayani di gereja yang secara ekonomi lemah dan tidak berkelimpahan, sebagaimana gerejaku, tetap dapat menikmati kesejahteraan dan juga jaminan pemeliharaan kesehatan yang layak saat tua nanti dan sakit.  Tapi aku usil dengan layak, karena selain protes aku juga membangun dan mengikuti asuransi yang pada waktu itu preminya kurasa sangat mahal. Ada tahun-tahun di mana 20% pendapatanku harus kualokasikan dengan disiplin untuk itu. Ternyata memang aku membutuhkannya sekarang. Itu yang menjadikanku bisa pamit mau perawatan hemodialisis kepada Majelis Gereja-ku sambil matur, “Sementara dana sudah ada dan ditanggung oleh asuransi”.  Dulu kupilih premi yang kuukur cukup mahal bagiku, sekarang aku sadar dibanding kebutuhan khusus karena sakitku ini, maka nilai pertanggungan yang kupilih masih terlalu kecil. Ternyata asuransi yang kupunya masih masuk kategori asuransi orang miskin yang pas-pas-an saja. Tapi bagiku, pertanggungan yang diberikan asuransi itu bisa kucatat sebagai mujizat. Ini cara Tuhan menolongku, dan ini juga cara Tuhan menolong jemaatku!

A friend in need is a friend indeed.  Mujizat selanjutnya adalah saat kawan-kawan membantu. Aku dengar ada keluarga-keluarga di jemaat-ku yang secara khusus melakukan aksi doa dan puasa, mohon pada Tuhan untuk kesembuhanku. Aku dapat ratusan kunjungan, salam, pesan, sms, email, bingkisan kue roti dan buah (yang hampir semuanya tak bisa ku makan hehehehe…), dan juga sumbangan semua dengan doa dan harapan yang baik untukku. Semula aku miris tiap mendengar ucapan semoga lekas sembuh. Tahu nggak bahwa gagal-ginjal kronis yang kualami ini bersifat permanen dan tak mungkin sembuh?  Tapi aku sekarang belajar menampilkan diri kuat sekalipun dalam kelemahanku. Juga belajar mencukupkan diri sekalipun dalam ketiadaan segala sesuatu. bahwa dulu aku berpinsip biar miskin tetapi sombong

Dalam diri saudara-saudara, kawan, sahabat, dan persekutuan banyak sekali orang yang mengelilingiku saat ini kudapatkan kembali kekuatan hidup, lebih dari sekedar sembuh, memang masih dalam keterbatasan dan larangan-larangan tidak boleh ini itu yang masih sering membuatku sangat jengkel dan bertanya mengapa-mengapa. Namun lebih dari itu ku dapat bahwa ketika aku masih bisa mensyukuri dan menjalani keberadaanku sekarang apa adanya, aku menjadi lebih kuat, hidupku menjadi lebih indah, sakitku kuhadapi dengan lebih nyaman. Kucatat kebersamaan dan bantuan kawan-kawan sampai hari ini sebagai peristiwa mujizat, yang masih berlangsung, yang terus berjalan dan belum berhenti hanya sekedar cerita.

***
Aku tak menolak peristiwa mujizat sebagai intervensi Illahi dalam tata dunia ini. Pracaya iku tampa, bungah iku tamba. Tapi apa salah bila sampai sekarang aku bisa tetap bergembira dan semangatku tetap bernyala, aku juga menerima itu sebagai mujizat?  Sebagai seorang pastor, dalam perlawatan orang sakit sering setelah mendoakan jemaat yang kukunjungi mereka bersaksi tentang kuasa Tuhan yang menyembuhkan dan menguatkan, memberi harapan. Ada istilah pasien dengan penyakit psikhosomatis,  secara fisik sebenarnya sehat, dengan demikian saat ia mendapat sugesti, penghiburan, dorongan atau semangat maka langsung saja sakitnya lenyap, mau makan lagi dengan enak, tenaganya tiba-tiba pulih. Hal itu sangat berbeda dengan orang buta melihat dan orang lumpuh membuang tongkatnya dan mengikut Yesus, apalagi orang mati bangkit.

Karena itu aku tak pernah punya keyakinan untuk menghentikan cuci darah, dengan maksud biar nanti Tuhan menyembuhkan dengan mujizat.  Kutanya dua perawat di ruang HD yang kurasa paling senior, mereka sudah bekerja di ruang hemodialisis rumah sakit puluhan tahun, bukan hanya belasan tahun. “Apa bekerja selama ini pernah menemui mujizat, pasien gagal ginjal kronis yang harus cuci darah seminggu dua kali seperti saya bisa tidak cuci darah? Atau dikurangi frekwensi cuci darahnya?”  Semua perawat yang kutanya orang Kristen, warga gereja, bahkan satu perawat selalu bernyanyi sambil menunggu pasien di ruang HD. Jawabnya tegas, “Wah kalau yang frekwensi cuci darah bisa dikurangi tidak ada Pak, kalau tidak cuci darah lagi sama sekali ada?” Tapi jawabnya kok sambil tersenyum nakal, “Maksudnya?” “Lha sudah mati, jadi tidak perlu cuci darah lagi”.

***
Pernah saat cuci darah, pasien di ranjang seberangku menyusul masuk pk. 22.00. Usai peralatan dipasang ada sekelompok orang yang datang dan mendoakan. Doanya model kharismatis.  Lama sekali mereka berdoa, kayaknya diulang-ulang, mungkin takut Tuhan lalai tidak mendengarkan.  Lalu ada pengurapan minyak, dari pengalamanku dulu aku tahu itu pasti pakai baby-oil. Dioleskan di kepala, di badannya, di tangan, di kaki, untung tidak di mesin hemodialisisnya sekalian.  Sambil bisik-bisik perawat cerita padaku itu pasien opname yang sudah dijadwalkan cuci darah sejak pk. 20.00 tadi, sudah dipanggil berulang kali katanya masih ada percakapan dengan pendetanya. Kondisi pasien agak setengah sadar karena sakitnya,  sangat beda denganku yang sadar sepenuhnya. Suster sudah akan menghentikan doa dan mengusir mereka dari ruang HD eh ternyata pendetanya malah melayankan perjamuan. Masing-masing memegang cawan anggur kecil, dan satu cawan diminumkan ke pasiennya, yang kemudian tersedak dan terbatuk-batuk.  Perawat datang dan meminta mereka keluar, sudah satu jam lebih, sudah cukup doanya, sekarang biar pasien istirahat dulu ya. Kurasa tindakan perawat itu bahkan mujizat yang sebenarnya, paling tidak bagiku yang sudah kuatir mereka nanti akan datang padaku begitu usai dengan pasien di seberangku itu.

Wah, ternyata aku masih menyimpan beberapa cerita mujizat lagi, tapi dalam konteks yang lain. Kusimpan dulu saja. Biar bisa kukirim posting yang sudah cukup panjang  ini sekarang. (ytp)

Salam, Pemulung Cerita, Yogya 13 April 2013

Pasien Sialan

Pasien Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Tadi pagi aku nulis “Penghibur Sialan” bagian kedua,
ada email masuk, nanggapi jurnalku “penghibur sialan” kemarin. Jelas
sekali sejak semalam ia galau, dan dengan sangat emosi dan sensitif
minta penegasanku bahwa caranya selama ini bukan masuk kriteria
“penghibur sialan”. Spontan akubalas emailnya, “Syukurlah, kau tidak
bilang padaku: pasien sialan!” wkwkwkwkwkwk…..

Lalu aku nelpun, eh tidak diangkat. Beberapa saat
kemudian ia yang nelpun, kujawab dengan sapaan seperti biasa, tapi
aneh jawabannya. Tak bisa disembunyikan lagi, rupanya ia menangis,
karena aku menurut dia dengan tulisanku itu menganggap bahwa ia
hanyalah semacam penghibur sialan saja.

Jadilah, tiga jam tadi aku tak jadi menyelesaikan dan
mengirim jurnal ke-5, “penghibur sialan bagian kedua”. Kalau bagian
pertama kemarin dalam kasus bapakku yang sedang sakit, seharusnya
bagian ini jauh lebih lucu dan hidup. Karena aku menuliskan kisahku
sendiri. Dan untuk urusan menulis dengan gaya ironis dan satiris
kayaknya aku memang sudah mahir. Betapapun aku harus secara khusus
menghargai air mata yang sudah dicurahkan karena memprihatinkan
keadaanku saat ini. Maka tulisan ini kutujukan khusus padanya,  semoga
sialanku bisa menghiburnya.

***

Aku sadar bahwa aku termasuk golongan pasien sialan
sejak mendapatkan kepastian dokter lewat check-up, dipertegas lagi
dengan hasil pemeriksaan lab, USG, dan rhenogram. Kuingat waktu itu
ketika dirujuk dari satu dokter ke dokter yang lain, bisa dipastikan
aku selalu paling lama bertanya jawab di ruang periksa. Jujur kutanya
hal yang tidak kutahu, perlu kukonfirmasi, perlu penjelasan lagi.
Bahkan bila ada yang yang butuh konfirmasi second opinion, dalam waktu
tiga hari aku sudah mendapatkan third opinion dengan menemui tiga
orang dokter spesialis ginjal yang berbeda di dua rumah sakit yang
berbeda, dua orang radiolog, dan dua ahli gizi. Secara nalar aku sudah
menerima keberadaanku sekarang memang sudah menjadi pasien gagal
ginjal, kronis lagi. Tapi bagaimana menyampaikan hal ini kepada orang
lain?

Dari browsing di internet, aku himpun artikel-artikel
populer berkenaan dengan sakitku dan bagaimana perlakuan yang
disarankan agar tidak semakin parah. Aku jadikan satu bendel dan
kucetak. Saat bilang ke istri bahwa aku sudah periksa sendiri dan
hasilnya seperti itu. Jadilah sekarang istriku yang shock, nelpun ke
sini – ke sana,  lha mau dibagaimanakan lagi adanya? Terima, kenyataan
yang ada!

***

Perkara yang juga sulit dan membuatku terus berpikir
adalah bagaimana menyampaikan keadaanku saat ini kepada Majelis
Gereja. Sampai seminggu sebelumnya aku masih intensif mendampingi
mereka yang merasa kehilangan dan bersedih dengan pengunduran diri
calon pendeta yang akan ditahbiskan saat ulang tahun gereja tgl. 25
Mei 2013 ini, karena alasan sakit. Sekarang terlebih lagi yang sakit
adalah pendetanya yang sehari-hari sangatlah energik dan aktif.

Ternyata mudah saja. Hari Minggu  17 Maret secara
khusus aku mengundang para Majelis untuk memberikan informasi. Mereka
datang masih dengan pikiran ini kelanjutan dari pengunduran diri calon
pendeta. Ternyata informasi tentang kesehatan pendeta. Aku sampaikan
apa adanya, jujur dan lugas kepada Majelis, bahwa aku sudah periksa
dokter, lab, USG dan rhenogram, dan semua hasilnya menyatakan aku
gagal ginjal, kronis. Untuk itu dalam jangka dekat terapi yang tidak
bisa ditunda adalah hemodialisa.  Kusengaja supaya sekalipun mereka
mendengar tetapi tidak paham. Dan memang tak ada yang tahu bahwa
hemodialisa adalah cuci darah. Kubacakan hasil pemeriksaan darahku
dengan angka kreatin, ureum, hemoglobin, juga resume USG dan rhenogram
yang masing-masing hanya berupa kalimat pendek penuh istilah medis
berbahasa Latin yang aku sendiri juga banyak yang tidak memahaminya,
apalagi kalau harus menerangkan detail. “Tahu artinya angka kreatin
11,69 dan ureum 168?” hehehe….. Kebetulan Majelis dengan latar
belakang tenaga medis tidak hadir. Aku minta ijin untuk opname di RS
Bethesda dan melakukan perawatan penyakitku selama yang diperlukan,
tidak usah ditengok karena jarak yang jauh jadi cukup dengan telepon
atau SMS saja pasti aku jawab, dan memberitahukan bahwa aku mempunyai
asuransi kesehatan yang menanggung biaya opname, dan sudah lebih
sepuluh tahun ini sama sekali belum pernah kumanfaatkan fasilitasnya
jadi biaya tidak atau belum menjadi masalah.

Sekaligus kutantang, menurut pengamatan mereka, aku
yang hari-hari sebelumnya masih memimpin ibadah jemaat, dan naik motor
bahkan Purwantoro Yogya terlihat sakit dan lemah? Tentu saja tak ada
yang menjawab dengan ya karena mereka tahu betapa minggu-minggu lalu
dengan serial pertemuan beruntun membahas pengunduran diri calon
pendeta aku sama sekali aku tak ada tanda sedang sakit. Maka dengan
mudah dibuat keputusan Majelis: 1. Memberi cuti kepada Pendeta
sepenuhnya dari tugas pelayanan kependetaan di jemaat. 2. Kesempatan
cuti dipergunakan sebagai waktu berobat dan perawatan yang diperlukan.
3.Tugas-tugas kependetaan akan ditata oleh Majelis, dan minta bantuan
pendeta seklasis.  Mudah sekali keputusan itu dibuat. Bahkan langsung
telepun dan sms kontak petugas jadwal-jadwal menjelang Paskah yang
mendesak. Tinggal acara penutup dan makan bersama. Istriku yang kuajak
dalam pertemuan sejak awal hanya diam, saat penutup diminta untuk juga
memberikan tanggapan.

Berbeda denganku yang memberi keterangan sengaja
dengan istilah medis yang sulit, istriku langsung saja mengungkapkan
gejolak hati berhari-hari yang dirasa bahwa aku gagal ginjal dan
satu-satunya jalan adalah harus cuci darah. Kurasakan sungguh
perubahan suasana yang ada. Majelis yang semula sekalipun prihatin dan
kaget tetap bisa bicara satu sama lain dengan rileks seakan tiba-tiba
terhenjak, selaput kesadaran yang menutup terlepas. Pak Pendeta sakit
ginjal dan harus cuci darah! Bayangan mereka yang ada bukan lagi
pendetanya yang masih guyon dan dengan cerdas menerangkan keadaan
sakitnya dan langkah-langkah medis yang akan ditempuh, tetapi ganti
dengan bayangan-bayangan dari  pengalaman dengan beberapa warga yang
terkapar  hampir mati dan juga diharuskan cuci darah atau transfusi
darah. Wah, salah cara memberikan informasinya.  Jadilah para Majelis
yang datang terdiam, tak bisa bicara apa. Apa dengan demikian
keputusan yang tadi diambil hendak ditinjau ulang? “Tidak Pak, sudah
baik, tinggal dilaksanakan”.

***

Menurutku pasien yang baik adalah yang memahami
diagnosis, prognosis, dan perawatan baik obat maupun menu dan cara
hidup yang mendukung keberadaannya. Aku sendiri menyadari secara emosi
aku masih menyadangkan pikiran bahwa semua diagnosis itu keliru dan
sebenarnya aku sehat atau kondisinya lebih baik. Tapi aku sadar bahwa
itu harapan yang menggantung tanpa dasar. Dokter2 yang kuhadapi semua
sudah dididik untuk hanya mendasarkan penilaian mereka dari bukti
hasil pemeriksaan, bukan apa yang kurasakan, apalagi apa yang
kuharapkan.

Akhirnya, hari ketiga aku opname dan sudah menjalani
dua kali hemodialisa berturut-turut sebelumnya rombongan Majelis
datang, dengan takut-takut karena paham melanggar pesan supaya tidak
usah menjenguk. Aku ketawain saat salah seorang bertanya, “Yang
dirasakan badannya apa Pak?” Mereka tetap tak percaya bahwa aku masih
bisa main lumpat tali berjalan dan beraktifitas seperti biasa.
Anggapannya sesudah cuci darah dua kali, lima jam berbaring dan darah
disaring lewat mesin, maka pasien akan lesu lemah dan menderita.
Tetapi pasien yang sekarang ditengok malah memberondong dengan banyak
tanya yang menunjukkan bahwa aku mengikuti perkembangan jemaat,
“Sekarang sudah ketemu, ayo giliran saya dihibur, wong saya yang
sedang sakit dan jadi pasien”. Hehehe, tak ada yang berani bicara.
Akhirnya, daripada jauh-jauh mereka datang dan hanya diam percuma, aku
berinisiatif memberdayakan keberadaan mereka, “Minta tolong ya, pijit
kaki saya, pegal-pegal karena di sini kurang jalan-jalan tiga hari ini
kemana-mana pasti pakai kursi roda tak boleh jalan sendiri”.

***

Aku harus mengaku lagi, aku memang jenis pasien
sialan. Karena aku selalu mau mencari tahu dan mempertanyakan apapun
saran rekomendasi yang katanya-katanya adalah untuk kebaikanku.
Terlebih lagi untuk saran makanan kesehatan maupun obat alternatif
yang entah bagaimana tiba-tiba saja banyak proposal diajukan padaku.
Aku tak mau jadi kelinci percobaan, apalagi secara medis ginjalku tak
bisa pulih kinerjanya. Bukan menutup diri dari alternatif, tetapi
sangat berhati-hati, itu amatlah beda. Bahwa sebagai pasien aku tetap
bisa berlagak kuat, berargumentasi dengan waras, dan berpendirian
keras kepala, ternyata bagi beberapa orang itu adalah ciri pasien
sialan hahahaha.

Sebenarnya tadi sudah kutulis dan hampir selesai
tulisan sambungan kemarin, penghibur sialan bagian dua. Tapi tak jadi
kuselesaikan dan kukirim, demi menghormati kawan yang kudengar isak
tangisnya tadi pagi karena merasa dengan tulisanku aku menganggapnya
sebagai penghibur sialan; Juga demi menghormat satu kawan dari masa
kecil yang tak berani menengok, bahkan untuk sekedar menelpun, tetapi
sampai kemarin masih menangisi keadaan sakitku dan sempat ngirim sms
padaku, “… Yahya, aku menemanimu duduk di atas abu….” aku cerita,
“Lha aku tadi mboncengkan Mirma ke pasar belanja, juga ke apotik dan
bank. Lalu yang kau temani duduk di atas abu tadi siapa?”
Wkwkwkwkwk…

Sekarang sudah pukul 14 lebih, tadi ada tiga rombongan
rombongan, berbeda, tiga mobil datang. Aku menerangkan yang kutulis di
posting ini kepada mereka, tentu dengan sepenuh humor yang aku bisa,
eh tetep saja ada beberapa Ibu yang menangis. Lha pasien yang
dikunjungi bisa ketawa kok yang ngunjungi jauh-jauh dari Purwantoro
malah menangis? Eh, saat pamit dan dengan dengan gagah aku berdiri
menyalami mereka satu-satu kembali lagi beberapa menangis.

Memang, aku ini pasien sialan.

Wisma LPP Sinode, Yogya, 6 April 2013

Penghibur Sialan

Penghibur Sialan
oleh Yahya Tirta Prewita

Bila ada teman atau saudara yang sakit, untuk apa kita mengunjunginya? Mengapa secara khusus kita merasa perlu untuk berkirim salam dan doa menyapa, kalau tak bisa langsung berkunjung ya dengan sms, telepon, atau email? Jelas jawabannya, untuk menghibur, untuk menguatkan, untuk menemani, untuk membuat si sakit merasa lebih nyaman. Secara psikhis suasana yang nyaman sangat mendukung proses penyembuhan seseorang. Akan tetapi bagaimana bila sakit pasien sifatnya permanen, tak mungkin sembuh secara medis?

***

Sejak bulan Juli tahun lalu karena kedua orangtua sudah waktunya ganti dijaga oleh anak-anaknya, sebisa mungkin aku mencari kesempatan untuk mampir atau menginap di rumah orangtua di Pajang. Ibu dengan gayanya selalu menanya dan bercerita macam-macam, iya dilayani saja. Tetapi Bapak dengan gayanya pula tak pernah menceritakan apa bagaimana yang dirasakan oleh tubuhnya. Dari ponakanku, juga kawanku yang dokter mereka bilang bahwa bapak tentu sakit dan menderita sekali. Akan tetapi, sebagai anak aku tahu, tak mungkin Bapak akan mengeluhkan itu.

Anak-anak tahu, Ibu sangat senang dan tak akan menolak siapapun yang mengunjunginya, sedangkan Bapak hanya bisa nyaman bersama dengan anak-anak atau sahabat-sahabat tertentu dan kami anak-anak semua sudah mengenal mereka juga. Itu juga sebabnya kamar Bapak dan Ibu dipisah, kamar Ibu lebih luas. Dengan kursi tamu yang sangat nyaman untuk duduk-duduk lama. Tetapi tiap ada tamu untuk Ibu anak-anak juga was-was. Kalau yang berkunjung ngobrol terlalu lama, apalagi bawa makanan sedangkan sebagai penderita diabet dan hipertensi yang pernah stroke diet Ibu dijaga sangat cermat. Akibatnya baru dirasakan nanti kalau sudah malam atau hari berlalu, badan pegal-pegal minta pijit, tensi yang naik tinggi, gula darah yang tidak terkontrol….

Sebaliknya Bapak menurut Dr. Pangesti yang merawatnya adalah pasien yang disiplin dan cerdas. Beliau tahu semua aspek penyakitnya, bahkan di awal-awal dulu mencari sendiri buku dan brosur-brosur berkenaan dengan terapi dan diet. Jadilah ketika ada kakakku yang masih takut menyampaikan hasil diagnosa kepada Bapak dan lebih memilih bilang, “tidak tahu”, Bapak bahkan menasehati, “Kowe aja ngapusi Bapak”.

Ada banyak sekali sekali tablet, kapsul, dan sirup yang diminum Bapak sejak bulan Juli lalu, dan tiap kali berubah-ubah menyesuaikan perkembangan . Nah, jangan sampai salah melayani Bapak karena Bapak hafal semua macam jenis obatnya, satu-satu. Pengalaman sekitar 6 tahun menyiapkan diet makanan dan obat untuk Ibu menjadikan Bapak jauh lebih ahli. Jadilah, bahkan kemudian anak-anak berbagi diri, siapa menyiapkan menu diet harian. Siapa mengatur rumah. Siapa pula mengurus urusan-urusan obat, dengan dokter, dan rumah sakit ketika akhirnya diputuskan Bapak dirawat home-care sejak Januari lalu, maka dokter dan perawat dari rumah sakit yang mengunjungi bergantian tiap 2 hari sekali.

***

Bapakku orang yang religius dan aktifis gerejawi. Hal itu sangatlah jelas. Bahkan pernah menjadi Ketua Majelis Gereja untuk dua gereja, menjadi anggota deputat klasis, dan bahkan diutus untuk ikut sidang sinode. Entah apa yang jadi presedennya, tapi Bapak tidak mau didoakan oleh sembarang orang. Dan kemudian, juga berpesan, “Yen ndonga aja dhawa-dhawa, mengko aku ndak bingung”. Dan sejak Januari lalu mantaplah sudah doa Simeon yang diucapkan oleh Beliau, “Keparenga samenika abdi Paduka tilar-donya klawan tentrem” (Lukas 2:29). Aku yang disuruh Bapak pertama kali mengucapkan doa ini, anak-anak dan cucu yang di Solo semua berkumpul. Dan setelah itu Ibu yang menangis disuruh pindah ke kamarnya oleh Bapak, anak-anak yang lain entah bagaimana mengucapkan amin.

Sejak itu, doa Simeon yang menjadi doa Bapak. Apakah aku salah karena bulan Juli sudah matur kepada Bapak saat ditanya tentang diagnosa penyakitnya, prognosis dan therapi medis yang akan ditempuh, dan bahwa bagaimanapun juga pada akhirnya nanti kematian tidak dapat dihindari? Ada yang masih tetap percaya mujizat, berharap keajaiban, dan Bapak bisa sembuh pulih lagi. Tapi Bapakku aku sangat tahu bukan orang yang seperti itu. Kedisiplinan sebagai guru gambar tehnik selama lebih empat puluh tahun membuatnya sangat teliti sekaligus rasional. Dan aku tahu, Bapak juga tidak suka didoakan agar mujizat penyembuhan terjadi. “Kehendak Tuhan sajalah yang jadi”. Bagaimana kita bisa lebih menghibur lagi orang yang sudah sepenuhnya berserah?

Sudah dua bulan ini Bapak tiap hari mendapatkan obat anti nyeri yang paling kuat, di tempel di bagian dada atau bagian tubuh yang dirasa sakit. Akibat samping yang secara langsung terlihat adalah sering ada halusinasi dan bicara tanpa sadar. Keadaannya semakin lemah, terlebih setelah Ibu lebih dahulu meninggal dunia 6 Februari lalu. Bapak merasa bahwa semua tanggungjawab hidupnya sudah tuntas. Upaya untuk memasukkan obat dan makanan lewat infus juga sudah mulai sangat susah dilakukan karena pembuluh darah di tangan sudah nyaris tak terdeteksi lagi, sedangkan di kaki bengkak dan tak bisa. Jadilah, ada kasak-kusuk yang lalu kudengar dari orang yang pernah mengunjungi dan mendoakan Bapak,”Bapak masih punya cekelan, itu yang menjadikannya tetap bertahan”.

***

Melalui artikel ini, dengan mengutip Ayub 16:2 ; aku hanya ingin singkat mengatakan, “panglipurmu mung wujud panyiksa tumraping aku” atau dalam bahasa Indonesia, “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”

LPP Sinode, Yogya, 5 April 2013

Pemulung Cerita.